Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Aroma kopi segar dan sisa hidangan fine dining di meja makan privat restoran elegan itu masih meninggalkan jejak manis di lidah. Namun, bagi Braxton, setiap detik yang berlalu sejak kepergian Amelia Giger terasa seperti jarum jam yang berdetak di atas bom waktu.
Setelah menyelesaikan pembayaran dan memastikan Lux merasa nyaman, Braxton menuntun istrinya menuju mobil sport hitam yang terparkir rapi di area parkir privat restoran.
"Tunggu sebentar di dalam mobil ya, Sayang. Aku harus ke kamar mandi sebentar," ujar Braxton lembut seraya membukakan pintu mobil untuk Lux.
Pria itu menyapukan kecupan hangat di dahi istrinya, memastikan Lux bersandar nyaman dengan pendingin udara yang sudah menyala.
"Jangan lama-lama, Tuan Desmon," goda Lux seraya menyunggingkan senyum cantiknya yang amat memikat. "Lututku masih sedikit lemas gara-gara perlakuanmu tadi pagi."
Braxton terkekeh renyah, mengusap pipi mulus istrinya dengan pandangan yang sarat akan kasih sayang. "Siap, Nyonya Desmon. Hanya dua menit."
Braxton menutup pintu mobil, lalu membalikkan tubuhnya. Senyum hangat yang baru saja menghiasi wajah tampannya seketika melenyap tanpa sisa.
Garis-garis rahangnya mengeras, dan sepasang mata cokelatnya berubah mendadak amat tajam, dingin, dan pekat oleh kewaspadaan tingkat tinggi.
Pria itu memutar langkahnya kembali memasuki bangunan restoran, melangkah cepat menuju koridor kamar mandi privat yang sepi dan remang.
Koridor berlantai marmer gelap itu diapit oleh dinding berlapis kayu mahoni dan pendar lampu gantung yang tenang. Tidak ada pengunjung lain di sana.
Namun, baru saja Braxton mengambil tiga langkah melintasi belokan koridor menuju kamar mandi pria, sebuah bayangan melangkah keluar dari balik pilar besar.
"Jadi... kau menolakku secara kejam kemarin di rumah sakit karena kau sudah punya istri?"
Suara bisikan racun yang begitu dingin dan sarat akan obsesi gila bergema halus menembus keheningan koridor.
Deg!
Langkah kaki Braxton terhenti seketika. Tubuhnya mengeras kaku.
Braxton menoleh pelan. Di sana, menyandar di dinding mahoni dengan gaun hitam tipis dan rambut terurai acak-acakan, berdiri Amelia Giger. Wajah cantiknya yang pucat pasi dihiasi oleh senyuman sinis yang amat mengerikan. Sepasang matanya yang memerah berkilat oleh kegilaan murni yang telah berada di ambang puncaknya.
Amelia melangkah maju satu tahap, menatap wajah tampan Braxton dengan binar kekecewaan dan cemburu yang membakar jiwanya.
"Dan istrimu..." lanjut Amelia dengan nada suara yang bergetar menahan gejolak emosi yang dahsyat, "...adalah Samantha? Wanita yang selama dua tahun ini menjadi sahabat dekatku?"
Atmosfer di koridor remang itu seketika berubah menjadi teramat panas, tegang, dan sarat akan ancaman mematikan. Pria narsis yang biasanya selalu tenang dalam mengendalikan situasi bisnis kini berhadapan langsung dengan manifestasi teror dari masa lalunya.
Braxton menatap Amelia dengan tatapan penuh jijik dan kebencian murni. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan atau kehangatan di matanya. Pria itu memajukan tubuhnya setengah langkah, mengikis jarak hanya untuk memancarkan dominasi yang membekukan.
"Pergi dari hadapanku, Sialan!" geram Braxton dengan suara rendah yang amat berbahaya, penuh penekanan di setiap suku katanya.
Namun, bukannya takut, Amelia justru tertawa pelan—sebuah tawa kecil yang terdengar amat miris dan mengerikan di koridor sepi tersebut. Ia mencondongkan wajahnya ke depan, menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat Braxton.
"Pergi?" bisik Amelia dengan nada meremehkan. "Kenapa aku harus pergi, Braxton? Kenapa kau sangat ketakutan? Bagaimana jadinya kalau aku berjalan ke parkiran sekarang dan membeberkan pada Samantha kalau pria Mr. B yang sering dia umpati dan benci selama dua tahun ini adalah suaminya sendiri?"
Sepasang mata Braxton membelalak kaku. Rahangnya bertaut begitu keras hingga otot-otot di lehernya menegang.
Amelia menyunggingkan senyum bahagianya yang gila saat melihat perubahan raut wajah Braxton. "Kau tahu, Braxton? Pagi tadi... di telepon... Samantha bahkan mengusulkan padaku untuk menabrak mati saja dirimu! Dia bilang, jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka kau juga tidak boleh didapatkan oleh wanita lain! Dia sendiri yang memberiku ide itu!"
Amelia merenggangkan jarinya, mengusap dadanya sendiri dengan tatapan liar. "Aku tidak akan biarkan wanita mana pun bernapas di sekitarmu... apalagi bertingkah sok menjadi istrimu di hadapanku!"
Koridor itu terasa makin membeku oleh ancaman terselubung yang terlontar dari mulut wanita di hadapannya.
Namun, Braxton bukan pria lemah yang bisa digertak dengan mudah.
Sebuah senyuman tipis—sangat tipis, dingin, dan penuh penghinaan—perlahan terukir di sudut bibir tampan Braxton.
Pria itu merapikan kerah kemejanya secara santai, lalu menatap Amelia dari atas ke bawah dengan pandangan seolah wanita di hadapannya tak lebih dari sekadar sampah tak berguna.
"Kau sedang mengancamku, Amelia?" tanya Braxton tenang, suaranya kini terdengar begitu santai namun memancarkan kejamnya dominasi seorang calon penguasa bisnis. "Kau pikir aku takut pada gertakan konyol dari wanita gangguan jiwa sepertimu?"
Amelia tertahan, senyum gilanya sedikit memudar melihat ketenangan Braxton.
"Dengar baik-baik, Amelia," pungkasi Braxton, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap Amelia lurus-lurus. "Aku menyembunyikan hal ini dan tidak langsung meratakanmu ke tanah hanya agar istriku tidak banyak pikiran. Aku tidak ingin pikiran bersih dan indahnya ternoda oleh fakta bahwa ada wanita gila yang terobsesi pada suaminya. Dan sejujurnya... aku sangat menyayangkan kenapa sikap istriku yang teramat baik dan tulus harus terbuang sia-sia pada iblis berwajah manusia sepertimu."
"Hahaha!" Tawa histeris Amelia pecah, bergema di sepanjang dinding kayu koridor. Air mata kegilaan menetes dari sudut matanya. "Iblis? Kau menyebutku iblis, Braxton?!"
Amelia memajukan langkahnya, menunjuk dada bidang Braxton dengan jemarinya yang gemetar hebat.
"Aku mengenalmu dengan baik, Braxton! Aku mencintaimu jauh sebelum wanita itu masuk ke dalam hidupmu!" jerit Amelia dengan suara tertahan namun sarat akan racun yang mematikan. "Dan apa? Dia wanita tiga bulan selama aku koma?! Dia merebutmu dariku tanpa izin saat aku terbaring tak berdaya di rumah sakit! Dia mencuri tempat yang seharusnya menjadi milikku!"
Sensasi kemarahan dan rasa muak meledak di dalam dada Braxton mendengar tuduhan tidak berdasar yang meluncur dari mulut Amelia. Pria itu tidak lagi menahan kejamnya aura gelap dalam dirinya.
Braxton memotong jarak, melangkah tepat ke hadapan Amelia hingga wanita itu refleks mundur menabrak dinding mahoni. Braxton menundukkan kepalanya, menatap Amelia dengan kilat membunuh yang teramat pekat di matanya.
"Jaga mulutmu, Amelia Giger," potong Braxton dengan bisikan yang amat dingin dan tajam bagaikan sembilu. "Tidak ada yang merebut siapa pun. Sejak awal, kau tidak pernah memiliki tempat di dalam hidupku. Kau hanya punya ilusi gila yang diciptakan oleh otakmu yang rusak."
Braxton mendekatkan wajahnya sedikit lagi, memastikan setiap kata yang diucapkannya menghujam jantung Amelia tanpa ampun.
"Dengarkan aku baik-baik, karena aku hanya akan mengucapkan kalimat ini satu kali," bisik Braxton, suaranya begitu berat dan sarat akan ancaman mematikan. "Kalau sampai kau menyentuh, mendekat, atau mengganggu ketenangan dan kebahagiaan istriku sedikit saja... aku bersumpah demi namaku sendiri, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan memastikan kau dan seluruh keluargamu hancur tanpa sisa hingga kau menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini."
Ancaman itu begitu nyata, begitu pekat, dan memancarkan kekuatan absolut yang membuat bulu kuduk Amelia mendadak merinding ketakutan untuk pertama kalinya.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Amelia untuk membalas sepatah kata pun, Braxton memutarkan tubuhnya secara tegas. Langkah kakinya yang lebar dan tegap berderap meninggalkan koridor kamar mandi tersebut, meninggalkan Amelia yang mematung kaku di bawah pendar lampu remang dengan napas terengah memburu dan dada yang bergejolak oleh dendam yang kian membara.
Braxton berjalan keluar menuju area parkiran. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk membuang sisa-sisa emosi gelap dan racun yang baru saja dihirupnya di koridor tadi.
Saat langkah kakinya mendekati mobil sport hitamnya, mata cokelat Braxton menangkap sosok Lux yang tengah duduk bersandar di kursi penumpang. Istrinya tampak sedang tersenyum manis seraya melihat-lihat foto di ponselnya—begitu polos, begitu indah, dan teramat berharga.
Raut wajah tegang Braxton seketika melumer sepenuhnya. Pria tampan itu menyunggingkan senyum hangat paling tulus yang ia miliki, lalu membuka pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam kehidupan nyata tempat cintanya berlabuh.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux