REVISI
Ini kisahku dengannya, tentang aku dan dia. Tentang dia yang berhasil merebut hatiku dan membuatku sangat takut kehilangannya.
Tentang dia yang selalu membuatku kesal dan bahagia disaat yang bersamaan. Aku bersyukur Tuhan menghadiahkannya untukku, dan tentunya hanya untukku saja.
Saat hari-hariku penuh warna dibuatnya, entah dosa besar apa yang pernah ku perbuat di masa lalu sehingga dengan teganya Tuhan memisahkan aku dengannya.
Aku bingung mengapa Tuhan seolah mempermainkan aku dengan selalu membuatnya datang, pergi, datang lagi, lalu pergi lagi?
Aku hanya bisa menguatkan diriku sendiri dengan takdir yang diberikan Tuhan padaku.
Satu hal yang aku tahu, selamanya aku mencintainya. Seperti katanya
"Aku mencintaimu, selamanya cinta kamu. Sampai kita menua, memiliki anak, cucu bahkan cicit. Aku akan bersamamu dan mencintaimu sampai rambut kita memutih dan sampai aku menutup mata" Arkana.
Aku harap semuanya bukanlah mimpi indah namun sesaat. Aku bahkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicka Villya Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Arkana dan Qania kini sudah sampai di rumah Qania dengan keadaan pakaian yang hampir kering di tubuh mereka. Kebetulan saat itu mama dan papa Qania sedang duduk di kursi teras depan rumah sambil menikmati cokelat hangat.
"Assalamu'alaikum" sapa keduanya.
"Wa'alaikum salam" jawab mama dan papa Qania.
"Kalian darimana saja? Kenapa pakaiannya basah?" tanya papa Qania.
"Dari pantai om, Qania ngajak berenang" jawab Arkana asal membuat Qania menatapnya tajam.
"Ya sudah sekarang kalian bersihin tubuh kalian, kami akan menunggu di ruang makan kita akan makan malam bersama. Mama tolong berikan pakaian papa pada Arkana. Kasihan dia pasti kedinginan karena ulah anak gadis itu" ucap papa Qania sambil menatap kearah Qania.
Qania memanyunkan bibirnya kemudian masuk ke rumahnya langsung menuju kamarnya, sementara Arkana dibawa oleh mama Qania menuju kamar tamu lalu naik ia keatas untuk mengambilkan pakaian untuk Arkana.
"Selalu saja aku yang disalahkan. Sebenarnya anak mereka itu aku atau si ngeselin itu sih" umpat Qania sambil berjalan ke kamarnya.
Setelah beberapa menit keduanya sudah selesai dan bertemu di ruang makan dimana sudah ada mama dan papa Qania disana.
"Om, tante, makasih banyak untuk makan malamnya. Saya permisi dulu" ucap Arkana saat mereka sudah selesai makan beberapa waktu yang lalu.
"Iya sama-sama. Jangan sungkan" ucap papa Qania.
"Qan aku pamit ya" ucap Arkana sambil memandangi Qania.
"Iya" jawabnya singkat.
"Kamu antar Arkana ke depan sayang" pinta mama Qania.
"Baik ma" jawab Qania kemudian bangkit dari duduknya.
"Saya permisi om, tante. Assalamu'alaikum" ucap Arkana sambil menyalami kedua orang tua Qania bergantian.
"Wa'alaikum salam" jawab keduanya.
Qania dan Arkana berjalan keluar beriringan namun tanpa berbicara sedikit pun. Qania masih kesal namun ia juga masih ingin bersama Arkana.
"Aku pamit dulu ya sayang" ucap Arkana setelah memakai helmnya dan langsung naik ke atas motornya.
Qania hanya menjawabnya dengan Anggukan dan senyuman tipis membuat Arkana mengacak rambut Qania, kemudian melepas kembali helmnya.
"Dari tadi kamu diam saja. Kenapa? Tidak ingin aku pulang?" goda Arkana.
Qania spontan mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya membuat Arkana tertawa.
"Besok aku akan datang lagi, tapi bersama iringan pengantin" ucap Arkana yang masih terkekeh.
"Ih apaan sih, nggak lucu" ketus Qania.
"Habisnya ada yang tidak ingin jauh-jauh dari aku" Ledek Arkana.
"Hemmmmm" dehem Qania sebagai tanda peringatan untuk tidak melanjutkan ledekan atau sesuatu yang buruk akan menimpamu.
"Baiklah sayang, aku pulang dulu ya" ucap Arkana.
"Iya, hati-hati" jawab Qania sambil tersenyum.
Arkana mengangguk dan melemparkan senyum manis kemudian memakai kembali helmnya. Setelah Arkana berlalu, Qania yang hendak masuk ke dalam rumahnya langsung berbalik lagi karena ada motor yang memasuki pekarangan rumahnya.
"Eh Yani dan Rey rupanya" gumam Qania yang mengira bahwa Arkana yang datang lagi.
"Assalamu'alaikum Qania" sapa Yani dan Rey yang sedang berjalan kearah Qania.
"Wa'alaikum salam, ayo masuk" ajak Qania.
____________
Sementara Qania bersama kedua sahabatnya tengah mengerjakan tugas besar di ruang tamu rumahnya, Arkana yang dengan melajukan motornya dengan kecepatan sedang merasa seperti sedang diikuti oleh seseorang. Ia melirik kaca spionnya, melihat ada motor sport yang sepertinya sedang mengikutinya sedari tadi. Ia memutuskan untuk menambah kecepatan motornya agar terhindar dari orang yang mungkin berniat buruk padanya.
"Halo, sasaran beberapa meter lagi akan sampai disana. Kalian siap-siap" telepon seseorang yang berada di motor sport yang mengikuti Arkana.
"Oke boss" ucap salah seorang yang juga tengah berada di atas motor berlawanan arah.
Arkana yang terus melajukan motornya tidak sadar bahwa ada bahaya didepannya saat ini. Tanpa terduga dua motor dari arah berlawanan di depannya, dengan kecepatan tinggi kedua motor tersebut membuat jarak membelah jalan. Motor yang satu menendang motor Arkana yang tengah melaju hingga motor tersebut oleng, sementara motor yang satunya lagi orang yang diboncengi memukul punggung Arkana dengan stik baseball.
Arkana yang mendapat serangan tiba-tiba itu tidak mampu menghindar hingga ia dan motornya terlempar jauh. Ketiga motor itu menghampirinya yang kebetulan jalan yang mereka lalui saat ini sedang sepi pengendara.
Arkana yang merasa kesakitan kini terbaring di aspal dan berusaha membuka helmnya, pelipisnya mengeluarkan darah. Ketiga motor tersebut berhenti di dekat Arkana, mereka yang berjumlah lima orang langsung mendekat kearah Arkana dan membuka helm mereka dihadapan Arkana.
"Hahahaha, itu akibat kamu meremehkanku Arkana Wijaya" tawa seseorang yang tidak lain adalah Galih.
"Ga..Lih" ucap Arkana terbata.
"Ini belum seberapa, jika kamu selamat setelah ini kamu akan mendapatkan yang lebih" ancam Galih.
Arkana yang merasakan sakit dan pusing kini kehilangan kesadarannya. Galih dan kawan-kawannya memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tak lama berselang, Rizal dan beberapa orang lainnya datang, karena sebelum kejadian tersebut Arkana sempat mengirim pesan pada Rizal karena ia merasa sedang diikuti oleh seseorang.
"Sial, kita terlambat" gerutu Rizal saat melihat tubuh Arkana tergeletak dengan darah bercucuran di wajahnya.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit" ucap Fero.
Rizal langsung menelepon ambulans karena mereka semua hanya membawa sepeda motor.
semangat💪😘
akhirnya arkana wijaya telah kmbali semoga qania selalu bhagia,,,
dan buat s marsya sadar kalau dia bukn tristan anggara...
jangan terlalu lama ya thor up nya💪😘