Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.
Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kata Hati
Dewasa ini kenakalan remaja amat mencengangkan jagat Maya. Tak hanya terjadi di kota-kota besar, merabah ke segala penjuru bahkan masuk hingga pelosok bangsa. Korban dipilih acak, terkadang orang terdekat justru jadi sasaran. Dilakukan tak hanya oleh anak laki-laki saja, justru anak perempuan cenderung lebih besar jumlahnya. Rumor kenakalan Tina salah satunya, hingga trending di berbagai surat kabar. Tentu Aluna terseret dalam berita yang dimuat.
"Beuh artis jalur duka, ramai sekali yang memperbincangkan kau." Vebby bicara tanpa menoleh, sibuk menilik berita dalam ponsel.
"Sejak kapan aku jadi artis, sudah sana sekolah kenapa sih betah sekali di rumah orang." Usir Aluna, tampak kesal.
"Ya betahlah, kalau bukan di rumah orang di rumah monyet baru aku tak betah." Dasarnya bebal, membalikkan kata-kata adalah keahliannya.
"Sukar memang bicara dengan titisan kudanil." Kekesalan semakin terasa.
"Kenapa harus kudanil, kenapa tak jerapah atau singa atau hewan keren lainnya?" Tak terima dikatai dengan hewan yang rupanya saja tak keren menurut Vebby.
"Kau sebelas dua belas tingkahnya dengan kudanil." Nyinyir Aluna.
"Hah, masa iya, memang apa kesamaan ku dengan kudanil?" Kalau masalah gembrot, maaf saja tubuh Vebby idaman sekali.
"Berendam dan menguasai wilayah tertentu, kau menghabiskan air rumah ku hanya untuk mandi pagi." Dumal Aluna.
"Hei, rumah mu panas tak ada AC wajar aku berendam, habis tinggal isi lagi loh Lun, tak usah cerewet kau mirip ibu-ibu tak dapat jatah." Vebby meledek balik Aluna.
Memilih menenggelamkan diri dalam selimut, Aluna malas berdebat dengan Vebby. Menginap dengan alasan menemani dirinya yang luka, alih-alih memperhatikan Aluna, Vebby justru sibuk dengan ponselnya sendiri. Membalas komentar semua yang ada di sosial media. Mengemukakan fakta, semakin menyudutkan Tina. Aluna melarang Vebby menyerang dalam bentuk cemooh jama'ah digital, tak digubris, menurut Vebby sudah sepantasnya Tina mendapat sanksi sosial. Toh, salah sendiri melampiaskan kesalahan pribadi pada orang lain. Hukum alam berlaku bagi siapa saja, tak terkecuali Tina.
"Kau marah?" Vebby menyibak selimut Aluna.
"Tidak, aku sangat bahagia. Apa kau bisa melihatnya dari muka ku?" Sindir Aluna.
"Wowww, sudah ku duga kau tambah menyebalkan sejak kenal Eva. Ahh, pokoknya sama menyebalkannya." Gerutu Vebby.
"Kenapa bawa-bawa Eva segala." Aluna mencubit kecil tangan Vebby.
"Nih baca sendiri, aku pergi. Ada Karin di rumah, aku kembali sebelum dia berangkat sekolah."
Aluna menerima ponsel pintar milik Vebby. Dilihatnya ada pesan dari Eva yang minta di jemput. Eva malas naik angkot ke rumah Aluna, harus ngetem dan lama sekali. Aluna membuang nafas panjang, dirinya cukup malas berdebat dengan Vebby ini malah kedatangan Eva juga. Sebenarnya tak masalah mereka datang, yang jadi persoalan mereka itu anak sekolah namun sering bolos dan izin karena Aluna.
Rencana segera meletakkan ponsel Vebby, namun sebuah notifikasi menjadikannya urung. Aluna membaca pesan entah dari siapa yang isinya menyangkut Aluna. Betapa terkejutnya ia, saat tahu kalau ada grup chat fans garis keras Aluna dan adminnya Eva serta Vebby. Tepok jidat dengan kelakuan ajaib temannya. Pantas, Vebby mengatainya artis dadakan.
"Ishh, minggir aku dulu yang masuk!" Vebby.
"Kau itu menjemput siapa, harusnya yang di jemput di utamakan." Eva.
"Sundel bolong tak usah ngoceh, minggir aku dulu." Vebby tak terima.
"Heh, gajah ini pintu muat kita masuk berdua sekaligus, minggir tangan mu, jangan drama." Menepis tangan Vebby.
"Eh, o... iya-iya." Baru sadar dan masuk bersama.
Aluna yang sekarang duduk di ruang tamu, gedek dengan tingkah temannya yang super duper aneh. "Apa itu?"
"Mantap kan, hasil jerih payah kita berdua ini." Bangga Eva.
TOS, Eva dan Vebby kegirangan. "Yuhuuu, kita pesta."
"Kalian terlalu boros, habis berapa nanti aku ikut iuran." Aluna melas jika uang temannya habis untuk makanan saja.
"Hei anak muda, jangan risau semua ini gratis." Vebby mengeluarkan semua tentengannya.
"Kok bisa?" Orang memberi juga tak mungkin sebanyak itu.
"Aluna, ekhmm sebenarnya ini dari fans dadakan mu, mereka menitipkan semua ini supaya kau lekas pulih dan semangat, ini tak seberapa ada yang kita tolak juga tadi." Jelas Eva.
"Ya jelas di tolak, gila saja memberi nasi tumpeng paket lengkap, dikira mau hajatan, mana bawa motor kan susah dibawa." Omel Vebby.
"Hah, kok gitu sih. Kenapa kalian tak bilang padaku lebih dulu?" Rasanya seperti dijual teman sendiri.
"Jangan bawel, kita pesta sekarang. Cepat duduk lesu, kita foto terus upload buat ucapan terimakasih." Pinta Vebby.
"Tak mau, aku seperti dijual olehmu." Tolak Aluna.
"Sudah cepatlah, kau juga menikmati hasilnya. Lihat ada pizza dan burger dari tempat favorit kita." Iming-iming Vebby.
"Ish tak mau." Aluna kekeh.
Eva menjejalkan, satu potong pizza ke mulut Aluna paksa. "Nah cepat foto."
Satu jepretan aib membuat Aluna mencak-mencak, akhirnya menyetujui untuk di foto tanpa pizza di mulut. Makanan dan snack serta beberapa minuman dingin tersedia berjajar di meja ruang tamu. Karin yang sudah berangkat sekolah merajuk, mengancam bolos jika tidak disisihkan, sebab keusilan Vebby mengirim gambar. Aluna memakan beberapa, meski kesal tak baik membuat makanan jadi mubazir bukan.
"Kayaknya tadi ada yang nolak-nolak, eh taunya diembat juga nih makanan." Olok Eva.
"Mulutmu, jangan menghakimi orang makan, tapi emang bener sih yang kau omong itu." Jadi Vebby ini arahnya mendukung atau mencela.
"Syutt diam, aku sedang menikmati makanan, jangan sampai ganti kalian yang aku makan ya!" Ancam Aluna.
"Makan aku dong dek." Vebby.
"Sebelah mana aja aku pasrah, asal adek senang."
Terbahak efek gila teman-temannya. Lanjut menikmati aneka hidangan hasil belas kasih orang. Berdoa saja semua halal, sudah banyak masuk perut soalnya. Ditengah acara mari menikmati makanan, mereka kedatangan tamu.
"Oh Rara, masuk Ra." Aluna mempersilahkan Rara masuk.
"Hah, aku nyaris terlindas kereta saat kesini, lihat lututku masih gemetar." Curhat Rara, tak lama setelah duduk di dekat Eva.
"Kau tak sekolah?" Eva memegangi dengkul Rara.
"Demi Neptunus, aku diminta sepupu jelmaan Dajjal itu untuk ke rumah Aluna. Dia khawatir, tak fokus belajar, arghhhjhhhhhhhhhh dia yang jatuh cinta kenapa aku yang repot." Keluh Rara.
"Ekhmm, Ra, emmm aku pikir kau tak perlu separuh itu dengan sepupumu, jangan membuang masa muda mu dengan hal merepotkan." Sara Aluna.
"Tidak bisa, aku memang niat membolos, dia memegang rahasia ku, jika bocor gawat, bisa dikeluarkan dari KK. Jadi ya aku manut saja." Ceriwis Rara.
"Yeuhhh si Rara mah, kalau gitu kita gak bisa ber word-word." Sanggah Vebby.
"Apaa tuh?" Bingung Rara.
"Rata-rata yang di sekolah kalian cupu semua ya, tak bisa berkata-kata maksud ku." Vebby menjejalkan satu suapan burger ke mulut mungilnya.
"Buset, mulut kecil mangapnya gede banget hampir kesedot ini." Canda Eva.
"Canda mulu, nggak ditawari apa ini tamu ngiler." Rasa berkoar jujur.
"Astagfirullah, maaf lupa Ra. Ayo ambil sesuka mu saja." Aluna sampai tak enak hati.
"Hehehe, nah gitu dong, masa ku todong duluan." Rara lekas menyambar stoberi yang sedari tadi menggoda mata.
"Ekhmm, jadi kedatangan ku kemari tentu saja untuk memberi bunga yang pending beberapa pot, nah selain itu dia ingin tahu keadaan mu secara langsung, maaf ya aku sambil vc sepupu ku boleh." Rara minta izin lebih dulu.
"Ehhhh, tapi aku harus bagaimana?" Aluna kelabakan, bagaimana tidak baru minta izin tapi Rara sudah menekan tombol panggil dan layar menghadap ke Aluna.
Panggilan di angkat, layar tak menampilkan apapun selain tempat ibadah. Rasanya orang itu usai menyelesaikan sholat Dhuha. Kamera bergerak, jantung Aluna nyaris copot takut orang itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Namun lama menunggu, tak ada wajah yang terlihat hanya sebuah isak terdengar. Aluna menjerit dalam hati, dia bingung sendiri. Mendengar tangisnya lelaki yang asing baginya namun langsung mengena sekali dengar. Padahal Aluna tak tahu itu sebuah tangis atau apa, semua hanya perkiraannya saja.
"Assalamualaikum, hai aku Aluna." Mengikuti bisikan hati Aluna menyapa lebih dulu.
Tak ada respon, Aluna melambaikan tangan. "Kita belum saling mengenal, tapi terimakasih selalu mengirimi aku satu pot bunga setiap harinya."
Aluna mengungkapkan perasaan, sekalian mumpung ada kesempatan. "Tapi bisakah kau berhenti mengirim."
Masih tak disahuti. "Ekhmm, aku takut aku mengecewakan mu saat bertemu lagi, toh kita tak cukup kenal, canggung bagiku menerima pemberian darimu."
"Tidak, akan ku kirim sama kau jadi milikku, tolong bersabar butuh tiga atau lima tahun lagi waktu itu tiba, namun bisakah kau menunggu ku. Maaf membebani hatimu, jangan berkata kita tak saling kenal, aku mengenal mu dengan baik, makanya aku memilih mu, maaf aku egois, hanya tunggu aku, terimakasih Aluna."
Tut
Panggilan video diputus sepihak. Aluna melongo, teman-temannya bagai cacing kepanasan meledek Aluna mati-matian. Sedang Aluna, hatinya tak karuan. Dan apa-apaan ini, kenapa pipinya bersemu mendengar sebuah janji seorang pujangga. Namun hatinya teramat suka dengan perlakuan sang pria. Apa dia harus mengikuti kata hati, sedang kepala berkata dia harus teguh pendirian jangan tergoda seperti wanita murahan. Ingat lelaki itu bahkan tak berani memperlihatkan wajah, jangan-jangan sudah om-om. Aluna menggelengkan kepala, dalam hati berucap amit-amit tiada henti.
Bersambung
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
udah kayak rajaaa😂😂