NovelToon NovelToon
Anak Kembar Mafia

Anak Kembar Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:66.2k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.

Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.

"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."



Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

"Berhenti!" sergah pria berseragam menghentikan langkah Marco. Satpam itu merasa asing dengan wajah Marco, tentu tidak semudah itu membiarkan masuk.

"Saya ingin menjemput anak-anak saya," jawab Marco percaya diri.

"Maaf Tuan, saya hanya menjalankan tugas, demi keamanan anak-anak, kami tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali orang tua murid," tegas satpam kini berbicara lebih lunak.

Marco tersenyum, rupanya satpam ini benar-benar bertanggung jawab menjaga anak-anak. "Bagus sekali, yang bapak lakukan sudah benar, tapi saya pernah mengantar anak kembar saya Fatir dan Fathia. Bapak lupa?"

Satpam menatap Marco lekat, mata, hidung dan rambut pria itu mirip sekali dengan Fathia. "Baik Tuan, tapi mereka belum keluar," Satpam itu pun akhirnya percaya.

Marco merogoh saku ambil uang warna merah, lalu memberikan kepada satpam.

"Ini beneran Tuan? Terima kasih..." satpam pun kegirangan.

Tepat jam 10 pagi, Marco sudah berdiri di depan pagar. Pandangannya tidak lepas dari pintu karena menurut penuturan Fatir dan Fathia, jam segini waktunya bubar sekolah.

Marco tidak peduli setiap wali murid yang datang menjemput anak-anak mereka, berbisik-bisik membicarakan dirinya, wajahnya yang dingin sama sekali tidak membalas tatapan mereka.

Senyum muncul dari bibir Marco ketika di antara tubuh-tubuh kecil yang keluar dari kelas berdesakkan, Fatir dan Fathia berada di antara mereka. Dua anak itu segera berlari begitu berhasil lolos dari pintu. Bersamaan dengan itu, pagar sekolah di buka lebar oleh satpam. Salah satu guru wanita mengikuti murid-murid dan memastikan semua anak didik nya yang jauh sudah di jemput oleh keluarga masing-masing.

"Anda menjemput siapa?" Tanya bu guru menatap Marco curiga. Wajah asing itu belum pernah ia lihat di sekolah, wajar saja jika sikap bu guru itupun sama seperti satpam. Sebagai guru ia harus waspada, jangan sampai terjadi yang tidak diinginkan terhadap muridnya, diculik orang misalnya.

"Saya mau menjemput Fatir dan Fathia," jawab Marco mencoba untuk sopan daripada mereka curiga, padahal di hatinya kesal. Kenapa semua orang seolah tidak mendukung pertemuannya dengan anak-anak.

Belum lagi guru melanjutkan pertanyaan, muncul Fatir dan Fathia dengan wajah berseri-seri.

"Om Marco..." seru keduanya, seketika tangan kecil itu memegang lengan Marco kiri dan kanan. Betapa bahagianya karena harapannya dijemput seperti anak-anak yang lain terwujud.

"Om, kenapa nggak pernah datang lagi ke kontrakan?" Tanya Fatir dengan nada protes.

"Iya, Om lamaaa... sekali nggak datang-datang..." Fathia menambahkan.

"Om lagi keluar kota sayang..." Marco memeluk kedua anaknya itu erat. Membayangkan betapa mereka mengharapkan figur seorang ayah. Namun, nyatanya kebenaran bahwa mereka anak biologis nya belum cukup untuk selalu berdekatan sebelum Yasmin menerima dirinya.

"Om, kenalkan dulu, ini Ibu Zubaidah guru kami," ucap Fathia.

Zubaidah hanya bengong menatap Marco lebih dekat, beralih ke wajah Fatir dan Fathia, kemiripan mereka bisa dikatakan 75 persen.

"Om sudah kenalan," Marco menatap guru yang masih muda itu hanya mengangguk, lalu menggandeng anak-anak. Sebelum pulang ke kontrakan, Marco ambil oleh-oleh dari mobil.

"Tadi di sekolah kalian belajar apa?" Tanya Marco perhatian.

"Bernyanyi sama mewarnai," celoteh dua anak itu dengan wajah riang hingga tiba di teras kontrakkan.

Marco memperhatikan saja ketika Fathia ambil kunci dari tas kemudian membuka pintu. Sungguh tidak disangka anak-anak seusia itu sudah mempunyai tanggung jawab. Mungkin terlihat sederhana ketika Fathia memegang kunci, tapi mereka lakukan setiap hari dan tidak hilang, tentu saja tidak bisa dilakukan oleh semua anak seusia mereka.

"Assalamualaikum..." ucap Fatir dan Fathia meskipun di dalam sana kosong, Marco yang menjawab lalu masuk bersama-sama.

"Om duduk dulu, kami ganti pakaian dulu ya Om," ucap Fathia. Mereka ke kamar mandi bergantian, ganti pakaian pun bergantian. Hingga beberapa menit kemudian Fathia keluar lebih dulu, tangannya membawa air minum dengan gelas plastik. Yasmin memang hanya menyediakan piring dengan gelas yang berbahan plastik tentu lebih aman bagi anak-anak.

"Minum dulu Om," ucap Fathia mengejutkan Marco. Pria itu segera ambil gelas dari tangan Fathia yang tumpah-tumpah karena kepenuhan.

"Terima kasih cantik... kamu pintar sekali," ucap Marco bangga, untuk menghargai Fathia, ia teguk air tersebut hingga tinggal setengah, padahal Marco membawa air mineral.

"Om juga membawa makanan untuk kalian," Marco memberikan oleh-oleh yang ia bawa tadi. Bersamaan dengan itu, Fatir pun keluar dan menerima kotak satu persatu.

"Horee... Ayam krispi Kak..." seru Fathia begitu membuka makanan tersebut.

"Eh iya, kita makan sekarang saja, Dek."

"Makan saja, nanti kalau kurang Om tinggal pesan lagi," kata Marco memotong.

Biasanya mereka makan siang hari, tapi karena tidak tahan melihat tampilan ayam yang berwarna kuning dan kriwil-kriwil itu membuatnya ingin segera menyantap.

Marco tersenyum menatap si kembar makan dengan lahap sambil berceloteh. Jika ada tepung yang jatuh sedikit saja mereka ambil dan disuap.

"Kalau sudah jatuh jangan dimakan," Marco mengingatkan.

"Jatuh di tikar mah tidak apa-apa dimakan Om, kami sudah biasa kok," jawab Fatir membuat Marco diam.

Marco tidak mengalihkan pandangannya setiap gerak gerik yang si kembar lakukan, hingga waktu shalat dzuhur tiba.

"Om Marco jadi imam ya...,"

Deg.

Marco tercekat, wajahnya menunduk seolah malu pada anak-anak TK itu. Selama ini ia tidak pernah belajar ibadah, terlebih lagi menjalankan. Mana mungkin menjadi Imam seperti yang mereka minta. "Kita shalat sendiri-sendiri saja ya..." jawabnya asal.

"Ya sudah sih, tapi lain kali sebaiknya shalat berjama,ah Om, karena pahalanya lebih banyak dibandingkan shalat sendiri," pungkas Fatir lalu ambil air wudhu, gantian Fathia.

Marco duduk tertegun memandangi mereka shalat dengan gerakan yang sama sekali tidak ia mengerti. Namun, memandangi Fatir yang mengenakan sarung dan peci membuatnya tenang.

Baru seharian Marco berada di kontrakkan, banyak pengalaman yang ia petik dari mereka. Ia sengaja meluangkan waktu demi mereka hingga waktu berganti sore.

"Om menjemput Bunda dulu ya..." pamit Marco, entah Yasmin akan menerima atau tidak ketika tiba di restoran nanti, ia akan berusaha. Siapa tahu seminggu tidak bertemu hati Yasmin sudah berubah.

"Aku ikut ya, Om... Aku juga..." Fatir dan Fathia menggoyang tangan Marco.

"Boleh..." Marco setuju, dengan cara ini ia berharap Yasmin mau pulang bersamanya.

Marco menjalankan kendaraan ke restoran, dari kaca spion ia tidak berhenti tersenyum memandangi kedua anaknya yang tampak bahagia jungkir balik di jok tengah.

"Om, besok kan hari minggu, Bunda libur kerja, terus kami diajak pindah rumah loh, nanti Om antar kami pakai mobil ini ya..." kata Fatir kepalanya maju ke samping kemudi.

"Oh iya... Oke kalau begitu..." Marco mengacungkan jempol, tatapannya tetap fokus ke depan.

"Rumahnya besaaarrr... sekali, Om," Fathia merentangkan kedua tangannya.

"Waah... bagus dong..." Marco manggut-manggut.

"Iya, Om. Teruuus... kami nanti bobo sendiri-sendiri, kamarnya banyaaak... sekali. Iya kan, Kak..." Fathia menoleh Fatir antusias.

"Iya dong, kita kan sudah besar."

Sepanjang perjalanan mereka terus berceloteh hingga kendaraan tiba di depan restoran. Marco melambatkan laju.

"Oh iya, kalian diam dulu ya... kalau Bunda keluar, kita kasih kejutan."

"Siap, Om."

...~Bersambung~...

.

1
🌷💚SITI.R💚🌷
yasmin tdk seperti kamu rina,,krn yssmin itu di jual orang dan dia tdk tau menau
🌷💚SITI.R💚🌷
kayanya marcopolo lg berurusan sm dunia mafiay yg yasmin blm ketshui..lanjuut
Teh Yen: Marco kmn y?
total 1 replies
ardiana dili
lanjut
Eka ELissa
Marco ke pasar...tapi nyasar tau kmna....🤣🤣🫣
Eka ELissa
hey....Rina mulutnya ya...smua cacian itu pantes nya buat kmu tau ..😡😡😡😡
Les Tary
Nah loe kabur kemana kamu Marco...klu kelakuanmu begitu kan Yasmin jadi curiga karna pergi tanpa pamit sama istrinya
Lisa Halik
penasaran ni thor...sudah bagi gift
Lisa Halik
siapa itu thor
@alfaton🤴
mungkinkah dosa ayahmu Yas.....dosa yang tersembunyi dari ibumu.....
@alfaton🤴
halloo Marco......gimana ......bener kan itu omongannya cewek genit......
tenang Yas
Teh Yen
siapa.lagi itu ????.,,, bunyi plak itu buku meni yg jatuh apa.marco yg d tampar seseorang ?
🌷💚SITI.R💚🌷
apa pelayan itu rina ya..wah bisa kebetulan semuay
Sri Devi Oktaviani
kirain ada yg ditampar bunyi plak 🤭
Les Tary
apa pelayan itu Rina yg sudah dipecat dulu😍😍
Eka ELissa
plak....suara di gplok apa...gimna Mak...😀😀😀klau jatuh kan hrus nya...brack....gtu.....🤣🤣🤣🤣
Eka ELissa: 🤣🤣🤣ok ..ok...🤣🤣🤣
total 2 replies
vj'z tri
loh jangan berat hati Bu dengan senang hati gitu
Teh Yen
Yasmin masih bersabar d berbesar hati menerima semua wanita di masa lalumu engg tau kalau suatu hari nanti Yasmin tau kamu mafia ke mana yah 🤔
Teh Yen
udh gila kali tuh cewek satu yah hadeeuuh beresin Napa sama ank buahmu Marco
🌷💚SITI.R💚🌷
gmn menjauhkanybdr kamu yasmin..udh cewey marcopolo itu segsmbreng di mana aja ada di setisp sudut kota dan desa pasti ada,,dan ga semudah itu jg menyungkirkny..sekarang kami yg hrs sisp mental kshor bathin de..pokoky msh banyak rahasisy.
Les Tary
Marco emang payah sekelas Mafia kakap asal gelap celop aja apalagi sekelas Rina🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!