Zella, mahasiswi baru di Universitas Swasta Indonesia telah membuat Leon, ketua BEM yang tegas dan penuh wibawa jatuh cinta pada pandangan pertama saat OSPEK Mahasiswa.
Tidak hanya itu, Levi, seorang dosen jutek, galak, dan tidak banyak bicara yang juga putra pemilik Universitas tersebut juga ternyata diam-diam menaruh hati pada Zella.
Zella yang belum menginginkan untuk berpacaran harus terus menerus mendapatkan teror dari mahasiswi yang mengidolakan Leon dan Levi.
Leon dan Levi pun terus berjuang dengan cara mereka masing-masing untuk mendapatkan hati Zella.
Siapakah diantara mereka berdua yang mampu memenangkan hati Zella?
Adakah Leon atau bahkan Levi yang memenangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AdindaRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Levi masih mengayuh sepeda dengan posisi yang sangat dekat dengan Zella. "Ngambek nih ceritanya?" tanya Levi
"Iya!" jawab Zella ketus dan membuat Levi terkekeh.
"Saya boleh tanya sama kamu?" tanya Levi kemudian.
"Bukannya barusan juga udah kasih pertanyaan." jawab Zella masih dengan nada ketusnya.
"Diusia berapa kamu siap untuk menikah?" Levi bertanya tepat di telinga kiri Zella.
"Emmmh, habis lulus kuliah kayaknya. Sekitar umur 22 tahun lah." jawab Zella.
"Kalo sama saya, kira-kira diusia berapa?" pertanyaan Levi kali ini membuat Zella berbalik menatap Levi.
"Memang bapak mau nikah sama saya?" tanya Zella balik dan membuat Levi mengerem sepedanya.
"Kamu ini ditanya malah balik nanya sih." jawab Levi dan mulai mengayuh lagi sepedanya. "Saya kan cuma tanya aja." ucap Levi kemudian.
"Pertanyaan bapak bikin saya kesel tau." ucap Zella.
"Kalau saya bilang saya mau nikah sama kamu, jawabannya apa?" Levi kembali membuat Zella berdebar.
"Saya belum tahu pak." jawab Zella.
"Yaaaah, itu cuma contoh kalimat pertanyaan aja Zella. Dibikin santai aja, jangan bikin kamu kesel." ucap Levi.
Zella langsung mencubit pinggang Levi sampai Levi meringis kesakitan dan meminta ampun pada Zella.
"Iiiiiiih, Pak Levi bener-bener ngeselin banget ya." ucap Zella.
"Haha, Ampuuun Zella. Sadis amat nyubitnya. Jangan-jangan kamu berharap nikah sama saya ya?" tanya Levi membuat Zella melepaskan cubitannya.
"Amit-amit dah. Ogah banget saya nikah sama bapak." jawab Zella kesal.
Levi hanya tersenyum mendengar jawaban Zella. Keduanya pun terdiam hingga sampai di mansion Zella. Setelah turun dari sepeda, Zella langsung masuk ke mansion meninggalkan Levi.
"Zella dari mana aja sih?" tanya Leon yang sedari tadi mencari Zella.
"Eh Kak Leon. Baru sepedaan aja sekitar sini." jawab Zella. "Kak Leon udah sarapan?" tanya Zella.
"Yang lain udah, tapi aku nunggu kamu biar bisa sarapan bareng." jawab Leon.
Zella langsung mengajak Leon ke meja makan. Levi yang baru masuk pun mengikuti Zella dan Leon untuk sarapan.
Zella yang masih kesal dengan Levi pun sengaja mengacuhkan Levi dan lebih melayani Leon. Zella sengaja mengambilkan nasi dan lauk untuk Leon, sedangkan Levi dibiarkannya untuk mengambil sendiri.
"Zella, kita makan satu piring berdua yuk." ajak Leon.
"Wah, ide bagus tuh kak." jawab Zella dan langsung menambahkan nasi dan lauk ke piring Leon.
Leon melirik ke arah Levi, "Pak Levi tadi dari mana?" tanya Leon.
"Sepedaan sama Zella." jawab Levi mulai menyantap sarapannya.
"Bukan," sanggah Zella. "Tadinya Pak Levi lari pagi, gak tau kenapa jadi ikutan naik sepeda aku." ucap Zella masih dengan nada kesal.
"Loh, kalo gitu kalian naik satu sepeda dong." ucap Leon terkejut membayangkan Levi dan Zella diatas sepeda yang sama.
"Tentu saja," jawab Levi bangga. Kali ini Leon yang merasa kalah dari Levi langsung menepuk jidatnya.
"Yaaaah, Zellaaa. Aku cemburu." jawab Leon terus terang.
"Pak Levi gak pantes buat dicemburuin. Aku udahan ya Kak Leon, gerah banget nih." ucap Zella tidak menghabiskan sarapannya dan langsung pergi ke kamarnya.
Kini tinggal Leon dan Levi yang masih menikmati sarapan.
"Pak Levi belum mau mundur nih dari persaingan kita?" tanya Leon.
"Sampai salah satu dari kita belum jadi pemenang, saya tidak akan mundur." jawab Levi yang sudah menghabiskan sarapannya dan langsung meninggalkan Leon.
"Hemmm, bener-bener saingan yang berat." gumam Leon yang langsung menghabiskan sarapannya.
***
Pukul 15.00, Mansion Zella kembali sepi karena teman-temannya sudah kembali ke Bandung. Zella dan Azel sudah mulai berkutat dengan beberapa pekerjaannya di ruang kerja Papa Green.
"Dek Zella." panggil Azel. "Besok akan ada meeting dengan perusahaan besar dari Jerman. Kakak percaya kamu bisa menghadapinya." ucap Azel meyakinkan.
Zella yang lahir di salah satu kota di Jerman memang sudah biasa berkomunikasi dengan Bahasa Jerman. Jadi Azel tidak perlu meragukan adek perempuannya.
"Tapi kak, mereka percaya gak ya sama Zella? Nanti malah mundur gara-gara CEOnya masih bocah." jawab Zella mempelajari bahan meeting untuk esok.
"Nanti akan tetap papah dampingi, sayang." ucap Papa Green dan Zella pun setuju.
Setelah benar-benar paham dengan wacana meeting besok, Zella pun kembali ke kamarnya dan beristirahat.
***
Keesokan harinya, Zella dan Papa Green sudah siap pergi ke kantor. Meski sedikit grogi, Zella harus siap menghadapi klien pertama baginya. Sesampainya di kantor, Zella dan papa Green langsung menuju ruang meeting.
Baru duduk sebentar, klien yang ditunggu pun tiba. Ada 6 orang dari 3 perusahaan asal Jerman yang sudah hadir dan Zella pun memulai presentasinya.
Setiap pemilik perusahaan berdecak kagum mendengarkan presentasi Zella yang sangat lancar berbahasa Jerman dengan logat yang pas. Terlebih Richard, CEO muda dari Rich Corporation, berusia 25 tahun yang dari awal meeting tidak lepas menatap Zella.
"Dies ist das Ende meiner Präsentation, Ich lade ein, wenn jemand fragen möchte (Sekian presentasi dari saya, dan kini Saya persilahkan jika ada yang ingin bertanya)" Zella menutup presentasinya.
Setiap perusahaan memberi pertanyaan yang cukup sulit dijawab diusia Zella yang baru menginjak usia 18 tahun. Tetapi dengan mudah Zella menjawabnya, hingga semua klien baru Zella memberi applause yang luar biasa.
Meeting awal Zella berjalan sangat lancar dengan hasil yang di luar dugaan. GA Corporation bisa bekerja sama dengan 3 perusahaan Jerman sekaligus dan membuat Papa Green makin bangga dengan putrinya.
"Dapatkah saya mengenalmu lebih dekat, Nona Grizelle?" tanya Richard dengan bahasa Jerman.
Zella tersenyum dan menjawab dengan hati-hati, "Semoga waktu dan kesempatan berpihak pada anda Mr. Richard." jawab Zella.
"Wow, anda sangat luar biasa, Nona." jawab Richard dan undur diri dari hadapan Zella.
Papa Green melihat putrinya yang mulai dilirik pemilik perusahaan besar pun mulai was-was. Setelah para klien keluar dari ruang meeting, papa Green pun mengajak putrinya bicara.
"Zella, papa rasa kamu perlu kembali ke Bandung untuk kuliah." ucap Papa Green.
"Memangnya ada apa Pah? Apa presentasiku yang tadi kurang bagus ya?" tanya Zella terkejut dengan ucapan papanya.
"Bukan begitu sayang, presentasimu sangat baik dan luar biasa. Tapi papa mengkhawatirkanmu," jawab Papa Green.
Zella mulai paham arah pembicaraan papanya. "Kau lihat sendiri bukan bagaimana Mr. Richard menatapmu dari awal meeting sampai selesai. Papa hanya ingin kamu baik-baik saja." jelas papa Green. Zella pun mengangguk menyetujui arahan papanya.
Di lain sisi, Richard yang memang tertarik dengan Zella pun mulai mencari informasi tentang seluk beluk kehidupan Zella. Ia memutuskan untuk tinggal beberapa waktu di Indonesia dan menunda kepulangannya ke Jerman.
"Azel ternyata punya adik perempuan yang sangat cantik, kenapa dari dulu tidak pernah bercerita denganku?" gumam Richard dalam hati.