NovelToon NovelToon
My Boss My Husband

My Boss My Husband

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:6.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sept

Yuk senam bibir, cerita Sarasvati yang kocak dalam menghadapi majikannya yang lumpuh.

Terlahir kaya raya membuat Dewa bersikap arrogant dan dingin kepada siapa saja. Terutama mahluk yang bernama wanita. Namun, ketika melihat mantan pacarnya bermesraan di suatu pesta, ia menyeret dengan asal seorang gadis dan mengaku pada semua tamu undangan, mereka akan segera menikah.
Sartika Sarasvati, si gadis miskin yang tidak tahu apa-apa. Ia harus terlibat dengan bongkahan es tersebut gara-gara mengantar dompet pelangan yang tertinggal di cafe tempatnya bekerja. Ya, Tika hanya gadis pelayan di sebuah cafe. Tapi, malam ini semua mata tertuju pada gadis manis yang tangannya digengam oleh CEO Diamondland, perusahaan real estate nomor satu di Indonesia. Apa mereka akan menikah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIPECAT

Jerat Cinta Tuan Muda 27

Rate 18

Oleh Sept

"Yah ... kotor, Tika ambilin botol yang lain di dalam mobil ya, Tuan?" Tika mengusap permukaan botol minuman yang terkena pasir. Terlihat kotor, pasti Tuan mudanya tidak mau. Ia hafal betul dengan pria higenis tersebut.

"Tidak! Tidak usah." Dewa langsung menolak.

"Katanya haus?" Tika mengeryitkan dahi. Katanya haus, mau diambilin kok nggak mau. Dasar aneh!

"Aku bilang tidak usah." Nada bicaranya sudah mulai meninggi. Bukan karena Dewa marah pada gadis tersebut. Isi kepala Dewa sedang kacau, bayangan gunung Merbabu membuatnya tidak fokus. Ah, sial! Mengapa otaknya mulai konslet.

"Antar aku ke sana!" perinta Dewa kemudian. Ia melirik ke arah kafe pinggir pantai.

"Tuan lapar?"

"Sudahlah Tik. Jangan banyak nanya ... cepat ke sana."

"Baik, Tuan." Tika dengan masam mendorong kursi roda Tuan mudanya itu.

Setelah sampai, Dewa melambai ke pelayan kafe. Memesan apa yang inginkan. Tidak lupa juga memesankan apa yang Tika mau.

***

Dari jauh, Kris sang mata-mata terus saja mengamati keduanya. Pria berpakaian rapi dan serba hitam tersebut terlihat juga sedang berbicara. Kris sedang ditelpon oleh Nyonya Bos. Mama Dewa terlihat gusar ketika melihat potret sang putra yang dikirim Kris barusan.

"Sudah! Tetap awasi mereka, dan jangan kirim lagi gambarnya!" cetus Mama kemudian memutus sambungan telponnya. Ia benar-benar marah melihat kedekatan Tika dan Dewa yang dirasa tidak wajar. Harusnya Dewa menjaga jarak dengan pelayan itu, pikir Mama.

Sedangkan Dewa, ia kini sedang menikmati air kelapa muda sambil menatap pantai. Sengaja ia tidak mau menatap Tika yang ada di dekatnya. Gadis itu hanya membuatnya gagal fokus. Dan pikirannya traveling ke mana-mana.

Si Tika sendiri juga tengah menikmati camilan. Angin pantai yang berhembus, lama-lama membuatnya kedinginan. Bajunya belum kering, melihat hal itu, Dewa pun mengajak balik ke mobil.

"Sudah habis? Ayo balik!" ajak pria tersebut.

"Tapi ... baru sebentar, itu belum habis, kan?" Tika menunjuk kelapa muda di depan Dewa.

"Tidak apa-apa, ayo pulang."

Tika hanya manggut-manggut, kemudian kembali mendorong kursi roda menuju mobil mereka terparkir.

"Balik sekarang, Tuan?" tanya Pak sopir ketika melihat Dewa dan Tika datang mendekat.

"Hem!" Dewa hanya mengangguk pelan.

***

WUSHHH

Mobil meluncur membelah jalan, melintasi bayang-bayang pohon kelapa di tepi jalan. Baik Tika maupun Dewa sama-sama diam di kursi belakang. Sesekali pria itu kembali melirik.

"Matikan AC-nya, Pak!" titah Dewa tiba-tiba. Ia melihat Tika merasa kedinginan.

Sedangkan Pak sopir, tanpa berbicara, ia hanya mengangguk kemudian mematikan AC mobilnya.

"Bagaimana? Apa masih dingin?" tanya Dewa sembari menatap Tika.

"Sedikit!"

"Ish! Siapa suruh kau main air, Tika!" cecar Dewa yang kesal. Ia sebenarnya tidak tega melihat Tika yang memeluk tubuhnya sendiri seperti itu. Tapi bagaimana lagi, tidak mungkin ia menghangatkan gadis itu dengan memeluknya. Sangat gegabah dan berbahaya!

"Pakai ini!"

Dewa meraih kain tebal di belakangnya. Bisanya ia pakai untuk selimut atau menutupi tubuhnya di atas kursi roda.

"Tidak, Tuan ... terima kasih. Tika tidak apa-apa."

"Astaga! Jangan keras kepala! Lihat ... bibirmu sudah pucat begitu!" sentak Dewa.

"Ah ... beneran Tika nggak apa-apa."

Kesal, Dewa langsung menyelimuti Tika.

"Jangan banyak bicara! Pakai ini."

Seketika itu, Tika langsung membisu. Tidak membantah dan tidak bergerak. Perhatian dari Dewa membuatnya goyah.

"Astaga Tika! Jangan sampai kamu ada rasa!" rutuk Tika dalam hati.

Saat Tika sedang berjibaku dengan pikirannya, Dewa sudah menatap lurus ke depan. Matanya nampak kosong, mungkin matanya melihat ke depan, tapi hati dan pikirannya terus dibayang-bayangi Tika.

Ya ampun, sepertinya ia sudah terkontaminasi virus Tika. Karena dalam kepalanya Tika terus saja berputar-putar di sana.

***

"Tuan ... Tuan muda!" Dewa tersentak kaget. Rupanya cukup lama pria itu melamun, sampai tidak sadar dari tadi Tika memanggil-manggil namanya.

"Sudah sampai," ucap Tika dengan senyum mengandung banyak gula.

Gila! Gadis itu malah tersenyum manis ke arahnya. Ya ampun! Dewa merutuk, mengumpat, menyumpahi diri sendiri. Ada yang tidak beres, entah pada diri Tika atau justru pada jantungnya.

"Hem!" Pria itu membuang muka. Terlalu bahaya dekat-dekat dengan Tika untuk saat ini.

"Kau boleh pergi, aku bisa sendiri!" ucapnya setelah sudah memasuki rumah. Secara tak langsung, Dewa mengusir Tika. Ia butuh waktu untuk menata hati.

Tika yang tidak curiga, ia lantas ke kamarnya. Dan di ujung tangga sana, sorot mata mama dipenuhi rasa benci. Ia sangat marah, apalagi dilihatnya Tika memakai sweater milik Dewa.

"Berani kamu Tika!" gumam mama sembari meremas peganggan tangga.

Malam harinya, dari tadi Dewa menanti makan malamnya. Tumben tidak ada yang datang, padahal baru telat lima menit dari jam makan. Tapi pria itu terlihat cemas dan klimpungan.

KLEK

"Lama sekali kamu, Tik!" sentaknya.

"Maaf, Tuan. Ini makanannya."

"Tika mana?" Dewa melotot pada Mbak Mar. Mengapa pelayannya ganti? Ke mana si Tika?

"Anu ... anu, Tuan ..." Mbak Mar kelihatan gugup, takut cerita yang sebenarnya.

"Katakan dengan jelas!" sentaknya lagi.

"Itu ... Tika sudah tidak ada di sini."

"Ngomong apa Mbak Mar ini? Bicara yang jelas!" tuntut Dewa setengah emosi.

"Tika dipecat, Tuan."

Wajah Dewa seketika langsung mengeras. Bersambung.

Yuk kenalan sama mak Sept

Instagram : Sept_September2020

1
Winny Anpooh
Luar biasa
juwita
emg laki-laki mah pasti blgnya mijitin tp ujung"nya tanganya pijit yg lain. 🤣🤣
juwita
beda dr yg lain paku payung ini mah wkwkwk
juwita
pake cabe bibirnya biar panas 🤣🤣
juwita
satu x cium 20 jt 3 x dpt 60 jt sok lah gaskeun tika🤣🤣🤣
JesiraSeni
Luar biasa
Nurmiati Aruan
aih Mak .. bukan tangan dan kaki az yg kapalan.... lidah juga bisa kapalan 🤣
Nurmiati Aruan
itu mah dewa yang mau 🤣
Nurmiati Aruan
ahh si tuan muda jatuh cinta 🤭
Nurmiati Aruan
ada apa dengan mama nya dewa
Kaka Siregar
Lumayan
Mei Prw
luar biasa
Memyr 67
𝗲𝗶𝘁𝘀 𝗺𝗮𝗶𝗻 𝗻𝗶𝗸𝗮𝗵 𝗮𝗷𝗮. 𝗶𝘁𝘂 𝘀𝗶 𝗺𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗵 𝘂𝗿𝗶𝗻𝗴 𝘂𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻
Memyr 67
𝗽𝗲𝗴𝗮𝘄𝗮𝗶 𝘀𝘂𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗰𝘂𝗿𝗶 𝘀𝗲𝗲𝗻𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗼𝗱𝗲𝗹 𝗺𝗯𝗮𝗸 𝗺𝗮𝗿, 𝗸𝗼𝗸 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗯𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗲𝘄𝗮?
Memyr 67
𝘁𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝗱𝗲𝗮 𝗱𝗮𝗻𝗶𝗲𝗹, 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗻𝗼𝘃𝗲𝗹 𝘁𝗼?
Henym
Luar biasa
oncom
😭😭😭😭😩🤙🏻🤙🏻
oncom
ahahahaha lucu
oncom
kurang asem ngabrut
oncom
hahahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!