Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 22》
Mungkin Clara mengira bahwa jika ia pindah ke mansion maka akan banyak kesempatan untuk mendekati Albert, namun nyatanya tidak seperti itu, sudah beberapa hari ia berada di sana namun Albert sibuk dengan pekerjaan.
Seperti yang Emily ketahui selama ini, jadwal Albert tidak akan berubah, setelah pulang bekerja ia akan tetap diam di ruang kerja sampai larut malam.
Jadi, Clara mulai berfikir bagaimana caranya untuk mengusir Emily dari sana.
"Heh, sok sibuk sekali setiap hari," ucap Clara pada Emily yang sedang merawat kebunnya.
Ia perlahan mendekati Emily lalu menjambak rambutnya, akhir-akhir ini Emily merasa tidak enak badan, jadi tidak bisa meladeni perkataan Clara, namun hari ini gadis itu berbeda, ia bermain fisik.
"Lepasin gak!," Emily berusaha melepas tangan gadis itu namun kekuatannya tidak cukup untuk melakukannya.
"Aku udah sering bilang supaya kamu cepat-cepat keluar dari sini, kamu emang harus di kasar-in baru sadar ya"
Clara menghempaskan tangannya membuat Emily terjatuh di tanah, hari itu para pelayan sedang tidak berada di rumah karna weekend, sedangkan Bibi Vei sudah pulang ke kampung dari dua hari yang lalu.
Yang tersisa hanyalah mereka dan kedua pelayan yang Clara miliki.
"Jahat banget sih, kalau kamu emang mau nikah sama Albert ya godain dia dong, bukannya malah begini, kan kata kamu aku gak ada apa-apa di mata Albert, cuma karna kecelakaan kecil aja makanya dia nikah sama aku, kalau kita cerai juga aku gak masalah," ucap Emily dengan santai.
Ia bisa saja membentak Clara, namun ia ingin menyimpan energi yang untuk berjalan masuk ke mansion.
Clara berfikir bahwa perkataan Emily ada benarnya, lagi pula ia tau bahwa mereka tidak tidur satu ranjang, masing-masing memiliki kamar yang berbeda.
Kini Emily sudah naik ke atas ranjang dan berbaring, badannya tiba-tiba terasa sangat sakit, jadi ia memutuskan minum obat lalu memejamkan mata, barang kali saat ia terbangun maka badannya bisa terasa agak enakan.
Setelah beberapa jam tertidur, Emily di kejutkan dengan suara benda yang pecah dari arah kamar di sampingnya, tidak salah lagi itu kamar milik Albert.
"Saya sudah bilang jangan masuk ke kamar saya, dan bagaimana bisa anda masuk dengan pakaian seperti itu?!"
Dari sudut pintu yang terbuka kecil, Emily dapat melihat Clara yang memakai langerie, memang benar tadi pagi ia memprovokasi gadis itu untuk menggoda Albert namun bukan begini caranya, dan juga mengapa langsung malam ini.
Clara terlihat gemetar, mungkin karna baru kali ini ia melihat Albert dengan ekspresi penuh emosi juga nada suara yang kasar, bahkan Emily juga baru ini melihatnya.
Emily mendekati Clara, hendak membawanya keluar dari sana, namun Clara malah mendorongnya, membuatnya jatuh dekat serpihan gelas kaca yang berhamburan, tangannya tertutuk salah satu serpihan itu namun ia hanya diam melihat Clara yang lari dengan wajah merah, mungkin ia malu.
Albert belum menyadari luka di tangan Emily karna keadaan kamar yang begitu gelap, begitu ia menyalakan lampu, ia bisa melihat darah dari tangan Emily.
Albert memijat pelan pelipisnya, lalu mengambil sapu di luar, menyapu serpihan kaca sebelum menyuruh Emily bangkit.
"Biar aku ambil kotak obat dulu," ucapnya lalu pergi mengambil barang itu di kemarin.
Ia menarik serpihan kaca dari tangan Emily lalu mulai mengoles obat di are yang terluka.
Selama di obati, ia sama sekali tidak menangis, membuat Albert bertanya, "Apa tidak sakit?"
Emily menggelengkan kepala, dari pada luka kecil di tangannya, penyiksaan ayahnya dulu lebih kejam, ia tak pernah menangis saat di pukuli, mungkin karna sudah terbiasa.
"Aku akan menyuruh gadis itu pulang besok," ucap Albert padanya, lagi pula ia sudah tidak terlihat sakit jika berbuat seperti itu.
Namun tetap saja Clara akan tetap masuk ke kantor karna kesepakatannya menjadi sekretaris masih lama berakhir.
Benar saja, esoknya sebelum Emily bangun, ternyata Clara beserta pelayannya sudah pergi dari sana.
***
Begitu hari Senin tiba, mereka kembali ke rutinitas biasa, Emily turun ke lantai bawah dan mendapati Albert yang sarapan hanya dengan kopi dan roti selai kacang.
"Albert, apa aku masih harus menemani mu bekerja," tanya Emily, sambil mengoleskan selain strawberry di rotinya.
Bibi Vei belum pulang dari kampung, jadi selama beberapa hari mereka hanya sarapan sekedarnya saja.
"Sebaiknya ikut, tapi jika kau tidak mau, aku tidak mempermasalahkannya," jawab Albert dengan tenang, sepertinya kejadian yang lalu sudah ia lupakan.
"Kalau begitu aku akan tinggal saja," ucap Emily, dia tidak merasa di butuhkan di sana, dan juga Emily yakin bahwa Clara sudah takut untuk berbuat macam-macam pada Albert.
"Hmm, apa tangan mu sudah sembuh?," tanya Albert karna melihat perban di tangan Emily sudah di buka.
"Ya, hanya tinggal bekasnya saja," jawabnya.
Albert segera pergi ke kantor begitu menghabiskan makanannya, sedangkan Emily pergi ke atas mengganti bajunya.
Tadi pagi ia mendapatkan pesan dari Ibunya yang menyuruhnya kembali ke rumah karna ada sesuatu yang ingin mereka katakan.
'Semoga bukan sesuatu yang buruk' Ucap Emily dalam hati.
Ia pergi menggunakan taksi.
Rumah yang orangtuanya tinggali sekarang bukan rumah pertama yang mereka miliki, karna mereka rumah itu sudah di situ bank, hal ini terjadi akibat pinjaman bank yang terus menunggak.
Ayahnya senang berjudi dan Ibunya hobi membeli barang branded, itu yang membuat mereka jatuh dan membeli rumah kecil di lingkungan yang kurang bagus.
Selama ini mereka mengandalkan Emily yang mendapat beasiswa penuh di serta tunjangan hidup lalu di lanjutkan dengan gajinya di perusahaan besar, bahkan sekarang saat sudah menikah, Emily masih mengirimkan uang karna mereka terus mengancam akan meminta uang pada Albert.
"Mengapa kau memanggil Emily?, harusnya kita minta uang lagi pada suaminya itu"
Emily dapat mendengar mereka dari pintu depan rumahnya, ia tak berniat masuk, ia ingin mendengar seluruh percakapan mereka.
"Kita sudah mendapat 100 juta darinya, jangan sampai ia marah dan malah memberitahukan pada Emily, lebih baik kita minta pada Emily saja"
Perkataan Ibunya membuat ia kecewa karna ia tidak tau bahwa Albert sudah memberikan uang pada mereka, padahal ia juga akan di bayar untuk menikah, ia merasa Albert di rugikan dalam hal ini
"Huh, uang bulanan yang ia transfer saja sudah berkurang, sepertinya ia sudah tidak ingat siapa yang membesarkannya!"
Setelah kalimat terakhir yang di keluarkan ayahnya, Emily masuk dan membanting kartu Atm nya di lantai.
"Ambil semua tabunganku, pinnya 22***5 dan jangan pernah menghubungiku atau bertemu denganku, mulai hari ini aku bukan anak kalian"
Emily pergi tanpa menoleh ke belakang, isi tabungan yang ia berikan kepada mereka senilai 127 juta, itu semua hasil ia menabung selama bekerja, namun tidak termasuk dengan 50 juta uang yang Albert berikan di awal kontrak, ia akan menyimpan itu untuk keadaan darurat.
Emily menangis sepanjang jalan, dalam benaknya muncul lagi ingatan dari tokoh ini, bagaimana semua keberhasilannya tercapai karna usahanya dan tidak ada bantuan dari mereka.