Aulia merasa sangat kaget karena Andika tiba-tiba saja meminta dirinya untuk mengandung benihnya, awalnya dia tidak mau karena tidak mungkin dia mengandung benih dari pria yang sudah beristri.
Walaupun pada kenyataannya dia mencintai Andika dalam diam, tapi dia tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain.
"Gue mohon, elu mau ya, hamil anak gue?"
"Ngga mungkin gue hamil anak elu, bini elu gimana entar?"
"Jangan sampai dia tahu, nyokap minta cucu. Mereka ngancem kalau bini gue ngga cepet hamil, gue disuruh cerai. Padahal, bini gue mandul."
Kuy pantengin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Dengan Mantan
Andini tidak pernah menyangka jika dirinya akan bertemu kembali dengan pria yang menjadi kekasihnya sejak masa SMA, sayangnya hubungan mereka harus berakhir sesaat setelah lulus kuliah.
Karena kala itu Andini harus menikah dengan Andika, pria pilihan sang ayah. Andini harus menikah dengan pria yang tidak dia kenal, menikah karena balas jasa
Setelah mereka berpisah, Andini benar-benar tidak pernah melihat sosok lelaki yang dulu sangat dia cinta itu.
Lelaki yang begitu baik, perhatian dan juga pengertian. Bahkan, saat Andini berkata dia harus menikah dengan pria pilihan ayahnya pun Aiden tidak marah sama sekali.
Mereka melakukan perpisahan yang dengan berpelukan dan berciuman begitu manis satu malam sesaat sebelum Andini menikah dengan Andika.
Wajah Andini terlihat bersemu merah ketika mengingat akan hal itu, begitupun dengan Aiden. Pria itu terlihat tersenyum malu-malu, padahal kejadian itu sudah terjadi saat tiga tahun yang lalu.
Namun, tetap saja di antara keduanya menjadi kenangan yang sangat indah. Kenangan manis yang sulit terlupakan.
"Andini, kamu di sini juga?" tanya Aiden.
"Iya, aku lupa makan siang. Jadinya aku ke sini untuk makan terlebih dahulu," jawab Andini.
Setelah menjawab pertanyaan dari Aiden dia terlihat memalingkan wajahnya, entah kenapa bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu ternyata masih membuat debaran jantungnya berdetak tidak karuan.
"Ah begitu ya, aku juga sama. Hari ini terlalu sibuk, aku sampai lupa untuk makan siang," timpal Aiden.
Melihat Andini yang malah mengobrol dengan seorang pria, pelayan yang sedari tadi berdiri di dekat Andini pun langsung berkata.
"Maaf, Nona. Mau memesan apa? Nanti ngobrolnya bisa dilanjutkan lagi," ucap pelayan wanita itu.
"Ah, iya. Maaf, aku mau memesan nasi putih satu, ayam bakar madu dan juga sambal bawang
Minumnya teh lemon hangat," kata Andini.
"Baiklah, apa ada lagi akan dipesan?" tanya pelayan itu.
"Tidak ada, itu sudah cukup," jawab Andini.
Pelayan wanita itu terlihat membungkuk hormat, lalu dia pergi dari hadapan Andini. Setelah kepergian wanita itu, Aiden terlihat menghampiri Andini dan duduk tepat di samping wanita itu.
"Maaf kalau aku asal duduk saja, tapi sepertinya makan bersama denganmu adalah hal yang tidak buruk," kata Aiden seraya menatap Andini dengan penuh rindu.
"Ah, tidak apa-apa. Duduk saja, lagi pula ini bukan kamar pribadiku. Mana bisa aku mengusirmu," canda Andini.
"Hem, kamu benar. Didi, kamu apa kabarnya?" tanya Aiden.
Mendengar nama kesayangannya disebutkan oleh Aiden, Andini nampak terdiam. Dia hanya mampu menatap wajah Aiden tanpa berkedip sedikit pun.
"Ah, aku lupa. Kamu menikah dengan Andika Wijaya, tentu saja kamu pasti baik. Kamu pasti senang dan kamu semakin cantik," kata Aiden.
Hati Andini terasa tercubit mendengar apa yang dikatakan oleh Aiden, padahal pada kenyataannya tidak seperti itu.
Kehidupannya bersama dengan Andika tidak sebahagia yang dilihat oleh orang lain, terlalu banyak kekurangan dari dirinya yang membuat dirinya sakit.
Walaupun pada kenyataannya Andika tidak pernah mempermasalahkan hal itu, tapi tetap saja permintaan Andika tentang kepura-kepuraanya hamil membuat dia tertekan.
"Ya, aku baik." Andini memaksakan senyumnya.
"Syukurlah, sudah punya anak berapa?" tanya Aiden seraya tersenyum kecut.
"Aku tidak bisa memiliki anak, aku--"
Andini terlihat bersedih, matanya bahkan terlihat berkaca-kaca. Melihat akan hal itu Aiden merasa sangat bersalah, tanpa terasa tangannya terulur untuk mengelus lembut punggung wanita yang dulu menjadi tambatan hatinya itu.
"Jangan bersedih, maaf jika pertanyaan aku menyinggung perasaan kamu." Aiden menatap Andini dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, lalu... bagaimana dengan dirimu?" tanya Andini seraya memaksakan senyumnya.
"Tahun kemarin aku mencoba membuka hati, aku menikahi Arini. Dia gadis manis anak dari kepala desa tempat di mana kemarin aku dipindah tugaskan," kata Aiden dengan berat hati.
Andini tersenyum kecut, karena ternyata Aiden sudah membuka hatinya. Bahkan dia sudah menikah dengan wanita yang katanya bernama Arini, hati Andini terasa berdenyut ngilu.
"Lalu, di mana istrimu? Kenapa kamu tidak membawa istrimu itu?" tanya Andini dengan raut wajah penasaran.
Aiden tersenyum getir seraya menatap wajah andini dengan lekat, Andini bisa melihat raut wajah kesedihan di mata Aiden. Kesedihan yang begitu dalam.
"Arini meninggal saat melahirkan putri kami," kata Aiden dengan sedih.
Andini benar-benar merasa tidak enak hati ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Aiden, rasanya dia masih beruntung karena tidak kehilangan.
Walaupun pada kenyataannya dia memang tidak bisa memiliki keturunan, tapi setidaknya dia masih bisa mengadopsi anak dari panti asuhan.
"Oh, ya ampun. Maaf, aku tidak tahu jika istrimu meninggal. Lalu, bagaimana dengan keadaan putri kamu?" tanya andini dengan sedih.
Mendengar bayi yang baru dilahirkan sudah ditinggal oleh ibunya, bahkan tidak sempat menyusu kepada ibu kandungnya membuat hati Andini merasa sakit.
"Dia di rumah bersama ibuku, sekarang aku dipindahtugaskan lagi. Mulai besok aku bekerja di kantor pusat, jadinya aku kembali ke rumah ibu. Sekalian menitipkan putriku, Anastasya agar ada yang mengurus," kata Aiden.
"Kenapa tidak menyewa babysitter saja?" tanya Andini.
"Dia masih sangat kecil, rasanya aku belum percaya kepada orang lain," jawab Aiden.
Walaupun dia tidak bisa memiliki anak, tapi Andini adalah seorang perempuan. Rasanya dia ingin menemui putri dari Aiden dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya.
Lagi pula Andika berkata jika dirinya tidak akan pulang, Andini merasa bebas untuk pergi ke mana pun karena tidak ada suaminya di rumah.
"Apakah aku boleh melihat putri kamu, Ay?" tanya Andini tanpa sengaja menyebutkan panggilan sayangnya pada Aiden.
Mendengar nama panggilan sayangnya disebutkan, Aiden terlihat tersenyum dengan sangat manis. Kemudian dia pun berkata.
"Tentu, tentu saja boleh, Didi. Sekarang kita makan dulu, baru nanti kita ke rumah ibu. Kamu bisa melihat putriku," kata Aiden seraya menunjuk pelayan dengan dagunya.
Andini terlihat menolehkan wajahnya, dia melihat dua orang pelayan membawakan pesanannya dan juga pesanan Aiden.
Dia tersenyum melihat akan hal itu, kemudian mereka pun makan bersama sore itu. Bahkan suasan canggung seakan tidak ada. lagi saat mereka membahas Anastasya.
setelah selesai makan, Aiden benar-benar mengajak Andini untuk pergi ke rumah ibunya. Saat Aidan dan juga Andini tiba di kediaman sederhana ibunya, Ibu Ani terlihat sedang duduk di teras depan seraya mengayun putri dari Aiden.
Putri dari Aiden itu nampak sedang menangis, hati Andini benar-benar ikut merasakan sakit melihat akan hal itu.
"Assalamualaikum, Bu. Aiden pulang,'' ucap Aiden.
Ibu Ani terlihat menolehkan wajahnya ke arah Aidan dan juga Andini, tatapan matanya langsung terpaku saat melihat Andini wanita muda yang dulu sering dibawa Aiden ke rumahnya.
Wanita yang diakui oleh Aiden sebagai pacarnya, kini wanita itu terlihat lebih cantik dan lebih matang.
"Didi?"
"Ya, Ibu. Ini Didi, boleh aku menggendong Anastasya?" tanya Andini yang merasa tidak tega melihat bayi mungil itu terus menangis.