NovelToon NovelToon
Perindu Senja

Perindu Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:53.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ata~Tenareten

Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.

Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bermain Dalam Disksi Dan Sajak. Patr 1 Arc And.... Fjr ⁴⁹ 2.

"Apa mungkin kubiarkan saja orang yang telah menyepelehkanku? Sebelum aku menarik keras, lepaskan terlebih dahulu," pinta menggema mengisi ruang nan hampa, sehingga membuat mereka yang mendengarkannya mati raga, "Diam! Aku peringatkan kalian, sebelum kutuntaskan masalah ini tak ada satupun diantara kalian bangkit dari duduknya."

Metallo menatapnya sinis sebelum melepaskan tangan Ibu Leni yang digenggam erat olehnya, "Aku pikir guru tak sejahat singa, namun dugaanku diluar nalar. Aku pikir guru sebaik malaikat, tapi itu hanyalah ilusiku yang tak bertepi. Nyatanya, guru memanglah sejahat singa kelaparan yang sedang mencari mangsa untuk disantap," pintanya lembut, namun dapat pula menikam naluri keibuan Ibu Esi.

Suasana hening pun datang menyelimuti setiap insan yang ada disitu, namun keadaan masih saja tidak bisa dirubah semudah membalikan telapak tangan sebab usikkan yang didengar Ibu Leni masih membekas membakar jiwanya.

Beberapa siswa mulai tak bersahabat lagi dengan tegang nya nuansa ruangan yang ada, dilain sisi mereka sangat membutuhkan asupan agar jiwa dan raga dapat dikendalikan walau tak semulus ilusi mereka.

"Aku lapar."

"Aku butuh asupan agar lambungku tak kambuh kembali."

"Aku tidak bisa lagi mengikuti pelajaran nanti, jikalau tak ada asupan yang membuatku bergairah seperti semula."

Keluh mereka semua tanpa peduli dengan keberadaan Ibu Leni, dilain sisi temana-teman mereka yang kini bebas tak terkendali diluar mulai mengolok-olok mereka.

"Sungguh kasihan, hidup bagaikan di dalam buy."

"Metal... Apa yang engkau lakukan?" tanya Kastelo dari balik jendela yg sedikit terbuka.

Ia Mengelus-eluskan pundaknya dan memberi tanda ke arah Ibu Leni yang kini terdiam didepan ruangan mereka.

"Lumayan? Jikalau belum, lakukan sesuatu yang membuat dirinya sangat membenci kamu," saran Kastelo mengejeknya.

Ia mengigit lidahnya, tatapannya sama sinis mengarah pada Kastelo, "Apa-apaan, engkau pikir ini permen karet yang sangat enak dan selalu melekat, jikalau dipegang," cetusnya dengan nada bicara yang sangat tinggi sehingga membuat Ibu Leni tersadar dari lamunannya.

Dia bangkit dari duduknya, kemudian melangkah penuh beban ke depan ruangan. Sesaat Ibu Leni berdiri bagaikan patung yang hampa jiwanya, sebelum memandangi seluruh peserta didiknya, "Sekarang kalian boleh keluar, tapi..." dia menunjuk mereka bertiga, "Tak ada waktu luang bagi kalian. Tetaplah didalam ruangan ini bersama dengan aku."

Satu demi satu siswa mulai meninggalkan ruangan itu untuk memghirup betapa segarnya udara diluar ruang sesaat, sedangkan yang lainnya langsung bergegas ke kantin untuk mengisi perut yang keroncong.

Ketiganya mulai merasa tak nyaman berada disitu, sebab kroncongnya perut tak mampu menutupi raut wajah yang terpancar lesu, dilain sisi sakitnya pukulan yang mereka terima, masih saja mengusik raga mereka.

"Dabllo, apa yang kalian lakukan, sehingga mendapatkan sangsi yang sama dengan aku?" tanya Metallo kebingungan melihat kedua sejolinya mengelus-elus bokong serta telinga mereka.

Belum sempat menjelaskan semuanya kepada Metallo, Ibu Leni memanggil mereka bertiga menghadapnya, " Kalian bertiga, kemarilah."

Ketiganya melangkah penuh tanya, sebab Ibu Leni yang tadinya terlihat sangat geram, kini berubah drastis yang membuat ketiganya merasa ada yang salah dengan tindakan Ibu Leni.

"Sungguh ini diluar dugaanku. Apakah dia benar-benar tak menyimpan dendam kepada kita?" tanya Festo yang mulai bangkit dari duduknya.

Metallo mengerutkan dahinya, pandangan penuh tanya mengarah kepada Ibu Leni, "Diam! Jikalau sakitnya kambuh lagi, maka tak ada ampunnya buat kita bertiga."

Ibu Leni bangkit dari duduknya serta menatap mereka bertiga dengan sangat sinis, namun kali ini sangat jauh berbeda, "Apa yang kalian lakukan, sehingga Ibu menahan kalian bertiga disini?"

Mereka bertiga bingung memberikan jawaban apa yang pasti, hingga dapat meluluhkan kalbunya dan juga mencari cara yang tepat agar semua yang telah terjadi tidak terulang lagi.

"Harusnya kalian tahu, tindakan apa yang telah mengusik diriku," Ibu Leni menghela nafas panjang sebelum melangkah kembali ke tempat duduknya, "Tidak ada kata yang bisa aku kabuli, tidak ada pula harapanku kepada kalian untuk melenyapkan semua yang telah terjadi, agar tak ada kerenggangan diantara kita."

"Maaf, Ibu. kami juga tidak sepenuhnya mengharapkan belaianmu, tapi kami sungguh yakin bahwa suci luhurnya dirimu dapat membawa terang bagi kami," pinta Dabllo yang merasa sangat bersalah dengan semua kejadian yang telah terlewatkan.

Ibu Leni melebarkan matanya, tatapan yang penuh antusias mengarah sipit secara bergantian kepada mereka bertiga, "Jangan sekali-kali mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin aku sanggupi."

Dia menundukkan kepala sesaat, sebelum menatap lagi mereka dengan tatapan yang berkaca-kaca, serta membayangi betapa kejamnya kelakuan mereka bertiga terhadapnya, sehingga membuat kehampaan datang menghampiri dia didepan mereka bertiga.

"Apa yang diperbuatnya?" bisik Festo menatap Ibu Leni dengan penuh tanya.

"Biarkan saja, aku senang jikalau dia terus saja menyita-nyita waktu," cetus Dabllo yang mulai tak nyaman lagi berada disitu, dan ingin keluar mencari zona nyaman.

Bedahal dengan Metallo, dia sama tidak peduli dengan Ibu Leni, dari awal ketika ia memasuki ruang mereka hingga saat ini. Metallo sama sekali tidak memikir bencana yang menimpanya hingga membuatnya tertahan disitu bagaikan di dalam jeruji besi, namun ia membayangi teman-temannya yang lain telah mendahuluinya menuju ke kantin.

*****

"Nia, apa yang Metal lakukan sehingga dia ditahan oleh Ibu Leni?" tanya Kastelo kepadanya didepan kantin.

Nia menoleh kebelakang dan menemui Kastelo yang berjalan menghampirinya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, "Apakah engkau tidak mengenali kepribadiannya?" dia kemudian menundukkan kepalanya sesaat sebelum menatapi Kastelo dengan tatapan yang berkaca-kaca dan mulai menjelaskan semua kejadian yang telah terjadi.

"Sesungguhnya dia dalam zona nyaman, hanya saja dirinya memasuki ruangan kelas kami tidak tepat waktu, sebab Ibu Leni sendiri tidak dapat mengontrol amarahnya akibat perlakuan Dabllo dan Festo."

Kastelo mengerutkan dahinya, "Apa hubungannya semua ini dengan Metallo?"

"Dengarkan aku dulu," dia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, "Sesungguhnya aku bingung dengan kehadirannya, sebab dia telah menghilang ketika pelajaran pertama selesai. Entah apa yang memasuki hingga dirinya tiba-tiba saja dia memasuki ruangan kelas kami, dan melanjutkan pembicaraan Ibu Leni yang sangat mengusik benak."

"Apa Metal katakan?"

"Jangan salah paham dulu, keangkuhannya telah membawanya pada musibah ini. Dia hanya menyambungkan perkataan dari Ibu Leni, yang menyatakan dirinya sejahat singa."

"Dasar... Selalu saja membuat keonaran," cetus Kastelo.

"Hay, Kastelo. Apa yang engkau lakukan disini?" tanya Indri seraya berjalan menghampiri mereka berdua.

"Oh, aku hanya ingin mengetahui secara pasti apa yang telah mereka lakukan hingga membuat Ibu Leni sangat marah."

"Iya, begitulah mereka dan juga dirimu," cetus Indri menatapnya sinis.

Kastelo tertawa kecil, mengingat kelakuan mereka yang hampir tiap hari membuat keonaran di sekolah, "Sudahlah, apa kalaian telah memesan makanan?"

"Belum Kastelo," jawab Nia.

"Jikalau belum, maka pesanlah sekarang. Aku yang traktir kalian."

Nia menatap Indri penuh tanya dilain sisi dia sangat malu jikalau di traktir oleh Kastelo, namun dia juga tidak bisa menolaknya.

Bersambung...

1
Reaz
semagat Thor.../Ok//Good/
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Abu Yub
luar biasa
Abu Yub
Aku kasih bintang masuk ngak dedek
Abu Yub
Aku mampir dedek/Rose//Rose/
Abu Yub
sedih
Abu Yub
dapat melihat
Abu Yub
Tumben
Abu Yub
indah namun aneh
Larina
Turut prihatin dengan keadaan listrik di wilayah Metallo, ternyata cukup payah
Larina
mereka sama-sama menarik nya
Larina
pH no,, dia salah sangka
KIA Qirana
Wah, kalian jadi lebih sakit kan, terjatuh, dan tertimpa 🤔🤔
Adinda
Kasihan Mey, jiwanya jadi murung
ALONE ⭕
Astaga, itu para ibu-ibu rombengan banget mulutnya
Zelyn ⭕
Hey Metallo sabarlah sedikit
Nina ♋
Apa aku seindah senja 🤔🤔🤔
Dhina ♑
Sungguh miris keadaan Mey.
Dikelilingi kebencian
Jazz ♋
Dia siapa
Jazz ♋
Pukulan kamu sungguh dahsyat Mey
Jazz ♋
Karena tidak ada cara lain untuk menyadar........

Thor, itu maksudnya bagaimana ya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!