Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2
Mentari pagi baru saja menyembul dari balik gedung-gedung kota. Udara masih terasa sejuk, sementara jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang berangkat bekerja dan para mahasiswa yang bersiap menuju kampus.
Di sebuah rumah kontrakan sederhana, suara alarm ponsel berbunyi nyaring.
Triing... Triing... Triing...
Angela meraba-raba meja di samping kasur dengan mata yang masih terpejam.
"Ya ampun... berisik banget..."
Bukannya menemukan ponsel, tangannya justru menyenggol botol minum hingga terjatuh ke lantai.
Bruk!
Angela langsung membuka sebelah matanya.
"Aduh! Pagi-pagi udah bikin kaget."
Dengan rambut yang masih berantakan, ia akhirnya berhasil mematikan alarm, lalu menggeliat panjang.
"Hari kedua kuliah... semangat, Angela."
Ia turun dari tempat tidur sambil menyeret sandal. Setelah membuka gorden, cahaya mentari pagi langsung masuk dan memenuhi kamar mungilnya. Angela menarik napas dalam-dalam.
"Cuacanya enak juga."
Tak ingin terlambat, ia segera melangkah menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian, suara gemericik air mulai terdengar. Beberapa menit setelahnya, Angela keluar dengan handuk kecil yang disampirkan di bahunya. Ia berdiri di depan lemari, menatap isinya sambil berpikir sejenak.
"Hmm... pakai yang mana, ya?"
Tangannya mengambil sebuah rok lipit.
"Nggak, deh."
Rok itu dikembalikannya ke dalam lemari. Lalu tangannya beralih mengambil hoodie.
"Kepanasan."
Akhirnya, ia memilih kaus putih polos, celana jeans biru, dan jaket denim favoritnya.
"Nah... ini baru gue."
Angela mengikat rambut panjangnya menjadi satu kuncir sederhana, lalu bercermin sambil tersenyum puas.
"Oke. Siap berangkat."
Tiba-tiba perutnya berbunyi.
Kruuuk...
Angela memegang perutnya sambil tertawa kecil.
"Iya, iya... sarapan dulu."
Ia berjalan menuju dapur mungil. Di sana hanya tersedia sepotong roti tawar, sebutir telur, dan sekotak susu.
Angela mulai menggoreng telur sambil memanggang roti. Sesekali ia bersenandung pelan mengikuti lagu yang diputar dari ponselnya.
"Semoga hari ini lebih tenang dari kemarin."
Beberapa menit kemudian, ia duduk di meja makan kecil. Baru saja hendak menyuapkan gigitan pertama...
Ponselnya bergetar.
Ting.
Sebuah pesan masuk.
Raymond: Udah bangun?
Angela langsung mendelik.
"Baru jam segini udah nge-chat."
Ia segera mengetik balasan singkat.
Angela: Udah.
Tak sampai tiga detik...
Balasan kembali masuk.
Raymond: Sarapan dulu.
Angela menghela napas.
Angela: Lagi makan.
Raymond: Bagus.
Raymond: Jangan buru-buru.
Angela menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Kenapa rasanya kayak lagi diawasin, sih?"
Setelah selesai sarapan, ia mencuci piring, memasukkan kotak bekal ke dalam tas, lalu memeriksa isi ranselnya satu per satu.
"Laptop, dompet, power bank, kartu mahasiswa. Oke, aman." setelah memeriksa semua perlengkapannya, Angela kemudian mengenakan sepatu kets putih kesayangannya.
Beberapa menit pun berlalu.
Angela mengunci pintu kontrakannya, lalu memasukkan kunci ke dalam tas kanvas yang sudah mulai pudar warnanya. Ia menepuk-nepuk saku depan tas untuk memastikan dompet dan ponselnya tidak tertinggal. Setelah itu, ia melangkah santai menuju motor matic tuanya yang terparkir di depan pagar.
Baru dua langkah berjalan, suara gesekan ban dengan aspal memecah keheningan pagi.
Ciiit...
Sebuah mobil sport berwarna hitam mengilap berhenti tepat di depan pagar kontrakan. Kilauan bodinya memantulkan cahaya matahari pagi hingga tampak begitu mencolok di antara deretan rumah sederhana di gang itu. Beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman bahkan sempat melirik penasaran.
Angela mengangkat sebelah alis.
"Mobil siapa pagi-pagi begini?"
Pintu mobil terbuka perlahan.
Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan gerakan tenang. Raymond mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang lengan bajunya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan abu-abu gelap dan jam tangan berdesain elegan di pergelangan kirinya. Penampilannya tidak berlebihan, tetapi aura berkelas yang melekat padanya tetap sulit disembunyikan.
Kontras sekali dengan lingkungan sederhana tempat Angela tinggal.
Begitu pandangan mereka bertemu, Raymond menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Selamat pagi."
Angela hanya berkedip beberapa kali.
"..."
Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan Raymond benar-benar sedang berbicara kepadanya.
Setelah yakin tidak ada orang lain di sekitar, ia menunjuk dirinya sendiri.
"Lo... ngapain di sini?"
"Jemput lo."
Jawaban itu keluar begitu saja, datar, seolah hal tersebut adalah sesuatu yang sangat biasa.
Sebaliknya, Angela justru mengerutkan dahi.
"Bentar."
Ia kembali menunjuk dirinya sendiri dengan wajah penuh tanda tanya.
"Maksud lo... jemput gue?"
Raymond mengangguk singkat.
"Iya."
Angela memijat pelipisnya pelan.
"Serius?"
"Iya."
"Tapi... kok lo tahu rumah gue?"
Raymond terdiam sesaat sebelum menjawab santai.
"Nyari."
Angela langsung memasang wajah curiga.
"Nyari gimana?"
"Ya... nyari."
Jawaban singkat itu justru membuat rasa penasaran Angela semakin menjadi.
"Rumah gue nggak muncul di Google Maps, kali."
Sudut bibir Raymond terangkat. Ia terkekeh pelan, suara tawanya rendah, tetapi terdengar hangat.
"Itu urusan gampang."
Angela memicingkan mata sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Jangan bilang... lo nyuruh orang nyari alamat gue?"
Raymond tidak membantah. Tatapannya tetap tenang, seolah menganggap hal itu bukan sesuatu yang perlu dijelaskan panjang lebar.
Melihat reaksi tersebut, Angela menepuk dahinya pelan.
"Ya ampun... niat banget."
Ia benar-benar tidak habis pikir.
Mereka baru saling mengenal kemarin.
Bahkan, kalau dihitung, jumlah percakapan mereka belum sampai puluhan kalimat.
Namun pagi ini, Raymond sudah berdiri di depan rumah kontrakannya, lengkap dengan mobil mewah yang nilainya mungkin bisa membeli seluruh deretan kontrakan di gang itu.
Angela mengembuskan napas panjang.
"Cowok ini sebenarnya kenapa, sih?" batinnya.
"Kemarin tiba-tiba nyuruh cowok lain menjauh dari gue. Malamnya entah gimana bisa dapat nomor HP gue. Sekarang... dia bahkan tahu alamat rumah gue."
Semakin dipikirkan, semakin sulit dipahami.
Tatapan Angela perlahan turun dari wajah Raymond hingga ke sepatu kulit mahal yang dikenakannya.
Lalu ia melirik motornya sendiri yang mulai kusam.
Perbedaan dunia mereka terasa begitu nyata.
Yang satu datang dengan mobil sport seharga miliaran.
Yang satu lagi masih setia mengendarai motor yang sudah menemaninya sejak SMA.
Harusnya mereka tidak pernah berada dalam satu garis kehidupan.
Namun entah kenapa, pria itu terus muncul di hadapannya.
Angela kembali mengangkat wajah.
"Jujur deh."
"Hm?"
"Lo lagi ngerjain gue, ya?"
Raymond terlihat sedikit bingung.
"Ngerjain?"
"Iya."
Angela mengangkat kedua bahunya.
"Jangan-jangan ini tantangan dari teman-teman lo. Gue pernah dengar, anak-anak orang kaya suka bikin taruhan aneh."
Raymond menggeleng pelan.
Sorot matanya berubah lebih serius.
"Gue nggak pernah bercanda soal lo."
Kalimat itu diucapkan tanpa keraguan sedikit pun.
Tidak ada senyum jahil.
Tidak ada nada menggoda.
Hanya ketulusan yang justru membuat Angela kehilangan kemampuan untuk membalas.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah jalan agar Raymond tidak menyadari perubahan ekspresinya.
"Kenapa dia ngomongnya selalu serius, sih?" gumamnya lirih.
Angela mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa hangat.
"Raymond..."
"Iya?"
"Gue masih belum ngerti."
"Ngerti apa?"
"Kenapa lo baik banget sama gue? Padahal kita baru kenal."
Raymond menatap mata Angela cukup lama.
Tatapannya tetap tenang, tetapi kali ini terasa jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.
Seolah tembok dingin yang selama ini mengelilinginya mulai retak sedikit demi sedikit saat berada di dekat gadis itu.
"Mungkin..."
Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan di antara mereka terasa begitu jelas.
Angin pagi berembus pelan, mengibaskan beberapa helai rambut Angela ke depan wajahnya.
Tanpa sadar, Raymond memperhatikan pemandangan sederhana itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"...karena dari pertama kali lihat lo..."
Ia tersenyum tipis.
"...gue merasa ada sesuatu yang berbeda."
Kalimat itu membuat dada Angela berdesir pelan.
Ia spontan tertawa kecil, bukan karena merasa lucu, melainkan untuk menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.
"Jawaban lo malah bikin gue makin bingung."
Raymond ikut tersenyum tipis.
Senyumnya memang singkat, tetapi cukup untuk mengubah wajah dinginnya menjadi jauh lebih hangat.
"Nggak apa-apa."
Angela mengangkat alis.
"Kenapa nggak apa-apa?"
Raymond melangkah mendekat.
Jarak di antara mereka kini hanya terpaut satu langkah.
Dengan gerakan alami, ia membuka pintu mobil di sisi penumpang, lalu menoleh kepada Angela.
"Soalnya..."
Ia menatap gadis itu lekat-lekat.
Tatapannya penuh keyakinan, seolah tidak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya.
"...gue masih punya banyak waktu buat bikin lo pelan-pelan ngerti."
Angela terdiam.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih kencang dibanding sebelumnya.
Ia menatap Raymond beberapa saat tanpa berkedip. Lalu, tanpa sadar, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Gawat... kalau dia terus bersikap kayak gini, jangan-jangan benteng pertahanan gue yang runtuh lebih dulu." Di dalam hati, ia mengeluh pelan.
"Siapa sebenarnya Raymond?" batinnya. "Dan kenapa rasanya dia seperti sudah mengenalku jauh lebih lama daripada yang kukira?"
Angela masih berdiri di depan pagar kontrakannya. Tatapannya bergantian antara mobil sport hitam milik Raymond dan motor matic kesayangannya yang terparkir di teras.
Ia menunjuk motornya.
"Raymond."
"Hm?"
"Gue masih punya motor."
"Tahu."
"Terus kenapa harus naik mobil lo?"
Raymond menjawab tanpa ragu.
"Biar gue yang antar."
Angela mengembuskan napas panjang.
"Lo tuh susah banget dibilangin."
"Memang."
Jawaban santai itu membuat Angela spontan memutar bola matanya.
"Kenapa sih, semua jawaban lo bikin orang pengen nyubit?" Raymond menatapnya datar.
"Mau nyoba?" Angela yang tadi kesal malah tertawa kecil.
"Ish... pede banget." Raymond membuka pintu mobil untuknya.
"Masuk." Angela masih diam di tempat.
"Kalau gue nolak?"
"Gue tunggu."
"Kalau gue tetap naik motor?"
"Gue ikut di belakang." Angela menghela napas pasrah.
"Kalau gue muter-muter kota dulu?"
"Gue ikut muter."
Angela menatap Raymond beberapa detik, lalu geleng-geleng kepala sambil tertawa.
"Lo menang."
Akhirnya ia masuk ke dalam mobil.
Begitu pintu tertutup, aroma lembut parfum bercampur wangi kulit jok mobil langsung menyambutnya. Angela melihat ke sekeliling dengan rasa kagum.
"Mobil lo... bersih banget."
Raymond duduk di kursi kemudi sambil memasang sabuk pengaman.
"Gue nggak suka berantakan."
"Pantes." Angela memperhatikan dashboard mobil yang terlihat rapi tanpa hiasan berlebihan.
"Bahkan nggak ada boneka."
"Buat apa?"
"Biar lucu." Raymond melirik Angela sekilas.
"Udah ada." Angela mengernyit.
"Mana?" Raymond tersenyum tipis.
"Duduk di sebelah gue." Angela membelalakkan mata, wajahnya langsung memanas.
"Lo lagi ngeledekin gue?"
"Nggak." Raymond terdiam sejenak, "Gue ngomong jujur." Angela mendengus pelan sambil memalingkan wajah ke jendela.
"Dasar aneh." Raymond tidak membalas.
Namun, sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat. Mobil melaju perlahan meninggalkan kawasan kontrakan.
Sepanjang perjalanan, Angela lebih banyak memperhatikan pemandangan di luar. Jalanan mulai padat oleh kendaraan yang berangkat bekerja. Di beberapa lampu merah, pedagang sarapan tampak sibuk melayani pembeli, sementara siswa berseragam bergegas menuju sekolah.
Angela memecah keheningan.
"Raymond."
"Iya."
"Lo tiap hari berangkat sepagi ini?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Banyak kerjaan."
"Kerjaan kampus?"
"Bukan." Angela menoleh penasaran.
"Terus?"
"Perusahaan." Angela berkedip.
"Lo... kerja?"
"Lebih tepatnya bantu keluarga." Angela mengangguk pelan.
"Pasti capek, ya."
"Udah biasa." Suasana kembali hening.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di lampu merah.
Di luar, seorang nenek penjual tisu berjalan menghampiri kendaraan yang berhenti.
Raymond membuka sedikit kaca mobil.
"Nek."
Nenek itu tersenyum ramah.
"Iya, Nak."
"Saya beli semuanya."
Angela menoleh cepat.
"Semuanya?" Raymond mengangguk.
"Iya."
Nenek itu tampak terharu saat menerima uang yang diberikan Raymond.
"Terima kasih banyak, Nak. Semoga rezekinya makin lancar." Raymond hanya mengangguk pelan.
"Sama-sama."
Lampu berubah hijau.
Mobil kembali melaju.
Angela diam cukup lama. Ia menatap Raymond dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya.
"Orang ini..." batinnya.
"Kelihatannya dingin banget, tapi ternyata diam-diam perhatian juga." Raymond yang menyadari tatapan Angela melirik sekilas.
"Kenapa?" Angela buru-buru menggeleng.
"Nggak."
"Yakin?" singkatnya.
"Iya."
Meski menjawab begitu, di dalam hati Angela mulai muncul rasa penasaran yang semakin besar.
Mungkin... Raymond tidak sedingin yang diperlihatkannya kepada dunia.
***
Mobil sport hitam itu melaju mulus menuju kawasan kampus. Semakin dekat ke gerbang utama, semakin gelisah Angela dibuatnya.
Saat mobil berhenti di lampu merah yang berada di persimpangan menuju kampus, Angela melirik Raymond yang sedang memegang setir dengan santai.
"Ray?" panggil Angela pelan.
"Hm?"
"Turunin gue di sini aja." Raymond mengernyit tipis namun tidak ada niat berhenti.
"Kenapa?" singkatnya. Angela menunjuk ke arah gerbang kampus yang tinggal beberapa puluh meter lagi. jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
"Kalau gue jalan dari sini juga nyampe. Nggak usah sampai depan fakultas." Raymond kembali menoleh sekilas ke arahnya.
"Nggak." Angela terkejut saat mendengar jawaban itu.
"Raymond, serius. Nanti orang-orang salah paham."
"Mereka bebas mikir apa."
"Yang repot gue."
Lampu lalu lintas berubah hijau, alih-alih menepikan mobil, Raymond justru kembali menginjak pedal gas dan membawa mobilnya memasuki area kampus.
"Raymond!"
"Gue udah bilang, nggak." ucapnya pelan namun terdengar tegas. Angela menyandarkan punggungnya ke kursi, pasrah.
"Dasar keras kepala." Raymond hanya tersenyum tipis di sudut bibirnya.
"Lo gue antar sampai depan fakultas." Beberapa menit kemudian, mobil sport hitam itu berhenti tepat di depan gedung fakultas.
Begitu mesin dimatikan, puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah mereka.
"Eh... itu mobil Raymond, kan?"
"Iya!"
"Tunggu... siapa yang ada di kursi penumpang?"
Angela yang semula hendak membuka pintu mendadak mengurungkan niatnya. Ia melirik ke luar jendela dan mendapati banyak mahasiswa sudah memperhatikan mobil mereka.
"Waduh..." Raymond menoleh.
"Kenapa?" ucapnya santai.
"Semuanya lagi ngelihatin." Raymond mengikuti arah pandangnya, lalu kembali menatap Angela dengan wajah datar.
"Terus?" Angela menatapnya tak percaya.
"Terus katanya? Ya jelas, Gue malu!" Raymond membuka sabuk pengamannya.
"Kalau terus nunggu di sini, yang lihat malah makin banyak." Angela mendesah pasrah.
"Iya juga..." Raymond turun lebih dulu dari mobil. Ia berjalan memutar menuju sisi penumpang, lalu membuka pintu untuk Angela.
"Nah, sekarang turun." Angela menatap Raymond beberapa detik sebelum akhirnya menyerah.
"Oke... kalau nanti kampus heboh, itu salah lo."
Raymond mengangkat bahu santai.
"Siap."
Angela pun turun dari mobil sambil merapikan ransel di bahunya.
Namun baru saja kedua kakinya menginjak aspal, suasana di sekitar mereka mendadak berubah hening.
Puluhan pasang mata tertuju kepada mereka.
Beberapa mahasiswa bahkan langsung mengeluarkan ponsel, seolah tak ingin melewatkan momen langka ketika Pangeran Kampus mengantar seorang mahasiswi hingga ke depan fakultas.
Angela mematung sesaat.
Puluhan tatapan mengarah kepadanya tanpa berkedip. Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai penjuru halaman fakultas.
"Itu cewek yang bareng Raymond?"
"Iya. Dia benar-benar dianter sampai depan gedung."
"Siapa, sih? Mahasiswa baru?"
Angela menarik napas dalam-dalam. Ia meraih tali ranselnya, lalu menatap Raymond dengan kesal.
"Nih, kan. Gue udah bilang."
Raymond hanya mengunci mobilnya dengan menekan remote.
"Biarin aja."
"Biarin gimana? Besok-besok nama gue udah jadi bahan gosip satu kampus."
Raymond melangkah santai melewati Angela.
"Kalau udah selesai ngeluh, ayo."
Angela mendengus pelan.
"Nyebelin." Meski begitu, ia tetap menyusul langkah Raymond.
"ANGELA!" tiba-tiba terdengar suara seruan dari arah depan. Angela menoleh dengan raut muka cemberut.
Maya berlari kecil sambil melambaikan tangan. Begitu sampai di depan Angela, langkahnya langsung terhenti. Pandangannya bergantian menatap Angela, lalu Raymond yang berdiri tak jauh di sampingnya.
Matanya membulat.
"Astaga... gue nggak salah lihat, kan?"
Angela langsung mengangkat kedua tangannya.
"Lo jangan mulai."
"Mulai apanya? Satu fakultas juga lihat lo turun dari mobil Raymond!"
Angela menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Nah, itu dia masalahnya." Maya menatap Angela penuh rasa penasaran.
"Jadi... kalian sekarang apa?"
"Bukan apa-apa."
"Terus kenapa dia nganterin lo?" Angela menunjuk Raymond dengan wajah pasrah.
"Tanya aja sendiri. Gue udah minta turun di persimpangan kampus, tapi dia nggak mau."
Maya menoleh ke arah Raymond.
"Serius, Kak?" Raymond menjawab singkat.
"Iya."
"Lho, kenapa?" tanya Maya penasaran.
"biar lebih aman." Jawaban singkat itu justru membuat Maya makin salah paham. Ia menatap Angela sambil menaik-turunkan alisnya.
"Wih... perhatian banget." Angela buru-buru menggeleng.
"Bukan begitu maksudnya." Raymond menatap Maya.
"Kalau gue lagi nggak ada, tolong temenin Angela." Maya spontan menunjuk dirinya sendiri.
"Gue?"
"Iya."
"Oke... siap." jawab Maya penuh semangat sambil tangan sebelahnya memberi hormat.
Angela langsung memelototi Raymond.
"Eh, siapa yang nyuruh lo nitipin gue?" Raymond menatapnya tenang.
"Gue."
"Gue bisa jaga diri sendiri."
"Tahu."
"Terus?"
"Gue tetap lebih tenang kalau ada yang nemenin." Kalimat itu membuat Angela kehilangan kata-kata, ia hanya bisa mendesah pelan sambil memalingkan wajahnya. Maya yang melihat interaksi mereka nyaris tertawa.
"Kalau begini terus, gosip di kampus bakal meledak hari ini juga." batinnya.
Di sisi lain halaman, sekelompok mahasiswi memperhatikan mereka dengan tatapan iri.
"Itu cewek baru, ya?"
"Iya. Berani banget dekat sama Raymond."
"Baru masuk kampus aja udah dianter Pangeran Kampus."
"Jangan-jangan mereka pacaran?" Bisikan demi bisikan semakin menyebar.
Tanpa disadari Angela, sejak ia melangkah turun dari mobil sport hitam itu...
Namanya telah menjadi topik pembicaraan di seluruh fakultas.
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y