NovelToon NovelToon
Antara Gairah Dan Balas Dendam (Tobatnya Sang Mafia Season 2)

Antara Gairah Dan Balas Dendam (Tobatnya Sang Mafia Season 2)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Tamat
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reni t

Naura Gracesia wanita berusia 32 tahun nekat terjun ke dunia Mafia demi mencari pembunuh kedua orang tuanya. Dia bahkan membentuk perkumpulan Mafia sendiri demi menemukan orang yang dia cari.


Kehidupan yang dijalani oleh wanita dewasa itu diluar kata normal yang biasa di jalani kebanyakan wanita di luaran sana. Arogan, kejam, dan semena-mena menjadi ciri khas wanita berparas cantik itu.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan pemuda yang usianya jauh lebih muda dari dirinya, pemuda alim dan juga tampan yang mampu menggetarkan hati dan menuntunnya ke jalan yang lurus.


Akan tetapi fakta mengejutkan pun terkuak, pemuda itu ternyata adalah putra dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, sekaligus orang yang pernah merawat dirinya sampai dirinya berumur tujuh tahun.


Bagiamana perasaan Naura saat mengetahui bahwa orang yang menghabisi nyawa kedua orang tuanya adalah ayah angkatnya sendiri? dan bagaimana nasib Naura berada di antara Gairah dan Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Khawatir

Ngiung ... Ngiung ... Ngiung ...!

Suara sirine semakin terdengar nyaring. Beberapa mobil polisi pun berhenti tepat di depan kediaman Richard. Entah siapa yang telah melapor kepada pihak berwajib, karena Ibra sama sekali tidak melakukan hal itu. Apa mungkin wanita panggilan yang yang sempat berada di sana? Entahlah, yang jelas beberapa orang polisi segera keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam rumah lengkap dengan pistol yang mereka genggam masing-masing.

"Diam di tempat,'' pinta salah satu polisi mengarahkan pistol kepada Bruno yang kini mengangkat kedua tangannya.

Naura dan juga Ibra sudah tidak berada lagi di sana kini. Mereka segera pergi setelah mengetahui polisi akan segera datang ke tempat itu. Keduanya pun sedang dalam perjalanan entah kemana, mereka sendiri tidak tahu harus pergi ke mana saat ini.

"Kita mau kemana?" tanya Ibra yang saat ini sedang menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.

"Menurutmu kita harus pergi ke mana? Kalau ke markas rasanya gak mungkin, polisi pasti akan menyergap tempat itu nantinya," jawab Naura menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.

Ckiiit!

Ibra tiba-tiba saja menghentikan mobilnya tepat di tepi jalan. Tentu saja hal itu membuat Naura seketika merasa heran. Dia pun menoleh dan menatap wajah Ibra kemudian.

"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kita berhenti di sini? Kalau polisi sampai menemukan kita bagaimana?" tanya Naura dengan nada suara tinggi.

"Kalau kamu takut di tangkap polisi kenapa kamu nekat melakukan hal ini, hah? Apa kamu tahu betapa khawatirnya saya saat pistol itu mengarah di kepalamu tadi? Kalau sampai dia benar-benar menembakan pistol itu bagaimana?" teriak Ibra merasa kesal.

"Kenapa kamu jadi marah-marah kayak gini? Kalau aku tertembak palingan juga aku bakalan mati, iya 'kan? Kalau aku mati bukankah aku akan ketemu sama kedua orang tua kandungku," jawab Naura santai seolah tanpa beban.

"Palingan katamu? Mati kamu bilang palingan? Astaga, Naura. Apa yang akan terjadi dengan papah kalau kamu sampai mati? Beliau pasti akan sangat sedih nanti, bahkan dia bisa terkena serangan jantung karena terlalu syok."

"Lalu, bagaimana dengan saya? Saya akan dihantui rasa menyesal di seumur hidup saya jika kamu mati tepat dihadapan mata saya. Apa kamu tahu betapa saya mencintai kamu? Apa kamu tahu betapa saya merindukan kamu selama ini? Kamu benar-benar wanita yang jahat,'' teriak Ibra memuntahkan rasa kesalnya saat itu juga.

Naura hanya bisa tersenyum sumringah. Dia menatap wajah Ibra dengan tatapan mata berbinar. Melihat dan mendengar Ibra mengatakan hal itu membuat hati Naura merasa senang. Emosi dan rasa kesalnya seketika lenyap begitu saja.

Cup!

Satu kec*pan mendarat di bibir Ibra membuat pemuda itu merasa terkejut tentu saja. Dia membulatkan bola matanya, Naura yang baru saja menarik kepalanya tiba-tiba saja di tarik kembali oleh pemuda itu hingga bibir mereka kembali saling menyatu. Kec*pan kecil dan singkat itu pun berubah menjadi ciu*an panas dan mengga*rahkan. Keduanya saling melu*at dan men*isir setiap jengkal bibir masing-masing dengan mata yang terpejam.

Ibra benar-benar hilang kendali. Keteguhan hatinya seketika goyah, prinsipnya yang selalu menciptakan jarak setiap kali dia berdekatan dengan seorang wanita seolah tidak berlaku kepada Naura. Dia mendekap erat tubuh Naura seolah rasa rindu itu begitu membara terasa mengalahkan segalanya.

"Jangan pernah membuat saya merasa khawatir lagi," bisik Ibra sesaat setelah dia melepaskan tautan bibirnya.

"Aku suka melihat kamu seperti ini, kamu benar-benar se*si marah-marah seperti itu. Menggemaskan ...'' jawab Naura tersenyum menggoda.

"Dih, dasar. Orang lagi khawatir gini malah di bilang menggemaskan," decak Ibra mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa.

"Hmm ... Aku gak bermaksud untuk membuat kamu merasa khawatir. Apakah kamu lupa apa yang kamu katakan di Rumah sakit? Kamu menuduh aku yang telah menyebabkan papah pingsan lagi? Ngomong-ngomong bagaimana keadaan papah? Apa dia sudah siuman? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak--" Naura tidak meneruskan ucapannya.

"Maaf karena saya sempat mengatakan hal yang menyakiti hati kamu. Saya pikir kamu--''

"Kamu pikir aku akan benar-benar menghabisi nyawa papah? Kamu gak percaya sama aku kalau begitu?"

"Maaf."

"Kamu gak jawab pertanyaan aku tadi. Bagaimana keada papah, apa dia baik-baik saja? Papah gak beneran mati 'kan? Maksudku, papah gak meninggal 'kan?"

"Papah baik-baik saja, dua hari yang lalu dia udah siuman. Papah berjanji akan segera menyerahkan diri kepada pihak berwajib jika keadaan dia telah benar-benar membaik."

Naura seketika merubah ekspresi wajahnya. Jelas sekali kalau dia terlihat sedih. Kenapa dirinya harus merasa sedih segala? Bukankah seharusnya Naura merasa senang karena akhirnya orang yang telah menghabisi nyawa kedua orang tuanya akan segera mendapatkan hukuman? Entahlah, Naura sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya.

Baginya, dalang dari pembunuhan itu adalah Richard. Sementara Gabriel sang ayah angkat, dia hanya menerima perintah. Meskipun begitu, ayah angkatnya itu tetap saja harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Naura?" sapa Ibra seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Naura.

"Hah? Eu ... Kamu bilang apa tadi?'' jawab Naura kemudian.

"Kamu baik-baik saja?''

"Entahlah, aku tak tahu apakah aku baik-baik saja atau tidak, tapi bersama kamu membuat hatiku merasa tenang."

"Hmm ... Bukan itu maksud saya. Apa kamu baik-baik saja melihat papa kita mendekap di balik jeruji besi nanti?''

"Bagaimana dengan kamu? Apa kamu baik-baik saja melihat papa kita mendekap di dalam penjara?" Naura balik bertanya.

"Di tanya malah balik nanya."

"Jawab dulu pertanyaan aku. Kamu 'kan putra kandung papah, kamu pasti sedih melihat papa seperti ini."

Ibra menarik napas berat lalu menghembuskan'nya kasar. Dia mengusap wajahnya lalu memejamkan kedua matanya kemudian. Dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Naura.

"Ko diam? Maafkan aku, gara-gara aku papah kita akan mendekap di penjara nantinya. Aku--''

"Tidak, semuanya bukan salah kamu, Naura. Aku mewakili papah untuk meminta maaf kepada kamu, papah telah menghabisi nyawa kedua orang tua kamu, Naura. Dia bahkan bebas begitu saja dan bisa hidup dengan tenang selama 30 tahun lamanya. Sekarang, sudah saatnya papah menjalani hukumannya. Meskipun terlambat, yang penting papah bersedia bertanggung jawab dan menjalani hukuman itu dengan hati yang ikhlas."

Naura seketika menatap wajah Ibra dengan tatapan penuh rasa kagum. Betapa beruntungnya dia akhirnya dipertemukan dengan laki-laki bernama Ibra Pratama. Laki-laki yang tidak lain dan tidak bukan adalah adik angkatnya sendiri. Laki-laki yang mampu meluluhkan hatinya dan laki-laki yang membuat dirinya ingin berubah menjadi wanita baik-baik.

''I love you, Ibra,'' lirih Naura kemudian.

''I love you too, Naura.''

Cup!

Satu kec*pan pun mendarat di kening Naura kemudian.

Dret ... Dret ...

Ponsel milik Ibra pun seketika bergetar. Dia segera meraih ponsel tersebut lalu mengangkat telpon.

📞 ''Halo, bu. Ada apa?'' tanya Ibra mengangkat telpon.

Entah apa yang dikatakan sang ibu di dalam telpon karena raut wajah Ibra seketika berubah khawatir. Pemuda

itu pun segera menyalakan mesin mobil lalu melaju kencang di jalanan.

''Ada apa?'' tanya Naura merasa heran.

''Papa kita Naura, beliau--''

BERSAMBUNG

...****************...

1
Pendi Dian Nada
lanjut cerita yh seru nih
Reni: Terima kasih, kak. Di tunggu ya.🥰
total 1 replies
𒈒⃟ʟʙᴄ 🍾⃝ͩʀᷞᴇͧɴᷠ»ͣᴿᵋᶮ
🤭🤭🤭dasarr nauraa moduss bngett
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻🍾⃝ͩʟᷞᴀᷴʟᷡᴀᷲɴιиɑ͜͡✦
ih genit dah jadi gemez 🐒💨
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻🍾⃝ͩʟᷞᴀᷴʟᷡᴀᷲɴιиɑ͜͡✦
huhuhu kan itu kata bapakmu 🐒💨
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻🍾⃝ͩʟᷞᴀᷴʟᷡᴀᷲɴιиɑ͜͡✦
kasian banget Naura nya kamu yang kuhuat yaw 🦭
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻🍾⃝ͩʟᷞᴀᷴʟᷡᴀᷲɴιиɑ͜͡✦
lah Naura kamu ternyata dah kolot
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻🍾⃝ͩʟᷞᴀᷴʟᷡᴀᷲɴιиɑ͜͡✦
songong yaw ceweknya 🤓
༄༅⃟𝐐Vee_hiatus☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
galak bener Naura cuman masalah gitu aja marah-marah
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
Semoga masa lalu terkuak y thor 🤗
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
kerinduan yg terpendam thor 🤗
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
akhirnya bertemu thor 🤗
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
gini baru bener 🤭
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
kerinduan
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
ada apa sebenarnya thor penasaran aku
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
gk bisa liat yg bening ihhh 🤭
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
terpaksa d pisahkan y thor
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
jangan jangan nee anak ayah angkatnya ya thor
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
ketemu babang tamvan 🤭
to the point tanpa bertele2, awal cerita dsuguhi adegan panas, menarik 😄✌👍👍👍
"lalu memeluknya erat" 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!