Siti yang begitu ingin menutup mata batinnya agar bisa mendapatkan keturunan justru bertemu dengan seorang dukun yang justru memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan sesuatu.
Sang dukun bukannya mengobati Siti justru menikahkan Siti dengan puluhan makhluk gaib hingga membuat Siti sakit-sakitan.
Selama bertahun-tahun Siti menderita penyakit aneh dimana tak seorangpun yang mampu mengobatinya.
Berbagai pengobatan medis dan non medis sudah ia lakukan namun penyakitnya tak kunjung sembuh.
Apakah Siti akan menemukan seseorang yang akan menyembuhkannya, dan mendapatkan keturunan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kembali Ke Gua Cirengganis
*Bruughh!!
Beberapa lelembut yang mencoba menerobos masuk kedalam mobil terpental satu persatu setelah terkena pagar Gaib yang dibuat oleh Gilang.
Gilang dan Barra tertawa terbahak-bahak melihat mereka.
"Sukurin lo, makanya jangan ngeyel. Udah aku pasangin warning juga masih tidak percaya, jadi ya gini deh!" seru Gilang
"Gimana mereka gak menerobos Lang, wong warning yang kamu pasang itu isinya jangan menyerah, ya mereka makin semangat!" sahut Barra
"Maksudnya tuh jangan menyerah sebelum janur kuning melengkung," jawab Gilang
"Astoge kode ini...kode!"
"Kode apa?" tanya Barra
"Ya itu Bar, jangan menyerah," jawab Gilang
"Hmmm,"
#Pov Siti
Pukul sebelas malam kami tiba di Pangandaran.
Anas sengaja menghentikan mobilnya di sebuah penginapan yang tak jauh dari pantai.
Aku dan Mas Bimo langsung menepati kamar yang sudah di sterilisasi oleh Ki Lingga.
Tidak seperti sebelumnya, meskipun aku menginap di penginapan yang sama seperti saat mendatangi tempat ini bersama Ki Wage, tapi kali ini aku tidak merasa sesak ataupun kepanasan seperti dulu.
Semuanya terasa normal, bahkan suhu ruang kamarku terasa begitu dingin hingga aku harus mengecilkan volume AC ruanganku.
"Sekarang istirahatlah, biar aku yang akan menjagamu," ucap Mas Bimo
"Memangnya kita gak melakukan ritual malam ini?"
"Entahlah, Aki Lingga belum memberitahu ku," jawab Mas Lingga
"Kalau begitu biar aku tanyakan dulu padanya," Mas Lingga kemudian bergegas keluar menemui Ki Lingga
Aku yang memang sudah kelelahan, berusaha memejamkan mataku sejenak. Tapi entah kenapa aku tak bisa tidur.
Meskipun aku begitu lelah setelah menempuh perjalanan jauh, namun terap saja mataku sulit terpejam.
Tidak lama Mas Bimo kembali.
"Gimana Mas?"
"Ki Lingga bilang, ritualnya hari ini, tapi dia bilang kamu istirahat dulu,"
Entah kenapa aku merasa Jika Ki Lingga adalah orang yang begitu santai. Ia bahkan tak buru-buru pergi ke Gua Cirengganis untuk melakukan ritual.
Ki Lingga justru menyuruh ku untuk beristirahat dulu.
Ku lihat ia tampak menyesap segelas kopi hangat bersama dengan putranya Anas.
"Gimana dengan ritualnya Aki?" tanya Mas Bimo
"Oh iya, nanti kita lakukan satu jam lagi. Sebaiknya sekarang kalian istirahat dulu," jawab Aki Lingga
"Oh begitu, baiklah kalau seperti itu biar saya istirahat dulu," jawab Mas Bimo
Ki Lingga mengangguk .
.
Kami berdua segera kembali ke kamar kamar.
"Sudah sebaiknya kamu istirahat saja, biar nanti kalau ada apa-apa aku akan membangunkan kamu jika acara akan di mulai.
Aku mengangguk dan berbaring. Sementara itu ku lihat Mas Bimo memilih menghabiskan waktunya dengan membaca Buku.
Pukul kosong-kosong terdengar suara orang mengetuk pintu kamarku.
Mas Bimo pun membangunkan Aku.
"Neng Bangun," ucapnya lirih
Aku segera membuka mataku.
"Sekarang cepatlah berkemas, Aki sudah menunggu kita," ucapnya
Aku mengangguk dan segera turun dari tempat tidur. Setelah mencuci muka dan mengganti pakaian akupun segera keluar menemui Ki Lingga.
Desir udara malam mengantar kepergian kami menuju ke Gua Cirengganis. Suara binatang malam seolah ikut menjadi saksi bagaimana mencekamnya malam itu.
Setibanya di sana, Ki Lingga langsung mempersiapkan semua keperluan ritual.
Ia menata bunga melati dan tujuh mawar diatas Baki dan kemudian meletakkannya diatas air Cirengganis.
Ia kemudian menyuruh Mas Bimo dan Aku segera mendekat kearahnya.
"Sekarang kamu mandikan dia dengan tujuh gayung air dan jangan lupa baca mantera ini," ucap Ki Lingga memberikan secarik kertas yang bertuliskan mantera.
Saat siraman pertama semuanya berjalan baik, bahkan di siraman kedua masih tak terjadi sesuatu padaku.
Namun saat siraman ke tiga sebuah angin besar menghantam tubuh ku hingga aku terlempar ke mata air Cirengganis.
*Byuurr!!
"Neng, eneng!"
Meskipun aku sudah tak sadarkan diri namun aku masih bisa melihat dan mendengar mereka.
.