NovelToon NovelToon
Sebening Cinta Aisyah

Sebening Cinta Aisyah

Status: tamat
Genre:Teen / Komedi / Perjodohan / Dosen / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Delia Septiani

Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.

Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.

Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.

Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?

Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Dimulai

Pintu kamar pun terbuka. Namun, apa yang Lidya lihat didepannya, ia begitu terkejut.

"Nara." Lidya terpaku menatap penampilan Nara yang jauh dari biasanya.

Dress biru muda, berplat hitam melekat di tubuh semampainya. Hijab phasmina berwarna hitam, membungkus kepalanya dengan indah. Sedikit make up tipis menghias wajahanya yang semakin cantik bila dipandang. Nara merubah penampilannya.

"Nar, k-kamu baik-baik aja, 'kan?" Lidya tak bergeming, ia masih mematung di tempatnya. Ia benar-benar tidak percaya, kalau Nara, yang sedari dulu enggan berpakaian tertutup, akhirnya ia kenakan juga.

"Tidak, aku baik-baik saja," jawabnya sambil menyilangkan kedua tangan di atas dada.

Kedua netra indahnya menatap kosong, ke atas jendela di depan sana, ia menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. Tersenyum kecut, sambil berkata, "Kalau Mas Hanif tak bisa menjadikan aku sebagai istrinya. Maka, aku lah yang akan menjadikan dia sebagai suamiku, bagaimana pun caranya." Ia berucap terlihat begitu bersungguh-sungguh.

Lidya tak dapat mengatupkan bibirnya yang, sedikit menganga itu, ia masih menatap Nara, dengan penuh kebingungan. Ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh wanita yang ada di hadapannya itu.

"Apa maksudmu Nar?"

Nara kembali melirik ke arah Lidya, lalu menghela nafasnya panjang.

"Hm, tidak ada maksud apa-apa," jawabnya seolah merahasiakan sesuatu.

tiba-tiba, kedua bibir berwarna merah cerry itu melengkung ke atas. Menampilkan, indahnya senyuman yang Nara berikan kepada Lidya.

"Apa kau tidak berangkat mengajar Lidya?" tanya Nara dengan begitu ramahnya. Lalu ia melihat ke atas nampan yang dipegang Lidya. Ia segera menyambar satu potong roti bakar kesukaannya, lalu melahapnya.

"Makasih ya, udah khawatirin aku. Tapi, tenang saja, aku sekarang baik-baik saja. Oh ya, aku juga mau pergi ke kampusmu. Kalau kau mau, kita bisa berangkat bareng," tutur Nara memberi tawaran.

'Apa yang terjadi dengannya?' batin Lidya. Ia pun mengangguk mengiyakan ajakan Nara. Dan setelah menyimpan makanan yang ia bawa untuk Nara, Lidya pun segera bersiap untuk pergi ke kampus bersama Nara.

'Mas Hanif... Mas Hanif ... sudah kubilang bukan, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu Mas. Kau lihat saja, permainan yang akan aku lakukan demi bisa hidup bersama denganmu.'

'Aisyah' Nama itu, tiba-tiba terlintas di benak Nara. Ia tersenyum kecut, seolah memikirkan sesuatu.

"Ya .... Istrinya adalah sasaran pertama bagiku," gumamnya, lalu tertawa jahat, sendirian.

Dan tak lama kemudian, Lidya kembali dengan dirinya yang sudah berpenampilan siap mengajar.

"Ayo, kita jalan sekarang," ajak Nara kemudian segera keluar dari rumah menaiki mobilnya.

***

Bel istirahat pertama berbunyi, Aisyah berpamitan kepada anak-anak kelasnya untuk keluar. Ia cukup senang mengajar para muridnya, karena ternyata mereka begitu welcome kepadanya, bahkan tak segan ada beberapa murid yang mengajak bercanda pada sesi perkenalan tadi pagi, sebelum mulainya belajar bahasa Arab.

Aisyah menyimpan tumpukkan kertas putih yang dibawanya. Kertas yang berisi biodata perkenalan dari murid-muridnya dalam bahasa arab. Lalu menyimpannya di atas meja kerjanya.

"Gimana? Lancar ngajarnya Bu Aisyah?" tanya Bu Sukma, yang datang-datang, langsung menghampiri Aisyah.

"Alhamdulillah Bu ... lancar, anak-anaknya juga pada asyik, gak bikin canggung."

"Ya iya lah gak bikin canggung, orang Bu Aisyah-nya aja masih muda, anak-anak pasti senang kalau diajar sama Bu guru muda dan cantik."

Aisyah tersenyum malu sambil menggeleng kepalanya pelan. "Ah, Bu Sukma ada-ada saja," jawabnya terkekeh kecil.

"Eh, betewe, Bu Aisyah udah ada yang punya belum?" goda Sukma, yang menyangka kalau Aisyah masih single, perawan ting-ting.

"Duh... kepo banget si Bu Suk! Emang kalau Bu Aisyah belum atau udah ada yang punya mau apa?" seloroh Bu Wina, yang baru datang, langsung menyimpan setumpuk buku di atas meja kerjanya yang tak jauh dari meja kerja Aisyah.

"Dih... Bu Wina juga, datang-datang maen serobot aja!"

"Haha, udah Bu Aisyah, kalau Bu Suk suka godain atau tanya-tanya yang aneh, jangan ditanggepin. Kacangin aja udah, sekalian tambahin sawi, sama kacang panjang, biar jadi karedok, terus sumpelin deh ke mulutnya, dijamin bakalan diem," lanjut Bu Wina sambil terkekeh renyah, dengan candaannya yang garing bin kriuk.

"Dih... dasar, sirik aja kamu mah."

"Udeh... kagak ada syirik, syirikan, pamali! ... Nih, mending langsung cobain aja deh, karedok buatan Ane, dijamin mantul surendul," ujarnya lagi kemudian mengeluarkan satu kotak makanan berukuran agak besar, dan membukanya, yang ternyata di dalamnya berisi karedok fresh buatannya.

"Wah... ternyata bukan cuma candaan ya, tapi asli," lanjut Aisyah tak menyangka.

"Gak, ini mah kagak asli, soalnya kalo yang asli ada badaknya," cetus Bu Wina, dengan nada khas betawinya yang sangat kental.

Aisyah terkekeh mendengar jawaban dari rekan kerjanya itu. Ia jadi teringat dengan iklan larutan penyegar yang ada cap badaknya.

"Udah nih, sendoknya, saya bawa lima sendok, yuk makan rame-rame," ajak Bu Wina.

Bu Sukma, si Miss rempong itu, langsung ikut mencicipi karedok buatan Bu Wina, bahkan tidak sekedar mencicipi, tapi ikut memakannya bersama hingga habis. Aisyah juga, dia ikut makan karedok bersama, tetapi tidak sebanyak Bu Sukma, karena memang Aisyah kurang menyukai makanan yang diolah dari kacang.

^

Sementara itu, di kampus tempat Hanif mengajar. Di jam istirahat, Nara sengaja pergi ke kantin sendirian, tanpa ditemani oleh Lidya.

Kedua matanya berkeliling mencari keberadaan seorang lelaki yang ditunggunya. Tiba-tiba ... bibirnya melengkung ke atas, menciptakan senyuman manisnya, saat mendapati orang yang dicarinya, terlihat duduk di bangku sana sendirian.

Lalu, Nara pun melangkahkan kaki panjangnya menghampiri Hanif, yang tengah asyik menikmati semangkuk bakso kesukaannya.

"Mas," panggil Nara yang kini sudah berdiri di samping Hanif.

Begitu mendengar suara seseorang yang tak asing di telinganya, Hanif langsung menoleh, lalu tiba-tiba ... ia terbatuk-batuk, saking terkejutnya mendapati Nara yang sudah berdiri di dekatnya.

Nara menyodorkan segelas air putih yang memang sejak tadi ada di atas meja itu, memberikannya kepada Hanif. Hanif langsung meminumnya. Lalu sejenak ia mengusap bibirnya yang basah menggunakan tisu.

Tanpa diminta, Nara langsung mendudukkan tubuhnya di atas kursi kosong yang ada di depan Hanif.

Kedua alis Hanif saling bertautan, dengan kedua netranya yang menatap penuh heran, ke arah Nara. "Nara, k-kamu ngapain ada di sini?" tanya Hanif.

"Emh... sengaja, pengen ketemu kamu," jawabnya dengan senyum yang kian terkembang di bibirnya.

"Apa?!" Kedua mata Hanif melebar, tercengang tak menyangka.

"Hehe, enggak kok Mas, aku kemari untuk melamar pekerjaan," jawabnya lagi membenarkan maksud dan tujuannya datang ke kampus.

"Kamu mau ngajar di sini?" tanya Hanif, semakin tak menyangka. Nara mengangguk penuh keyakinan.

"Sayang aja gitu, ijazah dan sertifikatku gak kepake. Kalau ngajar di sini 'kan, jadi bermanfaat. Gak sia-sia juga, ilmu yang aku pelajari selama ini."

"T-tapi, kenapa kamu mau mengajar? Bukannya---"

"Tidak ada niat apa-apa kok Mas, aku memang tulus mau mengajar di sini. Lagi pula, satu tahun yang lalu, pimpinan di kampus sini, pernah menawari aku. Hanya saja, baru terpikir sekarang aja."

Hanif masih tak percaya, kalau Nara benar-benar tulus ingin mengajar di kampus ini. Tidak semata-mata karena adanya maksud dan tujuan lain.

"Apa yang direncakan olehnya? Kenapa aku jadi was-was begini ya," batin Hanif, menatap penuh selidik ke arah Nara.

bersambung

1
Nani Sumarni
masih me nyimak alur ceritanya
Vivi Bidadari
Wanita siluman berwajah manusia ga terima ditinggal nikah eehhh mau merebut pula suami org... haduhhh beginian mau jadi dosen gimana mahsiswa/i yg diajar ya minus akhlak..

Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Vivi Bidadari
Suami macam apa kamu Hanif lebih mementingkkan wanita lain dari istri Mu sendiri ...

Kamu selingkuh Hanif

Biar Aisyah sama Adam aja
Kasna Wati
lanjut jangan lama2 x
Annie Caem
lanjut dink cerita x rme bnget
Samsidar Mnk
lanjut
Muna Muna
lalnjut
Tetty Manik
lanjut
Siti Sarfiah
movelx seru bangat, lanjutkn
NuryamahFatmah
Thor...apa Hanif pacaran sama Nara?
NuryamahFatmah
thorr..kalo panggilan nya Abang lebih mesra deh
Ros Diana
kasihan aisyah dibohongi.
Nurdaidah
ga suka sama hanif. alim tp pegang tangan nara. dasar oon
Nurdaidah
kalau hanif alim ga spt itu. g pernah lht org alim ketempat paxar hehe
Alenia Askiya
katay tamat kok menggangtung....
Alenia Askiya
kok g ada lanjutannya...
Fitrah Fitrah
tlong klo nara mau Hanif
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat
Novi Handayani
Lanjut
Andi Wati Mallaniung
sama adam aja,hanaf kan ada pacarx.
Rita Handayani
tetap Hanif aja...kasih hati Hanif untuk Aisyah Thor... kasihan Aisya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!