Kekerasan yang dialami mawar dimasa kecil
membuat nya terperangkap dimasa lalu nya.
sehingga menjadikan diri nya seperti setangkai mawar yang tak bisa disentuh
penghinaan yang diterima Putra telah mengikis semua harga dirinya. Bahkan perceraian nya pun menyandarkan nya pada kenyataan pahit.
bisakah sebentuk ketulusan membalikan hidup mereka?
hanya cinta sejati yang bisa menyembuhkan luka. bersediakah mereka berjuang bersama untuk melepaskan diri dari kelam nya masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kevin N Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar 21
Mawar melototkan matanya.
"Kau memang sedang sakit, jadi bersikaplah seperti orang sakit." geram Mawar.
"Terserahlah, aku pasti akan sangat bosan."
"Kau akan beristirahat dan aku akan mengawasimu." kekeh Mawar.
°°°°
Sepanjang hari dihabiskan Putra dengan menonton televisi, memutar film, dan berkeliling rumah. Lewat tengah hari merasa bosan akhirnya Putra ke dapur mengganggu Yuyun yang sedang membuat makan malam. Hasilnya Yuyun sangat kesal karena Putra selalu mengganggunya, beruntung Putra sedang sakit, kalau tidak sudah bisa dipastikan tangkai sapu Yuyun akan mendarat sempurna ditubuhnya.
Merasa cukup terhibur dengan menggoda Yuyun, akhirnya dia ingin mencoba melakukan hal yang sama terhadap Mawar. Setelah berkeliling rumah akhirnya dia mendapati gadis itu diruang kerjanya. Melihat Mawar tampak serius dengan berbagai kertas di mejanya, Putra semakin bergairah untuk mengganggu Mawar. Tentu saja Mawar tidak diam saja atas perbuatan Putra, gadis itu sengaja memasang wajah galak ketika melihat Putra memasuki ruang kerjanya. Mawar segera melempar Putra dengan gulungan kertas dan apa saja yang dia temui di meja kerjanya. Putra tertawa terbahak-bahak sambil menghindari serangan Mawar. Namun saat Mawar mencoba melempar Putra dengan buku besar, Putra segera berlari keluar sambil tertawa jahil. Namun tidak lama kemudian Putra sudah kembali menggoda Mawar dan membuat gadis itu semakin kesal.
°°°°
Saat makan malam, mereka semua berkumpul di meja makan. Namun Bambang sedikit heran dengan raut wajah wanita-wanita kesayangan. Mawar dan Yuyun memasang wajah galak.
"Apakah aku melewatkan sesuatu?" tanya Bambang menatap wajah mereka satu per satu.
"Aku tidak akan membiarkanmu makan udang lagi." desis Mawar sambil melotot pada Putra.
"Ya, itu bagus. Tapi kenapa wajah kalian seperti ingin memakan Putra?"
"Kau tidak akan bisa membayangkan betapa konyolnya dia." tunjuk Yuyun pada Putra
"Kalau tadi sore dia terus menggangguku, aku bersumpah akan memberikan kalian nasi dan kerupuk saja." Geram Yuyun sambil melotot pada Putra.
"Aku hanya berusaha mengurangi kejenuhanku." Putra berusaha membela diri dan memasang wajah memelas.
"Mengurangi kejenuhanmu? Kau mengganggu kami sepanjang hari. Lain kali aku akan tetap membiarkanmu bekerja, walaupun kau berjalan menggunakan tongkat." sembur Mawar.
"Sungguh kejam!" Putra memasang wajah lebih memelas lagi. Padahal semua orang tau dia tidak menyesali perbuatannya.
"Kalian tidak bisa bersikap sejahat itu padanya, dia sedang sakit dan butuh hiburan. Sedikit bersenang-senang akan mempercepat penyembuhannya." bela Bambang pada Putra sambil tersenyum.
Mawar dan Yuyun seketika menatap tajam Bambang. Walaupun mereka berdua memasang wajah galak pada Putra, sebenarnya mereka berdua tidak semarah itu. Mana mungkin mereka akan marah hanya karna hal sekecil itu, terlebih pada pria seperti Putra yang sudah banyak melakukan sesuatu untuk mereka. Mereka hanya membalas kejahilan Putra.
"Baiklah, demi menebus semua dosaku, aku akan menjadi budak kalian. Untuk kau Yun, aku menawarkan diri untuk memasak besok pagi dan kau Mawar aku menjanjikan kencan malam minggu nanti." jawab Putra
Kedua wanita itu menyeringai senang dan mengangguk tanda setuju. Kapan lagi Yuyun bisa bangun siang dan untuk Mawar dia sangat menikmati moment kencan yang menurutnya sangat menyenangkan.
°°°°
Setelah makan malam Mawar menonton sebentar, sekitar tiga puluh menit menonton dan merasa tidak ada hal yang menarik, akhirnya dia memutuskan untuk tidur saja. Dia beranjak dari duduknya menuju kamar dan mengganti pakaiannya. Baru beberapa menit berbaring dia terlonjak kaget ketika merasakan sisi ranjang ada Putra yang juga ikut membaringkan tubuhnya.
"A...apa yang kau lakukan?" tanya Mawar terkejut.
"Tidur!" jawab Putra santai sambil menarik selimut.
Melihat wajah panik Mawar, akhirnya Putra kembali memasang wajah memelas.
"Aku masih sakit, apa kau tega membiarkanku di bawah kedinginan." Wajah Putra dibuat-buat seolah mengiba.
"Hmmm... Sudahlah, terserah."
Putra sedikit terkejut dengan tanggapan Mawar. Padahal dia mengira gadis itu akan mengajaknya berdebat. Sebenarnya Putra tidak ingin melakukan ini, hanya saja dia berfikir sudah saatnya sedikit berusaha demi hubungan mereka ke depannya.
Hening beberapa menit, namun mereka tau masih sama-sama terjaga. Putra ingin sekali berbincang dengan Mawar sambil saling menatap, namun dia merasa canggung karena tidak tahu apa yang ada dipikiran Mawar. Sebelumnya memang mereka sering berbincang sebelum tidur namun tidak dalam jarak sedekat ini. Akhirnya Putra memutuskan untuk menunggu saja.
"Hmmm, Putra apakah menurutmu besok perut kita akan baik-baik saja?" Mawar memutuskan memecahkan keheningan.
"Kau meragukan kemampuanku?" ujar Putra senang sekaligus lega.
"Bukan begitu, aku hanya berjaga-jaga dan menyiapkan obat sakit perut." jawab Mawar sambil tertawa.
"Tak perlu, simpan saja rencanamu itu. Karena besok pasti kau akan ketagihan dengan hasil masakanku, kau tidak tau kan aku perna ikut lomba memasak di kampusku dulu."
"Benarkah?" Mawar langsung memiringkan badannya dan menatap Putra.
Dia tidak menyangka Putra pandai memasak.
"Ya!"
"Sulit dipercaya, bagaimana bisa kau menang? Memang apa yang kau masak?"
"Jelas saja juara, karena pesertanya hanya aku dan juri tidak punya pilihan lain." kekeh Putra sambil menaikkan alisnya.
Tanpa berkata apa-apa, tangan Mawar meraih bantal dan memukulnya tepat ke wajah Putra.
"Sepertinya besok benar-benar harus menyiapkan obat sakit perut." kesal Mawar.
"Jangan begitu, aku akan mengusahakan yang terbaik, agar sakit perutmu tidak terlalu parah besok."
"Tidur sana!"
Putra tersenyum lebar melihat senyum Mawar, Putra bertekad akan selalu berusaha membuat Mawar tertidur dengan rasa senang.
Mawar belum tertidur sepenuhnya, hatinya masih diliputi kebahagiaan. Dia tidak pernah menyangka pernikahan bisnisnya berbuah manis. Mawar merasa tidurnya semakin nyenyak dan mimpi buruknya semakin jarang menerornya. Kini setiap pagi Mawar selalu berharap kebahagiaan selalu menyertainya.
°°°
Seperti janjinya, malam minggu berikutnya Putra kembali mengajak Mawar berkencan. Dia merasa seperti remaja lainnya, yang memiliki seorang pacar. Putra tidak pernah melepaskan genggaman tangannya ketika mereka berkeliling mal.
Hari-hari berlalu dengan penuh rasa syukur, hubungan Mawar dan Putra pun semakin baik. Sama seperti hari ini, Putra mengajak Mawar kepantai. Sejak kedua orangtua Mawar meninggal, baru ini dia menginjakkan kakinya dipantai lagi.
Mawar begitu menikmati berjalan menyusuri pantai dengan kaki telanjang, dia melepaskan sepatunya dan membiarkan ombak membasahi kakinya. Hatinya tenang saat mendengar gemuruh ombak sambil memandang langit yang seolah menyatu dengan lautan biru.
Mawar menatap Putra yang melangkah mendekat sambil tersenyum padanya. Kesadarannya mendadak memenuhi benaknya. Betapa selama ini dia sangat bergantung pada Putra, tidak hanya mempercayakan Putra pada perkebunannya namun juga mempercayai hidupnya pada Putra.
Berikan aku kebahagiaan lagi Putra, dan aku tidak akan menyesal hidup bersamamu. Bahkan seribu tahun pun.
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
°Terimakasih
semoga kalian bisa saling memberi kebahagia dan kenyamanan..