NovelToon NovelToon
Cinta Kecil Mafia Berdarah

Cinta Kecil Mafia Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Beda Usia / Fantasi Wanita / Cintapertama / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zawara

Zoya tak sengaja menyelamatkan seorang pria yang kemudian ia kenal bernama Bram, sosok misterius yang membawa bahaya ke dalam hidupnya. Ia tak tahu, pria itu bukan korban biasa, melainkan seseorang yang tengah diburu oleh dunia bawah.

Di balik kepolosan Zoya yang tanpa sengaja menolong musuh para penjahat, perlahan tumbuh ikatan tak terduga antara dua jiwa dari dunia yang sama sekali berbeda — gadis SMA penuh kehidupan dan pria berdarah dingin yang terbiasa menatap kematian.

Namun kebaikan yang lahir dari ketidaktahuan bisa jadi awal dari segalanya. Karena siapa sangka… satu keputusan kecil menolong orang asing dapat menyeret Zoya ke dalam malam tanpa akhir.

Seperti apa akhir kisah dua dunia yang berbeda ini? Akankah takdir akan mempermainkan mereka lebih jauh? Antara akhir menyakitkan atau akhir yang bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zawara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok Misterius

Bau bensin menyengat hidung, pekat dan memualkan, menguasai udara malam yang mati. Seorang anggota Cleaners berjongkok di dekat teras, tangannya menggenggam erat sebuah pemantik api perak. Di balik masker gasnya, ia menyeringai lebar, menikmati detik-detik sebelum kehancuran.

"Selamat tinggal, Monster," bisiknya penuh penghinaan.

Ibu jarinya mulai menekan roda pemantik. Bunyi klik logam terdengar nyaring di keheningan, dan percikan api kecil mulai menari, siap menyambar uap bensin yang menggenang. Namun, takdir berkata lain. Api itu tidak sempat menyentuh bensin.

Sreeet!

Dalam sekejap mata, lebih cepat dari kedipan sebuah bayangan hitam melesat dari balik kegelapan pilar teras. Lengan anggota Cleaner itu dipelintir paksa dengan bunyi krak yang mengerikan namun tertahan, seolah tulang bertemu besi. Pemantik apinya terlempar jauh, hilang ditelan rumput. Sebelum jeritan kesakitan sempat lolos dari tenggorokannya, sebuah hantaman keras menghajar tengkuknya dengan presisi bedah.

Bruk. Tubuh itu ambruk tanpa suara, lumpuh seketika.

Dan itu hanyalah permulaan dari mimpi buruk yang sebenarnya.

Dari balik batang pohon besar, dari atas tembok pagar yang tinggi, bahkan seolah merembes keluar dari aspal yang hitam, empat sosok misterius lainnya muncul serentak. Mereka mengenakan pakaian serba hitam yang ketat, taktis, dan menyatu sempurna dengan kegelapan malam, seakan-akan mereka ditenun dari bayangan itu sendiri. Wajah mereka tertutup topeng full-face hitam polos tanpa celah, licin dan tanpa ekspresi, membuat mereka terlihat seperti manekin pembunuh yang tidak memiliki jiwa.

Gerakan mereka sunyi senyap, tanpa derap langkah, namun mematikan.

Empat anggota Cleaners lain yang sedang menuang bensin di samping rumah tiba-tiba ditarik mundur secara paksa ke dalam kegelapan pekat. Tidak ada teriakan minta tolong, hanya suara gedebuk tumpul saat tubuh-tubuh itu dihempaskan ke tanah, diikuti oleh suara jerigen bensin yang menggelinding, menumpahkan isinya dengan sia-sia ke atas tanah yang kini menjadi medan pembantaian.

David, yang semula berdiri angkuh di dekat mobilnya menanti kobaran api, membelalakkan matanya. Senyum licik di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh kerutan horor. Ia menyaksikan anak buah terbaiknya, para Cleaners yang sadis dan terlatih bertumbangan satu per satu seperti deretan kartu domino.

Mereka dilumpuhkan dengan teknik bela diri yang aneh, terlalu cepat untuk diikuti mata, dan sangat efisien. Musuh baru ini tidak menggunakan letusan senjata api; mereka menggunakan tangan kosong dan pisau kecil, mematahkan serangan para Cleaners dengan kemudahan yang menghina.

"Apa-apaan ini?!" seru David, suaranya melengking panik bercampur amarah yang meledak. "Siapa mereka?!"

Viktor yang berdiri siaga di sebelahnya segera mencabut pistol, namun laras senjatanya bergoyang bingung. Ia tidak tahu harus membidik ke mana karena gerakan pasukan hitam itu terlalu cepat, terus membaur dan menghilang di antara bayang-bayang.

"Tuan! Kita disergap!" teriak Viktor, suaranya bergetar.

Melihat rencana sempurnanya berantakan dan pasukannya dipermainkan, wajah David memerah padam. Rasionalitasnya menguap. Ia tidak peduli lagi soal "main bersih" atau operasi "tanpa suara".

"Bunuh mereka semua!" teriak David lantang, suaranya memecah keheningan malam komplek yang mati itu bagai petir. "Semua unit! Serang! Tembak siapa saja yang bukan orang kita!"

Mendapat perintah itu, sisa pasukan Cleaners yang berjumlah sekitar dua puluh orang segera bereaksi. Disiplin sunyi mereka runtuh, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang brutal. Mereka mencabut senjata api serentak.

Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan mulai meletus susul-menyusul, mengubah halaman depan rumah Zoya yang tadinya hening menjadi neraka kecil yang bising.

Kilatan api dari moncong senapan serbu Cleaners menyala bergantian, menciptakan efek strobe light yang mengerikan di kegelapan malam; memperlihatkan potongan-potongan adegan kekerasan dalam kerlipan cahaya singkat. Peluru-peluru berdesing liar, menghancurkan pot bunga menjadi debu, merobek kulit batang pohon, dan memecahkan kaca pos satpam hingga berkeping-keping.

Tapi target mereka, total lima sosok berbaju hitam itu bukanlah sasaran yang diam. Mereka bergerak seperti asap; cair, cepat, dan tak tersentuh.

Seorang anggota Cleaners bertubuh raksasa mengarahkan senapan laras panjangnya ke salah satu sosok hitam yang melintas. "Mati kau!" teriaknya penuh nafsu membunuh.

Tapi sebelum pelatuk ditarik habis, sosok hitam itu sudah meluncur rendah di atas aspal basah, menyelip licin di antara kaki si raksasa, dan KRAK! menendang tempurung lututnya dari belakang hingga menekuk ke arah yang salah.

Si raksasa melolong panjang, tubuh besarnya ambruk. Namun, belum sempat ia menyentuh tanah, sebuah pisau hitam telah menancap tepat di celah lehernya. Senyap. Mematikan. Tanpa ampun.

Di sisi lain medan laga, tiga anggota Cleaners mengepung dua sosok hitam sekaligus. "Tembak! Tembak serentak!"

Peluru dimuntahkan dalam rentetan mematikan. Namun, kedua sosok hitam itu melakukan gerakan akrobatik yang gila, seolah menentang gravitasi. Satu melompat tinggi ke atas kap mobil van, sementara satu lagi berguling cepat ke samping. Peluru para Cleaners justru menembus udara kosong dan menghantam teman mereka sendiri yang berada di seberang lintasan tembak.

"Bodoh! Perhatikan sasaran!" teriak Viktor frustrasi melihat kekacauan itu.

Tidak ingin tinggal diam, Viktor mencabut pisau kukri besarnya, bilah tebal yang mampu membelah tulang, dan menerjang salah satu penyerang terdekat.

TRANG!

Bentrokan logam memercikkan bunga api di udara. Viktor terbelalak kaget. Sosok hitam di depannya menangkis serangan brutal pisau beratnya hanya dengan sebilah pisau belati kecil, namun kuda-kudanya kokoh tak bergeming seperti batu karang.

Tanpa suara, sosok itu memutar pergelangan tangan Viktor. Gerakannya terlihat halus, tapi di baliknya tersimpan tenaga monster. Pisau kukri Viktor terlepas dari genggaman, dan detik berikutnya, sebuah tendangan memutar menghantam rahang kanan Viktor dengan telak.

BUAGH!

Viktor terhuyung mundur, darah segar muncrat dari mulutnya. Ia, tangan kanan David yang ditakuti di dunia bawah tanah, baru saja dipermainkan seperti anak kecil yang baru belajar berkelahi.

"Siapa kalian?!" raung Viktor sambil menyeka darah kasar, matanya liar mencari celah pertahanan musuh.

Tidak ada jawaban. Sosok-sosok itu bisu. Mereka tidak berteriak, tidak mengumpat, bahkan di tengah pertarungan gila ini, deru napas mereka pun terdengar teratur. Itu yang membuat mereka jauh lebih mengerikan daripada monster mana pun. Bagi mereka, ini bukan perkelahian. Ini hanyalah pekerjaan bersih-bersih.

David menyaksikan pembantaian itu dari celah pintu mobilnya yang berlapis baja. Tangannya gemetar hebat, bukan karena dinginnya malam, melainkan karena adrenalin dan rasa ngeri yang merayap di tulang punggungnya.

Pasukan Cleaners-nya pembunuh elit yang ia latih dengan uang yang tak sedikit, sedang dibantai habis-habisan. Ia melihat satu per satu dari mereka jatuh; ada yang lehernya dipatahkan dengan satu gerakan efisien, ada pula yang senjatanya dirampas lalu ditembakkan balik ke kepalanya sendiri.

Gerakan pasukan hitam itu terlampau efisien. Satu serangan, satu nyawa. Tanpa gerakan sia-sia. Seperti tarian kematian yang koreografinya sudah dihafal di luar kepala.

"Mundur! Formasi bertahan!" teriak David panik melalui earpiece-nya, suaranya pecah. "Lindungi aku! Lupakan rumah itu! Lindungi aku!"

Sisa-sisa anggota Cleaners yang masih mampu berdiri, kini hanya tersisa sekitar tujuh orang segera berlari mundur dengan kacau, membentuk lingkaran defensif di sekitar mobil David. Wajah mereka pucat pasi di balik masker gas, mata mereka terbelalak penuh teror murni. Tangan mereka gemetar saat menodongkan senjata ke segala arah, tidak tahu dari mana serangan berikutnya akan datang.

Sementara itu, lima sosok hitam itu berhenti menyerang secara serentak, seolah dikomandoi oleh pikiran kolektif. Mereka berdiri tegak di tengah halaman yang kini penuh mayat, membentuk barisan setengah lingkaran yang mengepung mobil David dengan aura dominasi mutlak.

Darah menetes pelan dari ujung pisau-pisau mereka, jatuh ke aspal hitam, menyatu dengan genangan bensin yang gagal dinyalakan tadi.

Suasana kembali hening, namun kali ini, heningnya jauh lebih mencekam dan berat. Bau bubuk mesiu sisa tembakan, amis darah segar, dan uap bensin bercampur menjadi aroma kematian yang pekat menyesakkan paru-paru.

Salah satu sosok hitam yang berdiri paling depan, mungkin pemimpinnya melangkah maju satu langkah pelan. Kepala yang tertutup topeng hitam polos itu miring sedikit, menatap lurus ke arah David.

David menelan ludah yang terasa kesat. Di bawah tatapan topeng tanpa wajah itu, ia merasa kerdil, seperti seekor kelinci yang sedang ditatap oleh lima ekor ular kobra sekaligus. Ia sadar, malam ini papan caturnya telah dijungkirbalikkan. Ada pemain ketiga yang baru saja masuk, dan pemain ini jauh lebih berbahaya dari Bram.

"Siapa..." suara David tercekat di tenggorokan, seluruh keberanian dan arogansinya menguap tak bersisa. "Siapa tuan kalian?"

1
partini
wow
knovitriana
iklan buatmu
knovitriana
update Thor saling support
partini
🙄🙄🙄🙄 ko intens ma Radit di sinopsis kan bram malah dia ngilang
partini
ini cerita mafia apa cerita cinta di sekolah sih Thor
partini
yah ketauan
partini
Radit
partini
😂😂😂😂😂 makin seru ini cerita mereka berdua
partini
ehhh dah ketauan aja
partini
g👍👍👍 Rian
partini
seh adik durjanahhhhhh
partini
awal yg lucu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!