Aku tidak bisa menceraikan mu shafa, tapi aku juga tidak bisa meningalkan alena, apa lagi saat ini alena tengah hamil anak ku, dan aku juga sudah berjanji untuk bertanggung jawab.
begitu lah ke egois san Cakra sebagai seorang suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja ardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alena keguguran
"Beberapa bulan telah berlalu.
Sidang putusan pengadilan agama telah memutuskan semua ikatan antara Shafa dan Cakra.
Kini resmi sudah wanita yang masih cantik diusianya dua puluh enam tahun itu kini telah berubah status nya menjadi janda.
" Assalamu'alaikum, semua bagaimana kabarnya hari ini,?
sapa nya pada beberapa karyawan pekerja di cafe nya.
Ya,, sejak hakim pengadilan agama mengeluarkan pernyataan penceraian nya, shafa seolah burung terbebas dari sangkar nya.
Ia pelan pelan bangkit dari keterpurukan, wanita itu kini menyibukkan diri dengan mengurus 3 cafe nya.
"Waalaikumsalam"
Jawab mereka serempak. "Wah bu bos catik datang,!
Ketiga perempuan yang bertugas dibagian kasir dan pelayan itu pun bergegas mendekat.
Bagi Shafa mereka tak hanya pekerja, tapi sudah seperti keluarga sendiri.
" Kabar kami baik Alhamdulillah "
Bagaimana dengan kabar bu bos cantik sendiri, imbuh salah satu wanita muda.
Shafa tersenyum, Kamu ini sudah saya bilang jangan menyebut saya seperti itu.
Tapi kan Bu bos memang cantik, lihat saja dari hari ke hari tambah terlihat semakin anggun.
pokoknya kalau orang yang telah menyia-nyiakan bu bos melihatnya, ani yakin pasti akan menyesal sedalam-dalamnya tuh orang.
jawab wanita yang bernama ani itu. membuat Shafa tersenyum kecil.
"Kamu ini bisa saja"
Sudah Ah.. kembali bekerja, titah nya pada ketiga perempuan muda itu.
Cara Shafa menjalin hubungan baik dengan pegawai memang tidak seperti bos dan bawahan pada umumnya.
Shafa lebih ke melakukan mereka seperti teman, sehingga mengikis rasa canggung dan membuat pekerja merasa semakin nyaman.
tak jarang candaan di sela sela aktivitas menghiasi, membuat shafa yang terkadang bersedih kembali merasa terhibur.
Meski begitu shafa tetap menerapkan kedisiplinan yang ketat.
*****
Ditempat lain.
"Keluarga atas nama nyonya Alena hapsari,?
Seru seseorang perawat, membuat Cakra yang tengah menunggu tampak sesak.
" Iya saya suaminya "
jawab Cakra bergegas mendekat.
"Bagaimana kondisi istri dan janin yang ada dalam kandungan nya?
tanya Cakra pada suster itu.
"Istri bapak masih belum sadarkan diri.
mengenai kondisinya, dokter akan menjelaskan diruangan nya.
" Mari ikut saya pak.
jawab suster itu seraya berlalu pergi, di ikuti oleh Cakra yang mengekori nya dibelakang menuju ruangan dokter yang menangani Alena.
"Bagaimana keadaan istri saya dok,,? tanya Cakra
Setelah ia tiba diruangan dokter tersebut.
Helaan nafas panjang yang terdengar dari pria yang mengenakan Almamater putih itu membuat denyut jantung Cakra semakin berdegup kencang.
takut jika terjadi apa apa terhadap alergi.
"Begini pak !
Benturan keras yang dialami istri bapak membuat janin yang ada dalam kandungan nya tidak dapat bertahan.
Dengan sangat menyesal saya katakan, jika istri bapak mengalami keguguran.
" Duar,,, ?
Pernyataan dokter serupa sambaran petir di siang bolong.
Luluh lantak hati Cakra mendengar nya.
Bagaimana bisa ia kehilangan dua buah hati dalam waktu yang cukup singkat.
dan itu semua terjadi karena dirinya sendiri.
Anak dari Shafa meninggal karena ia tak dapat membendung hawa nafsunya, dan sekarang anak dari Alena juga pergi karena tak dapat membendung amarah, sehingga Alena yang merasa kesal berniat pergi meninggalkan Cakra tapi ia justru terjatuh sehingga mengakibatkan istri kedua Cakra mengalami pendarahan hebat.
"Cakra tak dapat membendung kesedihan nya. akhirnya luluh juga diruangan dokter.
sang dokter hanya bisa memandang nya dengan iba.
" Nyonya Alena sudah kami pindahkan ke ruang perawatan.
anda bisa menemuinya sekarang.
Cakra bangkit dari duduknya langkah nya terlihat terseok, walau tubuh terasa lemas namun ia tetap memaksa kan diri. berjalan menuju ruang rawat Alena yang tadi sempat dokter sebutkan.
"Maafkan aku Alena" gumamnya dalam hati.
Tiba diruangan pandangan Cakra tertuju pada wanita yang tengah terbaring dengan mata terpejam wajahnya terlihat pucat.
Cakra mengusap perut yang masih tertutup selimut.
Perut yang semula sudah sedikit membuncit itu kini rata kembali.
tangan nya bergeta, perih itu kembali terasa.
Sama seperti perih saat ia mengetahui kepergian anaknya.
Pergelangan tangan Alena bergerak, hinga perlahan-lahan mata yang semula terpejam kini mulai terbuka.
"Sayang..?
Seru Cakra seraya meraih tangan Alena.
Alena mengejap kan mata, ruangan bernuansa putih itu.
Alena mulai melepaskan genggaman Cakra.
kedua tangan nya menyibak selimut yang menutupi bagian tubunya terutama perut.
Wanita itu meraba-raba memastikan apa yang ia takut kan benar-benar terjadi.
" Mas, kenapa perut ku rata,?
"Apa yang terjadi dengan janin ku,,?
" Alena, tenang dulu ya"!
Ujar Cakra mencoba mengunci pergerakan tangan Alena yang mulai memberontak.
"Bagaimana aku bisa tenang mas"!
"Jelaskan padaku, bagaimana keadaan kandungan ku. nada bicara Alena meningi.
" Al,,,, ucap Cakra tergantung.
Pria itu benar-benar bingung bagaimana menjelaskan nya.
Belum juga Cakra melanjutkan kata katanya.
Wanita itu sudah histeris.
Rasa bersalah dalam diri Cakra kian membubung tinggi.
Bukan pada Alena, kali ini lebih je bayang bayang Shafa saat mengalami hal serupa, benar benar-benar membuat sesal semakin menyiksa hati.
Alena hanya mengalami keguguran, tapi ia terlihat serapuh itu, padahal saat ini dirinya sebagai suami, setia mendampingi untuk sekedar mempersembahkan kasih sayang dan ketenangan untuk Alena.
Lalu bagaimana dengan Shafa saat itu.?
Wanita itu harus mengalami pendarahan hebat yang membuat wanita itu harus segera mengeluarkan bayi nya saat itu juga, dan setelah bayi itu keluar ia harus kehilangan putra satu satunya dalam hidupnya
Dan yang lebih parah nya, di saat bersamaan pil pahit yang kesekian kalinya harus ia telan.
bahwa suaminya tengah memadu kasih dengan wanita lain.
Sebesar itu kah luka dan cerita yang ia berikan untu wanita yang selalu sabar menghadapi sikap semena menanya,?
"Shafa,,, "?
Jerit nya yang hanya bisa ia gaungkan dalam hati.
Mamanya benar, dirinya tak ubahnya lelaki bodoh yang hanya bisa merutuki diri, setelah semuanya luluh rantak.
Selama ini ia telah dibutakan oleh ambisinya.
Saat itu bagi Cakra yang ada pada Alena hanya tampak kesempurnaan.
kini Alena hancur, Cakra pun berantakan.
Cakra merutuki kebodohan nya, karena sudah menerima kembali cinta Alena.
yang sebenarnya rasa itu telah hilang sejak kabar Alena telah menikah dengan pria lain.
Pernikahan Cakra dengan Shafa pun termasuk rumah tangga yang selalu bahagia dan harmonis.
hinga derita itu Cakra persembahkan setelah Alena datang kembali.
Kini sesal tak berkesudahan itu mulai hadir, disaat semua sudah tak lagi berguna.
terlihat jelas memory memory lara yang ia persembahkan untuk wanita sebaik Shafa.