Gendis merasa jika hidupnya sudah hancur setelah mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan teman semasa sekolah suaminya, dulu.
Gendis yang tidak terima dengan pengkhianatan itu pun akhirnya menggugat cerai Arya. Namun, disaat proses perceraian itu sedang berjalan. Arya baru menyadari jika dia sangatlah mencintai Gendis dan takut kehilangan istrinya itu.
Sehingga, Arya pun berusaha berbagai cara agar Gendis mau memaafkan nya dan kembali rujuk dengan nya.
Sayang, Gendis yang terlanjur kecewa dan sakit hati karena telah dikhianati pun tetap melanjutkan perceraian itu.
Hingga suatu hari, Gendis pun mendapatkan kabar yang mengejutkan. Dimana, dirinya dinyatakan hamil anak ketiga.
Lalu, apa yang akan Gendis lakukan? Akankah dia tetap melanjutkan perceraian itu? Atau memberikan Arya kesempatan kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27
Arya terdiam membeku, matanya terpaku pada sosok Gendis. Menatap wajah Gendis yang basah, baru saja selesai berwudhu. Wajahnya terlihat sangat cantik, bahkan tanpa riasan, memancarkan kesegaran yang alami.
Pemandangan sederhana itu seolah mencubit hati Arya. Ada kedamaian yang terpancar dari wajah Gendis, sebuah ketenangan yang begitu kontras dengan kekacauan yang berkecamuk di hatinya sendiri.
Seketika, hal itu pun menyadarkan Arya. Jika selama ini, di tengah kesibukan pekerjaan dan kelelahan nya, ia nyaris melupakan Tuhan nya dan semakin jauh darinya. Padahal, kedamaian itu bisa dia dapatkan, selama dia dekat dengan Tuhan nya.
Bukan hanya mengabaikan Tuhannya, tetapi Arya juga sudah mengabaikan perasaan Gendis, wanita yang selama ini selalu setia menemani langkahnya. Mungkin, karena itulah. Allah marah, sehingga menegurnya lewat permasalahan rumah tangga yang sedang dia hadapi saat ini.
Tidak ingin kehilangan momen ini, Arya segera bangkit, melangkah cepat, menghampiri Gendis yang berjalan perlahan menuju ranjang.
“Tunggu, Mas, ya. Kita sholat berjamaah.” ucap Arya, dengan suara yang bergetar. Setelah berada di hadapan Gendis.
Membuat Gendis menghentikan langkahnya, menatap tak percaya kearah suaminya. Saking sibuknya Arya dengan dunianya. Gendis bahkan sampai lupa, kapan mereka melakukan ibadah bersama dan jika diingat lagi, hal itu sudah tidak mereka lakukan selama bertahun-tahun lamanya.
Waktu dan juga kesibukan Arya, perlahan mengikis kebiasaan wajibnya itu. Hingga akhirnya, Gendis pun selalu melakukannya sendiri, karena Arya kerap menolak ajakan nya dengan alasan, sibuk dan lelah.
Tidak ingin berada dalam situasi yang canggung ini terlalu lama. Tanpa menunggu jawaban dari Gendis, Arya pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Setelah beberapa saat, Arya pun terlihat sudah selesai berwudhu. Dengan wajah yang masih basah. Arya menghampiri Gendis yang ternyata, sudah bersiap dengan mukena membalut tubuhnya.
“Sudah siap?” tanya Arya, yang hanya dijawab sebuah anggukan kepala oleh Gendis.
Ada setitik harapan yang Arya rasakan saat tidak ada penolakan dari Gendis. Mungkin, di atas sajadah yang sama, menghadap Sang Pencipta, mereka akan menemukan kembali jalan untuk saling memahami, saling memaafkan, dan saling mencintai dengan lebih tulus.
Tanpa harus membanding bandingkan dan menjadikan kekurangan pasangan kita sebagai pelengkap kelebihan yang kita miliki. Begitu juga sebaliknya. Menjadikan kelebihan pasangan, sebagai pelengkap untuk kekurangan yang kita miliki.
Pagi ini, dalam sujudnya. Arya kembali disadarkan betapa berartinya, kehadiran Tuhan dan juga kehadiran Gendis di sisinya. Rasa sesal pun kembali menghimpit. Menimbulkan rasa sesak di dada.
Perjalanan demi perjalanan yang telah mereka lalui bersama. Kembali hadir, memenuhi benak Arya. Hingga membuat pria itu meneteskan air mata. Arya menangis dalam diam, didalam doanya pagi ini.
Arya meminta kepada Allah, agar diberi kesempatan untuk bisa kembali bersama istri dan keluarganya. Arya berjanji dalam hati, jika dia akan mulai memperbaiki diri, dengan hati yang lebih dekat kepada-Nya.
*
*
Siang harinya.
"Bagaimana Dokter, apa saya sudah bisa pulang sekarang?" tanyanya dengan suara sedikit serak, sisa dari mual dan muntah yang dia alami pagi tadi dan itu sempat membuat tubuhnya terasa lemas.
Gendis menatap wajah dokter dengan tatapan penuh harap. Jantungnya berdebar-debar menunggu jawaban. Meski baru satu hari dirawat di rumah sakit. Namun, terasa begitu lama. Menimbulkan kerinduan akan rumah dan kedua anaknya.
"Keadaan anda sudah cukup baik, Nyonya Gendis. Hasil pemeriksaan menunjukkan perkembangan yang positif. Jadi, anda sudah boleh pulang setelah menyelesaikan administrasinya di bagian pendaftaran," jawab sang Dokter.
Seketika, wajah Gendis langsung berbinar. Senyum lebar merekah di bibirnya yang sedikit pucat. Akhirnya, Gendis bisa pulang dan beristirahat di rumah.
"Alhamdulillah! Terima kasih banyak, Dokter." ucap Gendis, penuh rasa syukur.
Namun, senyum itu sedikit meredup ketika Dokter kembali berbicara dengan nada lebih serius.
"Tapi, tolong diingat, ya, Nyonya. Kehamilan anda masih di trimester pertama. Masa-masa ini masih sangat rentan, jadi anda perlu ekstra hati-hati," lanjut sang Dokter, kembali mengingatkan Gendis pada kehamilannya.
Membuat Gendis terdiam, mencoba memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Hamil saat pernikahan nya sedang tidak baik baik saja, tentu menjadi PR tersendiri untuk Gendis.
"Tolong dijaga dengan baik kehamilannya. Usahakan untuk tidak melakukan kegiatan yang berat yang bisa memicu kontraksi atau pendarahan. Hindari pula mengangkat beban berat, berdiri terlalu lama, atau melakukan perjalanan jauh yang melelahkan." Sambung Dokter. Kembali mengingatkan apa saja yang tidak boleh Gendis lakukan selama masa kehamilannya.
Gendis mengangguk, mengerti, mendengarkan dengan seksama setiap nasihat yang dokter berikan. Meski ini bukan pertama kalinya, tapi, tidak ada salahnya mendengarkan nasihat itu. Toh, meski hadir diwaktu yang tidak tepat. Janin itu tetap berharga dan wajib dijaga dengan baik.
"Selain itu, hindari permasalahan yang akan membuat anda stres. Pikiran dan emosi yang tidak stabil juga bisa berpengaruh buruk pada kehamilan anda. Ciptakan suasana yang tenang dan bahagia di sekitar anda. Beristirahatlah yang cukup dan konsumsi makanan yang bergizi," lanjut Dokter yang kemudian memberikan lembar resep kepada Gendis untuk ditebus di bagian pengambilan obat.
"Jangan lupa untuk kontrol rutin sesuai jadwal yang sudah ditentukan, ya. Jika ada keluhan atau merasakan sesuatu yang tidak biasa, jangan ragu untuk segera menghubungi kami atau datang kembali ke rumah sakit."
"Baik, Dokter. Saya akan mengingat semua nasihat Dokter dengan baik. Terima kasih banyak atas bantuannya," jawab Gendis, sembari mengambil lembar resep yang diberikan oleh Dokter.
"Sama-sama, Nyonya Gendis. Semoga kehamilan anda lancar dan sehat selalu. Selamat kembali ke rumah."
Setelah memberikan resep kepada Gendis, Dokter itu pun keluar dari ruangan, Gendis menghela nafas lega. Perasaan bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Tidak bisa Gendis pungkiri, jika kehadiran calon anak ketiganya itu, membawa kebahagiaan tersendiri untuknya.
Di tengah kemelut rumah tangga yang sedang dia hadapi saat ini. Tanpa sadar, bibirnya tertarik membentuk senyum manis penuh rasa syukur pun akhirnya hadir, menghiasi wajah cantiknya meski tanpa polesan make up sedikitpun.
“Kita pulang sekarang. Sandi, sudah menunggu di depan.”
Seketika, suara bariton Arya membuyarkan senyum itu. Gendis baru tersadar, jika saat ini, dia tidak sendiri. Masih ada Arya disana, menjaga dan merawatnya dengan begitu apiknya.
Gendis menoleh, menatap punggung Arya yang tampak sibuk membereskan barang barang miliknya dan juga milik Gendis, ke dalam tasnya.
"Sandi?" tanyanya lirih. Namun, masih bisa terdengar oleh Arya.
“Iya, Sandi. Aku menyuruhnya datang untuk menjemput kita. Kemarin, saat datang ke sini, aku numpang mobil Mama. Jadi, hari ini aku meminta Sandi menjemput karena aku tidak bawa mobil." jelas Arya dengan suara yang lembut.
Gendis terdiam. Rasanya, enggan untuk pulang bersama dengan Arya. Situasi mereka sudah berbeda dengan dulu. Sekarang, seperti ada jarak tak kasat mata yang membentang diantara mereka. Hingga menimbulkan kecanggungan di setiap interaksi yang mereka berdua lakukan.
plin plan bgt JD bos nga tegas sama anak buah
setelah kepergok maka dimulailah ketidak tenangan, dan ujung ujungnya mengaku khilaf, coba nga ketahuan beh serasa diri pasangan selingkuh paling bahagia 👻👻👻👻👻👻