Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Bisikan Masa Lalu dan Ancaman di Balik Pesta
Pagi itu cahaya matahari menyelinap lembut lewat celah tirai jendela, menyinari helaian rambutku yang terurai di atas bantal. Aku terbangun bukan karena suara alarm, melainkan aroma harum yang samar tercium dari meja samping tempat tidur. Di sana sudah tersaji segelas susu hangat dan selembar catatan tulisan tangan yang rapi namun tegas: "Sarapan sudah siap di ruang makan. Jangan telat." Tidak ada nama pengirimnya, tapi aku tahu persis siapa yang menyuruhnya.
Aku menyisir rambutku perlahan di depan cermin, membiarkannya jatuh bebas di bahu seperti biasa. Kali ini aku memilih gaun berwarna krem yang sederhana namun anggun—gaun yang ternyata juga sudah tersedia di lemari, persis dengan model yang pernah aku puji diam-diam di majalah dua tahun lalu. Perasaan heran itu kembali menyergapku: bagaimana Erlan bisa tahu hal-hal sekecil ini?
Saat turun ke bawah, Erlan sudah duduk di meja makan dengan wajah setenang biasanya. Jas rapi sudah melekat di tubuhnya, hanya dasi yang belum diikat sempurna. Dia melirik sekilas ke arahku, lalu matanya berhenti sejenak pada rambutku yang berkilau terkena cahaya lampu gantung.
"Kamu selalu membiarkannya terurai begitu?" tanyanya tiba-tiba saat aku duduk di hadapannya.
Aku berhenti mengaduk bubur di mangkuk. "Apa ada yang salah?"
"Tidak," jawabnya pelan sambil kembali menatap berkas di tangannya. "Hanya... cocok. Sangat cocok."
Ucapan itu begitu singkat, tapi entah mengapa jantungku berdegup lebih kencang. Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah berdiri dan menaruh sebuah amplop cokelat di meja.
"Malam ini ada pesta peringatan berdirinya perusahaan keluarga kami. Kamu harus ikut. Ini adalah penampilan pertama kita sebagai suami istri. Di sana nanti, panggil aku 'Mas'. Jangan menyinggung soal kontrak, jangan menatap orang lain terlalu lama, dan tetaplah di dekatku setiap saat."
Aku membuka amplop itu. Ada undangan mewah dan sebuah kartu nama dengan tulisan tangan: "Dian Pratama – Istri". Hanya dua kata itu, tapi terasa begitu berat dan berarti.
"Apakah di sana akan ada Rian dan Sari?" tanyaku hati-hati.
Erlan menoleh, tatapannya tajam namun meneduhkan. "Mereka pasti datang. Tapi tenang. Selama kamu bersamaku, tidak ada yang berani berbuat kasar. Dan ingat satu hal: malam ini kamu bukan lagi putri pemilik perusahaan yang bangkrut. Kamu adalah istriku."
Sore harinya penata rias datang ke rumah. Saat mereka menyisir dan merapikan rambutku, aku melihat Erlan berdiri diam di ambang pintu, menatap bayanganku di cermin tanpa berkedip.
"Kamu tidak perlu mengubah apa pun," ucapnya tiba-tiba pada penata rias itu. "Biarkan rambutnya tetap seperti biasa. Cukup tambahkan sedikit jepit mutiara saja."
Malam itu kami tiba di lokasi pesta—gedung pertemuan termegah di pusat kota. Lampu gantung kristal berkilauan menyinari ratusan tamu penting, musik orkestra mengalun lembut, dan aroma bunga melati memenuhi ruangan. Saat Erlan menuntunku masuk, semua mata tertuju pada kami. Bisik-bisik terdengar di mana-mana: siapa gadis di samping Bos Dingin itu? Mengapa dia terlihat begitu sederhana namun memikat?
Tepat saat kami berjalan menuju panggung, dua sosok yang paling aku hindari muncul di hadapan kami. Rian dan Sari. Sari mengenakan gaun merah menyala yang berusaha mencuri perhatian, sementara Rian menatapku dengan tatapan lapar dan iri.
"Selamat datang, Tuan Erlan," sapa Rian dengan senyum palsu, lalu menoleh padaku dengan nada mengejek. "Wah, Dian. Kamu terlihat cantik sekali malam ini. Rambutmu... masih sama persis seperti yang aku ingat. Sayang sekali sekarang bukan aku yang bisa memegangnya."
Tangannya bergerak hendak menyentuh ujung rambutku. Sebelum jari-jarinya menyentuh sehelai pun, Erlan sudah menahan pergelangan tangannya dengan cengkeraman kuat. Wajah Erlan sama sekali tidak berubah, tapi matanya sedingin es yang membekukan.
"Jangan sentuh apa yang menjadi milikku," ucapnya pelan namun mengancam, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar. "Atau tangan ini tidak akan bisa memegang apa-apa lagi mulai detik ini."
Rian meringis kesakitan, wajahnya memucat, lalu segera menarik tangannya mundur. Sari berusaha ikut campur dengan nada manja. "Tuan Erlan, jangan begitu. Kak Dian kan teman lama kami. Kami hanya bercanda."
"Teman lama?" potongku tiba-tiba, suaraku lantang dan tenang. "Teman yang saling mengkhianati, teman yang merencanakan kematian temannya sendiri? Maaf, aku tidak punya teman seburuk kalian."
Kata-kataku membuat suasana hening seketika. Erlan sedikit tersenyum tipis—senyum pertama yang kulihat di bibirnya—lalu merangkul pinggangku erat.
"Benar sekali," timpalnya. "Istriku tidak pernah salah menilai orang."
Sore itu berubah menjadi momen kemenangan kecil bagiku. Rian dan Sari mundur dengan wajah merah padam karena malu dan marah.
Menjelang tengah malam, aku memutuskan pergi ke teras belakang untuk mencari udara segar. Angin malam menerpa wajahku, membuat rambutku berkibar lembut. Aku menatap langit bertabur bintang, pikiranku melayang kembali ke hari kematianku. Andai dulu aku tidak terlalu lemah, andai dulu aku berani menolak tawaran mereka...
"Kamu sedih?"
Suara Erlan terdengar di sampingku. Dia berdiri tak jauh, tangannya memegang dua gelas jus buah. Dia menyodorkan satu padaku.
"Aku hanya teringat hal yang lalu," jawabku pelan. "Di kehidupan dulu, di pesta seperti inilah Rian pertama kali berjanji akan melamarku. Dan aku bodohnya percaya."
Erlan diam sejenak, lalu menatapku lekat-lekat. "Dian... apa yang kamu ingat sebenarnya?"
Aku menelan ludah. Apakah harus aku ceritakan semuanya? Bahwa aku sudah pernah mati, bahwa aku kembali dari masa depan?
"Aku ingat banyak hal," jawabku akhirnya. "Aku ingat kamu pernah menolongku saat aku jatuh dari sepeda saat SD. Aku ingat kamu pernah memberiku payung saat hujan deras. Aku ingat kamu selalu ada di kejauhan saat aku menangis sendirian. Tapi di kehidupan dulu, aku tidak pernah menyadari itu semua."
Erlan terbelalak. Matanya membesar, seolah tidak percaya mendengar pengakuanku. "Kamu... kamu ingat kejadian itu? Padahal saat itu aku hanya berdiri di balik pohon?"
Aku mengangguk pelan. "Aku selalu tahu keberadaanmu. Hanya saja aku terlalu buta melihat kebaikan orang lain karena terlalu fokus pada orang yang salah."
Erlan mendekat perlahan, jaraknya begitu dekat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. "Aku sudah menunggumu bertahun-tahun, Dian. Aku tahu apa yang akan terjadi padamu. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi takdir terlalu kuat. Sampai akhirnya aku menemukan cara untuk mengulang waktu ini... agar kali ini aku bisa melindungimu dengan benar."
Baru saja dia hendak bicara lebih lanjut, ponselnya berdering keras. Wajahnya berubah tegang saat membaca pesan yang masuk.
"Ada masalah," ucapnya serius. "Rian dan Sari tidak diam saja. Mereka baru saja menyebarkan berita bohong bahwa kamu hamil di luar nikah dan memaksaku menikah denganmu. Berita itu sudah menyebar ke seluruh media sosial."
Aku terkejut sejenak, tapi kemudian tersenyum dingin. "Biarkan saja. Malam ini mereka bermain kotor. Tapi ingat, Mas... permainan belum selesai. Giliran kita yang menjawab."
Erlan menatapku kagum, lalu tangannya perlahan menyentuh helaian rambutku yang berhembus angin. Sentuhannya begitu lembut, penuh rasa sayang yang selama ini dia sembunyikan.
"Kamu benar-benar berubah," bisiknya. "Tapi aku suka perubahan ini. Dan apa pun yang terjadi, aku akan ada di sampingmu. Kita hadapi bersama."
Malam itu bintang terasa lebih terang dari biasanya. Di balik kejahatan yang datang, aku menemukan kekuatan baru: bukan hanya untuk membalas dendam, tapi juga untuk melindungi orang yang diam-diam selalu menjagaku selama ini.