yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 11 Pelajaran Yang Membosankan
Kesya membuka buku catatannya dan kemudian mulai menjelaskan pembelajaran yang ia pahami di sekolah. Ia dengan perlahan menjelaskan kepada Yovada. Ia terkadang memperhatikan bagaimana Yovada memahami penjelasan yang ia berikan. Yovada hanya memperhatikan apa yang di katakan Kesya dengan perlahan. Ia memandangi dan memahami maksud dari setiap Petunjuk dari jari Kesya di atas buku. Namun di saat yang sama Kesya juga bertanya-tanya bagaimana bisa Yovada memahami apa yang di katakan ia dengan begitu santai sedangkan dirinya saja butuh waktu lebih lama untuk memahami apa yang di katakan gurunya di sekolah. Semakin penasaran, Kesya langsung menanyakan tentang pembelajaran yang ia ajarkan kepada Yovada. Ia kemudian berpikir untuk menanyakan pertanyaan agar Yovada merasa lebih tertantang.
“baiklah, Yovada. Jika ada pertanyaan bisa kamu tanyakan, jika tidak ada maka akan aku yang memberikan pertanyaan pada dirimu.” Ucap Kesya dengan penasaran. Yovada menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Ia sendiri hanya menatap Kesya dengan tatapan yang kebingungan namun juga penuh penasaran. Mendengar jawaban dari Yovada yang mengatakan tidak. Kesya langsung mengetes bagaimana pemahaman Yovada dengan materi yang di berikannya.
“Baiklah, kalau begitu aku akan menanyakan seputar sejarah Islam padamu. Bersiaplah.. oke, bagaimana dengan berapa lama dinasti Ummayah berdiri?”
“661 hingga 750 Masehi... itu dasarnya saja”
“baiklah Yovada. Kamu minta lebih sulit ya... siapa nama pemimpin pertamanya?”
“itu Mu'awiyah bin Abu Sufyan dari 661 hingga 680. Ini tidak terlalu susah.” Ucap Yovada dengan nada meremehkan.
Kesya yang mendengar itu merasa sedikit kesal dan juga merasa kesal dengan Yovada. Ia pun akhirnya langsung mengajukan pertanyaan lagi “bagaimana dengan....” Belum selesai mengajukan pertanyaan. Yovada langsung menjawabnya degan cepat.
“Yazid bin Mu'awiyah & Marwan I dari 680 hingga 685 M, Abdul Malik bin Marwan dari 685 hingga 705 M, Al-Walid I dari 705 hingga 715 M, Umar bin Abdul Aziz dari 717 hingga 720 M) atau Marwan II dari 744 dari 750 M” ucap Yovada dengan penasaran, karena ia tahu sekali bahwa Kesya ada tipe penghafal namun tidak memahami apa yang ia hafal. Yovada sendiri berdiam sambil menatap Kesya dengan penasaran.
Kesya yang melihat itu merasa sedikit marah dan juga merasa sedikit di permainkan. Mengetahui itu, Kesya langsung menantang Yovada. “Baiklah, Jika itu Yang kamu mau. Tanyakan aku apa saja dan akan aku jawab. Aku pasti bisa jawab lebih banyak darimu.” Ucap Kesya dengan keyakinannya yang sangat tinggi dan juga sangat bersemangat.
“baiklah, simpel saja. Bagaimana dengan siapa keturunan dari dinasti itu yang selamat dari pemberontakan pasukan Abbasiah?” Tanya Yovada dengan tatapan tenang namun penuh perhitungan karena ia tidak ingin memberi pertanyaan yang terlalu jauh namun juga tidak mau terlalu mudah di jawab.
Kesya yang mendengar itu langsung terdiam. Ia tahu bahwa ini bukanlah pertanyaan yang gampang di jawab. Ia ingin mengambil ponselnya untuk menjawab pertanyaannya namun sayangnya ia masih punya rasa malu karena ia tahu bahwa Yovada menjawab itu dengan kemampuannya bukan dengan kemampuan teknologi. Kesya pun langsung diam dan akhirnya ia tahu bahwa dirinya masih banyak kekurangan dan mengakui bahwa dirinya tidak dapat menjawabnya.
Yovada yang mendengar pengakuan dari Kesya langsung mengangguk senang dan kemudian ia tersenyum kecil sambil menanggapi apa yang di jawab Kesya. “baiklah, aku tidak menyangka kamu akan menjawab itu. Namun aku harus akui, ilmu kamu sempurna kalau begitu.” Ucap Yovada kepada Kesya dengan senyum bangga.
Kesya yang mendengar itu langsung terdiam dan menatapnya dengan kebingungan. langsung menanyakan perihal itu ke Yovada itu sendiri. “apa maksudmu. Aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu namun kamu mengatakan bahwa ilmumu sempurna.” Ucap Kesya dengan penuh pertanyaan dan juga merasa bahwa Yovada adalah seseorang yang memiliki pengetahuan yang jauh dari kata rata-rata. Tatapannya berubah menjadi dingin karena merasa aneh dengan tingkahnya.
Yovada juga langsung mengubah pandangannya kepada Kesya dengan tatapan datar dan juga tenang namun kalimatnya seperti ada kebanggaan kepada Kesya. “kamu mengakui bahwa kamu tidak dapat menjawab. Pengakuan kekurangan ilmu adalah bukti seseorang memahami kekurangannya dan ia pasti ada usaha untuk lebih baik dari pada sekarang bukan? Dari pada seseorang yang merasa dirinya penuh pengetahuan namun malah buta dengan kekurangannya.” Ucap Yovada Kepada Kesya dengan penuh Kebanggaan dan juga rasa senang dari kalimatnya.
Kesya yang mendengar itu langsung terdiam. Dirinya merasa terkagum dengan pemikiran Yovada karena sejauh ini ia menemukan seseorang yang memiliki pemikiran dan pengetahuan itu rata-rata sombong dan juga tidak ingin membantu orang lain. Namun ia memandang Yovada dengan sedikit berbeda dan juga penuh penasaran. Ia tahu bahwa ia bukan orang yang paling pintar namun berteman dengan Yovada mungkin akan mengantarnya dengan pengetahuan yang lebih banyak.
Kesya menunduk dan kemudian mengambil buku catatannya dan kemudian memasukkannya ke dalam tasnya. Ia mulai bersiap-siap untuk pulang dan meninggalkan Yovada untuk Istirahat. Namun ketika ia ingin pergi meninggalkannya, ia langsung memalingkan Wajahnya kepada suara pintu yang terbuka. ia menatapnya dengan penasaran dan melihat seseorang mengantarkan sebuah makanan dan sebuah air kepada Yovada. Ia menaruh nampan di sebelah manakan Yovada yang lain. Suster itu langsung menyuruh Yovada untuk memakannya. Namun Yovada sendiri tidak mau memakannya. Ia memalingkan wajahnya seakan tidak mau di bujuk. Suster itu tetap saja memaksa namun ia tetap tidak mau membuka mulutnya. Akhirnya suster itu menyerah dan meninggalkannya dengan nampan dan juga bubur hambar dengannya.
Kesya yang melihat itu langsung bingung dengan Yovada namun Kesya sendiri tahu bahwa makanan rumah sakit pada dasarnya memang tawar dan banyak yang tidak menyukainya. Ia pun mengambil bubur itu dan menyuapinya ke Yovada. Namun Yovada masih saja menolak memakan bubur itu. Kesya yang melihat itu langsung bingung dan bertanya pada Yovada tentang alasannya menolak memakan bubur itu.
Yovada yang mendengar itu langsung menjelaskan bahwa bubur itu rasanya tawar dan hambar. Ia sendiri merasa mual dan muak dengan bubur itu dan juga bubur itu sudah dingin. Ia mengaku bahwa ia memang tidak pilih-pilih dalam memakan namun jika makanan rumah sakit, ia pasti akan menolaknya karena rasanya tidak enak dan juga membuatnya semakin lemah dan ingin mutah.
Kesya yang mendengar pengakuan Yovada langsung memiringkan kepalanya dan menatapnya dengan kebingungan. Ia mengaguk dan memahami apa yang di katakan Yovada dan pada akhirnya ia mengambil bubur itu dan mencicipinya di hadapan Yovada. Kesya mengangguk dan memahami kenapa Yovada tidak menyukainya. Ia mengambil sesendok dan mengarahkan ke mulut Yovada. Yovada yang melihat itu jelas ia menolak karena ia sendiri tahu rasanya tidak nyaman dan tidak enak namun Kesya meyakinkannya bahwa rasanya tidak seburuk itu dan juga tidak akan membutanya mual.
Yovada yang melihat itu langsung memahaminya dan mulai memakannya. Ia membuak mulut dan membiarkan Kesya memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Ia mencoba menelannya dan membiarkan dirinya mencerna. Setelah itu wajahnya menjadi lebih lega namun juga wajahnya menunjukkan rasanya yang tidak enak. Kesya yang melihat Reaksi muka Yovada langsung tertawa. Ia mengambil lagi sesendok dan mengarahkannya ke wajah Yovada. Ia langsung memakannya dan di tengah menyuapi makanan, Kesya berjanji pada Yovada bahwa ia akan menyediakan bubur buatnya dan akan memberikannya pada Yovada agar ia mau makan dan juga tidak tersiksa dengan makanan yang penuh dengan rasa tawar dan tanpa bumbu ini.
Yovada pun mengangguk dan memakan bubur itu sambil di suapi oleh Kesya dengan penuh perhatian dan juga penuh kasih sayang. Di satu sisi, Kesya tidak masalah jika harus merawat Yovada seperti ini karena ia sendiri merasa ada kedekatan dirinya dengan manusia kutu buku ini. Di sisi Yovada merasa senang jika ia di rawat oleh Kesya dan juga di manja olehnya. Ia merasa bahwa Kesya dapat memperlakukan-Nya dengan benar namun di satu sisi ia juga merasa lelah jika ia harus berinteraksi dengan seseorang. Ia sendiri suka kesendirian karena ia terbiasa untuk menanggung semuanya sendiri namun baru kali ini ia merasa benar-benar di pedulikan dengan seseorang yang seumuran dengannya.
Setelah bubur di habiskan oleh Yovada, Kesya mengambilkan minum dan memberikannya pada Yovada. Ia meminumnya hingga air itu habis dan kemudian ia mengembalikan gelas itu ke Kesya. Kesya mengambilnya dan kemudian ia menaruhnya lagi di atas nampan itu. Setelah semua itu Kesya berpamitan dengannya dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Yovada yang terbaring di atas kasurnya. Sebelum ia benar-benar keluar dari tempat itu, ia sekali lagi menatap ke belakang dan melihat Yovada dengan tatapan khawatir dan penuh perhatian. Ia tersenyum kecil dan kemudian ia berbicara dengan penuh perhatian padanya.
“aku janji besok akan kesini lagi. Beristirahatlah kutu buku, oh jangan lupa minum obatnya.”