NovelToon NovelToon
Trauma

Trauma

Status: tamat
Genre:Teen / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Pyrus

Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.

Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.

Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.

Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.

Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Paham 2

"Lo bener hari ini bawa motor sendiri Nis?" tanya Lana.

"Ngga kuat Na gue bawa motor sendiri." Nisa memalingkan pandangannya dari novel yang baru satu paragraf dia baca. Nisa terkekeh sendiri melihat mulut Lana yang manyun seperti lumba-lumba karena ia goda.

"Ya kan gue gatau, kali aja lo udah kayak Denis di serial Sopo Jarwo. Kan tinggal ngebayangin tuh jadi punya kekuatan instan," ketawa Lana.

"Ngaco ah," jawab Nisa lagi kemudian meneruskan membaca novelnya.

"Lo kenapa tadi malam minta gue diem aja kalo ditanya Kak Aldi?" Lana menanyakannya dengan sangat lirih agar temannya tidak bisa mendengarnya.

Nisa mengeluarkan ponsel dari tasnya, membuka pesan yang seseorang kirim tadi malam. "Gara-gara ini Na, tapi lo jangan ember ya. Jangan bilang siapa-siapa dulu."

"Iya iyaa. Itu pasti Linda tuh. Dia kan berkali-kali labrak kamu gara-gara deket sama Kak Aldi."

"Gak tahu juga aku Na, soalnya kan itu gaada fotonya, namanya juga di privasi."

"Menurut lo, gue harus jauhain Kak Aldi apa gimana Na? Pusing gue mikirin itu dari semalem."

"Karena Kak Aldi selalu baik sama gue, jadi lo pertahanin aja."

"Iya sih Na, Kak Aldi mana juga baik banget lagi sama gue. Tapi di lain sisi gue ngga mau punya masalah, apalagi sama kakak kelas."

Jari-jari lana mengetuk kepalanya ikut memikirkan jalam yang terbaik untuk permasalahan sahabatnya itu. Tapi nihil, otaknya tiba-tiba jadi dongo, dia tidak punya pengalaman tentang kisah cinta. Sementara Nisa melamunkan pesan yanh didapatknya tadi malam.

"Apa gue coba bales pesan ini dulu ya Na, siapa tahu kalau ini bukan dari Kak Linda."

"Kalo menurut gue nih ya, fix ini Kak Linda. Setahu gue Kak Aldi dulu pacarnya cuma dia doang." Jemari Lana mengetuk layar ponsel Nisa.

"Tau ah pusing gue!" frustasi Nisa.

"Oy.. bengong aja. Mikir apa lo?" Tangan Faiz lepas dari dagunya setelah ditebas begitu aja sama Deni.Mata Faiz mendelik ke arah Deni, sementara Aldi mengambil kursi yang ada di lain meja kantin untuk dipindahkan agar bisa satu meja dengan Faiz dan Deni.

"Gue mau pesen dulu ya. Lo berdua mau apa? biat gue pesenin sekalian." tanya Deni pada kedua sahabatnya.

"Gue bakso sama es teh aja. Thank" jawab Aldi.

"Lo apa Iz?" ganti Deni menanyai Faiz.

"Samain aja." Jawab Faiz. Setelah beberapa saat, Deni sudah kembali dengan membawa nampan berisi tiga mamgkuk bakso dan tiga es teh tawar.

Deni dan Aldi dengan semangat menyantap bakso mereka masing masing walaupun masih agak panas, mereka tidak masalah. Sementara Faiz hanya mengaduk-aduh kuah baksonya dengan garpu.

"Ahhh.. akhirnya kenyang juga." Deni mengelus-elus perutnya yang merasa agak begah. "Banyak pikiran amat sih lo Iz," celetuk Deni yang melihat Faiz.

"Lo kenapa Iz?" sekarang gantian Aldi yang menanyainya setelah meneguk tetes terakhir es tehnya, karena pertanyaan Deni sebelumnya belum dia jawab.

"Al. Gimana hubungan lo sama adek lo?" tanya Faiz serius. Deni menelan ludahnya kasar saat mendengar pertanyaan Faiz pada Aldi. Jangan-jangan Faiz mau ngomongin masalah Nisa juga ini, Deni sudah berburuk sangka.

"Masih sama Iz. Dia belum bisa nerima."

"Gue kemarin lihat dia di... " sebelum Faiz meneruskan kalimatnya, kakinya sudah terlebih dahulu diinjak oleh Deni. Membuat Faiz meringis menahan rasa sakit.

"Lo lihat dia dimana?" tanya Aldi penasaran.

"Oh itu, gue lihat dia di jalan waktu pulang," jawab Faiz. Deni mengusap dadanya, merasa lega dengan jawaban yang dilontarkan Faiz.

"Lo jangan ngomong dulu sama Aldi." Bisik Deni saat mereka berpisah dan pergi ke arah kelas masing-masing.

Bel berbunyi, menandakan pelajaran untuk hari ini telah selesai. Para siswa memasukkan perlengkapan tulis mereka ke tas mereka masing-masing dan bergegas untuk pulang, hanya beberapa saja yang masih tinggal di sekolah karena melaksanakan piket, ada juga yang tak langsung pulang karena mengikuti ekstrakulikuler sekolah yang satu jam lagi akan dimulai.

"Nis gue duluan ya, ada rapat anggota osis soalnya."

Lana dan Nisa sekarang kelas 11 dan mereka ternyata satu kelas lagi. Nisa memutuskan untuk duduk sebangku lagi dengan Lana, dia tidak ingin ribet harus beradaptasi kembali dengan orang yang dianggapnya masih baru. Lana dilantik menjadi wakil osis karena nilainya terbaik waktu kelas 10 dulu.

Meskipun Lana sangat sibuk akhir-akhir ini karena harus rapat untuk kegiatan MOS, tak menjadikan Nisa merasa jauh karena mereka masih satu bangku. Lana juga masih sering menghubunginya lewat chat. Dan Nisa menghabiskan hari-harinya di sekolah dengan membaca novel saat tak ada Lana dan diluar kegiatan belajar mengajar.

Nisa melangkahkan kaki ke arah parkir menjemput motornya, berpisah dengan Lana yang mengarah ke ruang osis.

Kali ini Nisa tak ingin langsung pulang, dia mengarahkan motornya dengan kecepatan sedang ke toko buku langganannya untuk membeli beberapa novel terbitan terbaru.

Saat akan mendorong pintu toko, Nisa seperti melihat Ergi ada di belakangnya. Ia urungkan untuk membukanya dan berbalikan badan. Ternyata benar, Nisa tak salah melihat dan itu adalah Ergi, jarak mereka kini hanya satu langkah.

"Kamu" ucap Nisa. Sedangkan Ergi yang di depannya terlihat datar saja.

Tujuan Nisa kemari adalah untuk membeli buku, sehingga dia tak ingin mempedulikan Ergi. Kakinya sekarang melangkah ke dalam toko, mencari dan mengambil beberapa buku yang akan dibelinya.

Setelah dirasa cukup, Nisa membayar buku itu dan memasukkannya ke dalam tasnya.

"Lo masih di sini?" tunjuk Nisa pada Ergi yang berdiri tepat di samping pintu toko.

Tapi Ergi hanya menatap Nisa dan mengikutinya.

"Sial. Mau ngapain dia sih," umpat Faiz yang ada agak jauh dari pandangan mereka.

Waktu pulang sekolah, Faiz melihat Nisa yang keluar dari gerbang sekolah. Faiz memutuskan untuk mengikuti Nisa dan ternyata Ergi juga mengikuti Nisa.

Ergi menjangkau lengan Nisa, membuat Nisa menoleh ke arahnya "Ada apa?" tanya Nisa.

"Lo ada hubungan apa sama Aldi?" ucap Ergi datar.

"Tanya sama Kak Aldi aja." Nisa hanya bisa mengatakan itu, dia sendiri bingung harus menjawab apa. Kak Aldi bukan temannya, bukan juga pacarnya.

"Gue serius. Lo punya hubungan apa sama Aldi?" tangan Aldi semakin erat memegang lengan Nisa. Membuat Nisa menahan sedikit rasa sakit.

"Gue nggatau." Nisa berusaha melepaskan cengkeraman tangan Ergi.

"Terus apa hubungan lo sama Faiz?" Ergi kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

Faiz melepaskan tangan Ergi dari Nisa. "Lo mau apa?" tanya Faiz menekan Ergi.

"Oh. Gini nih yang namanya temen. Main di belakang." Ergi tersenyum miring melihat Faiz.

"Apa maksud lo?" Faiz marah.

Ergi menjawab pertanyaan Faiz dengan sebuah pukulan yang mengenai rahang Faiz. Membuat Faiz sedikit mundur dari posisi awal.

Faiz mengelus rahangnya, meminta Nisa untuk melangkah agak mundur sebelumnya dan dia malah maju untuk balas memukul Ergi.

Perkelahian tak terelakkan lagi antara Faiz dan Ergi. Beberapa pukulan mereka layangkan satu sama lain.

Faiz tersungkur ke belakang karena tendangan Ergi yang mengenai bagian perutnya. Faiz memegangi perutnya yang terasa sakit kali ini. Sedangkan Ergi, dia pergi meninggalkan mereka karena orang-orang mulai memperhatikannya dengan tatapan yang teramat ngeri.

"Kak Faiz.. Sini Nisa bantu." Nisa mencoba membangunkan Faiz sekuat tenaga dan membawanya ke teras toko buku yang tidak terkena panas sinar matahari.

"Nis tolong telfon Deni, hp gue di tas." Pinta Faiz yang masih memegangi perutnya.

Nisa membuka tas Faiz kemudian mengambil ponselnya dan mencari nama Deni di pada menu kontak.

"Si Bucin" kata Faiz.

"Apa kak?" tanya Nisa yang tidak tahu maksud dari Faiz.

"Nama kontaknya Si Bucin" perjelas Faiz dengan nada menahan rasa sakit.

Setelah beberapa menit, Deni datang. "Faiz kenapa ini?" tanya Deni serius ke Nisa.

"Udah cepet bantu gue, ke rumah lo aja ya."

Faiz meminta Nisa dan Lana untuk membeli beberapa snack dan minuman. Itu adalah jalan satu-satunya untuk mengusir mereka secara halus. Faiz tak ingin mereka melihat lukanya. Tak ingin mereka melihat rasa sakit yang dirasakan Faiz.

Nisa dan Lana menurut, kemudian pergi ke warung dekat rumah untuk membelinya.

"Kak Faiz berantem sama siapa sih Nis kok bisa sampe gitu. Lo juga kenapa bisa bareng dia?" Lana penasaran dan langsung menanyakannya saat di jalan.

"Ergi."

"Kak Faiz berantem sama Ergi?" Lana laget melotot tak percaya ke Nisa.

"Karena gue Na," Nisa menundukkan kepalanya. "Tadinya Ergi nanya sama gue tentang hubungan gue sama Kak Aldi. Tapi Kak Faiz datang dan membuat mereka akhirnya saling pukul."

"Ergi tahu hubungan lo sama Kak Aldi?"

Nisa menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Lana "waktu itu Kak Aldi ngundang gue buat makan malam di rumahnya, di sana ada Ergi."

"Terus apa hubungannya sama Kak Faiz?" heran Lana.

"Panjang kalo diceritain Na. Lo kenapa udah pulang, bukannya tadi ada rapat osis?" tanya Nisa mengalihkan.

"Selesai cepet soalnya cuma cek buat besok aja."

Deni mengobati dan mengompres wajah serta perut Faiz yang berwarna biru lebam akibat pukulan dan tendangan keras dari Ergi."Ahh... pelan pelan napa Den. Sakit bege"

"Ya elah, lo gausah banyak bacot. Ini juga udah pelan. Udah lo diem aja!."

"Habisnya lo ngompres gak ada perasaan sama sekali. Malah semakin sakit."

"Udah gausah cerewet. Nih kompres sendiri aja sisanya." Deni memberikan paksa kain yang dipegangnya ke Faiz untuk dilanjutkan sendiri.

"Den. Ternyata si Ergi nganggep kalo gue ada hubungan sama Nisa." Ucap Faiz yang masih mengompres perutnya, "berarti dia udah tau kalo Aldi suka sama Nisa."

"Lo sempet jelasin ke Ergi?"

"Boro-boro jelasin Den, Ergi pergi gitu aja setelah buat gue gini."

Sementara di rumah, Aldi melihat Ergi pulang dengan wajah merah dan darah yang ada di sudut bibirnya. "Habis berantem lagi?" tanyanya.

Ergi sudah biasa dengan kondisi seperti itu saat pulang sekolah. Dia suka meladeni orang-orang yang membuat masalah dengannya, karena dengan begitu dia bisa melampiaskan kekesalannya.

1
mama yogi
Nisa nya terlalu di buat lembek
ANAA K
Boomlike mendarat mulus ka😉👍🏾
ANAA K
Keren
ANAA K
The best👍🏾
ANAA K
Wah keren👍🏾
ANAA K
Semangat selalu👍🏾
ANAA K
Aku mendukungmu kak👍🏾
ANAA K
Semangat yah kak
ANAA K
Boomlike hadir thor👋🏾 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿 mari kita saling mendukung👍🏾😉
ANAA K
Semangat yah🙏🏿
ANAA K
Lanjut thor👍🏾 ceritanya keren😉👍🏾
ANAA K
Semangat yah thor😉👍🏾
ANAA K
Semangat thor. Aku mendukungmu thor😉👍🏾
Fania kurnia Dewi
mampir thor
Santai Dyah
lnjut thor salam kenal dari Kabut cinta
Rini Haryati
teimakasih
Rini Haryati
bagus
Ummi Islah
sad bangettt thor😢😢😢😢
TickleStar
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
Daisy Louise
Ceritanya bagus, kok, thor. Jangan lupa perhatiin tanda baca ya, hehe.. Fighting fighting kakak author‾
Pyrus: Terima kasih 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!