"Mbak, aku mau beli mainan, boleeeh?"
Seorang pria dewasa yang ditemukannya terbangun dan tiba-tiba merengek sepeti seorang anak kecil. Luaticia atau Lulu sungguh bingung dibuatnya.
Selama sebulan merawat pria itu, akhirnya dia mendapat informasi bahwa sebuah keluarga mencari keberadaan putra mereka yang ciri-ciri nya sama persis dengan pria yang dia temukan.
"Ngaak mau, aku nggak mau di sini. Aku mau pulang sama Mbak aja!" pekik pria itu lantang sambil menggenggam erat baju Lulu.
"Nak, maafkan kami. Tapi Nak, kami mohon, jadilah pengasuhnya."
Jeeeeng
Sampai kapan Lulu akan mengasuh tuan muda tersebut?
Akankah sang Tuan Muda segera kembali normal dan apa misteri dibalik hilang ingatan sang Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Br3ngs3k 32
Slaaap!"
"Kalian bilang ini adalah laporan! Kalian pikir tidak hadirnya aku di perusahaan, lantas membuat kalian bisa berbuat sesukanya sendiri hah!"
Jegleeer
Bagai petir yang menyambar di siang hari bolong. Semua terkejut dengan kemarahan Ditrian yang sambil melempar berkas laporan dari setiap Divisi. Terlebih bagian produksi dan juga keuangan. Dia menemukan dana yang tidak sesuai, juga bahan produksi yang tidak seperti yang diinginkannya.
Bukan hanya mereka, Luaticia pun terkejut bukan main dengan 'akting' Didit. Yang diketahui oleh Luaticia, saat ini Didit lah yang tengah berakting sebagai Ditrian. Sehingga dia terkejut bukan main.
"A-apa yang kamu lakuin sekarang, Dit," bisik Luaticia tepat di belakang Ditrian. Saat ini gadis itu memang berdiri di sisi Ditrian untuk mengawasi belangsungnya permainan peran Ditrian.
"Mbak Lulu nggak perlu khawatir. Kan tadi udah Didit bilang, Didit kan pinter. Jadi Didit tahu apa yang harus Didit lakuin,"jawab Ditrian dengan nada berbisik juga kepada Luaticia.
Luaticia hanya bisa pasrah. Dia mengikuti alur Ditrian saja. Dan sepanjang rapat yang hanya berisi kemarahan seorang Ditrian itu, Luaticia harus bekali-kali menahan nafas dan juga memejamkan matanya.
Ia melihat Didit benar-benar seperti Ditrian. Dan itu cukup membuatnya takut. Bukan takut karena Ditrian yang marah tapi takut jika nanti Ditrian ketahuan.
"Dit, udah Dit. Aku beneran was-was ini,"ucap Luaiticia dalam hati.
"Keluar kalian semua, bawa laporan ini dan selesaikan semuanya. HARI INI JUGA!"
"Siap Pak!
Mereka menjawab dengan serempak. Meski dalam hati penuh gerutuan, namun mau tidak mau mereka harus melakukan apa yang diperintahkan itu.
Dan yang paling pusing bagi mereka adalah membuat laporan kembali. Karena yang mereka tulis adalah hal yang terjadi di lapangan.
"Bagaimana ini? Apa yang musti kita lakukan,"ucap Kepala Divisi Produksi kepada Kepala Divisi Keuangan.
"Entah, aku juga tidak tahu. Haah,"sahut Kepala Divisi Keuangan.
Kedua kepala divisi itu nampak sangat stress sekali kali ini. Tidak adanya Ditrian menjadi kebingungan tersendiri bagi mereka, tapi adanya Ditrian juga membuat mereka pusing.
"Tapi sepertinya kita memang harus melaporkan sesuai kenyataan, Roy," ucap Kepala Divisi Keungan kepada Kepala Divisi Produksi yang bernama Roy.
"Iya, sebaiknya memang begitu. Setelah ini aku akan menghadap Pak Ditrian. Sholeh, kayaknya kamu juga harus menghadap beliau. Bagaimana kalau kita berdua menghadap bersama," ajak Roy.
Sholeh terdiam sejenak, lalu dia mengangguk setuju atas ide dari rekan sepekerjaannya itu. Keduanya adalah kepala divisi yang bisa dibilang penting. Tanggungjawab mereka bukanlah muda, sehingga wajar jika Ditrian marah ketika yang mereka berdua kerjakan tidak benar.
Roy sebagai Kepala Divisi Produksi dan Soleh sebagai Kepala Divisi akhirnya memutuskan untuk menemui Ditrian secara pribadi. Mereka berdua saat itu juga membalikkan badan dan menemui Ditrian yang masih berada di ruang rapat.
"Ada apa? Apa kalian sudah selesai memperbaiki laporan keuangan. Cepat juag ya,"ucap Ditrian saat Roy dan Sholeh masuk ke dalam ruang rapat bersama.
"Belum, Pak. Tapi ada yang mau kamu laporkan kepada Pak Ditrian,"ucap Roy dengan berani. Dia juga tidak mau dianggap mengada-ada dalam membuat laporan sehingga harus menjelaskan apayang terjadi di lapangan.
"Katakan, kalian tidak perlu risau dengan keberadaan Luaticia. Dia adalah orang kepercayaanku. Jadi katakan apa yang ingin kalian katakan,"sahut Ditrian. Dia tahu kecurigaan Roy dan Sholeh dengan keberadaan Luaticia. Sedari tadi dua orang itu terlihat hati-hati sambil beberapa kali melirik ke arah Luaticia.
Setelah Ditrian berbicara, kedua orang itu bernafas lega. Roy pun seolah bersiap mengatakan sesuatu kepada Ditrian.
"Sebelumnya saya mau minta maaf Pak kalua terkesan membela diri. Namun apa yang saya lampirkan itu adalah benar adanya dan bukan karangan semata. Semua bahan baku yang digunakan memang benar seperti yang saya tulis. Tapi itu bukan atas inisiatif saya. Saya hanya menjalankan perintah dari Pak Steven. Dia lah yang memerintahkan saya menggunakan bahan-bahan itu. Awalnya saya bingung. Yang saya tahu, Pak Ditrian punya prinsip untuk membuat menu makanan sehat yang bebas gluten, gula dan bahan pengawet. Tapi semua itu bahan yang ditunjuk Pak Steven tidak demikian. Dan kata beliau, semua itu atas persetujuan Pak Ditrian."
Degh!
Ditrian terkejut, dia lalu menatap ke arah Luaticia yang tak kalah terkejutnya.
Yang diketahui Luaticia, Steven adalah teman terdekat Ditrian. Bahkan Steven adalah salah satu rekan Ditrian dalam mewujudkan perusahaan ini.
"Mbak Lulu, bisa pangilkan Oland, terus bilang ke Oland untuk memanggil Reneta," pinta Ditrain kepada Luaticia.
"Baik," sahut Luaticia cepat. Dia langsung melakukan perintah dari Ditrian.
Sedangkan di dalam ruang rapat, Ditrian menatap tajam ke arah Roy. Ia mencari kebohongan di mata Roy tapi dirinya tidak menemukannya.
"Lalu kamu, apa jawabanmu juga seperti dia?" tanya Ditrian kepada Sholeh.
"Kurang lebib begitu Pak. Pak Steven meminta saya tetap menggeluarkan biaya yang sama tapi dengan barang yang berbeda. Untuk alasannya sendiri, saya kurang tahu. Dan sama dengan apa yang dikatakan Pak Roy, bahwa katanya semu itu sudah atas persetujuan Pak Ditrian," ungkap Sholeh. Dia setali tiga uang dengan Roy karena memang pada kenyataannya demikian.
Ditrian mengusap wajahnya dengan kasar. Dia ingin sekali bertanya langsung kepada Steven, tapi pria itu hari ini tidak datang ke perusahaan. Kalau tidak salah, Steven memberi kabar tadi pagi bahwa dia ingin beristirahat sejenak barang dua atau tiga hari.
Alasan kesehatan digunakan pria itu untuk tidak datang ke perusahaan.
"Sebenarnya apa yang dia lakuin sih? Kenapa jadi berantakan kayak gini?" keluah Ditrian. Kepalanya kembali berdenyut sakit. Tapi Ditria menahannya dengan sangat baik agar semua orang tidak tahu.
"Roy, kalua gitu hentikan semua produksi. Apa sudah ada yang di lempar ke pasaran?" tanya Ditrian. Dia berharap bahwa belum ada yang keluar pabrik.
"Baik, Pak. Saya akan mengjentikan produksi. Tapi dengan sangat menyesal saya menyampaikan bahwa sudah ada ratusan karton produk yang keluar," jawab Roy lirih.
"Brengsek, tarik semua sekarang juga. Lakukan itu!" pekik Ditrian.
"Baik!"
Roy langsung bergegas melakukan perintah Ditrian untuk menarik semua produk yang sudah dikeluarkan. Ini akan jadi kerugian besar tapi mau tidak mau harus dilakuka karena nama GoodFood Factory dipertaruhkan.
"Bedebah, apa mau mu ini Steven," umpat Ditrian lirih.
TBC
mual aku dgn ucapan manis Steven ke Daria 🤢
masakan calon menantu enakan Mama Dhea dan Papa Drake 😁