Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Seminggu telah berlalu sejak Bik Sumi mulai bekerja di rumah besar milik Adista. Selama tujuh hari itu, suasana di dalam rumah terasa sangat berbeda dari minggu-minggu sebelumnya. Keanehan demi keanehan yang biasanya terjadi setiap malam, kini seolah-olah lenyap ditelan bumi. Tidak ada lagi suara langkah kaki yang diseret, tidak ada garukan kuku di pintu, dan tidak ada lagi bau busuk yang mendadak muncul di dapur.
Bik Sumi menjalani pekerjaannya dengan sangat bahagia. Setiap pagi, wanita tua itu bangun dengan senyuman, lalu mulai menyapu halaman, mengepel lantai kayu yang luas, dan memasak makanan yang lezat untuk Adista. Bagi Bik Sumi, bekerja di rumah ini adalah sebuah berkah besar. Rumahnya sangat mewah, majikannya sangat baik dan tidak banyak menuntut, ditambah lagi gajinya tiga kali lipat dari tempat lain.
Setiap kali Adista pulang kerja, ia selalu mendapati rumahnya dalam keadaan bersih, rapi, dan harum aroma masakan. Bik Sumi juga selalu menyambutnya dengan ramah, tanpa menunjukkan raut wajah ketakutan sama sekali.
Namun, di balik semua kondisi yang tampak normal dan damai itu, hati Adista tidak bisa tenang sepenuhnya. Ia masih menaruh teka-teki yang besar tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ronald dan Bram. Pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya justru semakin menumpuk dan membuatnya bingung.
"Kalau memang lukisan itu berhantu dan membawa kutukan, kenapa Bik Sumi sama sekali tidak diganggu? Kenapa seminggu ini semuanya terasa baik-baik saja?" batin Adista setiap kali ia duduk sendirian di ruang tengah.
Adista sering memperhatikan Bik Sumi saat sedang membersihkan ruang tengah, tepat di bawah lukisan perempuan menangis darah. Bik Sumi dengan santai mengelap debu di sekitar bingkai emas itu sambil bersenandung kecil, seolah benda itu hanyalah pajangan dinding biasa yang tidak berbahaya. Tidak ada darah yang menetes, tidak ada hawa dingin yang mencekam, dan tidak ada bisikan ghaib yang terdengar.
Kenyataan ini membuat Adista mulai ragu kembali. Apakah dua kematian sadis kemarin murni karena ada pembunuh bayaran yang sangat ahli yang belum tertangkap oleh polisi? Ataukah makhluk di dalam lukisan itu sedang bersembunyi dan merencanakan sesuatu yang lebih besar?
Siang harinya di kantor, Adista duduk di kursi kerjanya sambil memandangi dokumen perusahaan. Namun, pikirannya kembali melayang ke rumah. Karena merasa tidak kuat lagi memendam kebingungan itu sendirian, Adista akhirnya memanggil Maya, asisten pribadinya, masuk ke dalam ruangan.
Maya melangkah masuk dan duduk di kursi di depan meja Adista. "Ada yang bisa saya bantu, Bu Adista? Apakah Ibu masih memikirkan tentang masalah rumah itu?" tanya Maya dengan nada khawatir, mengingat cerita menyeramkan dari bosnya seminggu lalu.
Adista mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuhnya. "Maya, sudah seminggu ini pembantu baruku, Bik Sumi, bekerja di rumah. Dan anehnya... semuanya terasa baik-baik saja. Tidak ada hal-hal aneh atau teror yang terjadi sama sekali."
Maya mengernyitkan dahi, merasa heran sekaligus lega. "Benarkah, Bu? Berarti tidak ada bau darah atau suara-suara menyeramkan lagi seperti yang dialami Mas Bram dulu?"
"Sama sekali tidak ada," jawab Adista dengan suara bingung. "Bik Sumi malah terlihat sangat bahagia bekerja di sana. Dia bilang rumahku nyaman dan hawanya tenang. Tadi pagi sebelum berangkat kantor, aku sempat bertanya secara tidak langsung apakah dia bisa tidur nyenyak setiap malam, dan dia menjawab tidurnya sangat nyenyak sampai kesiangan."
Adista menghela napas panjang, menatap lurus ke arah jendela kaca ruang kerjanya. "Ini yang membuatku terus bertanya-tanya, Maya. Kejadian yang menimpa Kak Ronald dan Bram itu nyata, aku melihat sendiri jasad mereka yang hancur. Tapi kenapa sekarang, saat ada orang baru di dalam rumah, teror itu malah hilang? Apa mungkin semua ketakutanku selama ini salah? Apa mungkin lukisan itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kematian mereka?"
Maya terdiam sejenak, mencoba mencerna cerita Adista. Sebagai orang luar, ia mencoba memberikan pandangan dari sudut yang lain.
"Bu Adista," kata Maya dengan lembut. "Mungkin saja... makhluk atau energi negatif di dalam rumah itu hanya mengincar orang-orang tertentu. Kalau kita ingat-ingat lagi, korban pertamanya adalah Pak Ronald, kemudian korbannya adalah Mas Bram. Keduanya adalah laki-laki, Bu. Sedangkan Bik Sumi adalah seorang wanita paruh baya. Apakah Ibu pernah memikirkan hal itu?"
Mendengar ucapan Maya, Adista seketika tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Pikiran itu sama sekali belum pernah lintas di kepalanya.
"Maksudmu... makhluk itu hanya mengincar laki-laki?" tanya Adista memastikan.
"Itu hanya tebakan saya saja, Bu," ujar Maya berhati-hati. "Dalam banyak cerita misteri kuno, kadang ada sosok ghaib wanita yang hanya menyukai atau membenci lawan jenisnya. Jika wanita dalam lukisan itu memang berhantu, mungkin dia hanya ingin menarik perhatian atau mengambil nyawa para pria yang tinggal di rumah tersebut. Itulah sebabnya Ibu dan Bik Sumi sama sekali tidak merasakan teror apa-apa sampai sekarang."
Penjelasan Maya terdengar sangat masuk akal bagi Adista, namun di saat yang sama, hal itu justru membuat bulu kuduknya merinding kembali. Jika teori Maya benar, artinya ketenangan di rumahnya saat ini hanyalah ketenangan yang semu. Lukisan itu tidak berhenti meneror karena telah kehilangan kekuatannya, melainkan karena ia sedang menunggu mangsa pria berikutnya yang akan masuk ke dalam rumah.
Adista kembali tenggelam dalam pusaran teka-teki yang rumit. Rasa lega karena Bik Sumi baik-baik saja kini berganti dengan rasa waswas yang baru. Rumah besar itu kini terasa seperti sebuah jebakan sunyi yang sengaja bersikap ramah di siang hari, namun tetap menyimpan rahasia maut yang siap menelan siapa saja yang lengah di kegelapan malam.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya