Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Nikah, Cemburu Buta, dan Badai Hasrat Pagi Hari
Pendar cahaya matahari pagi merembes perlahan melalui celah tirai tebal berwarna kelabu, memecah kesepian di dalam kamar utama Kediaman Sterling. Suhu udara di luar terasa dingin akibat sisa hujan badai semalam, namun atmosfer di ruangan itu jauh lebih membekukan jiwa sekaligus membakar akal sehat.
Scarlett perlahan mengerjap, membuka kelopak mata yang terasa berat serta bengkak akibat terlalu banyak menangis dan melawan semalaman. Seluruh persendian di tubuhnya terasa remuk redam, seolah baru saja dilindas kendaraan berat tanpa ampun. Setiap kali ia mencoba sedikit saja menggeser posisi, nyeri hebat langsung menjalar dari pinggang hingga ke seluruh otot.
Namun, hal pertama yang langsung menyambut kesadarannya bukanlah rasa sakit fisik tersebut, melainkan sepasang netra kelam yang menatapnya lekat. Kaiser—atau yang kini wujudnya berganti menjadi Zero dengan tatapan mata yang kembali menyala tajam—berbaring separuh telanjang di sampingnya, menyangga kepala dengan satu tangan sambil menyunggingkan senyuman seringai yang amat mematikan.
"Bangun juga, Kucing Liar," suara serak Zero menyapa indra pendengaran, terdengar begitu santai namun sarat akan dominasi mutlak.
Scarlett langsung mendengus marah. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia merengsek duduk, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dan melotot tajam ke arah pria di depannya. "Kalian benar-benar tidak punya hati! Apa hak kalian memperlakukanku seperti ini?! Kita bahkan belum menikah, tapi kalian sudah seenaknya merenggut segalanya dariku tanpa izin!"
Alih-alih tersinggung atau marah oleh bentakan tersebut, Zero justru terkekeh pelan. Dengan gerakan santai, ia meraih laci nakas di samping tempat tidur, mengambil sebuah dokumen bersampul kulit hitam elegan, lalu melemparkannya tepat di atas pangkuan Scarlett.
"Buka dan baca sendiri, Nyonya Sterling," ucap Zero dengan seringai penuh kemenangan yang semakin melebar.
Dengan tangan bergetar hebat karena amarah, Scarlett membuka dokumen tersebut. Sontak, napasnya tertahan di tenggorokan, dan manik mata merahnya membelalak lebar tak percaya.
Di hadapannya kini terpampang sah sebuah buku nikah resmi dengan foto dirinya dan tanda tangan sah yang telah dilegalisasi, menyatakan bahwa ia telah resmi terikat dalam ikatan pernikahan secara hukum dan negara dengan para pewaris keluarga Sterling.
"I-ini... apa-apaan ini?!" teriak Scarlett histeris, melemparkan buku itu kembali ke arah Zero. "Aku tidak pernah merasa menandatangani surat pernikahan tolol ini!"
"Tentu saja kau tidak ingat, karena tanda tangan itu diurus dan diselesaikan jauh sebelum kau sempat berpikir untuk melarikan diri dari sangkar kami," balas Zero tenang, sama sekali tidak terusik.
Mendengar hal itu, amarah Scarlett mendadak memuncak hingga ubun-ubun. Ia teringat pada satu nama wanita dari kalangan elit yang selama ini menjadi tunjangan resmi keluarga Sterling—wanita yang seharusnya menjadi pendamping sah mereka di hadapan publik sosialita.
"Kalau begitu, bagaimana dengan Audrey?!" seru Scarlett tajam, meluapkan seluruh emosi yang mendesak dadanya. "Dia wanita resmi kalian! Tunangan sah kalian di hadapan publik! Kenapa kalian memperlakukanku seperti wanita simpanan kotor sementara wanita itu berkeliaran bebas dengan status tunangan Kaiser?!"
Seketika itu juga, atmosfer di dalam kamar berubah menjadi sedingin es. Manik mata kelam Zero mendadak bergeser berubah menjadi merah pekat secara perlahan, memancarkan aura berbahaya yang membuat bulu kuduk berdiri. Pria itu bergerak maju dengan kecepatan kilat, mengurung tubuh Scarlett di bawah kukungannya tanpa memberikan celah sedikit pun untuk menghindar.
"Jangan pernah sebut nama wanita itu di hadapanku, Scarlett," desis Zero tajam, suaranya berubah berat dan sarat akan ancaman mematikan. "Istriku di dunia ini hanya satu: kau, Scarlett. Dan untuk urusan Audrey... biarkan aku yang menyelesaikannya dengan caraku sendiri. Dia tidak akan pernah bisa menyentuh posisimu."
Sebelum Scarlett sempat membalas atau melontarkan protes lanjutan, Zero langsung membungkam bibirnya dengan ciuman menuntut yang sarat akan cemburu buta dan obsesi membara. Ciuman itu terasa begitu agresif, menghisap seluruh oksigen hingga Scarlett terpekik kecil tertahan di dalam lumatannya.
Zero mengangkat wajahnya sejenak, menatap lekat manik mata merah alter ego itu dengan napas yang memburu panas. "Sebelum aku berangkat mengurus urusan di luar, aku ingin memakanmu dulu, sayang," bisiknya serak tepat di daun telinga.
Tanpa memberikan aba-aba atau kesempatan bagi Scarlett untuk menolak, Zero langsung melakukan penetrasi dalam satu gerakan cepat yang telak.
"Argh—! Kau gila, Zero!" pekik Scarlett histeris, air matanya kembali tumpah seketika akibat hantaman sensasi luar biasa yang meremukkan pertahanannya.
“Yes, I am crazy because of you, my sweet addictive poison, Scarlett,” bisik Zero dengan suara bariton berbahasa Inggris yang terdengar begitu seksi, berat, dan memabukkan di telinganya. (Ya, aku memang gila karenamu, canduku yang nikmat, Scarlett.)
Pria itu mulai menghentakkan pinggulnya dengan ritme buas namun terarah, menyiksa sekaligus memanjakan tubuh Scarlett dalam pusaran kenikmatan candu yang tak berkesudahan di kamar utama tersebut.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, kemewahan megah Mansion keluarga Audrey justru dipenuhi oleh ketegangan tinggi dan ambisi busuk yang membara. Audrey duduk di sofa ruang tamu dengan wajah mengeras penuh amarah, sementara para pelayan berdiri menunduk ketakutan di sekitarnya.
"Aku tidak peduli!" seru Audrey dengan suara melengking penuh tuntutan kepada ayahnya. "Aku tidak akan terima jika Kaiser dan King meninggalkanku demi wanita murahan itu! Aku mau Kaiser dan King menikahiku! Aku menginginkan keduanya, Ayah!"
Ayah Audrey menghela napas panjang, mencoba menenangkan putrinya yang dikuasai obsesi buta. "Kami sedang merencanakan cara agar keluarga Sterling segera menikahkanmu dengan Kaiser, dan King dengan wanita lain sesuai rencana awal kita. Tapi kau harus sabar..."
"Tidak! Aku mau semuanya! Aku tidak mau berbagi!" bentak Audrey keras kepala, matanya menyiratkan kebencian mendalam kepada sosok Ceira/Scarlett yang telah merebut perhatian para Tuan Sterling.
Di waktu yang hampir bersamaan, di Mansion keluarga Clara, suasana yang tak kalah licik sedang dirancang di balik pintu tertutup ruang kerja pribadi. Ayah Clara—seorang pengusaha hitam yang ambisius dan menghalalkan segala cara—tengah menyusun strategi kotor bersama putrinya.
Clara mondar-mandir dengan cemas di hadapan meja ayahnya. "Ayah, kalau keluarga Sterling terus mengabaikan kita dan memilih perempuan sialan itu, posisi kita di lingkaran elit dunia bawah bisa hancur!"
Ayah Clara tersenyum licik, menarik laci meja dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening tanpa warna—sebuah obat perangsang kuat kelas atas yang bekerja instan dan mematikan.
"Tenanglah, Clara," ujar Ayah Clara dengan nada suara penuh perhitungan jahat. "Keluarga Sterling tidak akan bisa berkutik jika kita menjebak mereka. Malam perjamuan sindikat lusa nanti adalah kesempatan emas kita. Kau harus memasukkan cairan ini ke dalam minuman King atau Kaiser... Dengan begitu, mau tidak mau, mereka harus bertanggung jawab dan menikahlimu di hadapan para petinggi dunia bawah."
Clara menatap botol kecil di tangan ayahnya dengan seringai penuh ambisi. Rencana kotor telah disetujui, siap meledak menjadi badai baru yang akan menghancurkan kedamaian semu di antara para penguasa sindikat.
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏
Semangat