"Aku merindukan mu"
itulah ungkapan setiap malam. Kanza Mahendra
saat harus berjauhan dengan Rasyi Syakilla.
Gadis ceria yg berhasil mengambil hati manusia dingin. yg bahkan tak tersentuh. namun kini saat berjauhan hati Kanza selalu merindukan nya.
Setelah melewati banyak perjuangan. hingga kini mereka telah benar benar bersama. membuat Kanza ingin selalu bersama dengan wanita yg saat ini telah memenuhi hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiia sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 26
*
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan kantor Kanza.
Rasyi yg turun dengan di bukakan pintu oleh Erick. berjalan mengikuti Erick masuk ke dalam.
Rasyi yg merasa aneh karena Erick langsung masuk tanpa meminta izin ke resepsionis. menarik ujung jaket Erick yg membuat Erick.
"Ada apa???
"apa kota tidak meminta izin dulu ke sana"
ucap Rasyi menunjuk ke arah meja resepsionis
"Ku kira hanya kau yg tidak mengenalku disini" dengan wajah mimik sedih nya Erik menunjuk kan nya di depan Rasyi. yg membuat Rasyi salah tingkah.
"Sudah ayolah, aku bercanda"
ajak nya dengan menggeret Rasyi menuju lift khusus
Di dalam lift Erick yg terlihat santai. tidak sengaja melihat wajah Rasyi yg muram dari pantulan dinding lift.
"Ada apa Rasyi?? tanya nya sambil membalik kan badan manatap Rasyi
"Apa benar kau tidak akan adukan aku ke tuan Kanza kak"
"hem, sebenarnya aku sudah lupa tapi kau mengingatkan ku lagi"
Rasyi langsung memukul pelan bibir nya. karena meratapi bodoh nya yg dilihat Erick. berbeda dengan Erik yg cekikikan.
"Aah sudah lah. bukan nya aku sudah bilang tidak akan melaporkan mu pada Kanza"
"Benarkah kak"
"iya, ya sudah ayo"
Rasyi mengekor Erick menuju ruangan nya. yg di jaga oleh pengawal Kanza. tampak pengawal yg memberi hormat dan membiarkan Erick melewati mereka.
Namun saat di depan meja melisa. Erick yg tiba tiba berhenti membuat Rasyi menabrak punggungnya.
"Aduuh" pekik Rasyi
"kau tidak papa???
Erik yg khawatir langsung memegang wajah Rasyi.
"Tidak kak"
"bagus lah"!! ucap nya
"ehhem" sentak Melisa
"Halo nona"
sapa Erick dengan nada genit nya melihat Melisa
"Tuan Kanza sudah di dalam. anda bisa langsung masuk"
ucap Melisa dengan wajah datar.
"Ada apa dengan mu hari ini nona. seperti nya mood mu sedang tidak bagus"
"Maaf tuan ini sedang jam bekerja"
"ohho. Melisa, Melisa kau mengacuh kan"
"maafkan saya tuan Erick"
Melisa dengan menaikan sudut bibir nya menatap lekat Erick.
Erick yg sedang tidak terlalu mood untuk menggoda Melisa. kali ini memilih meninggalkan nya. masuk dalam ruangan Kanza tanpa mengetuk pintu membawa Rasyi.
"Selamat siang"
sapa nya ceria membuat suara nya bergema di ruangan Kanza. sementara Kanza yg sedang berdiskusi dengan Edo di mejanya langsung melihat nya.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu"
"maafkan aku bro" ucap Erick santai sambil berjalan menuju sofa.
"Apa yg kau lakukan disini??? tanya Kanza dengan nada datar nya namun mata nya ke arah layar komputer nya.
"Tidak ada. aku hanya bosan dan ingin kemari"
ucap Erik santai sambil melihat beberapa berkas di meja.
"Apa kau pikir ini tempat bermain."
"santai lah bro"
Edo yg hanya mendengarkan perdebatan tuan nya dan Erik hanya. diam sambil membereskan berkas di meja. namun mata nya melihat ke arah Rasyi yg sudah datang namun hanya diam berdiri dekat pintu.
"Nona Rasyi" ucap nya yg membuat Kanza menghentikan kegiatan nya.
"Tuan" sapa nya dengan senyum terpaksa.
"kenapa anda hanya diam disitu nona"
"tidak papa tuan"
Rasyi pun berjalan. perlahan mendekati meja Kanza namun mata nya menatap ke arah Erick yg sedang melirik nya.
Rasyi yg masih takut dengan ucapan nya yg tidak sengaja mengatai Kanza di depan Erick. sedikit takut kalau Erick akan mengadukan nya.
Edo yg melihat kemana arah mata Rasyi. menunjukkan wajah heran nya.
"apa kau sudah selesai belajar"
tanya Kanza menatap Rasyi dengan suara yg lembut.
Rasyi hanya mengangguk. tanpa jawaban
"baiklah. hari ini aku meminta mu kemari untuk membantu Edo menilai sebuah desain"
Kanza menjelaskan pekerjaan untuk Rasyi. namun tidak melihat ke arah Rasyi melainkan ke arah laptopnya.
"Ini" ucap nya dengan memberikan laptop namun Rasyi hanya menunduk tidak melihat nya.
"Ada apa??? tanya Kanza heran
"aah tidak apa apa tuan"
namun mata Rasyi sesekali melihat ke arah Erick. Kanza yg tahu kemana arah mata Rasyi. langsung menatap ke Erick dengan tatapan dingin nya.
"Ada apa"
sentak Erick yg mulai gugup di tatap Kanza.
"Kau duduk lah disini. dan periksa data nya jika ada yg ganjal beritahu Edo"
"baik tuan."
Rasyi menarik kursi di depan Kanza. yg membuat Kanza beberapa kali mencuri pandang pada nya.
Erik yg melihat gelagat teman nya tersenyum lebar penuh arti. Edo yg sedari tadi memperhatikan Erick sudah tahu akan maksud Erick yg ingin menjahili Kanza.
"Sebaiknya simpan saja siasat mu kalau ingin aman"
ucap Edo namun tidak melihat ke arah Erick
"Kau sudah tahu"
"kau pikir aku tidak akan tahu maksud mu"
"ternyata banyak di dekat Kanza. insting mu juga bisa setajam Kanza." ucap nya pelan agar tidak terdengar oleh Kanza
Edo hanya tersenyum. melihat tingkah Erick dan tidak ambil peduli karena ingin menyelesaikan pekerjaan nya.
"Baiklah waktu nya pertunjukan"
ucap Erik yg membuat Edo langsung menatap nya heran.
"Haaa, apa disini gurun pasir kenapa tidak ada air"
seru Erik dengan suara nya yg membuat Rasyi dan Kanza menatap nya.
"Apa kau tidak bisa meminta melisa menyiapkan minuman. kenapa harus teriak di ruangan ku.""!!!
"Ayolah bro. aku hanya ingin ada orang baik yg mengambilkan aku air" ucap nya santai sambil menatap Rasyi
Kanza yg mencoba tidak perduli hanya menggelengkan kepala nya. dan ingin melanjutkan pekerjaan nya namun dirinya kembali berhenti karena melihat Rasyi bangun dari kursi nya.
"Kalau begitu biar aku ambil kan"
"ohh, terima kasih" ucap Erick
"kenapa harus kau yg ambilkan, biar kan dia ambil sendiri"
ketus Kanza
"Tidak papa tuan, biar saya ambilkan."
Rasyi pun langsung berlalu meninggalkan ruangan Kanza. menuju pantri untuk ambilkan minum. meninggalkan Kanza dengan wajah aneh nya.
Erick yg menahan tawa nya. berusaha menghindar dari tatapan serius Kanza. sedangkan Edo yg mulai paham hanya menaikan satu alis nya.
"Ternyata nyawamu sudah banyak ya"
ucap Edo santai. yg hanya di jawab Erick dengan memainkan bahu nya.
Rasyi yg sudah kembali dari pantri. membawa tiga gelas minuman. memberikannya pada Kanza dan Edo juga Erik.
"Ini kak" ucapnya dengan meletakkan minuman di depan Erik
"Kak" pekik Kanza tidak percaya
"sejak kapan kau memanggilnya kak"
"Sejak" belum sempat Rasyi bicara Erick berdiri di samping nya dengan memeluk pundak nya di hadapan Kanza.
"Kami sudah lama mengenal. iyakan Rasyi"
ucapnya sambil melihat ke arah Rasyi dengan memainkan salah satu mata nya.
"Ii-iya tuan" ucap Rasyi gugup
"Edo, kenapa aku tidak tahu"
sentak Kanza pada Edo. yg membuat Edo bingung harus bagaimana.
"Ayo lah bro, jangan bilang selama ini kau mencari tahu tentang nya"
Erick berjalan menuju meja Kanza. meninggalkan Rasyi dan Edo yg masih berdiri.
Namun saat dekan dengan Kanza. Erick membungkukkan tubuh nya agar sejajar dengan Kanza.
"Sudah ku bilang. saat kau tidak ingin memberi tahu maka kau akan mencari nya sendiri" dengan senyum ramah nya Erik mengatakan nya tepat di depan Kanza.
Kanza langsung berdiri. berjalan melewati Erick menuju ke arah Rasyi yg masih berdiri kaku.
"Aku akui kemampuan mu. tapi kau tahu aku tidak suka jika milik ku di sentuh orang lain"
Dengan mengusap pelan pundak Rasyi yg tadi di pegang Erick. yg malah membuat Rasyi memerah karena malu.
"Baiklah" aku hanya ingin tahu saja tapi aku sudah melihat nya sekarang aku cukup senang"
"Tapi ku kira. kau melewatkan satu kesalahan"
suara Kanza yg mulai dingin membuat raut wajah Erik berubah
"Hahaha, ayo lah aku hanya bercanda"
ucapnya santai mendekati Rasyi. namun saat Erick ingin menyentuh nya Kanza langsung memukul tangan nya.
"Sorry" ucap nya
"sebaiknya kau tahu batasan mu"
"oke"
Melihat keadaan mulai tenang Rasyi kembali ke kursi nya. Edo yg masih duduk di sofa dengan Erick. dan Kanza yg kembali menatap layar komputer di depan nya. seketika ruangan yg tadi ramai kini nyaris tidak ada suara.
Saat sedang fokus dalam pekerjaan nya. tiba tiba terdengar suara dering ponsel Rasyi.
"Ibu" ucapnya pelan
namun Kanza yg mendengar nya. langsung menoleh ke arah Rasyi. dan Rasyi yg ingin meminta izin menerima panggilan hanya melihat ke arah Kanza tanpa suara.
"Pergilah" ucap Kanza
"terima kasih tuan"
dengan senyum ramah nya. Rasyi meninggalkan Kanza yg mengangguk pada nya.
"Ada apa tuan? tanya edo
"tidak ada, hanya ibu nya menelpon"
"apa tidak bisa mengangkat nya disini saja"
dengan santai Erick mengatakkan nya.
"Ku kira ku akhir akhir ini sedang Santai sekali sampai membuat mu Hobbi mencampuri urusan orang lain"
Erick yg berbidik ngeri hanya menggerakkan tangan nya ke arah Kanza.
"Ibu" sapa Rasyi
"halo nak, apa kabar" lirih ibu
"Rasyi baik bu, ibu yg apa kabar"
"ibu baik baik saja nak"
"syukurlah bu" Rasyi yg mulai terisak karena merindukan suara orang yg sedang menelpon nya.
"Rasyi" lirih ibu
"iya bu"
"apa kuliah mu baik baik saja nak"
"semua nya baik bu"
"baguslah"
"kapan ibu akan kembali???
"ibu tidak tahu nak"
"apa nenek baik baik saja bu"
"sebenarnya nenek dalam kondisi yg buruk nak"
"kenapa bu"
"ceritanya panjang"
"apa ada yg bisa Rasyi bantu bu"
"tapi ini akan memberat kan mu nak"
"kenapa bu?? tanya nya yg mulai khawatir.
"Rasyi dengarkan ibu, saat ibu datang ke mari kondisi nenek mu sudah cukup prihatin nak. usaha nenek mu di tipu orang yg membuat nya terlilit hutang. ibu sekarang bingung bagaimana menolong nenek mu. apa lagi saat ini beliau sedang di rawat di rumah sakit" jelas ibu panjang lebar dengan terisak yg terdengar oleh Rasyi.
"Lalu kita harus bagaimana bu"
Rasyi yg tak mampu menahan air mata nya mendengar kesedihan ibu nya.
"Nak, apa boleh kita jual saja rumah kita untuk membantu nenek mu??? tanya ibu lirih
"Tapi bu, cuma rumah itu peninggalan ayah"
air mata Rasyi makin mengalir. walaupun Rasyi tidak terlalu mengenal wajah ayah nya. tapi rumah itu menjadi saksi cinta ayah pada ibu dan Rasyi.
"Ibu tahu nak, maafkan ibu kamu lupakan saja ibu akan coba cari jalan yg lain, kamu jaga diri ya love you sayang ibu merindukan mu"
"Rasyi juga merindukan ibu" ucapnya lalu terdengar suara putus telpon dari sebrang.
Rasyi yg menerima telpon di balkon lantai sepuluh. hanya terduduk lemas setelah selesai menerima telpon dari ibu nya.
Tanpa di sadari ada mata yg melihat nya dari jauh. dan berlari kecil mendekati nya ketika melihat Rasyi terduduk lemas di lantai.
"Hey, ada apa"
"tuan" ucapnya dengan terisak
Kanza langsung memegang wajah Rasyi agar menatapnya. melihat kesedihan mendalam padanya.
"Ada apa, kenapa kau menangis??''
namun Rasyi yg tidak menjawab. malah makin menangis yg membuat Kanza langsung memeluk nya.
"Menangis lah. jika itu akan membuat mu semakin tenang"
sambil membelai lembut rambut Rasyi. dengan memeluk nya erat.
Sebenarnya. Kanza merasa tidak tenang saat melihat Rasyi menerima telpon dari ibu nya. Kanza pun memilih keluar meninggalkan Erick dan Edo di dalam ruangan nya. namun saat keluar Kanza tidak melihat sosok Rasyi jadi Kanza bertanya pada pengawal. dan mereka mengatakan Rasyi berjalan menuju balkon.
Kanza berpikir hanya akan melihat nya dari jauh. namun saat melihat Rasyi yg menangis hingga terduduk di lantai ada yg mendorong hati Kanza untuk menghampiri nya dengan berlari kecil. dengan penuh rasa khawatir Kanza menghampiri Rasyi
"Apa sudah tenang?"
tanya Kanza namun masih memeluk Rasyi.
tapi Rasyi yg tidak menjawab hanya diam dalam pelukan Kanza. masih terdengar sedikit isakan tangisnya.
Kanza kembali mengangkat wajah Rasyi agar menatap nya.
"ada apa, apa yg membuat mu bersedih"
"tuan"
"hem"
"boleh saya bertanya"
"tentu"
"apa arti keluarga bagi tuan"
Sontak pertanyaan Rasyi. membuat Kanza terdiam seribu bahasa membuat nya hanya menatap wajah Rasyi dengan pikiran di kepalanya. namun tangan nya masih memegang wajah Rasyi.
"Tuan" panggil Rasyi lagi
"sebenernya aku tidak tahu apa arti keluarga. tapi jika aku di berikan satu kesempatan untuk memiliki keluarga aku akan lakukan apapun untuk melindunginya."
Tampak wajah tersenyum Rasyi. di balik wajah sembab nya akibat menangis. Kanza menggerakkan jarinya di pipi Rasyi menghapus sisa air mata nya dengan senyum tulus nya pada Rasyi.
"Apa sudah lebih baik"
dengan nada serendah mungkin Kanza bertanya pada Rasyi.
"sudah, terima kasih tuan"
"kalau begitu bangun lah."
Kanza pun membantu Rasyi bangun dengan memegang erat tangan nya. dan membawanya ke kursi yg ada di balkon.
"Bisa kau ceritakan padaku apa yg terjadi"
"siapkah tuan mendengar nya"
"tentu"
"sebenarnya nenek saya lagi sakit parah di kampung. yg membuat ibu harus tinggal disana. sebenarnya nenek dulu orang yg mampu di kampung tapi beberapa bulan yg lalu setelah kakek meninggal usaha nenek di ambil alih oleh orang lain yg kini menipu nenek. sampai nenek kelilit hutang ibu tidak tega melihat nenek jadi ibu ingin menjual rumah kami untuk membantu nenek"
Dengan nada lirih Rasyi bercerita panjang lebar pada Kanza. yg hanya mendengarkan nya. Kanza pun menggenggam tangan Rasyi yg terlihat mulai menunduk.
"Lalu kenapa tidak di jual saja"
"tapi itu peninggalan terakhir ayah"
tampak bulir air mata nya kembali mengalir di pipi nya. yg membuat Kanza langsung menghapusnya.
"Kau tau, itu hanya benda tapi kenangan dan cinta ayah mu semua nya ada disini"
Dengan menunjuk hati Rasyi dengan jari nya. Kanza mencoba memberi Rasyi semangat.
Namun Rasyi langsung berdiri dan memeluk Kanza. dengan tangis nya merasa apa yg di katakan Kanza ad benar nya. Kanza yg sedang duduk mendapat pelukan dari Rasyi kaget namun membalas pelukan nya.
happy reading😊
mampir juga yuk keceritaku
RAIN BUKAN HUJAN
terimakasih