Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
si "Thor"
Hari-hari setelah Erni menjengukku bersama kak Iwan benar-benar kacau. Bagaimana tidak? Moodku berantakan, aku sering uring-uringan, dan yang paling parah aku malas keluar kamar. Makan di kamar, tidur di kamar (kalau yang ini wajar sih ya, kan emang kamar untuk tidur), pokoknya aku nggak mau keluar kamar. Membuat Ibuk sering jengkel dan ngomel. Aku merasa seperti orang yang telah kalah sebelum berperang. Padahal waktu di Rumah Sakit kemarin aku sudah membulatkan tekat untuk mengutarakan isi hatiku pada Erni. Namun, melihatnya dibonceng Kak Iwan, rasanya tekatku dilahap api keputus asaan. Aarrgghhhh. . .
"Daann. . .lee, tolee cah baguuss, anak e Ibuukk. .sini sini keluar kamar", suara Ibuk nyaring mengajakku ke teras rumah.
"Siniooo, penting, cepet!", kali ini Ibuk setengah berteriak karena aku tidak bergeming dari kasur lusuhku.
Aku menyeret langkahku, malas, beranjak dari kamar menuju teras depan rumah. Matahari langsung terasa menyengat dan menyilaukan. Aku serasa seperti vampir yang tak kuat dengan sinar sang surya.
"Apa sih bukkk??", tanyaku nyengir, karena memang silau, mungkin kebanyakan di dalam kamar membuat mataku sensitif terhadap cahaya matahari.
"Hari minggu besok, bapakmu bakal ngajak kamu nyari motor", Jawab ibuk singkat.
"Hah? Beneran buk?", Aku terlonjak bersemangat. Kegalauan ku jauh berkurang mendengar apa yang disampaikan Ibuk. Akhirnya aku bakalan punya motor lagi, kesempatan nih minta yang kerenan dikit. Syukur-syukur bisa bersaing dengan Kak Iwan. Eh, tapi itu mustahil deh, keuangan orangtua ku tidak se mewah itu untuk membelikanku motor se keren punya Kak Iwan. Ah, bodo amat yang penting motor baru.
"Seneng kan? Makanya jangan ngombong di kamar terus", Ibuk kembali ngomel.
Aku mengangguk, cengar cengir, kali ini bukan karena mataku silau, tapi ini adalah cengiran kebahagiaan.
"Tapi nyari motor barunya yang bekas lho Dan", tambah Ibuk.
Aku terkekeh, beli motor baru yang bekas, gimana tuh, wong baru kok bekas . .he he he
* * *
Hari minggu tiba, Bapak di rumah. Bapak telah berjanji mengajakku ke dealer motor bekas. Mencari motor layak pakai, untuk menggantikan motor lamaku yang sudah tidak karuan bentukannya. Senin besok aku harus sudah kembali masuk kuliah dan siaran di radio. Aku sudah sangat sehat, apalagi terbayang bakal punya tunggangan baru. Aku ingin dibelikan motor yang cukup keren, untuk bisa bersaing dengan Kak Iwan mendapatkan Erni. Oh, beberapa hari ini aku tidak sabar untuk datang ke kampus. Aku benar-benar tidak ingin terlambat mengungkapkan perasaanku pada Erni.
Jam delapan lebih lima menit, aku dan Bapak meluncur ke kota menggunakan mobil pick up pinjaman dari Lik Diran. Aku masih belum tahu Bapak akan membelikan aku motor apa.
"Pak?", Aku membuka pembicaraan dengan Bapak.
"Heemmm", Bapak hanya membalas dengan berdehem.
Jujur, aku jarang ngobrol dengan Bapak. Dari kecil entah kenapa aku merasa jauh dengan Bapak. Bapak bagiku adalah sosok yang selalu serius di depanku. Entahlah, aku jadi sulit untuk ngobrol santai dengannya. Namun, menurut pengamatanku Bapak lebih lunak ke adikku, mungkin karena dia anak cewek kali ya.
"Eee, nanti aku di tumbasne motor apa sih?", tanyaku ragu-ragu.
" Lha opo? Kamu mau ne opo? Ini duit e Bapak ngepres, ya nggak kuat kalau yang mahal-mahal".
"Ya, motor yang cowok gitu ya pak?", aku meminta, memberanikan diri.
"Ya, lihat nanti aja lah", Bapak menjawab sambil menoleh padaku, mengamatiku sebentar.
"Wes duwe cewek to?", tanya Bapak menebak.
Aku kaget dengan pertanyaan ini, ku garuk belakang kepala ku yang tak gatal. Setelahnya, kami berdua kembali terdiam di dalam mobil, tak ada lagi percakapaan lanjutan hingga kami sampai di tempat tujuan.
Sebuah dealer motor bekas, berada di pusat kota, Maryono Motor. Bapak mengajakku masuk. Kami disambut oleh mbak-mbak pegawainya dengan ramah. Kami berkeliling mengamati motor dan sesekali berhenti ketika melihat motor yang dirasa menarik. Setelah empat puluh lima menit lamanya, aku memilih, dan Bapak yang nego harga akhirnya kami sepakat membeli motor bekas berwarna biru, ber merk th*nder. Aku manggut-manggut, meskipun belum mampu bersaing dengan Kak Iwan, setidaknya motor ini dapat menambah kadar gantengku 20 persen pikirku.
Erni. . .tunggu aku, pangeranmu besok akan datang ke kampus dengan tunggangan baru si "Thor" ⚡⚡