Berpacaran selama 5 tahun. Hingga mereka memutuskan untuk menikah. Satu hari setelah hari pernikahannya suaminya mulai berubah dan bahkan tidak pernah menyentuh istrinya karena alasan capek. Setiap hari di paksa untuk memahami, dan mengerti semuanya. Hingga akhirnya sang istri berusaha mencari tahu apa alasan di balik perubahan sikap suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kavhyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengakhiri semuanya
Setelah menyelesaikan semua formalitas rumah sakit. Mayatnya langsung di bawah ke kediaman Adijaya.
Setelah sampai di rumah Dian terdiam ketika melihat ambulance. Apakah Papanya yang meninggal?Pikirnya. Dan saat mayatnya di turunkan Dian tertunduk lemas dan menangis sejadi-jadinya karena itu adalah Papanya. Dia berharap ini hanya mimpi buruk. Dian yang berjalan ke arah Papanya dan ingin memeluk Papanya untuk terakhir kalinya tapi Mama Rita mendorong Dian yang tersungkur ke belakang.
"Jangan berani menyentuhnya. Pergi dari sini! Ini semua gara-gara kamu Dian! Karena kamu Papa meninggal!"Ucap Mama Rita dengan marah.
"Biarkan aku melihat Papa Mah hiks..hiks...hiks."Ucap Dian sambil menangis. Namun Mama Rita menyeret Dian keluar dari rumah.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi! Pergi dari sini." Teriak Mama Rita. Mama Novi dan Ansel berusaha menenangkannya. Jika Mama Rita terus-terusan menangis dan stres. Maka bahaya juga bagi kesehatanmya. Mama Novi dan Ansel merasa ibah dengan Dian. Mereka sudah sangat kecewa sampai mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memarahinya juga tidak ada artinya.
"Rita, sudah! Kita masuk sekarang." Ucap Mama Novi dan membawanya ke dalam. Dian pun pergi dari sana dengan rasa penyesalan. Dia pergi tanpa membawa anaknya. Apapun yang terjadi adalah kesalahannya. Karena dia Papanya meninggal.
Papa Tian belum di makamkan. Karena menunggu Tio datang dari USA. Tapi Tio menelpon karena tidak bisa datang dalam waktu dekat. Karena penerbangannya di tunda dulu akibat cuaca sedang buruk. Tio meminta Papanya secepatnya di makamkan. Meski dalam lubuk hatinya dia ingin sekali melihat Papanya untuk yang terakhir kalinya. Tapi tidak baik menunda terlalu lama. Apalagi USA ke Indonesia memakan waktu yang cukup lama. Tio benar-benar tidak menyangka Papanya akan meninggalkannya mereka secapat ini. Padahal baru saja kemarin mereka video call. Dan Papa terlihat begitu sehat.
Dan semua keluarga setuju dengan keputusan Tio. Dan mereka pun melakukan proses pemakaman. Almarhum di makamkan tidak jauh dari rumah. Banyak yang hadir, baik keluarga, teman dan rekan bisnisnya dulu serta doa yang di panjatkan oleh mereka semua. Banyak yang tidak menyangka atas kematiannya.
Setelah pemakaman selesai semua orang pergi dari sana. Kecuali Mama Rita yang ingin menemani suaminya di sana. Dia terdiam dengan tatapan kosong.
"Pah, Mama ikut ya." Ucap Mama Rita dan memeluk makan suaminya. Papa Gamor, Mama Novi dan Ansel merasa sedih melihat kondisi Mama Rita sekarang.
"Mah, jangan seperti ini. Papa pasti sedih di sana kalau liat Mama seperti ini." Ucap Ansel. Mama Rita pun menatap Ansel. Setelah mengingat apa yang di lakukan Dian. Dia merasa malu dan merasa bersalah dengan Ansel.
"Maafin Mama sayang." Ucap Mama Rita memeluk Ansel.
"Kenapa Mama minta maaf sama Ansel. Mama tidak salah apa-apa." Ucap Ansel.
"Mama salah karena Mama tidak bisa mendidik Dian dengan baik. Dian sudah membuat kamu dan keluarga kita malu sayang. Dia sudah mengkhianati kamu. Mama sangat malu dan merasa gagal menjadi orangtua." Ucap Mama Rita.
"Ini bukan kesalahan Mama. Semua sudah terjadi dan bukan kehendak kita Mah. Jadi tolong Mama jangan pernah menyalahkan diri sendiri." Ucap Ansel dan mengajak Mama Rita pulang dan pada akhirnya dia mah karena paksaan Ansel. Mama Rita setuju untuk pulang. Kalau soal Tiara dia di jaga oleh Bi Hanum di rumah.
...****************...
KeEsokan harinya Tio datang dan langsung memeluk Mamanya. Rasanya Tio tidak tegah melihat kondisi Mamanya seperti ini. Dia juga sangat sedih dan merasa terpukul atas kepergian Papanya tapi dia tidak ingin lemah. Karena kalau dia lemah, siapa yang akan menghibur Mama Rita.
"Mama harus ikhlas dan sabar. Tio yakin Mama mampu melewati semuanya." Ucap Tio. Tak terasa air matanya menetes.
"Aku tidak akan memaafkan Dian." Ucap Mama Rita. Tio pun menyeritkan dahinya bingung. Kenapa dengan Dian? Apa yang di lakukannya lagi sekarang?
"Dian kenapa Mah? Apa yang barusan Mama katakan." Ucap Tio. Mama Rita pun menceritakan semua apa yang terjadi kemarin. Tio mengepalkan tangannya. Dian sudah benar-benar keterlaluan. Dan berjanji tidak akan memaafkannya.
...****************...
Sedangkan di tempat lain Dian terus berjalan tanpa arah. Entah dimana dia sekarang ini? Pikirnya. Tapi sekarang dia sudah tidak peduli dengan hidupnya lagi. Ngak ada gunanya juga dia ada di dunia ini. Dan tidak akan yang menginginkannya lagi. Dian berniat untuk mengakhiri hidupnya dan melompat ke jurang. Dian pun bersiap dan menutup matanya . Saat ingin melompat , seseorang menghentikannya.