NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Terberat Di Ujung Waktu

Setelah selesai mandi sore dan merapikan diri seadanya, aku berjalan menuju ruangan tempat ayah dirawat. Pandanganku kosong menatap ke depan, tapi pikiranku melayang jauh — terus teringat pada kejadian tak terduga yang baru saja terjadi tadi pagi.

Aku membayangkan kembali pertemuan itu dengan pria bernama Adrian. Jujur saja, hatiku sempat dipenuhi rasa takut dan ragu, tapi rasa penasaran yang membara di dada akhirnya mengalahkan segalanya. Aku berusaha memantapkan hati: “Tempatnya tidak jauh dari sini, rasanya masih aman. Kalau ada hal yang mencurigakan, aku bisa berteriak atau lari meminta bantuan. Aku akan tetap waspada, tidak lengah sedikit pun. Lagipula, apa sebenarnya maksudnya sampai mendekatiku?”

Dengan keyakinan itu, aku pun mengikuti langkahnya. Kami masuk ke dalam gedung megah yang selama ini hanya kulihat dari kejauhan. Di dalamnya terasa luas, sejuk, dan mewah — banyak orang berjalan santai atau duduk tenang, membuatku merasa seperti orang asing yang tersesat. Jantungku berdegup kencang, telapak tanganku terasa basah karena gugup. Sesekali aku menunduk, tak ingin menarik perhatian, hingga akhirnya kami berhenti di sebuah meja yang lebar dan empuk. Ia mempersilahkanku duduk tepat di hadapannya.

Begitu mata kami bertemu, rasa canggung menyelimutiku. “Ya Tuhan, betapa malunya aku. Mengapa ia menatapku begitu lama? Apakah bajuku terlihat lusuh, atau ada yang salah dengan penampilanku?” gumamku dalam hati, sambil tanpa sadar merapikan ujung baju yang sudah sedikit kusut.

Belum sempat pikiranku melayang lebih jauh, terdengar suara lembut dari samping: “Selamat siang, silakan pesan apa saja yang diinginkan.”

Aku terkejut dan segera menoleh. Seorang pelayan berdiri di sana sambil memegang buku menu, tapi sebelum aku sempat menjawab, Adrian mengangkat tangan memberi isyarat halus: “Terima kasih, tidak perlu dulu.”

Lalu ia menatapku, tatapannya lembut namun tetap menyimpan wibawa yang sulit dijelaskan. “Jangan sungkan, pesanlah apa yang kau suka — semuanya menjadi tanggung jawabku.”

Aku hanya menggeleng pelan dan menjawab sopan, “Terima kasih atas kebaikan Tuan, tapi sungguh aku tidak butuh apa-apa.”

Melihat ketegasanku, ia menghela napas pendek lalu menatapku lebih dalam, serius namun tetap tenang: “Baiklah, kalau begitu aku akan bicara terus terang, tanpa berbelit-belit.”

Hatiku terasa sedikit lega. “Syukurlah, dia orang yang lugas, tidak bertele-tele.”

Namun kalimat yang keluar berikutnya membuatku membeku seolah waktu berhenti berjalan.

“Maukah kau menikah denganku?”

Mataku terbelalak lebar, seluruh tubuhku terasa kaku tak bisa bergerak. Sebelum aku sempat mengumpulkan pikiran, ia segera melanjutkan penjelasannya dengan nada tenang dan jelas:

“Perkenalkan, namaku Adrian Romanov. Aku butuh seorang istri, tapi dengarkan baik-baik — ini adalah pernikahan kontrak, berlaku hanya satu tahun saja. Setelah waktunya habis, kita berpisah secara baik-baik tanpa ikatan apa pun lagi. Aku sudah tahu kondisi ayahmu, sakit parah dan butuh biaya operasi yang sangat besar, jumlah yang pasti sulit kau kumpulkan dalam waktu singkat. Sebagai gantinya, aku akan menanggung seluruh biaya pengobatan, perawatan, sampai kebutuhan rumah sakit ayahmu sepenuhnya. Bahkan, aku akan menyediakan rumah yang layak dan nyaman untuk seluruh keluargamu mulai hari pertama kita sepakat.”

Ia lalu mengambil selembar kertas rapi dari dalam tas dan meletakkannya di hadapanku. “Ini isinya jelas, kau bisa baca sendiri agar tidak ada hal yang tersembunyi.”

Aku terdiam lama, hatiku berputar diliputi keraguan. Tanganku terulur perlahan hendak mengambil kertas itu, tapi berhenti sejenak. Dengan suara lembut namun tulus, aku bertanya, “Izinkan saya bertanya, Tuan Adrian… Mengapa memilih aku? Bukan wanita lain yang lebih pantas, lebih cantik, dan lebih layak menerima tawaran sebesar ini?”

Ia menatap lurus ke mataku, menjawab dengan jujur tanpa ragu: “Aku baru saja kembali ke sini setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, dan keluargaku terus mendesak agar aku segera menikah. Kebetulan sekali, orang kepercayaanku mendengar kisahmu — betapa kerasnya kau berjuang demi ayah. Bukankah ini kesempatan yang saling menguntungkan? Kau dapatkan apa yang paling kau butuhkan untuk menyelamatkan nyawa ayahmu, sedangkan aku memenuhi syarat yang diminta keluargaku. Lebih dari itu: saat masa kontrak berakhir nanti, aku akan memberikan sebuah rumah sebagai tambahan untukmu. Apakah itu masih kurang, atau ada hal lain yang ingin kau minta?”

Mendengarnya, rasanya seolah seberkas cahaya menyelinap masuk setelah sekian lama terperangkap dalam kegelapan. Harapan perlahan tumbuh, tapi keraguan tak sepenuhnya hilang. Aku ingin menjawab, tapi bingung menyusun kata-kata, sehingga hanya bisa terdiam sambil mempertimbangkan setiap kemungkinan.

Melihat diamku yang panjang, Adrian sedikit mengerutkan kening, lalu berkata tenang namun tegas: “Aku tidak akan memaksamu. Jika hatimu sungguh tidak setuju, maka…”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku segera menyela dengan suara sopan tapi tergesa: “Mohon berikan aku waktu sebentar untuk memikirkannya dengan matang, Tuan.”

Ia mengangguk perlahan. “Baiklah, aku berikan waktu sampai malam ini. Berikan jawabanmu nanti.” Setelah berkata begitu, ia berdiri dan mengambil sebuah kartu nama dari saku jasnya, lalu menyerahkannya kepadaku. Aku menerimanya dengan kedua tangan sebagai tanda hormat.

Setelah ia berjalan keluar, aku mengikuti dari kejauhan. Mataku melihatnya masuk ke dalam mobil mewah yang berkilau, lalu melaju pergi meninggalkan tempat itu secepat angin.

Saat berjalan kembali menuju rumah sakit, pikiranku tak berhenti berputar. “Ini jalan keluar yang paling besar, bukan? Dengan menerima tawaran itu, biaya operasi ayah pasti terpenuhi. Tapi segala sesuatu pasti ada harganya. Aku rela melakukan apa saja demi kesembuhannya, tapi akankah ibu sanggup menerimanya?”

Aku mengenal ibuku betul — ia menyayangiku melebihi nyawanya sendiri, dan tak akan pernah rela melihat masa depanku terikat demi melunasi beban keluarga. Dalam hatiku yakin: jika aku ceritakan langsung, ibu pasti akan menolak keras meski ia sendiri tak menemukan jalan lain. “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku pada diri sendiri, makin bingung.

Perlahan aku sadar kembali, lalu melanjutkan langkah menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan ayah.

Baru saja aku sampai di depan pintu, seorang perawat menghampiri dan bertanya sopan: “Permisi, Dimana ibumu? Ada hal penting yang perlu kami sampaikan soal pengobatan ayahmu.”

Aku mengangguk dan segera masuk. Ibu yang tadi terlelap sebentar di kursi penjaga pun terbangun, lalu keluar menemui sang perawat. Dengan nada lembut namun tegas, perawat itu menjelaskan: “Bu, kami mengerti betapa sulitnya mengumpulkan dana. Oleh sebab itu, kami berikan batas waktu paling lambat sampai besok sore. Jika belum ada kepastian, harap segera beritahu bagian administrasi agar kami bisa menentukan langkah terbaik demi keselamatan ayah.”

Ibu hanya mengangguk lemah, menjawab dengan suara pelan: “Terima kasih banyak atas pengertiannya, Saudari.”

Begitu perawat pergi, beban di hatiku terasa makin berat. “Bagaimana ini? Haruskah aku menyampaikan semuanya atau menyimpannya sendiri?” Kepalaku terasa berdenyut, jantung berdebar kencang karena cemas. Tanpa sadar tanganku meremas ujung bajuku dengan kuat, sementara aku melihat ibu duduk termenung dengan wajah yang makin terlihat pucat dan putus asa. Suasana hening itu terasa begitu menyesakkan dada.

Namun keheningan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa dan suara terisak panik dari dalam ruangan: “Ibu! Cepatlah kemari, Ayah terlihat sangat kesakitan!”

Itu suara adikku. Mendengarnya, ibu langsung berdiri dan berlari mendekati tempat tidur dengan wajah berubah pucat pasi. “Ayah! Ada apa? Bagian mana yang terasa sakit?” serunya dengan suara bergetar ketakutan.

Kami melihat ayah memejamkan matanya rapat-rapat menahan derita, kedua tangannya mencengkeram kuat di bagian dada, tubuhnya menegang kaku, dan ia hanya mampu mengeluarkan rintihan pelan tanpa sanggup bicara sepatah kata pun. Rasa sakit itu terlihat jelas menyiksanya.

Melihat kondisi itu, ibu menoleh kepadaku dengan mata berkaca-kaca dan perintah yang terdengar cemas namun tegas: “Nak, cepat panggil dokter dan perawat sekarang juga!”

“Segera, Bu!” jawabku dengan suara terguncang, lalu berlari secepat mungkin menyusuri lorong. Tak lama kemudian aku bertemu seorang perawat lewat, memanggilnya sambil terengah-engah: “Sus! Tolong cepat datang, ayahku tiba-tiba sakit hebat di dadanya!”

Perawat itu segera mengangguk dan memanggil dokter yang bertugas. Saat dokter mulai memeriksa ayah, mataku tak sengaja tertuju pada tombol merah kecil di samping tempat tidur — tulisannya jelas: Tombol Panggil Perawat. Aku baru menyadarinya, merasa sedikit bodoh karena tak melihatnya lebih awal saat keadaan mulai kacau.

Namun di tengah kekhawatiran itu, satu hal makin jelas dalam hatiku: waktu hampir habis, dan keputusan besar itu harus segera aku ambil — entah itu menjadi jalan penyelamat, atau pilihan terberat seumur hidupku.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!