Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunci yang Hilang
"Hah?" Matanya membulat saat melihat seorang pria shirtless tertidur di sofa.
Luna meneguk-neguk ludahnya berkali-kali melihat otot sixpack yang terpampang jelas di hadapannya. Selama ini ia belum pernah melihat tubuh pria se-seksi ini selain dalam TV. Bahkan tubuh bapaknya yang sering ia lihat pun kerempeng dengan garis-garis tulang yang bermunculan, bukan otot-otot besar yang menonjol ke sana ke mari.
Pandangan Luna bergeser pada bagian bawah perut, di mana terdapat sebuah boxer putih dengan sesuatu yang menonjol yang di tengahnya.
"Oh tidak, mataku ternoda!" Luna mencoba menghindar dari tubuh seksi yang menggoda untuk terus ditatap itu.
'Kenapa si dekil itu seksi sekali?' Luna menggigit bibir bawahnya.
"Iiish, apa sih yang aku pikirkan?" Gadis itu memukul-mukul kepala untuk mengusir pikiran kotor dalam otaknya. Luna pun segera membersihkan dirinya. Beruntung hari ini tidak ada jadwal pagi, sehingga Luna tidak perlu buru-buru untuk pergi ke kampus.
Tapi ...
"Aku kesiangan solat subuh," keluh Luna. Gadis itu keluar dari kamar mandi dan menatap jendela apartemen yang sudah menyediakan jalan bagi cahaya matahari untuk masuk dalam ruangan itu.
Pandangannya kembali bertumbukan dengan manusia berhormon testosteron yang menggodanya dengan tonjolan otot di atas perut.
"Astaghfirullah hal adzim ...." Luna beristighfar saat melihat hal senonoh di hadapannya.
Gadis itu pun segera masuk ke kamar dan mengganti bajunya. Semalam dia belum sempat menata baju-baju ke dalam lemari.
"Ah, aku juga belum bilang sama ibu. Ibu sama bapak kira-kira khawatir nggak ya kalau tahu aku tinggal di tempat baru?" gumam Luna sendiri sambil membereskan baju-bajunya.
Tok tok tok
Sebuah ketukan terdengar dari pintu kamarnya.
"Lun, Luna? Kau sudah bangun?" Luna mendapat panggilan dari Edric.
"Sudah bangun apa belum, aku sudah dari tadi bangun. Ada juga dia yang bangun kesiangan," gerutu Luna sebelum membukakan pintu.
Ceklek
Pintu kamar Luna terbuka.
"Ada apa, Pak?" Luna agak menghindarkan wajahnya dari menatap Edric, dia takut pria itu masih belum mengenakan bajunya.
"Kenapa kau seperti itu?" Edric keheranan
Luna pun mengintip sedikit dengan sebelah mata. "Fyuuuh!" Luna merasa lega saat melihat Edric ternyata sudah mengenakan baju.
"Bapak mau sampai kapan di sini? Ku kira semalam Pak Edric berhasil membuka pintunya, nggak taunya malah nginep." Luna menggerutu seakan mengusir Edric secara halus.
"Aku tidak berhasil menghubungi tukang servis. Lagipula ini apartemenku, kenapa kau mengusirku?"
"Saya tidak mengusir Bapak."
"Lalu, kenapa kau mengeluh karena aku masih di sini? Itu apa namanya kalau bukan ngusir."
"Ya ... kan, ya ... kan ...." Luna kehabisan kata-katanya.
"Sudahlah, sekarang aku mau hubungi tukang servis! Kau tidak buru-buru ke kampus, kan?" tanya Edric.
"Saya ada jadwal nanti siang. Jadi nggak buru-bu ...," kata Luna terjeda.
"Kenapa Lun?" Edric bertanya pada Luna karena gadis itu tiba-tiba fokus pada satu titik dan langsung menghampirinya.
"Itu apa, Pak?" Luna mengamati sebuah benda berkilau yang ada di bawah sofa tempat Edric tidur tadi. Tanpa menunggu lama, Luna pun langsung memungut benda tersebut.
"Pak Edric sengaja, ya?" Luna memicingkan matanya.
Edric menatap Luna dengan heran. "Sengaja?"
Luna berdiri sambil membawa benda temuannya, gadis itu pun menyodorkan benda tersebut dalam uluran tangannya.
"Ini apa? Bapak sengaja sembunyikan, ya?"