Aqila gadis cantik berusia delapan belas tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan nya di negara Finlandia.
Malam itu untuk merayakan kelulusan nya, Aqila berhasil kabur dari penjagaan ketat para bodyguard milik kakak nya.
Tetapi siapa yang menyangka gadis itu malah kabur ke sebuah night club terkenal di kota tempat ia tinggal dan terjebak oleh sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya? Sesuatu seperti apa yang akan menimpah dirinya? Atau mungkin sebuah jebakan?
Note:- Agar mengerti jalan cerita sebelumnya, disarankan membaca karya "Terjebak Cinta Om Mafia Possesive"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-27-
"Ayolah boss, maafkan saya. Jangan potong gaji ya?" Mohon Digo dengan wajah memelas nya.
Digo terus mengikuti langkah kaki Bram yang berjalan menuju ruang meeting dengan wajah datar nya, dan tak lupa istri kecil sang bos yang berada di dalam rengkuhan posesif pria itu.
"Boss.." Panggil lirih Digo mulai pasrah. Pasalnya saat ini hadapan nya adalah pintu ruang meeting yang masih tertutup.
"Berhenti merengek dan buka pintu nya!" Tegas Bram tanpa belas kasihan.
Sedangkan Aqila yang sedari tadi menahan malu, kini meringis pelan merasa kasihan pada Digo yang akan di potong gaji sebesar delapan puluh persen dari gaji berbulan nya.
"Kak sudah lah jangan terlalu kejam, kasihan asisten kak Bram"
"Hmm betul apa kata nona boss" Timpal Digo
"Kamu jangan membela nya!" Sahut dingin Bram semakin kesal.
"Kalo di potong sebesar ini, kapan saya akan membeli rumah impian saya boss?" Ujar Digo masih dengan wajah memelas.
"Derita mu dan buka pintu nya, jangan membuat ku mengulang untuk ketiga kalinya, Digo!" Ketus Bram.
Digo yang sudah pasrah pun hanya menghela napas berat dan menggerutuki dirinya yang masuk tanpa mengetuk akibat terburu-buru.
Dengan gerakan lemas nya Digo membuka pintu ruang meeting dan nampak lah rekan bisnis Bram yang berasal dari Finlandia.
"Huu dasar jahat!" Celetuk kesal Aqila dengan sikap Bram, lantas kepala Aqila menoleh menatap ke arah depan.
Deg!
Seketika jantung dan mata Aqila rasanya ingin keluar dari tempatnya saat melihat seseorang yang ia kenal dan sedang menatap ke arah nya dengan ekspresi yang sama kaget nya dengan Aqila.
"Ayo masuk" Ajak Bram menuntun Aqila berjalan.
Langkah kaki Aqila terasa berat dan kepalanya langsung menunduk mengikuti langkah Bram.
"Angkat kepala mu, baby girl" Bisik Bram.
Mau tak mau Aqila pun mengangkat kembali pandangan nya, namun sebisa mungkin ia menghindari kontak mata dengan rekan bisnis suami nya.
"Selamat pagi, Mr.Casto" Sapa Bram.
"Oh ya, selamat pagi Mr.Bram" Jawab Mr.Casto sedikit kaget.
Kedua nya saling berjabat tangan, tetapi mata pria setengah baya itu terus terarah kepada Aqila.
"Perkenalkan ini Istri saya, Aqila Adipati" Ucap Bram menekan diakhir kata.
Terlihat raut terkejut dari Mr.Casto sekaligus tatapan tidak percaya nya.
"Se-selamat pagi Mr., saya Aqila" Sapa Aqila setengah membungkuk hormat. "Ayolah pura-pura tidak mengenal ku, Pi" Lanjut Aqila di dalam hati.
"Ada yang salah Mr.? Apa anda mengenal istri saya" Tanya Bram
"Oh, tidak Mr.Bram. Saya hanya terpana dengan kecantikan istri anda" Sahut Mr.Casto mengalihkan pandangan nya.
Aqila menghela napas lega, seperti nya pria setengah baya yang sering ia panggil dengan sebutan 'Papi' ini seakan mendengar permintaan nya di dalam hati.
Sesaat Bram memperhatikan raut Aqila dengan ekspresi tidak terbaca nya, hingga akhirnya pria itu kembali menatap rekan bisnis nya.
"Silahkan duduk Mr.Casto"
.
Meeting berjalan dengan lancar walau sesekali Mr.Casto mencuri pandangan pada Aqila yang duduk disamping Bram. Sedangkan Aqila terus memfokuskan diri nya pada handphone, mengabaikan lirikan Mr.Casto.
"Senang bekerja sama dengan anda, Mr.Bram"
"Senang bekerja sama dengan anda, Mr.Casto"
Kedua nya saling berjabat tangan setelah menandantangani surat perjanjian kerja sama yang akan berjalan selama setahun ke depan.
"Aku ke toilet dulu" Bisik Aqila yang sedari tadi terus menahan nya.
Bram menoleh dan mengusap rambut istri kecil nya. "Mau aku antar?" Tawar Bram
"Tidak usah, lagi pula kamu masih harus mengobrol dengan Mr.Casto"
"Baiklah, hati-hati"
Setelah mendapatkan persetujuan dari Bram, lantas Aqila menatap pria setengah baya di samping nya.
"Saya pamit duluan, Mr." Pamit Aqila kembali membungkuk hormat.
Mr.Casto tidak mengucapkan apa-apa, ia hanya mengangguk dan memberikan senyum tipis nya pada Aqila. Hingga akhirnya Aqila pergi meninggalkan ruangan itu.
"Silahkan di nikmati cemilan sederhana nya, Mr."
.
.
Setelah selesai dengan urusan nya di dalam toilet, Aqila pun keluar dari toilet itu. Tetapi baru saja melangkah keluar tiba-tiba suara seorang pria mengangetkan nya.
"Revan sakit" Ujar seseorang dengan tatapan kosong nya.
"Mr--Mr.Casto" Gugup Aqila.
Mendengar ucapan Aqila, sang pemilik nama malah terkekeh dan beralih menatap gadis cantik di hadapan nya.
"Revan sakit, Qila. Selama seminggu ini dia terus menunggu kedatangan mu tapi ternyata kamu malah menikah dengan pria lain"
Terdengar nada kekecewaan yang keluar dari mulut Mr.Casto, tatapan nya pun kini berubah sendu mengingat kondisi anak semata wayang nya.
"Ma-maaf, aku.." Aqila tidak melanjutkan ucapan nya, ia malah menunduk dengan air mata yang menetes begitu saja.
"Papi mencari mu kemana-mana, tapi tidak menemukan mu. Dan ternyata kamu di sini dengan status istri orang?"
"Maaf hiks.. Aku--"
"Papi benar-benar kecewa padamu, Aqila. Papi kira kamu yang terbaik untuk Revan tapi ternyata kamu menghancurkan hidupnya dengan pergi begitu saja"
Setelah mengucapkan itu, Mr.Casto langsung pergi dengan kekecewaan nya.
Bagaimana tidak kecewa jika gadis yang sudah ia anggap sebagai anak atau lebih tepatnya sebagai Menantu kini malah meninggalkan anak nya. Dan lebih parah nya sudah menjadi istri pria lain.
Sedangkan Aqila, kini tangis nya kembali pecah dengan tubuh yang meluruh ke lantai ketika mengingat kekasih hati nya. Apa lagi mengingat ucapan Mr.Casto yang memberitahu bahwa Revan sedang sakit.
"Jangan menangisi pria lain" Ujar dingin Bram yang sudah berada di depan Aqila.
...****************...