"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang akan terjadi
Setiap orang, pasti mempunyai kisah sedih masing-masing. Kisah-kisah yang akan membuat pemiliknya merasa muak dengan kehidupan dan ingin melompat ke semesta lain. Dan itu persis seperti apa yang sedang dirasakan salah satu hamba Tuhan yang sedang duduk bersama istrinya, di taman rumah sakit. Tak lain adalah Jimmy, yang sedang memulai pembicaraannya dengan hati-hati.
"Ingat kata Papa tadi?"
"Iya, aku ingat. Aku tahu Mas Jim... Dan aku minta maaf karena lagi-lagi, permintaan Papa membuatmu tertahan disini."
"Mutia, biarpun perceraian itu dihalalkan, tapi perceraian itu sangat dibenci oleh Allah." Jimmy terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya lagi. "Bisakah kamu mencobanya, untuk menjalankan rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh dan sebagaimana mestinya? Bisakah kamu tinggalkan laki-laki itu?"
Mutia tak menjawab.
"Kalau kamu mau aku masih ada disampingmu seperti apa yang Papa mau."
"A-aku akan berusaha Mas," jawab Mutia cepat.
"Jawaban itu masih terdengar berat di telingaku!" jawab Jimmy tegas. "Aku bisa mengembalikanmu ke Papa sekarang juga. Kamu jangan lupa, aku juga berhak membahagiakan diriku sendiri."
"Tapi, aku butuh waktu."
"Sampai kapan?"
"Nggak tahu, nggak segampang itu memutuskan sebuah hubungan."
***
Beberapa hari kemudian, setelah Papa Ahmad dinyatakan sembuh dan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Gimana? Sudah ada kabar baik?" tanya Ibu.
Beliau baru saja tiba di rumah Jimmy. Beliau sudah sangat rindu dengan anaknya karena selama sebulan ini, jadwal Jimmy sangat padat sehingga belum sempat menjenguk ibunya.
"Belum Bu, doakan supaya disegerakan ya..." jawab jimmy lembut.
Jimmy tak mungkin mengatakan sesuatu yang menurutnya tidak perlu bukan? Dia bukan tipe-tipe laki-laki yang suka mengadukan keadaan rumah tangganya, masalahnya, dan apa yang dia rasakan saat ini. Mereka baru sebulan ini menikah. Jimmy tidak pernah peduli apa kata orang-orang nanti. Ya, bukan itu. Tapi dia lebih menjaga hati orang tua yang ada di depannya.
"Ya nggak apa-apa, kan baru sebulan. Masih wajar. Nanti kalau sudah enam bulan belum isi juga, kalian ke dokter kandungan. Cek kesuburan masing-masing."
Ibu mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang beliau bawa. "Ini ada minyak habbatussauda. Banyak manfaatnya. Salah satunya ya untuk ikhtiar. Cara minumnya sudah ada petunjuknya di kemasan. Kalian minum berdua ya? Ibu belikan lima botol sekaligus."
"Iya terima kasih Bu,"
"Sama-sama Jim..."
"Kak hanung gimana kabarnya?"
"Baik Jim, kamu itu sekali-sekali mbok ya telepon sendiri Kakakmu Jim."
"Sudah kirim pesan Bu, Kakak kalau di telepon suka lama."
"Istrimu mana, nggak kelihatan. Lagi istirahat di kamar?"
"Lagi di rumah Papa,"
"Sudah sembuh benar mertuamu?"
"Sudah kok bu..."
"Kok Mutia belum pulang juga? Kamu kan suaminya, dia wajib mengurusmu nak. Baju-bajumu nanti siapa yang mencuci? Siapa juga yang memasak kalau istrimu disana terus. Nggak mungkin nyuruh mbak Wati mencuci dalemanmu toh?"
"Kalau itu Jimmy cuci sendiri. Makan tinggal pesan, nggak ada yang sulit Bu."
"Mutia mengurusmu dengan baik kan? Kenapa kamu sekarang lebih kurusan?"
"Baik, jangan khawatirkan itu Bu, kerjaan Jimmy hanya sedang banyak jadi akhir-akhir ini suka telat makan."
Triiiing!
"Sebentar ya Bu ada telepon," ucap Jimmy.
"Iya Jim..."
Jimmy pergi menjauh dari Ibunya lalu mengangkat teleponnya diluar.
"Ya, waalaikumsalam.."
"Ini gawat Jim, gue liat bini lo ada di hotel, bareng laki-laki. Serius! Gue nggak bohong. Kalau gue bohong, gue jomblo seumur hidup deh."
"Salah orang kali kamu Mon, nggak mungkin istri saya kayak gitu."
"Ya Tuhan, gue nggak bohong. Suer! Samber gledek-lah!"
"Kamu juga ngapain ada di hotel, terus hotel apa?"
"Ini hotel yang ballroomnya dipasang dekorasi ulang tahun. Gue kemana-mana pasti sepaket sama temen-temen elu dong Jim, namanya juga kerja sama. Lo nggak usah nanya ngapain gue disini. Jelas gue make-up-in bocahnya sama emaknya."
"Ya, saya nyusul sekarang."
"Cepet!"
Panggilan ditutup.
Jimmy mendekati Ibunya kemudian berpamitan. "Bu, Jimmy pamit keluar dulu ya? Ada hal penting yang harus Jimmy selesaikan. Besok-besok kalau Jimmy sempat, Jimmy mampir ke rumah..."
Belum terobati rasa rindu Ibu Dwi kepada anaknya, tapi beliau sudah harus merelakan Jimmy-nya pergi. "Yaudah Jim, hati-hati ya. Ibu juga nanti sebentar lagi pulang kok."
"Mau sekalian?" tawar Jimmy. Mati-matian Jimmy berusaha menahan amarah dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan Ibunya.
"Nggak usah, minta Ayah jemput saja." tolak Ibu halus.
"Jimmy duluan ya Bu, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Jimmy langsung mengambil kunci yang tergantung di tempat yang disediakan, kemudian langsung meluncur ke tempat dimana istri durhakanya berada.
***
To be continued.
Info : Untuk beberapa part ke depan, puncak konflik-konflik menegangkan akan segera hadir. Dan apa yang kalian tunggu-tunggu akan segera tiba✌😁
Tambahkan ke favorit kalian dan jangan lupa kasih semangat buat Mas Jimmy dengan kasih hadiah bunga atau koin seikhlasnya ya!
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭