Damian yang mulai menutup diri setelah memilih pergi dari rumah. tiba-tiba mengetahui bahwa ayahnya telah “membeli” seorang pengantin untuk merawatnya. Gadis pengantin tersebut bernama Elia yang merupakan siswinya di sekolah. Elia muncul di depan pintunya, dan menyatakan bahwa Dia dikirim oleh ayah Damian untuk menjadi pengantinnya.
Elia terpaksa menerima takdirnya sebagai istri yang tak di inginkan oleh Damian, demi membantu orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Toma.
"Namaku adalah Elia. aku disini untuk menjadi pengantinmu." ~Elia
"Aku adalah Gurumu." ~Damian
Menjadi seorang pengantin 18 tahun untuk gurunya sendiri, apakah Elia mampu mencairkan jiwa gunung es suaminya?
ig : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Datang
...Meski ku tundukkan pandangan, debar hatiku tersampaikan. saat kita bersama, suasana hati kita jadi berwarna-warna. meski aku pura-pura acuh, aku berdebar-debar ingin mengikat janji......
...saat kita bersama itu, pemandangannya begitu indah......
...~Chapter : 27~...
...****************...
Ku tatap lagi Elia dan aku tersenyum lagi karenanya. entahlah, sudah berapa lama aku melupakan tentang cinta dan berapa jauh aku menutup hati untuk hidup menyendiri.
istriku ini memang sangat setia menemaniku dalam situasi dan kondisi apapun. ia lebih cocok di panggil nona di banding gadis penebus hutang. kali ini, kami pergi ke sekolah terpisah karena Elia akan pergi bersama Ummi sahabatnya. aku pergi lebih dulu, dan dia menyusul dengan jalan kaki ke depan halte. beberapa kali ku tawarkan untuk mengantarnya, namun dia menolak karena takut dilihat diam-diam seperti Amanda kemarin.
"Tidak apa-apa pak, halte disini tidak terlalu jauh. pokoknya, Sampai lulus nanti mari kita bekerja sama dengan baik!"
akhirnya aku berangkat, dia mengecup punggung tanganku dan aku mencium keningnya. ya, seperti itulah pasangan suami istri pada umumnya.
ku injak pedal gas sambil melambai padanya, dia juga sebaliknya. sudah dua hari berlalu sejak ku ungkapkan rasaku pada Elia, ternyata membuka hati tidak terlalu buruk, cinta membuat hidupku kembali berwarna rasanya seperti meneguk purnama, jiwaku terasa penuh.
saat sampai di sekolah, ku nyalakan sigaret dan menikmati tembakau nya sebelum turun dari mobil. merasakan nikmatnya sensasi pahit manis dari ujung rokok seperti menikmati pahit dan manis kehidupan yang datang dan berlalu.
Setelah merasa cukup, lekas ku matikan bara yang membakar ujung sigaret ku. kemudian keluar menuju kantor guru.
Orang-orang yang ku lewati, kebetulan di antara mereka adalah murid kelasku dan sebagiannya adalah murid lain yang belum ku kenal. ada yang tersenyum, kemudian berbisik. beberapa di antara mereka pula bahkan menegurku, "Bagaimana kabarnya Pak Damian?" seperti biasa, aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Bahkan ada yang tertawa, kendati mereka tidak menyapaku dan tidak bertanya. aku tidak tahu kenapa mereka tertawa. apakah penampilanku lucu? ah, lupakan saja. seorang guru memang harus siap dengan segala tingkah siswa. prinsipku, yang penting aku menjalankan tugas dengan baik. aku kira, prinsipku ini juga di pakai oleh sebagian guru-guru lainnya.
aku kembali fokus pada tujuanku ke kantor. suasana hari ini sedikit berbeda, aku merasa seakan diriku menjadi pusat perhatian, mereka berbisik, senyum-senyum kecil sebagian dari mereka juga tertawa bahkan sedikit bisa ku dengar ucapannya dari kejauhan.
"Sudah dengar kabar Pak Damian?"
"Ah, aku kecewa berat. padahal aku menyukai kelas saat dia mengajar."
"Kabar di web sekolah itu benar?"
sekali lagi, aku bukan orang yang perduli dengan lingkungan sekitar. bukankah ini hal yang biasa, para siswi tersenyum ramah padaku karena mereka mengenalku, sampai aku sendiri kadang-kadang merasa heran terhadap tingkah mereka itu. jadi ini hal yang biasa, lupakan saja!
sesampainya di kantor, segera ku sandarkan badan di kursi putar. sambil menatap-natap lembar ujian siswa saat kuis kemarin. nilai mereka cukup meningkat dari sebelumnya, ku akui aku sedikit bangga. hingga kemudian seseorang berdiri di depanku, ku donggakkan kepala untuk melihat pemilik badan ini.
"Bu Aria?" kataku. ya, beliau ini adalah wali kelas Elia.
"Maaf Pak Damian, bisakah kau datang ke ruang kepala sekolah denganku?"
"Oh, Tentu." kataku datar, kemudian bangkit dari kursi mengikuti langkah bu Aria dari belakang.
ada sedikit rasa penasaran dalam batinku, tidak biasanya kepala sekolah memanggil ke ruangannya. ada apa? mungkinkah karena aku mendongkrak nilai siswa tak wajar? atau karena aku tak pernah memberi kelas tambahan sehingga di anggap tak perhatian? atau bagaimana? entahlah, yang pasti ku ikuti saja lebih dulu bu Aria.
Tiba di depan ruang kepala sekolah, bu Aria membukakan pintu dan aku segera membungkuk hormat setelah ku dapati Pak Hans, kepala sekolah duduk di sofa tamu.
"Selamat pagi pak." kataku agar nampak ramah.
beliau mengangguk, "Pagi." kemudian diam sejenak dan melanjutkan kata-katanya. "Sebenarnya, ada rumor tersebar di sekolah akhir-akhir ini. pak Damian sudah lihat pengumuman di web sekolah?"
aku mengernyitkan dahi kebingungan, lalu bu Aria menampakkan layar ponselnya di depan mataku. oh, sial! ini kah penyebab keanehan hari ini? foto ku dan Elia yang berciuman di mobil tempo dulu telah terpampang di laman pengumuman web sekolah.