Kisah seorang gadis yang baru saja lulus SMA, namanya Dinda Kirana. Dari kecil ia di besarkan oleh sang nenek, karena orangtuanya meninggal yang disebabkan oleh kecelakaan. Selain nenek, ia juga memiliki kakak angkat yang bernama Anton.
Mereka tinggal bertiga, karena orangtuanya Anton juga meninggal karena kecelakaan bersama orangtuanya Dinda. Karena sudah 10 tahun lebih mereka tinggal bersama, Anton dan Dinda sudah seperti saudara kandung.
Tetapi, tiba-tiba sang nenek menjodohkan mereka. Awalnya mereka menentang perjodohan itu, tetapi karena sang nenek jatuh sakit. Akhirnya pernikahan mereka pun terlaksana.
Seperti apa kelanjutan ceritanya? Ikuti terus update setiap dan dukung Author dengan menekan hati yang berwarna biru. Biar gak ketinggalan keseruan mereka!
Terima Kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arry Hastanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinda Mencari Kontrakan
Rasa bersalahnya dan amarahnya membuat Anton tidak bisa berfikir dengan jernih. Ia duduk di kursi kebesarannya sambil memandang ke langit-langit ruangannya. Memikirkan pernikahannya dengan Dinda, hubungannya dengan Loren. Hal itu membuat Anton stress hingga ia tak menyadari kedatangannya Loren.
"Kenapa kemarin kamu tidak perduli denganku? Apa yang kamu lakukan di kamar Dinda? Kenapa kamu mengunci pintu kamar?" Tanya Loren bertubi-tubi.
"Jangan bahas hal itu, aku lagi gak mood!" Sahut Anton memegang kepalanya yang terasa pusing.
Loren tak terima atas sikap Anton yang tiba-tiba berubah cuek dengannya. Ia pun dengan berani duduk di pangkuan Anton dengan posisi saling berhadapan dan Loren menciumnya dengan agresif.
Anton yang mendapat ciuman secara tiba-tiba pun berusaha untuk menghentikan Loren yang kehilangan kendalinya. Ia mendorong tubuh Loren hingga ia melepaskan ciumannya.
"Oren! Apa yang kamu lakukan?" Bentak Anton.
"Selama ini kamu tidak pernah menyentuhku, tetapi kamu malah tidur dengan Dinda yang kamu anggap sebagai adik kandung mu sendiri. Apa kamu sudah lupa janjimu, kalau kamu dan Dinda tidak akan melakukan hal itu!" Sahut Loren dengan nada tinggi.
"Apa kamu tidak jijik dengan Dinda yang sudah tidur dengan Rizal dan sekarang dia hamil anaknya!" Imbuh Loren sambil menangis.
Mendengar perkataan Loren, Anton pun mendorong tubuh Loren hingga ia terjatuh di lantai. Selama ini ia memang tidak menyentuh tubuh Loren, sejauh ini hanya sebatas ciuman, karena Anton punya pendirian kalau dia tidak akan melakukan hubungan intim sebelum menikah.
Jika ia melakukannya dengan Dinda, karena Dinda sudah sah menjadi istrinya, jadi tak ada dosa baginya maupun Dinda. Dalam lubuk hatinya, ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Loren. Anton berencana untuk menerima bayi yang di kandung Dinda dan melanjutkan pernikahannya dengan Dinda.
"Oren, aku minta maaf jika selama ini aku sudah menyakiti hatimu. Aku memang egois, aku patut untuk kamu benci. Mulai detik ini, kita akhiri hubungan kita." Kata Anton dengan berat.
"Gak! Aku gak mau hubungan kita selesai sampai di sini. Kamu sudah merayuku untuk tidak meninggalkan mu, tapi sekarang kamu malah mencampakkan ku! Pokoknya aku mau kita melanjutkan hubungan sampai menikah!" Tolak Loren sambil menangis sesenggukan.
Anton meraih tangan Loren dan membantunya berdiri. Ia memeluknya, tetapi Anton benar-benar ingin mengakhiri hubungan mereka. Mungkin rasa cinta terhadap Loren masih ada, tetapi ia tidak bisa berhenti untuk memikirkan Dinda. Benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Ia tak ingin menyakiti Loren lebih jauh lagi, dan ia juga tidak mau menyakiti Dinda.
*****
Ketika Dinda sedang melamun, sedangkan Inah yang sedang menahan kencingnya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar nyaring di telinga mereka berdua. Sontak saja mereka berdua terkejut. Dinda mendengar suara Yuki dari balik pintu. Ia pun segera beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
"Maaf Din, sudah nunggu lama ya!" Sapa Yuki sambil memeluk Dinda.
"Gak juga! Gimana, kita langsung cari kontrakan atau nanti tunggu Rizal?" Sahut Dinda bertanya.
Sebelum menjawab pertanyaan Dinda, Yuki pun mengajak Dinda untuk duduk terlebih dahulu.
"Kamu tinggal di sini dulu Din, nyari kontrakan kan gak langsung dapat." Jawab Yuki duduk di sofa.
"Tapi kayaknya aku gak bisa tidur di sini deh! Rumah mu terlihat serem ah!" Sahut Dinda.
Karena memang Yuki merasa rumahnya seram, dan memang itulah alasan orangtuanya menjual rumah sebesar dan semewah itu dengan harga lebih murah. Karena memang dulu ada hal-hal mistis terjadi di rumahnya. Ia pun mengajak Dinda untuk mencari kontrakan segera mungkin, mumpung waktu masih siang.
Dinda pun bersemangat dan mengambil tas gendongnya yang berisi barang-barang yang ia butuhkan.
"Non, aku ikut ya!" Rengek Inah.
"Iya, ayok cepetan berdiri." Suruh Dinda.
Karena Inah sedang menahan untuk buang air kecil, ia pun berdiri dengan pelan sambil memegangi perutnya. Dinda yang menyadari hal itu pun tertawa melihat kelakuan aneh Inah.
"Mbak Inah, kamu kenapa?" Tanya Dinda ambil tertawa.
"Aku mau pipis Non, tapi mau pergi ke toilet gak berani." Tuturnya sambil meringis.
Dinda dan Yuki pun mengantar Inah untuk buang air kecil. Inah yang masih ketakutan pun tidak menutup pintu toilet dan membiarkannya terbuka. Lebih parahnya lagi, ia menyuruh Dinda untuk tetap di depan pintu, sehingga Dinda bisa melihat Inah dengan jelas yang sedang buang air kecil.
Karena Inah selalu baik kepadanya, tentu saja Dinda rela melihat Inah yang sedang buang air kecil. Bahkan jika Inah ingin sesuatu, pasti Dinda akan membelikannya. Hal itu karena Inah benar-benar baik dan tulus kepadanya.
Mereka meninggalkan barang-barangnya di rumah Yuki, sedangkan mereka bertiga keluar dari rumah untuk mencari kontrakan. Dengan bersemangat, mereka mengelilingi rumah-rumah dan bertanya kepada beberapa orang tentang kontrakan atau rumah sewaan.Tetapi, sampai sore mereka tidak mendapat kontrakan.
Kring Kring Kring
Ponsel Dinda berdering, di lihatnya nama Rizal tertera di layar ponselnya. Ia pun segera mengangkat panggilan itu. Sepertinya Rizal sudah pulang kerja.
"Din, kamu dimana? Sudah dapat kontrakan?" Tanya Rizal.
"Belum Zal, udah muter kesana kemari tetapi belum dapat juga." Jawabnya dengan nada putus asa.
Rizal yang merasa kasihan pun segera menghampiri Dinda, setelah Dinda memberitahu alamat di mana sekaran dia, Yuki dan Inah berada. Kebetulan, jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya butu waktu sekitar 30 menit dengan mengendarai sepeda motor.
Tak lama kemudian Rizal sampai di tempat mereka berada, ia turun di pinggir jalan dan mencari warung di pinggir jalan dengan spanduk bertuliskan 'YANG LAPAR MAPIR, JANGAN HANYA NGILER'. Akhirnya Rizal melihat mereka bertiga yang sedang duduk di sana sambil menikmati segarnya es jeruk peras.
"Dinda, Yuki!" Panggil Rizal menghampiri mereka.
"Den Rizal kok cuma panggil Non Dinda dan Yuki, Inah juga kepengen di panggil, Den!" Canda Inah.
"Maaf Mbak Inah, tadi gak kelihatan." Sahut Rizal dengan kepolosannya.
Tidak mau menyia-nyiakan waktu, mereka pun segera pergi mencari kontrakan. Rizal dengan motor maticnya dan Dinda, Inah dengan Yuki mengendarai mobil. Rizal menuju arah rumahnya, ia pernah melihat palang yang tertuliskan 'Disewakan' .
Butuh waktu sekitar 25 menitan mereka sampai di depan rumah yang di sewakan itu. Dengan segera Rizal menemui pemilik rumah dan melihat keadaan ruamah tersebut.
Sepertinya Dinda merasa cocok dengan rumah yang di sewakan itu. Tidak terlalu besar, hanya ada ruang tamu, dapur, dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Rumahnya bersih dan dindingnya banyak tulisan Lafadz Allah dan Ayat-ul Kursi. Hal itu membuat Dinda merasa nyaman.
"Bagaimana Din, kamu cocok?" Tanya Rizal.
"Aku cocok, tapi malam ini bisa langsung tinggal disini tidak?" Jawab Dinda berbalik bertanya.
Rizal pun bertanya kepada sang pemilik rumah, jika mulai malam ini mereka menyewa rumah itu. Beruntung keadaan rumah itu bersih, karena memang setiap harinya di bersihkan, jadi sudah siap huni.
Lalu, Yuki dan Inah pergi ke rumahnya untuk mengambil barang-barang yang mereka tinggalkan di sana. Karena sudah waktunya Maghrib, Yuki dan Inah pun merasa ketakutan untuk masuk ke rumah itu.
Untung saja, penjaga rumah datang untuk menyalakan lampu. Sehingga Yuki menyuruhnya untuk mengambilkan barang-barang dari rumahnya dan memasukkan ke dalam mobilnya. Tak lupa, Yuki pun memberi beberapa lembar uang kertas berwarna merah muda kepada penjaga rumahnya sebagai tanda Terima Kasihnya.
Bersambung...
sukses
semangat
mksh