NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

"Apa maksud Anda?! Anda pikir saya takut dengan Bank Surya, hah?! Saya tidak takut!" teriak Amira murka.

Dengan napas memburu dan emosi yang sudah memuncak, Amira menyambar gelas wine di meja dan langsung menyiramkan isinya tepat ke wajah Dani!

SBYUURRR!

"Amira! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Rini dengan wajah panik dan penuh ketakutan buatan. "Bank Surya itu terhubung langsung dengan Perdana Holding! Kita bisa hancur kalau menyinggung dia! Cepat minta maaf pada Pak Dani!"

Amira tertegun sejenak. Aksinya tadi murni refleks karena harga dirinya diinjak-injak. Ada rasa takut yang menyelinap di benaknya, tetapi Amira menolak untuk tunduk. Cukup sekali ia dijebak, ia tidak akan pernah mau masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.

"Aku tidak takut!" tegas Amira sembari berdiri tegap. "Rini, ayo pulang!"

Dani menyeka cairan wine yang menetes dari wajah dan kumis tipisnya. Bukannya marah, ia malah menyeringai lebar. "Aku suka sekali wanita galak... sensasinya pasti hebat. Aku tidak akan memberi kalian pinjaman... aku akan menikmati diri kamu malam ini, karena kamu sudah menyinggungku!"

PLAKKK!

Sebuah tamparan keras dari Amira mendarat mulus di pipi chubby Dani.

"Dasar babi gemuk! Kamu pikir aku takut sama kamu, hah?!" bentak Amira tajam.

"Amira, jangan impulsif!" jerit Rini berpura-pura makin panik.

Dani justru tertawa terkekeh-kekeh, perut buncitnya bergoyang hebat. "Kamu membuatku semakin penasaran, Sayang..."

Prok! Prok! Prok!

Dani menepuk tangannya tiga kali. Seketika, pintu private room dibuka dari luar dan lima orang pria berbadan tegap dan kekar menerobos masuk. Tiga orang bertugas mengunci pintu tebal itu, sementara dua lainnya berdiri menjaganya rapat-raprat.

Jantung Amira berdegup kencang. Kali ini permainannya jauh lebih sadis—tidak ada obat bius atau jebakan halus, melainkan pelecehan secara terang-terangan di depan mata.

"Amira... bagaimana ini?!" bisik Rini terisak ketakutan.

"Mau apa kamu, hah?!" sergah Amira menatap tajam pada Dani.

"Tentu saja aku akan menikmati kamu," sahut Dani seraya berusaha bangun. Karena tubuhnya yang terlalu gemuk dan buncit, ia tampak sedikit kesusahan berdiri.

"Ini negara hukum! Aku akan telepon polisi sekarang dan kalian semua akan ditangkap!" ancam Amira tegas.

SRET!

Belum sempat Amira merogoh saku, seorang pria kekar dengan sigap merebut tas milik Amira dan Rini yang berisi ponsel serta laptop mereka.

"Ponsel kalian sudah ada di tangan anak buahku. Lantas dengan apa kamu mau menghubungi polisi?" kekeh Dani seraya melangkah mendekat.

Tubuh Amira mulai gemetaran.

"Aku masih baik. Aku akan memberikan pinjaman 1,5 miliar itu... asal kamu melayaniku dengan patuh malam ini. Jangan melawan," bisik Dani menjijikkan.

"Amira, lakukan saja, Amira! Lagipula kamu kan sudah menikah juga!" seru Rini memanasi.

Amira menoleh tajam pada Rini. "Kamu gila, Rini?! Aku tidak akan pernah menyerah pada babi bodoh seperti dia!"

Dani tertawa melengking. Pipi dan perut buncitnya ikut bergetar. "Aku sudah begitu baik padamu karena menghargai ibumu. Tapi karena kamu melawan... aku akan menikmati kamu malam ini tanpa bayaran sepeser pun!"

Dani makin mengikis jarak. Ketakutan Amira menjulang tinggi.

"Amira, lakukan saja dengan pasrah, Amira...!" tangis Rini makin kencang.

"Ya, benar kata temanmu. Kamu harus patuh! Atau... ketiga anak buahku ini juga akan menikmati sekretaris kamu itu secara bergiliran!" ancam Dani menyeringai.

Rini yang mendengar hal itu langsung histeris. "Amira, aku takut!" jeritnya menangis sejadi-jadinya. Rini tidak menyangka kalau Dani bisa segila dan senekat ini. Informasi yang ia dapatkan dari Angga ternyata tidak akurat—Dani bukan sekadar pria penakut yang bisa diatur, melainkan predator berbahaya saat terdesak.

"Kamu jangan macam-macam! Ini negara hukum! Karier kamu akan hancur dan Bank Surya akan hancur kalau kamu berani melecehkanku!" gertak Amira, mencoba mengendalikan suara getarnya.

"HAHAHA!" Dani tertawa lepas. "Hukum itu cuma dibuat untuk menghukum orang lemah dan memenangkan orang kuat! Kamu itu cuma pemilik perusahaan kecil... kamu pikir kamu bisa apa melawanku?! Ruangan ini kedap suara, dan anak buahku banyak di luar. Setelah aku puas menikmati kamu, aku tinggal lempar kamu jauh-jauh! Dengan uang yang aku punya, aku bisa membeli hukum!"

"Amira, nurut saja, Amira! Aku takut banget!" jerit Rini ketakutan.

"Aku lebih baik mati daripada harus menyerah pada iblis seperti dia!"

PRANGGG!

Amira menyambar botol wine kosong di atas meja, membantingnya ke tepi sofa hingga pecah berantakan, lalu mengacungkan ujung kaca yang runcing tepat ke arah wajah Dani.

Dani tertawa meremehkan. "Kamu pikir bisa membunuhku dengan benda tumpul seperti itu?"

"Aku mungkin tidak bisa membunuh kamu..." napas Amira memburu, air mata menetes di pipinya. Perlahan, ia menempelkan sisi tajam pecahan botol itu tepat di lehernya sendiri. "...tapi aku bisa mengakhiri hidupku di sini!"

Amira bersiap menekan pecahan kaca itu ke kulit lehernya, namun dalam hitungan detik—

SRET!

Seorang pria kekar anak buah Dani melompat dan menarik paksa pergelangan tangan Amira!

BLLAK!Pecahan botol terlepas dan terlempar ke lantai. Tangan Amira terkilir hebat, rasa nyeri menusuk hingga ke siku.

"Bahkan untuk mati saja kamu tidak punya hak... kalau tidak aku izinkan!" bisik Dani, kini berdiri hanya beberapa inci di depan Amira. "Layani aku dengan tulus, maka hanya aku yang akan menyentuhmu. Tapi kalau kamu terus melawan, semua anak buahku akan menyentuhmu dan sekretarismu bergantian!"

"Amira...!" isak Rini meratapi nasibnya. "Amira, tolong menyerahlah! Selagi kita masih hidup, kita bisa membangun ulang hidup kita!"

"Lebih baik aku mati daripada melayani pria jahanam seperti kamu, dasar babi bodoh!" ludah Amira pasrah.

PLAKKK!

Dani menampar wajah Amira dengan sangat keras hingga kepala wanita itu bertabrakan dengan sandaran kursi!

"Kesabaranku ada batasnya, Bangsat!" geram Dani, emosinya benar-benar meledak.

"Jangan mendekat...!" isak Amira. Pandangannya mulai buram. Dalam keputusasaan yang teramat dalam, hatinya menjerit memanggil satu nama. 'Luki... tolong datang... kalau kamu datang menyelamatkanku, aku berjanji akan menjadi istrimu yang sesungguhnya...'

Dani maju menjambak rambut panjang Amira dengan kasar hingga kepala Amira terdongak. Rasa sakit menusuk kulit kepalanya, Amira meringis menahan perih. Dengan tangan satunya yang gempal, Dani mencengkeram kuat dagu Amira.

CUHHH!

Amira mengumpulkan sisa tenaganya dan meludahi tepat di wajah Dani!

"Kurang ajar!" geram Dani murka.

PLAKKK!

Tamparan kedua mendarat jauh lebih keras! Kepala Amira mendengung hebat, pandangannya berkunang-kunang. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri hingga berdarah, memaksa dirinya agar tidak pingsan dalam situasi semencekam ini.

Dani kembali menjambak rambut Amira, menarik dagunya mendekat, lalu mencoba mendaratkan ciuman paksa ke bibir Amira.

‘Luki... tolong aku...’jerit Amira dalam hati.

BRAKKKKKKK!

Pintu tebal berornamen kayu itu hancur berkeping-keping! Engselnya jebol dan terlempar menghantam dinding!

BRUMMMM! BRUMMMMMM!

Suara raungan mesin motor trail menggema memekakkan telinga di dalam ruangan kedap suara itu! Tiga unit motor trail menerobos masuk dengan kecepatan tinggi. Pria-pria berseragam dan berjaket hijau khas pengemudi ojek online melompat turun dan tanpa aba-aba langsung membantai kelima anak buah Dani! Perkelahian brutal tak terhindarkan.

Dari motor trail paling depan, seorang pria bertubuh tinggi tegap melangkah turun seraya memegang tongkat baseball besi di tangan kanannya.

BUK!

Tanpa sepatah kata pun, pria itu mengayunkan tongkat besi itu penuh tenaga, menghantam tepat di lengan Dani yang sedang menjambak Amira!

"ARGHHHHHH!" jerit Dani melengking. Tangannya patah seketika, tubuh gemuknya ambruk ke lantai sambil meraung-raung kesakitan.

Pria tinggi itu perlahan membuka helm full face-nya. Di balik keremangan lampu kuning ruangan, samar-samar Amira melihat rahang tegas dan tatapan mata yang sangat familiar.

"Lu... ki..." gumam Amira dengan suara bergetar, air matanya menetes makin deras.

Luki berjongkok di hadapan Amira. Ia meraih tubuh istrinya yang gemetaran, lalu merengkuhnya ke dalam pelukan yang hangat dan sangat protektif.

"Tenang... ada aku," bisik Luki lembut di telinga Amira.

Namun saat Luki memalingkan wajahnya dan menatap Dani yang terkapar di lantai, aura di sekitarnya berubah drastis—menjadi sangat dingin, pekat, dan sarat akan aura membunuh!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!