Bagaikan buah simalakama. Aku pergi, dia hancur. Aku bertahan, aku yang hancur. Lalu, jalan seperti apa yang harus aku ambil?
Siapa yang tidak mengharapkan hubungan harmonis dengan keluarga pasangan. Setiap pasangan pasti berharap hubungan yang baik-baik saja dalam keluarga besarnya. Pepatah mengatakan, jika kau siap untuk menikah dengan anaknya, maka kau pun harus siap menikah dengan keluarganya? Lalu apa jadinya ketika orang tua pasangan kita tidak menerima kita sepenuhnya? Pilihannya hanya ada dua. Bertahan, atau melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi
Daniar begitu terkejut saat menaiki angkot 05. Di bangku sudut di dalam angkot yang hendak dia naiki, dia melihat laki-laki itu tengah duduk. Untuk sesaat, mata mereka beradu pandang. Tak ingin merasa dikenali, Daniar akhirnya menundukkan wajah.
"Geser dikit, Neng!" ujar kondektur saat Daniar duduk di bangku yang berada dekat pintu angkot.
"Bangku panjang masih kosong, Mbak. Silakan diisi dulu," timpal salah seorang penumpang.
Mau tidak mau, akhirnya Daniar berpindah tempat dan duduk di samping laki-laki yang tak lain adalah Yandri. Karena, hanya bangku di samping Yandri-lah yang kosong untuk saat ini.
Daniar semakin menundukkan wajahnya, berharap laki-laki itu tidak akan pernah mengenali dirinya. Jika tidak, urusannya bakalan berabe kalau sampai laki-laki itu mengingat tingkah Daniar yang sudah menyebabkan pelipisnya terluka.
"Ke mana, Neng?" tanya Abang kondektur, mengejutkan Daniar yang sedang melamun.
"Eh, kampus 2, Bang," jawab Daniar.
Daniar merogoh saku tas selempang-nya tempat dia menyimpan uang receh. Sedetik kemudian, dahinya berkerut saat dia tidak menemukan sepeser pun uang recehan di saku tasnya. "Ish, kenapa nggak ada uang recehan," dengus Daniar terlihat kesal.
Daniar pun membuka resleting tas-nya. Dia mengeluarkan sebuah dompet kecil tempat dia menyimpan uang. Sejurus kemudian, Daniar menarik selembar uang lima puluh ribuan untuk ongkos angkot dan menyerahkannya kepada kondektur itu.
"Nggak ada uang receh,Neng?" tanya Abang kondektur saat melihat nominal uang yang diserahkan oleh Daniar.
"Nggak ada,Bang," jawab Daniar, jujur.
"Wah, nggak ada kembaliannya, Neng. Soalnya, kita baru keluar juga," balas kondektur itu lagi.
"Waduh, gimana dong ... uang recehan saya sudah habis, Bang," jawab Daniar dengan perasaan gusar.
Daniar berusaha untuk menukar uang kepada salah seorang penumpang yang berada di sampingnya.
"Wah, Maaf Neng. Saya tidak punya uang recehan. Apa Neng nggak lihat, tuh belanjaan ngejugrug sebanyak ntu di pojokan. Saya abis belanja barang, jadi duit saya ya cuma buat ongkos doang," jawab seorang ibu bertubuh gempal.
Daniar hanya bisa menghela napasnya. Dia kembali menyodorkan lembaran uang tersebut. Namun, saat tangannya terulur, tiba-tiba tangan laki-laki itu menariknya.
"Simpan saja!" ucapnya dingin.
Sedetik kemudian, Yandri merogoh saku jaketnya. Dia kemudian mengeluarkan selembar uang 10 ribuan dan menyerahkannya kepada kondektur angkot. "Dua bareng dia, Bang." Tunjuk Yandri kepada Daniar.
"Nah, gitu dong Cep. Bayarin atuh pacarnya," celetuk abang kondektur.
Semua penumpang tampak tersenyum mendengar omongan kondektur yang nyeleneh itu. Sedangkan Daniar? Wajahnya sudah semakin merah karena menahan malu.
"Te-terima ka-sih," ucap Daniar, terbata.
Diam. Ya, laki-laki itu hanya diam menanggapi ucapan terima kasih Daniar.
Ish, apa-apaan ini? Huh, kenapa bisa satu angkot sama tuh cowok sih? gerutu Daniar dalam hati
.
.
Waktu terus berlalu. Namun, mobil angkot yang Daniar naiki, belum juga beranjak dari tempat ngetemnya. Wajah laki-laki di samping Daniar terlihat gusar. Mungkin dia merasa kesal dengan ulah sang sopir. Terlihat jika beberapa kali, laki-laki dingin itu mengeluarkan ponselnya untuk melihat penunjuk waktu.
Begitu juga dengan Daniar. Gadis berperawakan kurus tinggi itu kembali melirik jam tangan mungilnya. Sudah hampir satu jam angkot diam menunggu penumpang. Dan itu artinya, sudah hampir 15 menit Daniar ketinggalan jam kampusnya.
Ya Tuhan ... bagaimana ini? Padahal mata kuliah pertama adalah mata kuliah yang diampu oleh si dosen cantik yang bawelnya minta ampun, gumam Daniar dalam hatinya.
Masih lama ya, Bang?" tanya Yandri kepada sopir angkot tersebut.
"Sebentar lagi Mas, satu penumpang lagi," jawab si sopir angkot.
Yandri pun hanya menghela napas mendengar jawaban sopir angkot tersebut. Sejurus kemudian, dia kembali mengeluarkan ponselnya dan menulis sesuatu di atas layar ponsel.
Kemungkinan aku terlambat datang di jam pertama. Angkot ngetem. Tolong uruskan absenku.
Yandri mengirimkan pesan tersebut kepada sahabatnya. Begitu juga dengan Daniar. Sama seperti Yandri, Daniar pun berkirim pesan kepada teman sebangkunya untuk memberitahukan keterlambatan dia datang nanti.
Setelah satu jam lebih menunggu, akhirnya angkot pun melaju juga. Itu pun begitu pelan. Membuat Daniar tanpa sadar menggerutu kesal.
"Ish, kapan sampai kalau jalannya kek keong begini."
Yandri melirik Daniar. Sejenak, dia menautkan kedua alisnya. Eh, kenapa wajahnya begitu familiar? Apa aku pernah bertemu sebelumnya dengan gadis ini? batin Yandri, mengamati setiap inci wajah Daniar dari arah samping.
Mimik Daniar yang tampak berubah-ubah karena kesal, membuat kedua sudut bibir Yandri tertarik ke atas. Tanpa sadar, Yandri tersenyum tipis melihat kekesalan di wajah Daniar. Hahaha, kenapa dia terlihat imut seperti boneka, ya? pikir Yandri.
Fix! Sudah bisa dipastikan baik Yandri maupun Daniar, sudah sangat terlambat di mata kuliah jam pertama. Daniar tampak menuju kantin sekolah untuk menunggu jam pertama berakhir. Sedangkan Yandri, dia pergi ke masjid kampus untuk mempelajari materi presentasi. Waktu yang tersisa di jam pertama hanya tinggal 20 menit lagi. Karena itu, mereka memutuskan untuk absen di jam pertama.
.
.
Detik berganti menit, dan menit berganti jam. Bel jam terakhir menjerit juga. Daniar segera membereskan modulnya.
"Niar, lo dipanggil bu Ina tuh, ke ruangannya," ucap Budi, sang ketua kelas.
Daniar mengerutkan keningnya. "Ngapain bu Ina manggil gua, Bud?" tanya Daniar.
"Mungkin karena lo bolos di jam-nya," jawab Budi.
Daniar hanya menggaruk tengkuknya. Kok bisa, padahal tadi aku sudah minta diizinkan sama Nida, ucap Daniar dalam hatinya.
Setelah memasukkan peralatan kampusnya ke dalam tas, Daniar pergi ke ruang dosen untuk memenuhi panggilan bu Ina.
"Assalamu'alaikum, permisi!" sapa Daniar begitu tiba di ruang dosen yang pintunya terbuka.
"Masuk!" ucap salah seorang dosen pria.
Daniar memasuki ruangan dosen.
"Cari siapa?" tanya dosen pria yang tadi menyuruh Daniar untuk masuk.
"Saya diminta bu Ina untuk menemui beliau di ruangan ini, Pak," jawab Daniar dengan hati yang sedikit berdebar karena lagi-lagi bertemu laki-laki itu.
Sedangkan Yandri, dia tampak begitu acuh tak acuh sambil mengoperasikan komputer di hadapan Daniar.
"Gimana, Yan?" tanya dosen pria yang diketahui dari name tag-nya adalah Pak Bekti.
"Sedikit lagi, Pak," jawab Yandri. Tangannya masih lincah menari-nari di atas keyboard. "Finish!" seru Yandri seiring dengan tekanan jari telunjuknya di tombol enter.
Pak Bekti tersenyum seraya memuji Yandri. "Wah, hebat sekali kamu Yan. Kalau kayak begini caranya, kamu bisa menjadi seorang hacker sejati nih," gurau Pak Bekti.
Mendengar pujian Pak Bekti terhadap laki-laki itu, kaki Daniar sedikit berjinjit untuk melihat layar komputer. Tiba-tiba saja, hatinya sedikit tergelitik untuk mengetahui perbuatan Yandri di hadapannya. Namun, saat mata Daniar hampir melihat layar kaca, panggilan dari bu Ina begitu menggema di ruang dosen.
"Daniar, kemari!"
aarhh...bikin emosi aja
ngeyel sih
Semangat Thot, Luar biasa ceritanya