Berawal dari pertemuan kembali di acara reuni SMA, Sarah Amalia berjumpa dengan cinta pertamanya, setelah sekian lama mereka berpisah.
Kedekatan mereka pun kembali terjalin, dan kabar gembira pun datang, setelah beberapa bulan mereka menjalin hubungan.
"Maukah kau menjadi istriku?" tanya Miko, cinta pertama Sarah.
Dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu pun mengiyakan ajakan kekasihnya.
Pernikahan pun terjadi. Setelah beberapa bulan, tiba-tiba datang seorang wanita ke hadapannya.
"Perkenalkan, saya istri pertama suamimu."
Bagai disambar petir, Sarah harus menerima kenyataan pahit itu, dikala dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Miko.
Bagaimana kelanjutan kisah ini? Akankah Sarah tetap bersama Miko? Atau justru menemukan cinta yang lain? Mari kita simak selengkapnya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah kebohongan
"Halo, Assalamualaikum," sapa Fadil.
"Waalaikumsalam. Nak Fadil ya. Ada apa ini? Tumben telepon?" sahut suara di seberang yang terdengar seperti seorang laki-laki tua.
"Maaf, Pak. Sarah saat ini dalam kondisi kritis. Dia harus segera dioperasi agar bayinya bisa diselamatkan, dan saya butuh persetujuan dari walinya," ucap Dokter Fadil.
Untunglah, saat mengantar Sarah ke rumah orang taunya, Fadil sempat bertukar nomor telepon dengan Pak Riswan, ayah Sarah. Sehingga dalam kondisi mendesak seperti ini, dia bisa segera menghubungi beliau.
"Apa? Memangnya di mana Miko, suaminya? Apa dia tidak mau memberikan persetujuannya?" cecar Pak Riswan yang terdengar panik dan sedikit terselip marah.
"Maaf, Pak. Tapi, Sarah ke sini tidak dengan suaminya, melainkan dengan seorang perempuan," jawab Fadil.
"Ya sudah. Bapak kasih ijin buat kamu untuk mengoperasi Sarah secepatnya. Bapak yang tanggung jawab kalau samapi ada apa-apa," ucap Pak Riswan.
"Baik, Pak. Terimaksih," sahut Fadil.
Dokter itu pun berganti pakaian dengan menggunakan jubah operasinya. Tak lupa juga penutup kepala, dan sebuah masker yang mengalung di lehernya.
Dia kemudian berjalan menuju ruang operasi yang berada di ujung lorong yang lain dari lantai itu.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Fadil kepada semua tim medis yang bertugas.
"Siap, Dok. Tapi, bagaimana dengan persetujuan walinya?" tanya salah seorang perawat.
"Sudah ku dapatkan. Jadi, mari kita selamatkan ibu dan anak ini," ucap Fadil.
Semuanya menyahut dengan kata 'siap', dan operasi pun dimulai.
Sementara itu, Lidia yang masih menunggu di luar, merasa bimbang antara memberitahukan kabar ini kepada Miko atau tidak.
Dia takut jika nantinya justru dirinya yang akan disalahkan atas apa yang terjadi kepada Sarah. Hingga akhirnya, tanpa ia sadari operasi telah selesai. Lidia baru tersadar jika sudah satu jam dia berdiam seorang diri di depan ruang operasi.
Pintu terbuka, dan dokter keluar dari sana. Lidia pun menghampiri Dokter Fadil yang baru saja selesai mengopersi Sarah.
"Dok, bagaimana kondisi wanita di dalam sana? Apa dia baik-baik saja? Apa bayinya selamat?" cecar Lidia yang nampak begitu khawatir.
"Apa Anda yang bernama Lidia?" tanya Fadil.
"Ya, saya Lidia," jawab Lidia cepat.
"Silakan ikuti pasien ke ruang pemulihan. Dia ingin mengatakan sesutau kepada Anda," ucap Fadil yang kemudian pergi menuju kembali ke ruangannya.
Sementara itu, Lidia pun menunggu Sarah dengan perasaan cemas. Dia takut terjadi apa-apa dengan madunya. Namun, dia lebih cemas jika Miko menyalahkannya atas apa yang terjadi kepada Sarah dan anaknya.
Tak berselang lama, nampak dua orang perawat mendorong brangkar keluar dari ruang operasi, di mana Sarah berada di atasnya.
Lidia pun mengikutinya hingga masuk ke dalam ruang perawatan. Seusai perawat meninggalkan ruangan tersebut, Lidia pun mendekati Sarah yang masih terbaring lemah.
"Mbak," panggil Sarah lirih.
Lidia pun menatap Sarah dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ada rasa bersyukur atas kodisi Sarah yang tampak baik-baik saja. Namun, juga terbersit rasa cemas, jika Sarah justru mengadukan hal yang tidak-tidak kepada Miko.
"Mbak, aku mau minta tolong sesuatu," ucap Sarah.
"Kamu mending diam saja. Istirahatlah," ucap Lidia yang nampak datar.
"Aku mohon dengarkan aku dulu, Mbak," ucap Sarah lirih.
Wanita itu berusaha menguatkan dirinya, untuk menyampaikan sesuatu kepada Lidia.
"Baiklah. Ada apa?" ucap Lidia yang mengambil tempat duduk di samping ranjang Sarah.
"Alhamdulillah anakku selamat. Tapi, tolong jangan bilang hal ini kepada Mas Miko yah," tutur Sarah.
"Apa maksudmu? Kamu mau aku bilang ke Miko kalau anaknya mati gitu? Kamu gila ya Sarah. Terus, kamu akan ambil kesempatan karena setelah ini, Miko pasti memarahi ku habis-habisan atas apa yang menimpamu, iya kan! Aku nyesel udah nolongin kamu, Sar. Harusnya tadi ku tinggal aja kamu di sana," maki Lidia yang merasa, jika Sarah ingin membuatnya menjadi orang yang harus bertanggung jawab atas semuanya.
Sarah menggeleng pelan, dan mencoba meraih tangan Lidia.
"Bukan, Mbak. Aku hanya ingin bisa pergi dari Mas miko dengan tenang. Jika Mas Miko tau anaknya masih hidup, aku harus memilih antara bertahan atau pergi meninggalkan anakku. Dan aku nggak bisa pilih salah satunya."
"Tapi, kalau Mas Miko tau anaknya sudah tiada, maka dia akan dengan sendirinya melepasku. Aku janji, tidak akan membuat Mbak disalahkan atas semua ini. Justru aku akan membuat Mas Miko percaya jika semua ini memang sengaja ku lakukan, agar dia semakin membenciku dan mau melepaskan ku." Ungkap Sarah panjang lebar.
Lidia membelalakkan matanya mendengar penuturan wanita yang masih lemah itu. Dia sampai berbuat seperti itu karena memikirkan nasib anaknya yang hanya akan menjadi rebutan antara dirinya dan Miko, jika sampai suaminya tahu anak itu selamat.
"Tapi, apa kau yakin Miko tidak akan menyalahkan ku untuk hal ini?" tanya Lidia yang masih ragu.
"Mungkin saat Mbak memberitahukan kondisiku saat ini, dia akan marah. Tapi, aku pastikan, dia akan berbalik membenciku setelahnya. Aku mohon, Mbak. Tolong aku dan anakku. Biarkankan kami pergi," ucap Sarah dengan mengiba.
Lidia masih bimbang. Namun, dia pun tak mungkin terus-terusan hidup dalam bayang-bayang madunya itu.
"Baiklah. Lagi pula, aku juga tak mau terus menerus berbagi suami dengan mu, apalagi kalau harus merawat seorang anak tiri," ucap Lidia yang terdengar begitu tajam.
Namun, Sarah merasa bersyukur atas kesediaan Lidia untuk membantunya menyembunyikan informasi tentang kelahiran anaknya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Fadil berjalan cepat menuju ke arah kantin. Dia menghampiri temannya yang seorang penyidik, yang tengah mengurus kasus pembuangan bayi beberapa hari yang lalu.
"Man, ikut aku sebentar," perintah Fadil.
Mereka berdua pun kemudian pergi ke sebuah tempat yang terpencil dan jauh dari jangkauan orang-orang, ke sebuah kamar mayat.
Fadil membuka kain putih yang menutup jenazah bayi malang itu.
"Biar aku yang ambil alih bayi ini. Kalau sampai nanti orang tuanya atau pihak keluarganya datang mencari, silakan berikan nomor kontakku. Aku yang kan bertanggung jawab," ucap Fadil dengan mantap.
"Hah … baiklah. Tapi, visumnya sudah selesai bukan?" sahut Firman.
"Sudah. Ini laporannya. Aku hanya akan mengurus pemakamannya saja, dan nggak akan mengambil apapun dari tubub anak malang ini," papar Fadil, sambil menyerahkan berkas laporan visum.
"Kau pergilah ke kantor. Aku akan bantu untuk membuatkan laporannya di sana," seru Firman.
Akhirnya, Firman pun kembali ke kantor kepolisian dan Fadil kembali ke ruangannya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sementara itu, Lidia nampak menghubungi Miko, dan mengatakan jika Sarah sedang berada di rumah sakit. Dia memilih untuk tak mengatakan jika Sarah sudah melahirkan.
"Apa? Kenapa bisa begitu?" tanya Miko yang memekik di seberang sambungan.
"Ya mana ku tau. Dia sendiri yang membuatku kesal. Wajarkan kalau aku mendorongnya," jawab Lidia dengan dinginya.
"Tapi dia sedang hamil besar, Lid. Sekarang, di rumah sakit mana dia?" tanya Miko.
Lidia pun memberitahukan di mana Sarah dirawat. Setelah memberitahukan kondisi madunya kepada sang suami, Lidia pun pamit pulang dan meninggalkan Sarah seorang diri.
Tak berselang lama, Miko pun datang ke rumah sakit, dan mengetahui jika anaknya telah tiada.
Flash back off
.
.
.
.
Maaf, kesiangan😭😭😭😭🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
kasih penjelasan dong Thor... jangan digantung kek jemuran di musim hujan gitu🤭😆
bukannya dulu kau yg nantangin Miko buat nikah lagi saat Miko minta kau untuk hamil, knapa jadi kau salahkan Miko jahat karena dia nikah sm Sarah? mengapa batas sekarang kau mau berubah untuk menjerat Miko kembali padamu lagi? udah telat Lidya!
sekarang saatnya kau instropeksi diri
ngapain masih bertahan dengan laki-laki gak punya pendirian seperti Miko.
dia yg salah, Sarah yg dihujat ibu-ibu bermulut pedas