Demi sebuah kekayaan dan ketenaran, wanita yang sudah berusia 28 tahun itu dengan tega menjual jiwa-jiwa orang yang tidak berdosa.
Bukan tak berdosa, hanya saja Kinan ingin membalas dendam atas sakit hati nya kepada penduduk kampung yang selalu menghina keluarga nya. Bahkan, ayah Kinan meninggal secara tragis di tangan kepala desa hingga membuat Kinan semakin yakin untuk membalas dendam.
Sangat mulus, ketika Kinan menumbalkan satu nyawa, maka harta kekayaan nya akan semakin bertambah. Namun, seiring berjalan nya waktu sesuatu yang instan itu tidak akan bertahan lama.
Tanpa sengaja, seorang anak pemuka agama dari kota sebelah jatuh cinta pandangan pertama pada Kinan. Di mulai dari perkenalan itu lah yang membuat hidup Kinan perlahan menjadi hancur.
Jangan lupa baca karya aku ya😊😊
Jangan lupa juga Like Vote Rate and Coment terimakasih😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.Ini Santet
Kinan mengamuk di dalam kamar, membuat ibu dan adik nya panik di luar apa lagi Kinan mengunci pintu kamar nya. Di dalam kamar, Kinan seperti orang kesurupan, di lantai nya penuh dengan muntahan darah.
Kinan terduduk lemas bersandar di dinding kamar mandi nya. Wanita ini perlahan berdiri mencari air untuk membasuh wajah nya. Setelah merasa nyaman, Kinan keluar dari kamar mandi. Wanita itu berjalan menuju pintu kamar nya.
"Kinan baik-baik saja bu, jangan khawatir." ucap Kinan lemas.
"Buka pintu nya Kinan, kau kenapa?" tanya Maryam yang masih khawatir dengan anak perempuan nya.
"Pergilah bu, Kinan baik-baik saja. Kinan tidak ingin di ganggu!" sekali lagi Kinan mengatakan jika diri nya baik-baik saja.
"Ya sudah bu, sebaiknya kita turun. Biarkan kakak sendiri. Mungkin dia sedang ada masalah." kata Arka lalu membawa ibu nya turun.
Kinan melihat muntahan darah hitam kental, bau nya amis membuat diri nya sendiri mau muntah. Buru-buru Kinan membersihkan darah tersebut agar tidak ketahuan ibu dan adik nya.
Setelah selesai Kinan langsung merebahkan diri, pikiran nya kembali menerawang pada tiga orang yang tidak takut pada ancaman nya beberapa hari yang lalu.
"Mereka mau mati. Baiklah, aku akan melakukan nya!" ucap Kinan marah. Wanita itu kemudian berkemas, kemudian turun ke lantai bawah.
"Kamu mau kemana Kinan?" tanya Maryam yang bingung dengan sikap anak nya.
"Aku akan pergi ke luar kota selama satu minggu bu. Jangan khawatir kan aku!" jawab Kinan langsung pergi begitu saja.
Maryam sendiri tidak berani melarang anak nya karena selama ini Kinan lah yang menjadi tulang punggung keluarga nya.
Kinan melajukan mobil nya menuju gubuk mbah Joyo yang sekarang jalan nya bisa di lewati mobil. Kinan melempar tas nya sembarang, mbah Joyo sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi pada Kinan.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan mbah?" tanya Kinan kesal.
"Mari membuat teror pada warga. Kita buktikan pada orang sok suci itu jika ilmu kita lebih tinggi." ujar mbah Joyo di iringi tawa licik nya.
Kinan menurut saja, wanita ini tidak mau ada yang mengganggu jalan balas dendam nya pada warga kampung. Tempat yang sepi, udara yang sejuk di tambah angin yang sepoi-sepoi, Kinan menikmati senja dengan suasana senyap.
"Bersiaplah Kinan, malam ini kita akan meneror warga." kata mbah Joyo membuat Kinan semakin bersemangat.
Malam yang gelap di tambah sedikit gerimis membuat para warga berdiam diri di rumah masing-masing. Hanya ada pak Rahmat dan Pandu juga Rizal di temani beberapa orang warga yang di masjid. Mereka sengaja tidak pulang untuk menunggu waktu isya.
Setelah sholat isya di laksanakan, ada seorang warga yang datang memberitahu pak Rahmat jika Hana kembali mengamuk. Buru-buru mereka pergi ke rumah Arman.
Belum juga sampai di rumah pak Arman, seorang warga berteriak meminta tolong yang ternyata anak gadis nya tiba-tiba kesurupan setelah pulang bekerja.
Pak Rahmat datang membantu Hana sedangkan Pandu dan Rizal membantu warga lain nya. Mata anak gadis itu melotot merah ketika melihat Pandu. Tangan nya seperti ingin mencakar wajah Pandu.
"Pergi kau, pergi dari kampung ini....!" teriak gadis itu histeris.
Pandu dan Rizal tidak memperdulikan ucapan gadis tersebut, mereka langsung membacakan ayat-ayat suci untuk mengusir jin yang ada dalam tubuh nya. Tak butuh waktu lama, tubuh yang semula menegang perlahan melemas lalu tidak sadar kan diri.
"Kalau boleh tahu, apa anak bapak pernah seperti ini sebelum nya?" tanya Pandu penasaran.
"Ini baru pertama kali nak Pandu. Anak saya baru saja lulus sekolah lalu bekerja di restoran sana!" ujar nya sambil menunjuk arah kiri.
Pandu paham, hanya saja dia tidak mau memberitahu apa yang sudah terjadi, "Anak nya di jaga pak, jangan tinggalkan Sholat." kata Pandu menasehati.
Pandu dan Rizal kemudian pamit, mereka buru-buru pergi ke rumah Hana yang ternyata sudah kembali sadar. Pak Arman sangat sedih, bagaimana bisa dia menjaga anak nya yang sakit seperti ini seorang diri.
Dooor......
Bunyi ledakan menghantam tepat di atas salah satu rumah warga yang membuat semua orang kaget dan langsung keluar. Mereka melihat serpihan api yang entah dari mana asal nya.
"Ini pasti santet!" seru salah seorang warga.
"Benar, ini pasti santet!" timpal warga lain nya.
Banyak yang membenarkan hal ini namun pak Rahmat dan Pandu tidak mau ambil suara. Mereka tahu jika kampung ini sedang di teror namun mereka tidak ingin memberitahu agar para warga tidak merasa takut.
Pemilik rumah langsung ketakutan, mereka meminta tolong pada pak Rahmat. Di situ lah pak Rahmat mengajak para warga berdoa sama-sama untuk meminta perlindungan dari Allah.
..aku sukaaa 🥰