Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 25
Shankur, Lean dan Leo duduk di ruang tamu keluarga Al Farobi. Malam ini mereka diundang makan malam di rumah Ardhi. Terlihat Lean tampak gugup saat Ardhi dan tuan Erik datang ke ruang tamu
"Terima kasih sudah datang malam ini." Sapa Ardhi hangat sambil menyalami Shankur, Leo dan Lean. Pria itu tertawa saat merasakan dinginnya tangan Lean
"Leandre, ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu." Kata tuan Erik.
Dibelakang tuan Erik muncul seorang tua dan pria separuh baya. Mereka sama-sama berambut coklat gelap dan bermata biru keabu-abuan. Mirip dengan Lean
Mata pria tua itu berkaca-kaca, lalu memeluk Lean
"Alex..kau Alex.." kata pria tua itu dalam bahasa Indonesia yang kaku
Lean tidak membalas pelukan pria tua itu. Dirinya masih terpaku dengan dua orang di depannya
"Mereka adalah adik kakekmu dan putranya. Harry Knight dan Dyon Knight." Kata tuan Erik lagi
Lean memindai keduanya. Tatapan Harry begitu hangat padanya, sebaliknya tatapan Dyon begitu dingin padanya. Harry melihat ke arah Leo dan tersenyum
"Kau yang telah menyelamatkan Alex?" Tanya Harry
Leo balik tersenyum. Harry menepuk-nepuk tangan Leo sembari berjabat tangan seakan mengucapkan terimakasih.
"Papa, sebaiknya Papa duduk. Papa belum istirahat sesampainya di bandara tadi." Kata Dyon
Leo memperhatikan gerak-gerik Dyon dan Harry. Usia Dyon mungkin seusia dirinya,sedang Harry sepantar dengan tuan Erik
"Sayang, makanan sudah siap. Anak-anak juga sudah menunggu di meja makan." Kata Aya yang muncul dari arah ruang makan menghampiri Ardhi
Ardhi tersenyum melihat Aya. Wanita itu masih terlihat cantik di matanya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, diliriknya Leo. Benar saja! Pria itu tidak berkedip memandang Aya. Ingin rasanya Ardhi mencolok mata Leo
Ardhi segera memeluk pinggang istrinya saat melihat tatapan Leo tak lepas dari Aya. Leo menyadari gerakan Ardhi. Pria itu hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil
"Mari, silakan ke ruang makan." Ajak Ardhi
Semuanya pergi ke ruang makan. Di sana sudah menanti Ina, Ian dan Endra. Ina nampak cantik dengan gamis bunga-bunga pink dan kerudung biru dongkernya. Senyum Ina seketika lenyap melihat Lean. Gadis itu segera menundukkan kepalanya menghindari tatapan Lean
"Kenalkan semua, ini anak-anak saya. Ina, Ian dan Endra. Anak pertama saya belum turun sepertinya." Kata Ardhi
"Ya sudah, kita duduk dulu. Silakan." Kata Aya mempersilahkan tamu-tamunya duduk.
Beberapa pelayan mulai datang melayani
"Maaf saya ter.. lambat.." Ray yang baru hadir seketika terpaku sesaat melihat Lean. Lean pun terkejut melihat Ray
"Ray?" Bisik Lean
Ray berdehem, lalu mengambil kursi di sebelah Ina, berhadapan langsung dengan Lean.
Lean memindai Ray dengan tatapan tidak suka
"Mau apa dia di sini?"
Ardhi tersenyum melihat Ray
"Nah, ini putra pertama saya Ray." Kata Ardhi memperkenalkan Ray pada tamu-tamunya
Lean terkejut!!
"Ray kakaknya Ina? Mati aku!!"
***
Makan malam telah selesai. Kini tuan rumah dan para tamu sedang berbincang hangat di ruang keluarga.
Di taman, nampak Ina sedang mengamati bintang-bintang. Langit malam itu cerah sehingga bintangpun nampak jelas
"Na.."
Ina menghela nafas, ia hafal betul suara Lean. Dirinya kembali menatap bintang tanpa membalas sapaan. Terdengar langkah Lean mendekatinya. Lean melepas jasnya lalu memakainya ke Ina
"Bang.. nggak usah.." kata Ina yang hendak melepaskan jas Lean, namun tangan pemuda itu menahannya
"Dingin.. nanti masuk angin." Kata Lean lembut
Ina tertunduk, lalu kembali menatap Lean
"Abang nggak usah pura-pura baik sama Ina. Buat apa abang ngomong yang nggak-nggak ke bang Ray?" Tanya Ina tajam
Lean mendesah.
"Maaf Na.. abang pikir Ray itu pacar kamu jadi abang sengaja bicara begitu supaya Ray panas. Abang.. minta maaf." Kata Lean
"Kenapa abang bilang kita berbuat sesuatu layaknya pria dan wanita pada umumnya? Bang Ray pikir kita sudah berbuat yang nggak-nggak!" Kata Ina lagi
Lean tertawa
"Dasar Ray aja yang otaknya mesum. Memangnya ngobrol bukan sesuatu yang dilakukan pria dan wanita pada umumnya?" Kata Lean di sela tawanya
Mata Ina membulat
"Ya Allah abang.. bang Ray itu sampe marahin Ina! Katanya Ina nggak bisa jaga diri dan sebagainya." Kata Ina gemas sambil memukuli lengan Lean
"Aduuh duuh sakit Na.." kata Lean sambil tertawa.
Pemuda itu menangkap tangan Ina. Seketika keduanya berpandangan. Lean mengecup lembut tangan Ina. Gadis itu tersentak dan segera menarik tangannya. Jantungnya mulai berdebar cepat
"Abang nggak boleh begini ke Ina." Kata Ina sambil menggenggam tangannya yang tadi dikecup Lean
"Kenapa?" Tanya Lean
"Bukan mahrom."
Lean tersenyum
"Makanya cepet lulus, nanti abang datang lamar Ina." Kata Lean
Ina menoleh menatap Lean. Pemuda itu tidak tertawa. Lean serius ternyata. Ina tersenyum kecut
"Jangan pernah berjanji kalau tidak bisa menepati, bang. Nanti kak Mariska mau dikemanain?" Kata Ina.
Pelan, namun terasa menusuk di hati Lean. Pemuda itu mendekati Ina
"Berapa kali abang bilang, abang sama Mariska nggak ada hubungan apa-apa." Kata Lean
"Bohong.. kenapa bisa peluk-peluk, sampai ciuman segala?" Kata Ina
Lean tertawa, wajahnya mendekati telinga Ina dan berbisik
"Kita juga pernah pelukan dan ciuman segala.."
Wajah Ina langsung memerah. Jantungnya serasa berdetak dua kali lebih cepat. Segera ia mendorong Lean menjauhinya. Pemuda itu mundur 2 langkah sambil mengangkat kedua tangannya. Ina segera membuang muka sambil menetralkan degub jantungnya
Lean sebetulnya masih ingin menggoda Ina, tetapi melihat gadis itu salah tingkah ia mengurungkan niatnya
"Kapan ujian kelulusan?" Tanya Lean
"Bulan April.." jawab Ina singkat
Lean mengangguk
Keduanya terdiam.
"Ina, masuk. Dipanggil bunda."
Ina dan Lean menoleh. Ray sudah berada di belakang mereka. Ray mengkode Ina untuk segera masuk ke rumah.
"Ini bang.. terima kasih pinjaman jasnya." Kata Ina sambil melepaskan jas Lean dan memberikannya ke Lean
Lean menerima jasnya sambil tersenyum lembut. Ina melirik sekilas ke arah Lean, kemudian berjalan masuk ke rumah
Tinggallah Ray dan Lean yang saling berhadapan. Lean tersenyum kikuk ke arah Ray
"Elo kakaknya ya.." kata Lean membuka percakapan
"Hmm.." kata Ray singkat
"Ng..sorry, gue nggak tahu." Kata Lean lagi
"Dulu… ada yang bilang selera gue anak ingusan. Ternyata sendirinya begitu." Kata Ray sambil bersedekap
Lean menggaruk tengkuknya sambil tertawa canggung
"Ray.. gue minta maaf. Karena kata-kata gue, elo jadi berfikir yang nggak-nggak ke Ina..."
Ray mengangkat alisnya "Jadi?"
"Yang gue bilang ke elo itu semua bohong.." kata Lean
"Kecuali part ciuman.." lanjut Lean dalam hati
Ray menganggukkan kepalanya. Hening sejenak, Lean berusaha mencairkan suasana
"Jadi.. dimaafkan ya, kakak ipar?"
Ray mendelik
"Sia*an lo! Gue nggak punya ipar macam elo.." Kata Ray
Keduanya berpandangan, lalu tertawa. Pemandangan yang sangat langka melihat Ray Eagle dan Andre Phoenix tertawa bersama
"Ohya, mengenai rencana jebakan betmen udah gue setting sama Ero, Agus dan Marvin." Kata Lean
"Bagus. Gue jadi nggak sabar lihat siapa yang berani main fitnah begitu." Kata Ray
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...