kisah perjalanan hidup seorang gadis yang terpisahkan dari orang tuanya dan di besarkan oleh seorang mafia yang ternyata adalah pamannya yang pernah ingin membunuhnya.
bagaimana perasaan Diah Permata Ningrum apabila dia tau kisah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titian1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
"Yah ayo cepetan bawa mobilnya, bunda takut anak kita pergi lagi." kata bunda tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit.
"Ini ayah sedang berusaha cepat Bun," jawab Sebastian.
mobil tiba di rumah sakit. Ayah, bunda dan Mawar segera menuju ruang perawatan Erlangga
setiba di dalam ruang perawatan bunda segerah mencari keberadaan Cahyo dan tidak menemukannya.
Bunda : "Haryo..., di mana kakakmu?"
Haryo : "Dia sudah pulang Bun."
Bunda :"Apa ? kenapa tidak kamu cegah Yo? bunda ingin ketemu dengannya."
Haryo : "Aku sudah mencoba mencegahnya Bun tapi ka Cahyo tetap pergi.
Mendengar penjelasan Haryo membuat Ningrum kembali sedih, wanita itu sangat merindukan Cahyo. walau bagaimanapun kenakalannya Cahyo adalah putra satu-satunya yang lahir dari rahimnya.
Ningrum duduk di kursi dekat Erlangga, dia langsung mencium cucunya itu dan menanyakan kabarnya.
Ningrum :"Bagaimana kabar cucuku, apa dia bakal sehat? bunda sangat rindu dengan tawa dan manjanya."
Haryo :"Kata dokter dia akan sadar Bun, masih di pengaruhi obat bius paska operasi makanya belum bangun"
Mawar :"Ayah bagaimana ceritanya hingga Erlangga terkena tembak kaya begini?"
Haryo :"Ayah juga belum tau Bun nanti kita tanya saja sama anaknya pas Erlangga sadar."
DI KEDIAMAN CAHYO
Cahyo : "Bulan, mulai sekarang jauhi Erlangga!"
Bulan :"Kenapa pah? apa karena Erlangga anak om Haryo adik papa?.
Cahyo : "Jangan tanya apapun, turutin omongan papa."
Bulan :"Tapi pah.... Erlangga sahabat Bulan dan kita masih saudara."
Cahyo :"Gak ada tapi-tapian, kalau papa bilang tidak ya berarti tidak Lan."
Cahyo berjalan menuju kamar dan meninggalkan Bulan yang sedang menangis karena sang papa melarangnya bertemu Erlangga
Cahyo memerintahkan semua anak buahnya untuk memindahkan semua barang-barang yang menurutnya penting untuk di bawa ke rumah yang baru di belinya demi menghindari Erlangga bertemu lagi dengan anaknya."
Bulan :"Kenapa harus pindah sih pah? kenapa gak tinggal di sini aja?"
Cahyo : "Papa gak mau keluarga pemuda itu datang ke rumah ini"
Sesungguhnya dalam hati Cahyo ingin bertemu lagi dengan Erlangga, namun rasa bencinya dengan Haryo membuat pria itu menjadi egois dan segerah memindahkan Bulan dari kampus dan rumahnya.
Cahyo masih belum siap bertemu dengan ayah dan bunda, karena merasa kalau orangtuanya tidak pernah mengharapkan kepulangannya.
Di Desa tempat Herlina tinggal
Karena tidak punya biaya keadaan kesehatan Herlina semakin memburuk, wanita itu di rujuk ke rumah sakit di kota untuk perawatan.
Saat mobil melewati toko bunga Herlina seakan melihat Dewi di toko itu dan meminta sang ayah untuk menghampiri toko bunga itu.
Herlina : "Dewi..? pak, aku seperti melihat Dewi di toko itu kita kesana dulu ya pak!"
Bapak : "Dewi siapa ndo?"
Herlina : "Dewi temanku pak, dulu dia satu kerjaan dengan Lin di pabrik."
Mobil yang di kendarain Herlina tiba di depan toko bunga itu. Herlina di bantu dengan bapak dan supir turun dari mobil dan di dudukkan ke kursi roda.
"Permisi..., ada yang dapat kami bantu?" kata seorang wanita menghampiri Herlina.
"Dewi...., ini aku Herlina teman satu kerjaan denganmu di pabrik." Jawab Herlina dengan mata yang berkaca-kaca ingin menangis.
"Herlina... ini kamu? kamu sakit apa? kenapa pakai kursi roda?"
Dewi hampir tidak mengenal Herlina, gadis yang dulu cantik, montok dan bersih kini terlihat kurus dan pucat.
"Iya Wi... ini aku!" jawab Herlina sambil menunduk.
"Mari masuk Lin, kita ngobrol di taman belakang aja"
Dewi mengajak Herlina menuju taman belakang tokonya, banyak Tamanan bunga di tempat itu menjadikan taman belakang terlihat indah dan sejuk.
Dewi juga memerintahkan asistennya untuk menyiapkan minuman juga cemilan buat tamunya.
Herlina : "Kamu sekarang jualan bunga Wi?"
Dewi : "Iya Her, aku sudah lama tidak bekerja di pabrik lagi.
Herlina : "Hebat kamu ya Wi, tapi kenapa di kasih nama D'KUTUB FLORIST kenapa bukan namamu aja.?"
Dewi : "Ini bukan punyaku Lin, aku hanya bekerja dan mengembangkan toko ini saja daripada nganggur."
Herlina : "Oh... aku kira toko ini punyamu"
Dewi tidak mau mengakui toko bunga itu karena dia mendirikan toko itu Dengan mengunakan uang Cahyo.
Herlina mencoba menyatakan niatnya menemui Dewi. wanita itu memantapkan hatinya untuk meminta maaf pada temannya itu sebelum azalnya tiba.
"Wi..., aku ingin minta maaf kepadamu" kata Herlina sambil menunduk menyesali semua perbuatannya.
Dewi terkejut mendengar perkataan Herlina, dan menatap temannya itu penuh tanda tanya.
Dewi : "Minta maaf? memangnya kamu punya salah sama aku?"
Herlina : "Aku banyak salah sama kamu Wi, aku mencoba menjualmu kepada mami Maria karena aku merasa iri sama kamu. Maafkan aku Wi"
Dewi : "Apa..? jadi yang mencoba menjebak aku di hotel itu kamu, untung aku selamat karena ada yang menolongku."
Dewi kesel sekaligus tidak percaya bahwa yang ingin menjualnya adalah sahabatnya sendiri yang sudah di anggap saudara dengannya.
Herlina : "Iya Wi, dan aku yang kena karmanya. aku di jebak mami Maria dan aku di suruh melayani pak Alex sebagai pengganti dirimu."
Bapak dan Ibu Herlina terkejut dengan apa yang di katakan anaknya, Bapak hampir gak percaya bahwa anaknya tega ingin menjual temannya sendiri tapi malah berbalik menimpah kepadanya.
Bapak : "Astagfirullah... jadi kamu di jebak ndo sama seseorang.
Herlina : "Iya pak, tapi jangan di besar-besarkan karena dia mengancam ingin membawa si bungsu kalau aku lapor polisi."
Herlina menangis meratapi nasibnya, tujuannya cuma 1 meminta maaf kepada Dewi sebelum dia meninggal.
Dewi memeluk Herlina, wanita itu sudah memaafkan temannya itu. Karena bagi Dewi Herlina sudah menerima karma atas perbuatannya.
Dewi : "Sudahlah Lin, aku sudah memaafkan semuanya, bagiku kesehatanmu itu lebih penting.
Herlina : "Sakitku udah parah Wi, mungkin umurku tidak akan lama lagi."
Dewi : "Jangan perfikir macam-macam pasti ada obat yang bisa menyembuhkanmu"
Herlina : "Dulu kata dokter bisa sembuh Wi, tapi biayanya besar dan aku tidak punya biaya untuk itu aku hanya bisa pasrah.
Dewi teringat dengan kartu ATMnya Cahyo, dia ingin membantu temannya berobat hingga sembuh.
Dewi : " Aku akan bantu membiayaimu dengan semampuku, sekarang kita kerumah sakit supaya kamu langsung tertangani sama dokter.
Herlina : "Aku malu sama kamu Wi, kamu baik banget sama aku sedangkan aku selama ini jahat sama kamu.
Dewi : "Lupakan semua masa lalu Lin, sekarang yang terpenting kamu sembuh dan mau berubah menjadi lebih baik lagi.
Herlina : "Semoga Tuhan mau memaafkan aku ya Wi, seperti kamu yang mau memaafkan aku."
Herlina menangis dan Dewi memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dewi dan Herlina bersiap-siap menuju rumah sakit.
Dewi merasa masalahnya masih ringan di banding masalah yang menimpah Herlina, wanita itu kembali teringat Cahyo dan berharap dapat bertemu kembali dengan pahlawan kutub itu.
mereka akhirnya tiba di sebuah rumah sakit besar dan langsung mendaftarkan Herlina ke poli khusus penyakit dalam dan kelamin.
Tanpa Dewi sadari ATM yang dia gunakan langsung terdeteksi oleh Cahyo di mana keberadaan wanita itu sekarang dan Cahyo langsung memanggil Bimo dan segera menuju tempat dimana Dewi berada.
semoga ada kelanjutan ya thoor
Sungguh Cahyo memang selalu bisa luluh bila hidapkan dengan hal2 membuatnya seperti dirinya dulu apalagi sekarang dia harus mencari anak kandungnya yang jelas2 sudah ada didepan mata yaitu Erlangga anak angkat Haryo dan Mawar. Semoga kalian segera dipertemukan kembali bersama Cahyo Dewi dengan anak kalian Erlangga. 🤲🤲🤲
Huuh bulan kalau ngasih kode lihat sikon neng jadi kesedak tuh bunda sama papamu 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🙈🙈🙈🙈