Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suasana di sudut VIP kantin perlahan-lahan mulai mendingin setelah insiden bakso super pedas tadi. Dua kotak susu murni dingin dan segelas air hangat yang dibeli Bimo berhasil meredakan rasa terbakar di lidah dan tenggorokan Alya. Meskipun Alya sudah memakan beberapa suap bakso berkuah bening milik Devan, raut wajah gadis itu masih tampak sedikit pucat.
Suara bel panjang nyaring bertiup dari pengeras suara sekolah, menandakan jam istirahat pertama telah resmi berakhir. Seluruh murid di kantin mulai berhamburan berdiri, merapikan mangkok dan gelas untuk kembali ke bangunan kelas masing-masing.
"Yuk, balik ke kelas! Jam Pak Joko sebentar lagi mulai nih, bisa berabe kalau kita terlambat lagi!" seru Adel sembari mencangklong tas kecilnya dan menepuk bahu Jesica.
Devan berdiri dari kursinya, matanya tak pernah lepas menatap Alya yang perlahan ikut bangkit. "Al, kamu beneran udah gak apa-apa? Kalau masih lemas, biar aku antar ke UKS sekarang."
Alya mengulas senyum tipis, mencoba terlihat sekuat mungkin agar tidak membuat Devan semakin khawatir. "Aku udah gak apa-apa kok, Devan. Susu hangatnya tadi ngebantu banget. Makasih ya... ayo kita balik ke kelas."
Rombongan kecil yang terdiri dari Alya, Adel, Jesica, Devan, Bimo, Raka, dan Reno itu pun melangkah bersama keluar dari area kantin. Koridor utama lantai dua yang menghubungkan gedung IPA dan IPS dipenuhi lalu-lalang siswa yang terburu-buru masuk ke ruangan mereka.
Di sepanjang perjalanan menuju kelas, keriuhan khas anak muda menyelimuti rombongan tersebut. Raka, yang sejak dari kantin tadi tampaknya mulai menaruh perhatian pada Jesica, berjalan beriringan di samping gadis cerdas itu. Keduanya tampak asyik mengobrol tentang materi pelajaran biologi dan komik kesukaan mereka, sesekali diselingi tawa renyah dari Jesica yang terpancing oleh humor garing Raka.
Sementara itu, di barisan tengah, Bimo sibuk tebar pesona dan berjalan menyamping di sebelah Adel. Namun, aksinya terganggu oleh Reno yang berjalan di belakang mereka. Reno berkali-kali menyenggol bahu Bimo, menirukan nada bicara Bimo yang sok romantis, membuat Bimo berulang kali menggerutu kesal.
"Woy, Reno! Bisa diam gak lo?! Bikin ambyar konsentrasi gue aja lo dari tadi!" sungut Bimo sambil mencoba mendorong tubuh Reno yang terus tertawa bahak-bahak.
Adel yang melihat tingkah konyol kedua cowok itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa heboh. "Udah deh, Bim! Muka lo makin kocak kalau lagi marah gitu!"
Di tengah keriuhan tawa dan obrolan heboh teman-temannya, situasi berbeda justru dialami oleh Alya. Langkah kaki Alya yang berada di paling belakang perlahan-lahan mulai melambat.
Tangan kirinya tanpa sadar melingkar di atas perutnya sendiri, meremas lipatan seragam putihnya. Mulas yang amat sangat mendadak bergejolak hebat di dalam perutnya. Puluhan sendok cabai rawit murni yang sempat tertelan tadi rupanya mulai bereaksi menembus dinding lambungnya, menimbulkan rasa melilit dan perih yang tak tertahankan.
Keringat dingin bertumpuk di pelipis dan dahi Alya. Ia menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk agar tidak meringis di depan teman-temannya. Ia tidak ingin menjadi beban atau membuat keributan baru di tengah koridor yang ramai ini.
Namun, sebaik apa pun Alya mencoba menyembunyikan rasa sakitnya, mata tajam Devan Narendra tidak pernah bisa dibodohi.
Devan yang berjalan persis di samping Alya—walau pandangannya sesekali mengarah ke depan—sejak awal sudah menaruh fokus penuh pada setiap pergerakan gadis di sisinya itu. Devan menyadari perubahan ritme langkah kaki Alya yang semakin pelan dan terseok. Ia juga melihat bagaimana jemari ramping Alya mencengkeram erat bagian tengah perutnya.
Langkah Devan seketika berhenti di tengah koridor, membuat jarak dengan rombongan Bimo dan Raka di depan yang masih asyik bersenda gurau tanpa menyadari situasi di belakang mereka.
Devan membalikkan tubuhnya, melangkah satu tapak mendekati Alya. Tatapannya yang melunak hangat kini berganti menjadi raut panik dan khawatir yang teramat sangat.
"Alya..." panggil Devan pelan, suaranya sarat akan kecemasan.
Alya terkejut, refleks mendongak. Ia mencoba menegakkan tubuhnya dan melepaskan pegangan tangannya dari perut, namun rasa melilit yang mendadak melintir ulu hatinya membuat Alya refleks meringis kecil. "D-Devan..."
"Perut kamu sakit, kan?" tebak Devan tegas namun sangat lembut. Ia merengkuh lengan Alya pelan, menahan tubuh gadis itu agar tidak limbung karena menahan perih.
Wajah Alya sudah tampak sangat pucat, dengan bulir-bulir keringat dingin membasahi garis rambutnya. Tahu bahwa ia tidak bisa berbohong lagi di depan mata Devan yang menatapnya begitu lekat, Alya akhirnya mengangguk pelan dengan napas terengah. "Agak... agak mulas banget, Dev. Perut aku kayak dililit..."
Mendengar pengakuan jujur itu, dada Devan terasa berdenyut nyeri. Rasa bersalah dan amarah pada ulah sabotase cabai tadi kembali membakar dirinya. Tanpa ragu sedikit pun, Devan merangkul bahu Alya dengan protektif, menopang sebagian beban tubuh Alya di sampingnya.
"Gak ada ke kelas. Kamu harus ke UKS sekarang," tegas Devan tanpa menerima bantahan.
Devan kemudian menaikkan volume suaranya, memanggil rombongan teman-temannya yang sudah berjalan beberapa meter di depan. "Bim! Raka! Berhenti dulu!"
Panggilan tegas dari Devan seketika menghentikan gelak tawa Raka, Jesica, Bimo, Reno, dan Adel. Mereka serempak menoleh ke belakang dengan raut wajah bingung. Begitu melihat Alya yang bersandar lemas pada rangkulan Devan sambil memegangi perutnya, tawa di wajah mereka seketika sirna.
"Astaga! Alya!" jerit Adel panik, langsung berlari menghampiri Alya diikuti oleh Jesica.
"Al! Ya ampun, muka lo pucat banget!" Jesica memegang tangan Alya yang terasa dingin. "Gara-gara sambal bakso tadi ya?!"
Bimo, Raka, dan Reno ikut berlari mendekat dengan raut wajah serba salah. "Waduh... gara-gara sambal cabai setan Pak Kumis nih pasti! Lambung Alya gak kuat!" seru Bimo panik.
Devan menatap Adel dan Jesica dengan pandangan cepat namun penuh instruksi. "Adel, Jesica, kalian tolong izinkan Alya ke Pak Joko di kelas. Bilang Alya sakit perut parah dan aku antar ke UKS sekarang."
"Siap, Dev! Nanti kita yang urus Pak Joko!" jawab Adel sigap, menatap Alya dengan iba. "Al, lo istirahat ya! Nanti selesai jam pelajaran kita langsung ke UKS!"
"Bim, Ka, kalian balik ke kelas IPS duluan," lanjut Devan pada ketiga sahabatnya.
"Sip, Bos! Kalau butuh apa-apa atau butuh obat tambahan dari luar, langsung telepon gue ya!" ujar Raka menepuk bahu Devan.
Setelah memastikan teman-temannya membagi tugas, Devan kembali memfokuskan perhatian sepenuhnya pada Alya. Tanpa peduli pada tatapan murid-murid lain yang mulai memperhatikan mereka di koridor, Devan memiringkan tubuhnya dan melingkarkan tangan kekuatannya di pinggang Alya secara lembut namun kokoh, menuntun langkah Alya dengan penuh kehati-hatian menuju ruang UKS yang terletak di ujung koridor sekolah.