Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.
Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?
Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.
Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan
Keesokan harinya.
Semalaman utuh Laskar tak bisa tidur. Matanya sama sekali tak bisa terpejam. Padahal, Laila sudah berkali-kali menasehati nya. Agar jangan begadang.
Namun tetap saja, bahkan sampai matahari sudah menampakkan wajahnya, Laskar masih belum bisa tidur.
"Ayo bangun, Pa! Hari ini Zi udan boleh pulang kan! Kita harus bawa mantu kita ke rumah barunya. Tugas kita bertambah Pa. Ada tiga bayi yang harus kita jaga dan untuk itu, kita harus kuat, harus strong, harus semangat agar tetap sehat. Papa ngerti kan maksud Mama?" Laila memgelus lengan sang suami. Berharap suaminya segera bangkit dari keterpurukan yang diakibatkan oleh rasa kecewa yang telah sang putra torehkan di hatinya.
"Papa hanya nggak habis pikir, sebenarnya anak itu maunya apa sih, Ma? Kenapa dia selalu nganggep kita nggak ada, nggak penting!" ucap Laskar. Tatapan matanya begitu sendu, seperti menyimpan kemarahan yang teramat sangat.
"Sabar, Pa. Putra kita sedang dalam keadaan yang memang kurang stabil dan di sinilah peran kita sebagai orang tua dipertanyakan. Mampukah kita membawa putra kita ke jalan yang memang seharusnya. Atau kita akan memilih membiarkan dia tetap terjerumus ke dalam kepalsuan yang dia ciptakan sendiri," ucap Laila, berusaha membuat sang suami tetap sabar dan ikhlas menghadapi putra kesayangan mereka itu.
"Ah, entahlah, Ma... Papa udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi soal Zein ini. Nanti Mama aja yang nanya, Papa takut emosi kalo debat sama dia," ucap Laskar lagi.
"Iya, nanti biar Mama aja yang coba kasih pengertian ke Zein. Bukan kita menghalangi dia nikah sama pacarnya yang itu. Tapi dia harus tahu, bahwa saat ini ada sesuatu yang lebih penting dari yang dia bilang cinta itu," jawab Laila, serius.
Semenit kemudian, tak ada perbincangan lagi. Laskar tidak menolak lagi ketika sang istri memintanya membersihkan diri dan sarapan. Sebab sebentar lagi mereka harus menjemput Zi, dan membawanya ke rumah yang telah mereka siapkan.
***
Senyum merekah sempurna di bibir Zi, Laskar dan Laila. Karena rumah yang akan ditempati oleh Zi sangat indah dan sederhana. Ya Zi memang suka kesederhanaan. Zi tidak suka rumah terlalu besar dan banyak ruang. Bagi Zi, rumah minimalis yang disediaka oleh kedua mertuanya ini sangatlah manis.
"Zi suka?" tanya Laila.
"Suka, Ma. Ini sederhana tapi punya kesan mewah. Pokoknya pilihan Papa emang top. Tapi Zi gimana bayarnya Ma?" Zi terlihat khawatir.
"Zi nggak usah pikirkan itu. Ini adalah kado untuk mereka berdua. Kalian bertiga berhak mendapatkan hadiah ini dari oma, dari opa, hemm," ucap Laila seraya memeluk penuh kasih sayang wanita yang masih ia anggap menantunya ini.
"Makasih banyak, Oma, Opa. Dedek berdua bakal baik-baik di perut bunda," ucap Zi sembari mengelus perutnya yang mulai membuncit. Sedangkan Laskar dan Laila hanya tersenyum.
"Di dalam ada satu asisten rumah tangga yang bakalan nemenin Zi, sama satu sopir ya. Mereka yang bakalan jaga Zi selama oma dan opa lagi nggak di sini. Zi harus ingat, Zi boleh bekerja kalo dalam keadaan fit, kalo masih belum. Tolong di rumah aja dulu ya," ucap Laila mengingatkan.
Zi mengangguk menyetujui. Tak lupa ia juga memberikan pelukan penuh kasih sayang kepada wanita yang selalu memperlakukannya bak putrinya sendiri itu.
***
Selepas pertemuannya dengan Zizi, Laskar dan Laila pergi ke Jakarta. Tentu saja mereka ingin memberikan hadiah pada Safira dan sang suami yang telah memberi mereka kebahagian. Mereka tidak ingin membedakan antara Zi dan Safira. Bagi Laskar dan Laila, mereka berdua berhak mendapatkan hadiah yang sama.
Bukan hanya itu, mereka juga ingin tahu bagaimana kondisi kesehatan putri kesayangan mereka itu. Apakah Safira dan calon bayinya baik-baik saja. Lalu apakah Lutfi menjaganya dengan baik.
Pokoknya sepasang pasutri tersebut ingin memastikan sendiri bahwa putri mereka baik-baik saja dan aman.
Disamping itu mereka juga ingin memastikan kembali apakah putra mereka memang telah benar-benar memilih jalan hidup seperti itu. Ataukah masih ada sedikit penyesalan. Jika masih ada, Laskar dan Laila berniat memberi tahu Zein tentang keadaan Zi saat ini.
Di pesawat....
"Apa nggak sebaiknya kita kasih tahu, Zein, soal Zi, Pa? Siapa tahu setelah kita bujuk dia, mereka bisa rujuk," harap Ibu Laila.
"Kita dengar lagi apa yang Zein inginkan, Ma. Kalo dia masih kekeh dengan pilihannya kita bisa apa." Pak Laskar terlihat pasrah. Sebab beberapa hari yang lalu, ia mendengar bahwa Zein telah pergi ke keluarga Vita yang ada di Batam. Dia nekat menemui keluarga Vita tanpa meminta persetujuan dari kedua orang tuanya.
Zein sudah melamar Vita pada keluarga wanita tersebut. Sekali lagi Zein telah menyakiti hati kedua orang tuanya.
Bagaimana tidak? Tanpa meminta persetujuan dari mereka, dia telah mengambil keputusannya sendiri.
"Jangan sedih, Pa! Dia hanya nggak tahu, coba kalau tahu kalo dia udah mau jadi ayah lagi, Mama rasa dia nggak akan senekat itu," ucap Laila.
"Kita lihat nanti, Ma. Pokoknya kalo sampai dia nekat, jangan pernah berharap papa kasih izin dia ketemu dengan kedua buah hatinya. Biar tahu rasa!" ancam Laskar geram.
Bersambung....