Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH KECIL NYAMAN, NAMUN MENGERIKAN
Wardah terus menyusuri semak belukar. Semakin jauh ia melangkah masuk kedalam hutan yang gelap itu, hanya lampu senter saja yang bisa mereka andalkan. Sobirin yang mengikutinya merasa semakin ketakutan.
"Embak Wardah! Kita sebaiknya pulang saja. Saya khawatir, ada binatang buas yang akan memangsa kita, Embak." Bujuk Sobirin yang benar-benar ketakutan.
"Aku pernah berada di sini di alam mimpiku, Rin. Dan aku masih ingat jelas dengan jalan setapak ini. Aku harus tau, apakah mimpiku itu benar-benar ada. Ayo cepat! Keburu malam semakin larut." Wardah terus saja melangkah. Sobirin yang bak buah simalakama, hanya bisa mengikuti Wardah dari belakang. Mau pulang takut, mau ikut lanjut pun, ia takut kalau bertemu binatang buas, dan makhluk penunggu hutan seperti barusan.
Akhirnya, Wardah pun menemukan rumah kecil, dengan penerangan lentera kecil, yang di taruh di pojok sisi rumah tersebut.
"Ini dia, Rin. Yah, rumah kecil ini juga ikut muncul, selain pohon tua tersebut." Wardah tersenyum menatap rumah itu. Berbeda halnya dengan sobirin, bulu kuduknya meremang ia menatap kesekeliling, suasana rumah itu seperti tak lazimnya rumah biasa.
"Embak! Kelihatannya, rumah ini angker, Embak. Kita pulang saja yu?" Ajak Sobirin lagi.
Bukannya Wardah mendengarkan ucapan Sobirin, ia malah terus melangkah mendekati rumah tersebut. Dia pun sudah memegang sebuah pintu dan berusaha mengetuknya.
Sobirin Lagi-lagi hanya bisa terus mengikuti Wardah dengan suasana hati yang sudah tak karuan.
TOOKK!!!
TOOKK!!!
Tidak ada jawaban dari dalam. Wardah pun berinisiatif membukanya. Karena pintunya hanya terkunci dengan lilitan tali dari luar, Wardah yang sangat penasaran, berusaha melepaskannya.
Pintu pun terbuka, dan langsung, hidung mereka di suguhkan dengan bau anyir, dan bebungaan yang biasa di gunakan untuk sesaji, yaitu kembang tujuh rupa, yang terletak di meja, yang di atasnya, ada boneka kain tua, yang perutnya tertusuk beberapa jarum. Ada pula kendi-kendi yang terbuat dari tanah dan entah apa isi di dalamnya. Dan tengkorak kepala yang berjejer di meja itu juga.
Bulu kuduk semakin berdiri tegak kala burung gagak mulai bersuara mengelilingi arap rumah tersebut. Sobirin menelan ludahnya kasar, tubuhnya mulai bergetar.
"Astagfirullahhalazim, ini tempat apa?" Lirihnya memeriksa kain putih lusuh, yang saat senternya ia focuskan di sana, ada beberapa photo lusuh, tidak jelas itu photo siapa. Sobirin tak berani menyentuhnya.
"Rin, sepertinya ini rumah tempat ritual. Tapi, siapa yang melakukan ini semua? Dan siapa pemiliknya?" Wardah yang hendak memegang boneka itu, coba di hentikan oleh, Sobirin.
"Jangan, Embak! Jangan asal sentuh. Barang-barang ini keramat. Aku yakin, sang empunya sudah menyiapkan ini semua dengan matang. Dan bila kita menyentuh tanpa kita juga punya ilmu, sudah di pastikan, kita pun akan bernasib buruk! Sebaiknya, ayo kita pulang sekarang. Besok kita ke sini lagi, dengan membawa Pak Imam. Dia pasti tau akan hal-hal seperti ini." Sobirin yang sudah mempunyai firasat tidak baik pun terus mengajak, Wardah pulang. Melihat Sobirin yang begitu khawatir, Wardah pun hanya bisa patuh. Keduanya pun pulang dengan pikiran yang masih di penuhi dengan rasa penasaran.
Dari jarak yang tak begitu jauh, seorang lelaki lalu masuk ke dalam rumah itu.
BRAAK!!!
Pintu terdengar tertutup sangat kuat bersamaan dengan lentera yang padam. Malam yang tadinya di penuhi dengan suara hewan hutan, tiba-tiba sunyi sepi. Suara burung gagak pun tak terdengar lagi suaranya.
Seperti tidak ada kehidupan.
"Astagfirullahhalazim, perasaanku jadi nggak enak, Embak." Sobirin tanpa sadar memegangi tangan, Wardah. Lampu senternya tak lagi mengeluarkan cahaya. "Ya ampun, batrenya habis lagi, Embak." Sobirin terus menggoyang-goyangkan senter tangan tersebut, namun percuma, senter itu tidak mau menyala.
"Rin, aku nggak bisa lagi liat jalan. Gelap sekali."
Wardah pun mulai kebingungan.
Tiba-tiba muncul makhluk berbaju putih. Wardah dan Sobirin, menahan napas sejenak. Dan tiba-tiba angin meniup begitu kencang.
"Aaarrghhtt!!! Embak Wardah, pegangan yang kuaaat!" Teriak Sobirin, yang tiba-tiba angin kencang itu menggulung tubuh mereka.
***
Saat tersadar, keduanya terlihat sudah berada di pelataran rumah Wardah. Keduanya bangkit. Lalu, Wardah dan Sobirin tertatih, mendekati kediaman Wardah. Keduanya nampak begitu kusut.
Namun, mata mereka terbelalak, kala rumah Wardah yang sudah di penuhi oleh beberapa penduduk, dan terdengar teriakan yang tak bersahabat dari mereka.
"Woi! Jangan menyembunyikan orang jahat, Pak Ardi.
Walau dia itu anak kalian, hukum harus tetap berjalan."
Terika salah seorang warga.
"Betul! Pokoknya kami tidak rela, suami-suami kami yang telah di jadikan tumbal oleh dia. Cepat! Beri tahu kami di mana dia berada!" Teriak dari, Wati. Sepertinya mereka mempercayai cerita bohong.
Wardah yang pensaran mendekat, namun di cegah oleh, Sobirin. "Embak! Kayaknya ada yang tidak beres. Sebaiknya kita jangan menampakkan diri kita dulu."
"Astagfirullah. Rin, nggak dengar? Mereka berteriak-teriak begitu? Pasti ada yang tidak beres, Rin. Aku takut kedua orangtuaku terjadi apa-apa dengan mereka."
"Iya, tapi, Embak..." Belum selesai Sobirin berbicara, Wardah sudah lebih dulu mendahuluinya.
"Maaf, ada apa ya? Bukankan kalian Warga sebelah desa? Ada kepentingan apa ya? Kok bisa berada di rumah saya, denvan nada suafa yang begitu keras." Sapa Wardah yang tidak tahu duduk masalahnya.
"Nah, ini dia nih orangnya. Ayo semuanya tangkap dia!!!" Tiba-tiba parmi keluar dari kerumunan orang-orang itu.
"Tunggu! Salah saya apa? Mengapa saya di tangkap?" Wardah yang tangannya sudah di pegang sana-sini, masih berusaha bertanya.
"Halah...! Wardah! Jangan munafik kamu! Kamu yang membuat warga resah selama ini. Ilmu hitammu itu, hampir membun*h kita semua. Dasar anak seorang cab*l! Pasti anaknya pun tak beda jauh dari kelakuan orang tuanya." Teriak Parmi, lagi.
"Lepaskan anakkuh!" Pak Ardi keluar dari dalam rumahnya, bersamaan dengan Bu Rahma.
"Pak Ardi! Anak ini memganut ajaran sesat! Jadi anda jangan berusaha melindunginya, Pak."
"Iya, Pak Ardi. Saya sendiri saksinya. Di saat kami di serang, dia dan Sobirin, yang tidak di serang. Jadi, sudah jelas kan? Siapa dia sebenarnya." Parmi terus menguatkan asumsinya.
"Tunggu...! Aku bersumpah! Aku tidak mempunyai ilmu hitam, apa lagi mempelajarinya. Embak Parmi, dan semuanya sudah salah paham." Teriak Wardah membela diri.
"Jangan hiraukan, omongan dia. Ayo bawa dia ke alun-alun. Kita hukum dia, sama seperti kita menghukum Bapaknya." Teriak Parmi mendominansi.
Mereka pun membawa Wardah, dengan paksa.
Terlihat, para warga di desa itu berjejer menonton adegan yang mereka sendiri tidak tau, apakah benar ataukah Wardah, hanya di tuduh.
"Saya mah, nggak percaya kalau Neng Wardah, punya ilmu hitam. Dia orangnya sangat baik, dan suka membantu. Lagian, selama ini desa kita aman-aman saja."
"Iya, desa sebelah mah, kebanyakan tragedi. Mungkin warganya kebanyakan dosa."
"Nggak tau juga ah. Kadang, orang baik kepada kita, hanya ingin menutupi kesalahannya."
"Hem...!" Bisik-bisik para Warga begitu jelas terdengar di telinga Sobirin yang sengaja bersembunyi di kerumunan.
"Jangan bawa anak saya! Dia tidak mungkin mempunyai ilmu hitam!" Teriak Bu Rahma mengejar putri kesayangannya dengan linangan air mata.
"Parmi! Aku yakin ini akal-akalan kamu lagi kan?
Kamu dulu yang menghasut para warga untuk membun*h orangtuanya Wardah, bukan? Kamu benar-benar jahat, Parmi! Aku selama ini diam. Tapi sekarang, kamu menggangu kehidupan keluargaku, aku tidak mau diam lagi, Parmi!" Ucapan dari Bu Rahma. Sosok Ibu yang sangat menyayangi anaknya, walau bukan anak kandungnya. Sontak yang mendengar ternganga karena terkejut.
Warga pun kembali berbisik-bisik.
"Astagfirullahhalazim, apa benar?"
"Ah saya tidak tau, dan saya tidak mau asal bicara."
"Kan...! Apa saya bilang. Saya tau, saudaranya Bu Rahma kan, ada di desa sebelah juga."
"Iya, saudaranya dia itu kaya raya."
Parmi yang juga mendengar pun ikut menegang. Dia berbalik, lalu menamp*r pipi, Bu Rahma.
Plaak!
Plaak!
Bu Rahma teehuyung karena sangking kerasnya tanpar*n itu. Pak Ardi dengan sigap menangkap istrinya supaya tak terjatuh.
"Parmi! Apa yang kamu lakukan?!" Teriak Pak Ardi, menatap tajam kepada, Parmi.
"Ajari mulut istrimu itu, Kang. Sembarangan kalau ngomong. Nggak mikir apa? Dulu itu, Embak Sulis lah yang menjadi korban, dan dia dan orang tuanya sendirilah yang menghukum Bapaknya, si Wardah. Kalau berani bicara ngawur lagi, jangan salahkan saya, bila saya adukan sama Embak Sulis." Gertak Parmi, lalu memimpin warga kembali ke desa asal.
Bu Rahma hanya bisa menangis di pelukan Suaminya.