"Aku tidak butuh uangmu, Pak. Aku hanya butuh tanggung jawabmu sebagai ayah dari bayi yang aku kandung!" tekan wanita itu dengan buliran air mata jatuh di kedua pipinya.
"Maaf, aku tidak bisa!" Lelaki itu tak kalah tegas dengan pendiriannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu ranjang
Sofia mengambil selimut dan juga bantal, lalu menyerahkan pada axel.
"Nih, selimut sama bantal. Jangan ganggu aku lagi,' ucap wanita itu segera naik ke atas tempat tidurnya.
"Aku nggak mau tidur di lantai!" tolak axel
"Lalu bapak mau tidur dimana? Aku nggak mau berbagi tempat tudur," sahut sofia
"Kalau begitu tukaran, kamu yang tidur di bawah, aku di atas."
Sofia menatap tajam. Berani sekali menyuruhnya tidur di lantai. "Aku nggak mau. Ini kamar aku, bapak nggak berhak ngatur."
"Sofia, aku tidak biasa tidur di lantai. Kamu tuh punya hati nggak sih? Kenapa kamu semakin ngelunjak. Seharusnya kamu itu patuh jadi istri."
Sofia tersenyum senjang mendengar ucapan axel. "Nggak usah bahas status istri atau suami, bukankah kamu sendiri yang mengatakan tidak sudi menjadikan aku sebagai istrimu. Pernikahan ini hanya memberi status untuk anakku. Jadi kamu jangan berharap aku akan menjalankan peranku sebagai istri," jawab sofia.
Axel terdiam dan tak lagi menyahut ucapan sofia. Ia menggelar selimut tadi sebagai alas tidurnya. Mengingat besok pagi banyak sekali tugas yang harus ia tangani di kantor, maka ia menghindari perdebatan yang tak berkesudahan. Sadar sekali semua berubah karena ulahnya sendiri. Saat ini jalani saja bagaimana kedepannya nanti.
Setelah memastikan axel tidur di bawah, sofia sedikit bernafas lega. Sebenarnya ia yakin axel tidak akan berbuat buruk, karena kejadian malam itu di karenakan axel dalam pengaruh obat p3rangsang. Dan ia juga sadar sikap axel seperti ini karena dirinya di anggap tidak pantas menjadi istri dari seorang komandan yang memiliki pangkat cukup bagus di kepolisian.
Sofia mematikan lampu kamar itu, lalu menggantikan dengan lampu tidur. Saat ia hendak berbaring, ia kembali menatap axel yang meringkuk karena kedinginan. Seketika rasa tak tega muncul dalam hatinya. Bagaimanapun juga saat ini axel sudah menjadi suaminya. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan dan sikap axel, maka rasa ibanya hilang.
Axel terbangun saat tubuhnya terasa sangat dingin. Tubunya juga terasa sakit semua. Mungkin karena selama ini ia memang tidak pernah tidur di lantai.
"Ya allah, ini kenapa tubuh aku sakit semua. Uuuhhgg..." axel merenggangkan persendian yang terasa sakit. Ia melihat sofia tidur begitu nyenyak.
"Enak banget anak kesayangan bu murni tidurnya. Aku si anak tiri tersiksa seperti ini," gerutu axel.
Axel berdiri untuk memastikan sofia benar-benar sudah tidur nyenyak. Ya kali ia mau tersiksa mati kedinginan.
"Biarin dia mau ngamok, aku nggak peduli. Dikira enak tidur di bawah," batin axel seraya meraih bantal lalu ikut berbaring di samping sofia.
"Tenanglah, aku cuma numpang tidur. Aku nggak peduli besok kamu buat drama atau ngadu sama mama kesayangan kamu itu," bisik axel tersenyum tipis.
Akhirnya pasangan itu tidur di ranjang yang sama. Sofia tidur begitu pulas sehingga tanpa sadar memeluk guling yang cukup besar di hadapannya. Guling itu rasa nyaman dan menenangkan. Bahkan si guling juga bisa membalas pelukannya.
Pagi-pagi sekali sofia bangun lebih dulu. Matanya masih terasa berat untuk di buka, tetapi panggilan ke toilet memaksanya untuk bangun. Sofia membuka mata saat ia merasa bantal yang di peluk terasa lain dari yang biasanya.
"Aaakhhhh!"
"Aish, kenapa kamu berisik sekali sofia. Aku hanya numpang tidur," gumam axel enggan membuka mata.
Bugh!
"Nggak usah pura-pura ya Pak. Kamu sengaja melakukannya 'kan?" protes sofia sembari memukul axel menggunakan bantal.
Axel seketika membuka mata saat sofia mengatakan dirinya sudah melakukan. Apa yang ia lakukan? Apakah tadi malam ia kembali memp3rkosanya?
Bersambung....
Terimakasih buat raeder yang masih setia di novel ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya all.
.