NovelToon NovelToon
Tumbal Pasung Perjanjian Gaib

Tumbal Pasung Perjanjian Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Iblis / Kutukan / Hantu / Tumbal
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.

Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.

Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.

"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.

Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.

Kemana perginya pakaianku?

Hijabku?

HP ku?

Ya, tuhan.

Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roh Penungu Sumber Air

...BYUUURRRR...

"Bangun, heyy! Kamu kuliah nggak?"

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Nggak ada siapa-siapa, cuma si Mbah yang lagi pegang gayung di tangannya.

Lah, mas-mas Indomarket tadi ke mana?

"Sejak kapan kamu doyan nguping, Panca?" tanya si Mbah, dia balik badan dan melangkah ke dapur. "Mandi sana, keburu telat nanti!"

"Panca libur, kan hari apa sekarang?" jawabku sambil mengekor di belakangnya. "Cowok itu mau ngapain, Mbah?"

"Kamu gak perlu tahu, sekolah aja yang pinter!" sahutnya sambil menyendok nasi di piringnya, "Kamu tadi goreng angin, tah Panca?"

"Enggak, di piring yang udah mateng." tunjukku ke arah piring kosong yang tergeletak di atas meja kemudian menunjuk lagi ke arah bawah dekat dengan pintu belakang. "Tuh, Momo yang sarapan duluan!"

"Lain kali, ditutup kalau selesai." Si Mbah langsung menghidupkan kompor dan mulai menggoreng sisa tempe mentah di piring. "Kamu kenal sama yang namanya Nurhalina?"

"Enggak." jawabku buru-buru. "Emang kenapa?"

"Jauhi dia, jangan sampai kamu punya niat buat deketin dia!"

"Enggak, Panca gak punya teman namanya itu."

"Bagus." tanggapnya seperti tidak percaya. "Kalau sampai itu terjadi, Mbah gak mau ikut campur!"

Bodo amat.

Mau ikut campur atau enggak, Mbah gak berhak mengatur hidup aku. Cuma aku yang berhak pegang kendali atas diriku sendiri. Jadi aku cuma bilang, "Iya, tenang aja. Panca bakal lakuin apa pun perintah Mbah."

Si Mbah menggangguk sambil mengelus janggut putihnya.

"Mbah?" tanyaku.

"Iya, kenapa Panca?" dia menatapku dengan tajam sambil menyilangkan tangan di dada.

"Gosong!" tunjukku ke arah penggorengan.

"Goblog!!" kejutnya sambil berbalik arah, panik, si Mbah ambil air di meja, beliau pikir akan menghentikan asap yang mengepul di wajan. Tapi,

...BLLLUUMMMMMBBBB...

Api justru berkobar seperti obor Monas.

"Mbah yang goblog!" sahutku santai, sambil mengambil keset basah yang di jemur di belakang. "Minggir!"

...PLEEPPP...

Api pun padam.

"Bilang apa? Coba sekali lagi yang keras!" bentaknya dengan kedua tangan di pinggang. "Ayo, Panca!"

"Apa, toh, Mbah. Wong panca bilang, Hati-hati Mbah!" cengirku, sambil berusaha lari keluar.

"Awas, kamu, nanti biar Mbah bilang Ibumu kalau bulan ini gak usah kirimi kamu uang!" ancam si Mbah di ambang pintu.

Aku sejenak melarikan diri ke sumber air.

Ya, sesekali aku ingin merendam diriku di sana. Menyegarkan kepalaku yang sebenarnya masih terasa ngantuk. Entah bagaimana si Mbah membuatku tidur tadi, tetap aku masih tak percaya tentang dunia mistik.

Aku melepas semua pakaianku dan terjun ke sumber air. Tempat ini selalu sepi, dari dulu sampai sekarang.

Aku jadi ingat, dulu di sini aku dan Yoana sering mandi bersama. Saat orang tua Yoana masih tinggal di perantauan dan dia dititipkan di sini untuk tinggal bersama kami. Sampai kelas tiga SD, kami masih sering dimandikan oleh almarhum Uti, Nenek kami. Setelah itu Yoana dibawa oleh orang tuanya karena mereka membangun rumah di kampung seberang.

Semenjak itu lah Yoana sering kejang-kejang dan  diobati oleh si Mbah. Dulu almarhum Uti sering membuatkannya ramuan herbal dari tumbuh-tumbuhan liar sedang si Mbah meramut doa untuk penangkal roh dan makhluk halus lainnya yang bersifat jahat.

Sampai saat ini, Yoana masih suka kejang-kejang, tapi ibunya yang berada di rumah sudah diwariskan ramuan herbal dari Uti untuk mengobatinnya di kala kambuh. Ya, meski sesekali datang ke mari untuk meminta doa dari si Mbah.

Tapi apa pun yang di alami Yoana, aku yakin itu bukan karena hal mistik atau pun weton atau apa lah itu namanya. Aku yakin itu penyakit medis dan pasti bisa disembuhkan dengan pengobatan medis atau rumah sakit.

"Lariiiiii!"

Mataku otomatis terbuka ketika tiba-tiba suara serak membisiki telinga kiriku.

Saat aku menoleh ke sekeliling.

Kosong.

Hanya bunga-bunga kenanga yang berjatuhan.

Oke.

Sekarang buktikan kepadaku kalau dunia lain itu benar adanya.

Sengaja aku pejamkan mata, aku berharap ketika membukanya aku menemukan sosok itu. Jin, setan, iblis, dajjal atau apa pun yang penting mereka berasal bukan dari duniaku.

Suara gesekan pohon bambu semakin kuat berirama disertai gemericik air. Hawa dingin tiba-tiba mengendus di leherku hingga ke ubun-ubun.

Belum, dia pasti lagi merabaku menikmati tubuhku yang atletis ini. Aku yakin makhluk ini perempuan cantik yang terobsesi padaku.

"Bangunnnn," suara itu menggema di telinga.

Apa ini?

1
arif didu
sadiiiiiis
arif didu
ndaru kesambet apaan thor
arif didu
sadis si thor
arif didu
gak kebayang gimana bentuknya si nur
arif didu
emg kades bejat
arif didu
mbak kunti jgn2
arif didu
sakti bener mbahnya
arif didu
duh temennya bejat pisan
arif didu
duh bisa kabur ga nur
arif didu
bisa2nya si nur malah basah
arif didu
emg knp si pada benci bgt sama kamis wage
arif didu
panca ga ingat?
arif didu
disini setannya Bahlil kah thor
arif didu
miris bgt nasibmu nur
arif didu
human trafikking
arif didu
perna juga ngalami ini...
arif didu
saking saktinya thor
arif didu
ni si bos gmna si tadi anak bua nya ga boleh nyentuh eh malah Muis suruh main sama nur
arif didu
bener2 ga pnya hati
arif didu
duhh nur km diperawanin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!