Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27~ Adegan yang gagal
Langkah Dewangga berhenti. "Keluarlah," ucapnya pelan.
Riri yang sejak tadi bersembunyi langsung menegang. Jadi... dia ketahuan. Dengan ragu, ia melangkah mendekat. "Om, aku-"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dewangga sudah menarik pergelangan tangannya dan menyeretnya pergi.
"Om! Lepas!" protes Riri, setengah panik.
Dewangga tidak menjawab. Langkahnya panjang, wajahnya masih menyimpan sisa emosi dari percakapan sebelumnya.
Riri mencoba melepaskan diri, tapi cengkraman Dewangga terlalu kuat. "Om, aku nggak sengaja denger--sumpah!" ucapnya cepat.
Tetap tidak ada jawaban. Pintu kamar terbuka, lalu--
Klik.
Suara kunci membuat jantung Riri berdegup lebih kencang. "Om...." Suaranya melemah, kini benar-benar gugup.
Dewangga berbalik, menatapnya tajam. Tatapan yang sulit dibaca --antara marah, lelah, dan sesuatu yang lain.
"Kamu dengar semuanya?" tanyanya pelan.
Riri terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Suasana mendadak hening.
Dewangga menghela napas sepanjang, lalu mengusap wajahnya kasar. Emosinya belum sepenuhnya reda.
"Kamu memang selalu muncul di waktu yang tidak tepat," gumamnya.
Riri menunduk, merasa bersalah. "Aku nggak bermaksud...."
Dewangga menatapnya lagi. Kali ini lebih lema. Lebih dalam. "Kalau begitu," ucapnya pelan, "Kamu harus siap menanggung akibatnya."
Mata Riri membesar. "Akibat apa?"
Dewangga melangkah mendekat. Bukan dengan kemarahan --tapi dengan sesuatu yang membuat Riri justru semakin gugup.
Riri menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Om, jangan macam-macam, ya!" Suaranya terdengar panik, nyaris bergetar.
Dewangga tak menjawab. Ia justru mendorong pelan tubuh Riri hingga gadis itu terhimpit pintu. Kedua tangannya menahan, mengurung tanpa memberi celah.
Jantung Riri berdegup tak karuan.
Dewangga mengangkat dagunya, memaksa Riri menatapnya. "Kenapa?" suaranya rendah, berat. "Kamu istriku. Aku berhak berbuat macam-macam padamu."
Napas Riri tercekat. Anehnya, kali ini ia tidak menepis. Tidak juga menghindar. Seolah tubuhnya membeku di tempat.
Senyum tipis terbit di bibir Dewangga. Jemarinya bergerak pelan, menyentuh bibir Riri dengan hati-hati, hampir seperti ragu.
"Lagu tadi... untukku, kan?"
Riri terdiam.
"Jadi...," lanjutnya lirih, "kamu suka padaku, hem?"
Pipi Riri memanas. Tatapannya goyah, berusaha mencari celah untuk mengelak. Namun, ia tahu... lagu itu memang ungkapan hatinya.
Perlahan, sangat pelan, ia mengangguk. "Hem...." suaranya nyaris tak terdengar.
Senyum di bibir Dewangga sulit ditahan, mengembang lebar. Ia mendekat, menatap Riri dengan sorot mata yang hangat.
"Aku juga suka sama kamu," ucapnya pelan. Lalu dengan nada menggoda, ia menambahkan, "Bahkan... cinta sama kamu. Kamu cinta sama suamimu ini nggak?"
Riri tersipu malu. "Apaan sih! Nggak!" Ia mendorong dada Dewangga agar menjauh, tapi pria itu tetap bertahan di tempatnya.
"Katakan dulu," desak Dewangga, senyum usilnya tak hilang. "Kamu cinta sama suamimu ini."
Wajah Riri semakin memanas. Ia memalingkan wajah. "Aku ...." Suaranya tertahan di tenggorokan.
"Aku apa?" goda Dewangga lagi.
Riri meneguk ludah, kedua tangannya meremas ujung dress-nya. Jantungnya berdegup cepat.
"Aku cinta sama kamu!" ucapnya akhirnya, sedikit meninggi karena gugup.
Dewangga terdiam sejenak, lalu tersenyum puas. Ia menarik Riri ke dalam pelukannya, seolah tak ingin melepas.
Amarah yang tadi bergejolak perlahan meredup, berganti dengan perasaan lain yang lebih dalam--keinginan untuk memiliki, tapi juga ragu untuk melangkah terlalu jauh.
Dewangga mengangkat tubuh Riri dan membaringkan di atas tempat tidur dengan hati-hati. Tatapannya berubah, tak lagi sekedar menekan--ada sesuatu yang lebih lembut di sana.
"Om... aku belum siap," ucap Riri lirih, nyaris berbisik.
Dewangga terdiam. Ia menghela napas pelan, menahan dirinya sendiri. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.
Lalu ia tersenyum tipis, mengangguk. "Iya... kita pelan-pelan aja."
Riri menatapnya, masih gugup, tapi tidak lagi setegang tadi.
Suasana di antara mereka berubah--lebih hangat, tapi juga dipenuhi rasa kikuk yang manis.
Tangannya terangkat perlahan, menyibak helai rambut yang jatuh di pipi Riri, lalu jemarinya berhenti sejenak di sana.
"Apa boleh?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan.
Riri menahan napas. Dadanya terasa sesak oleh degup jantungnya sendiri. Dengan pipi memanas, ia mengangguk kecil tanpa berani menatap terlalu lama.
Dewangga mendekat, gerakannya tenang, seolah memberi waktu untuk Riri berubah pikiran.
Namun, Riri tetap diam.
Dan jarak itu akhirnya menghilang. Dewangga akhirnya menyentuhkan bibirnya.
Sentuhan itu terasa sangat lembut, membuat dunia Riri seakan berhenti sejenak. Tangannya refleks mencengkram sprei, mencoba menenangkan diri dari perasaan yang tiba-tiba membuncah.
Saat Dewangga akan lebih jauh, tiba-tiba --
Tok tok tok
Suara ketukan pintu memecah semuanya.
"Pa...." terdengar suara Nura dari luar.
Dewangga langsung menjauh, bangkit dari sisi Riri. Riri pun ikut duduk, wajahnya masih memerah, napasnya belum sepenuhnya stabil.
Mereka saling berpandangan sejenak--canggung, tapi juga menyimpan sesuatu yang baru saja tumbuh.
"Om, ada Nura... gimana ini?" bisik Riri panik. Ia buru-buru merapikan pakaiannya, tangannya sedikit gemetar.
Dewangga dengan cepat merapikan bajunya, wajahnya kembali datar seolah tak terjadi apa-apa. "Tenang. Kamu tetap di sini,“ ucapnya rendah.
Riri mengangguk, meski jantungnya masih berdegup kencang.
Dewangga melangkah ke pintu, lalu membukanya sedikit--cukup untuk menampakkan wajahnya saja.
“Ada apa, Sayang?" tanyanya tenang.
Nura berdiri di luar, berusaha mengintip ke dalam. Namun tubuh Dewangga sengaja menghalangi.
"Di sini ada Mama nggak, Pah?" tanyanya polos, tapi matanya masih mencoba melihat ke dalam.
"Tidak ada," jawab Dewangga singkat. "Mungkin Mama kamu di kamarnya."
"Aku tadi ke sana, tapi Mama nggak ada..." Nura mulai gelisah. "Pa, bantu cari Mama dong."
Dewangga berdehem pelan, berusaha tetap terlihat santai. "Papa sudah mengantuk, Sayang. Coba kamu telepon Mama, ya."
Nura terdiam sejenak, masih ragu.
Sementara itu, di dalam kamar, Riri membeku. Napasnya tertahan, takut sedikit saja suara akan membuat semuanya terbongkar.
Nura menghela napas pelan. "Baiklah." Ia lalu menghubungi nomor ponsel Sarah. Beberapa kali panggilan masuk, hingga akhirnya tersambung.
"Mama!" serunya. "Mama di mana?" tanyanya cepat.
Terdengar suara Sarah dari seberang, sedikit terputus-putus.
(Mama ada urusan sebentar, Sayang. Kamu tidur di kamar Mama dulu, nanti Mama nyusul.)
"Memangnya Mama di mana? Kok suaranya nggak jelas?" Nura mulai curiga.
(Oh... Mama lagi di kamar lain. Ada zoom meeting dengan klien.)
Nura terdiam. Sejenak, lalu mengangguk kecil meski tak terlihat. "Oh, ya sudah... aku nggak ganggu, Ma."
(Mama segera selesai, Sayang.)
Panggilan terputus. Nura kembali menatap Dewangga. "Pa, aku ke kamar Mama dulu ya. Papa cepat istirahat."
Dewangga mengangguk dengan senyum tipis. "Iya, Sayang."
Setelah Nura benar-benar pergi, Dewangga menutup pintu perlahan.
Klik.
Dewangga berjalan menghampiri Riri yang duduk di tepi tempat tidur. Ia lalu ikut duduk di sampingnya.
"Nura sudah pergi, Om?" tanya Riri pelan.
"Sudah," jawab Dewangga singkat.
Riri menoleh, menatap wajah pria itu. Ada sesuatu yang berbeda--rahangnya menegang, sorot matanya tidak lagi setenang tadi.
"Om...," panggil Riri lirih. Tanpa banyak kata, ia merapat dan memeluk Dewangga dari samping, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Seolah ingin mengatakan bahwa ia ada di sana.
Dewangga terdiam sejenak, lalu membalas pelukan itu. Tangannya mengusap pelan lengan Riri. "Maaf..." ucapnya rendah. "Aku belum bisa menceritakan semuanya ke kamu."
Riri tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil dalam diam, tetap berada dalam pelukan Dewangga. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Nggak usah cerita kalau Om belum siap," ucapnya pelan. "Kapan pun Om butuh pelukan... aku akan selalu ada."
Dewangga terdiam sesaat, lalu membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia menunduk, mengecup lembut puncak kepala Riri. "Terima kasih... untuk pelukannya," gumamnya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang hangat. Lalu dengan suara yang lebih hati-hati Dewangga berkata, "Kalau begitu... masa percobaan tiga bulan kita... sudah lulus?"
Riri perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap Dewangga lekat. Ada sesuatu di matanya --bukan hanya malu, tapi juga ragu.
"Sebenarnya... aku--" ucapnya, lalu terhenti.
Dewangga langsung menggenggam kedua tangan Riri, seolah takut kehilangan momen itu. "Kamu percaya sama aku, kan?" tanyanya pelan, tapi penuh harap.
Riri terdiam. jantungnya kembali berdegup cepat. Beberapa detik terasa begitu panjang. Lalu, perlahan... ia mengangguk.
Dewangga tersenyum, kali ini benar-benar lega. Ia menarik Riri kembali ke dalam pelukannya, mengeratkan seolah takut kehilangan.
"Aku nggak mau dengar kata cerai lagi," ucapnya pelan, lebih seperti permohonan daripada larangan. "Kamu... satu-satunya wanita di hidupku. Satu-satunya Nyonya Dewangga."
Riri mendongak, menatap wajah pria itu. Senyum tipis terbit di bibirnya, meski masih ada sisa ragu di matanya. "Apa aku boleh pegang kata-kata Om?"
Dewangga menunduk sedikit, memperpendek jarak di antara mereka. "Tentu saja," jawabnya lembut. "Pegang yang lain juga boleh."
Riri mengerucutkan bibir, sedikit cemberut. "Kenapa sih Om suka banget gangguin aku?"
Dewangga terkekeh pelan. "Karena kamu sangat manis, aku suka."
"Ih, Om..." Riri memalingkan wajah, tapi senyumannya tak bisa disembunyikan.
Dewangga hanya tersenyum, menatap lama--seolah menikmati setiap perubahan ekspresi di wajah Riri.
*,*