Mengisahkan tentang kehidupan rumah tangga seorang wanita yang bersama Sari Lestari, ia akhirnya harus menerima kenyataan pahit setelah mengetahui kebenaran jika suaminya telah menghianati bahtera rumah tangga yang sudah lima tahun mereka jalani. Suaminya berselingkuh dengan sahabat baiknya sendiri hingga hamil, yang membuat Ridwan suami Sari harus menikahi sahabat istrinya di belakang sang istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RANU RINJANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Aku membawa sebuah tas besar di tangan kanan ku, sedang di tangan kiri ku selempangkan di pundak tas berukuran sedang yang biasa ku gunakan untuk keluar entah sekedar jalan jalan maupun ke acara formal hanya saja berganti model dan warna saja.
"Mana?" tanya mas Ridwan sembari menatap ke arah tangga, di mana aku sekarang sedang berdiri dan berjalan menurun.
Aku hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan laki laki yang sudah berhianat dengan sahabat ku sendiri itu.
"Heh, Sari! Apa kamu udah budeg? Telingamu masih bisa mendengar baik kan? Sejak kapan juga kamu menjadi wanita bisu? Apa perlu mulutmu itu di jahit paten oleh mas Ridwan agar tak bisa menjawab ucapan orang lain?" ucap Sinta yang tiba tiba ikut andil dalam mengomentari diam ku.
Aku hanya menyunggingkan senyum sinis di bibir kiri ku, rupanya si jal*ng itu sudah berani berkoar koar. Mungkin ia kira ayah dan ibu mas Ridwan akan meninggalkan rumah ini, jadi itu sebabnya dia meremehkan aku dan menganggap aku akan takluk di kakinya.
Aku tetap diam tak menjawab sepatah katapun, aku benar benar ingin hari hari ku membuat mereka setres dengan berbagai tingkah ku yang menjengkelkan.
Dan lagi, aku juga akan pergi dari sini tapi itu suatu saat nanti jika aku sudah berhasil menghancurkan dua manusia yang tak punya hati ini.
"Heh, Sar. Sari!" ucap mas Ridwan tiba tiba berjalan mendekat ke arah ku lalu mencekal lengan tangan kiri ku.
Aku langsung memberontak, sedangkan mas Ridwan mengerutkan dahinya kaget atas perlakuan kasar ku kepada dirinya.
Ya, selama 5 tahu pernikahan kami tak sekalipun aku pernah berlaku kasar pada mas Ridwan. Bahkan aku meninggalkan pekerjaan mapan ku yang bergaji besar demi menyandang gelar sebagai istri yang baik patuh pada suami dan mengurus rumah tangga dengan baik, bukan aku dan mas Ridwan tak mampu membayar asisten rumah tangga tapi aku ingin berusaha menjadi istri yang serba bisa. Tapi perlu kalian ingat, istri serba bisa juga tak menjamin laki laki bisa setia dalam satu hati.
"Kamu apa apaan sih Sar? Kamu itu istri aku, jadi jangan berlaku seenaknya. Kamu punya suami dan kamu juga bukan bujangan, jadi hormati aku sebagai suami kamu!" ucap mas Ridwan mengeratkan gigi atas dan gigi bawahnya geram sembari menatap ku tajam.
Aku hanya tersenyum remeh.
Bagaimana tidak? Dia berkata bahwa dia adalah seorang suami dan aku adalah istrinya, tapi apa iya suami yang baik akan setega itu menghianati istrinya terlebih dengan sahabat baik istrinya sendiri?
Lalu apa salag juga jika aku membenci Sinta yang telah merebut suami sahabatnya?
Aku hanya diam tak menjawab lalu ingin ku lanjutkan langkah ku untuk ke kamar ibu dan ayah mertua ku, tapi tiba tiba mas Ridwan mencekal lengan ku lagi.
"Sari! Kamu jangan kaya gini dong! Mas tau kamu marah sama aku dan Sinta, tapi semua udah terlanjur dan sekarang Sinta itu juga udah jadi bagian keluarga kita. Kamu harus bisa menerima itu!" ucap mas Ridwan.
Aku langsung menoleh tajam menatap laki laki yang masih sangat ku cintai sampai detik ini, hanya saja semenjak dia menghamcurkan hidup ku membuat aku ingin membencinya seumur hidup.
"Kamu bilang, kamu suami aku? Kamu bilang, kamu pengen aku jadi istri yang baik? Kamu pengen kamu bisa menghargai kamu kaya dulu? Heii Ridwan, kamu itu bukan Tuhan yang harus aku sembah. Kenapa kamu nyuruh aku buat ngehormati kamu kalo kamu aja udah ngehianati aku? Dan inget satu lagi, gak ada yang namanya wanita baik baik tapi mau berselingku dengan suami orang terlebih suami sahabat baiknya sendiri. Sampai hamil lagi, ups!! Maaf ya Sin, mulut ku kalo udah mau ngomong emang suka kelewatan." ucap ku membuat ekspresi cemberut, lalu mengubahnya menjadi senyum mengejak.
"Hih!" ucap Sinta sembari menghentakan kaki kanannya lalu pergi menaiki anak tangga menuju kamar yang semalam mereka tempati.
"Sayang, kamu mau ke mana? Sinta! Sin, Sinta!" teriak mas Ridwan saat wanita simpanannya itu pergi begitu saja.
Aku tersenyum licik melihat adegan dua sejoli yang sedang di mabuk cinta ini.
Alur cerita gk perlu hrs detail kali, tutup bekal ambil wadah, 🤗