NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Tombak Kayu dan Harga Diri

Panas matahari seolah-olah berhenti tepat di atas pelataran barak pelatihan Barat. Dua ratus pasang mata kini tertuju pada bintara instruktur yang sedang meraba-raba potongan bambu undian di dalam sebuah kantong kain blacu kasar. Di tengah lapangan, Raden Daniswara sudah berdiri tegak dengan memegang sebilah tombak kayu pilihan yang lurus dan halus tanpa serat kasar. Hawa murni aliran apinya yang berwarna merah jingga tipis masih samar-samar terlihat bergetar di sekitar pergelangan tangannya, memancarkan tekanan udara yang membuat pasir-pasir kecil di dekat kakinya tampak kering kerontang.

"Undian pertama untuk menghadapi Raden Daniswara!" teriak bintara instruktur sambil mengangkat sebuah potongan bambu tinggi-tinggi. "Perwakilan dari barak hunian nomor empat!"

Mendengar pengumuman tersebut, seluruh penghuni barak nomor empat mendadak membeku. Ragajaya mengutuk pelan di dalam hatinya, sementara Lembu Sora tampak menelan ludah dengan cemas. Mereka tahu bahwa dalam kondisi fisik yang terkuras habis setelah hukuman seratus ember, mengirimkan siapa pun di antara mereka untuk melawan Daniswara yang masih bugar sama saja dengan menyerahkan leher untuk disembelih.

"Biar aku saja yang maju," ucap Jaka Wulung sambil melangkah maju dengan ragu, mencoba menguatkan hatinya meski ia tahu kecepatan tombak Daniswara akan sangat sulit dibendung oleh pertahanan kasarnya.

Namun, sebelum Jaka Wulung sempat melintasi garis banjar, Mada sudah bergerak lebih cepat. Ia menyelinap di antara pundak-pundak rekannya, melangkah maju dengan punggung yang agak membungkuk dan wajah yang sengaja dibuat pucat pasi seolah-olah ia sedang dipenuhi oleh ketakutan yang luar biasa. Tangan kanannya memegang sebuah tombak kayu latihan yang agak melengkung di bagian tengahnya, sisa dari senjata yang ia gunakan pada ujian ketangkasan perorangan sebelumnya.

"Biar... biar saya saja yang maju, Teman-teman," bisik Mada dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh bintara penguji di depan lapangan. "Tubuh saya jangkung, jadi kalau saya dipukul jatuh oleh Raden Daniswara, setidaknya jarak jatuh saya lebih panjang dan mungkin bisa mengulur waktu agar kalian tidak perlu ikut dibersihkan malam ini."

Ucapan Mada yang terdengar sangat putus asa dan bodoh itu langsung membuat beberapa taruna bangsawan di sekeliling Daniswara kembali tertawa terbahak-bahak. Mereka menganggap barak nomor empat sudah benar-benar kehilangan nyali sehingga mengirimkan seorang pemuda desa yang paling konyol untuk menjadi umpan lambung pertama.

Ragajaya terbelalak melihat Mada yang melangkah ke tengah lingkaran tali tampar. "Mada! Apa yang kamu lakukan? Kembali ke barisan! Kamu hanya akan membuat barak kita menjadi bahan tertawaan seluruh kompleks!"

Mada tidak mendengarkan teriakan Ragajaya. Ia terus berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat agak goyah, seolah-olah lututnya masih lemas akibat memikul ember air fajar tadi pagi. Saat ia tiba di dalam lingkaran arena nomor empat, ia menjura hormat berkali-kali ke arah Raden Daniswara dengan sikap yang sangat berlebihan dan santun, menyerupai seorang pelayan desa yang sedang menghadap penguasa daerah.

"Mohon belas kasihannya, Raden yang agung," ucap Mada dengan suara gemetar palsu sambil memegang tombak kayunya dengan dua tangan yang tampak kaku. "Tolong jangan pukul bagian wajah saya, karena minggu depan saya harus mengirimkan foto tapak tangan kelulusan ke desa untuk menenangkan hati ibu saya."

Raden Daniswara menatap Mada dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kejijikan yang mendalam. Ia memutar tombak kayunya di udara dengan satu gerakan pergelangan tangan yang sangat mahir, menciptakan suara desingan angin panas yang cukup nyaring.

"Ternyata tikus tanah nomor nol empat puluh tujuh yang maju," ejek Raden Daniswara sambil mengambil posisi kuda-kuda samping yang sangat elegan dan rapat. "Memukul makhluk sekonyol dirimu sebenarnya adalah penghinaan bagi tombak api milikku. Namun karena kelompokmu sudah berani menghina kasta bangsawan tadi pagi, aku akan memastikan tubuh jangkungmu itu mencium tanah liat dalam tiga hitungan napas pertama setelah gong berbunyi!"

Jauh di atas panggung kehormatan, Senopati Kudamerta mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sepasang mata elang yang tidak berkedip sedikit pun. Jenderal sepuh itu mengunci pandangannya pada jemari kaki kiri Mada yang sedang menapak di atas tanah liat kering. (Kita lihat saja, pemuda Hutan Tarik. Di depan sirkulasi hawa murni api yang agresif seperti milik Daniswara, apakah kamu masih bisa menyembunyikan poros teknik tinggi milikmu itu di balik topeng keluguanmu?)

Gong!

Ketukan gong perunggu kecil berdentang dengan keras, menandai dimulainya duel penentuan harga diri tersebut.

Begitu suara gong meredam, Raden Daniswara langsung meledakkan hawa murni api merah jingganya ke tingkat tertinggi yang ia kuasai. Ia menghentakkan kaki kanannya ke tanah, melesat maju bagaikan sambaran kilat di siang bolong. Tombak kayunya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, melepaskan teknik tusukan tiga titik terpadu yang mengincar lambung kanan, pundak kiri, dan berakhir pada ulu hati Mada secara berurutan.

Wus! Wus! Wus!

Hawa panas yang memancar dari ujung tombak Daniswara bahkan sampai membuat debu-debu di sekitar lingkaran arena mendadak kering dan beterbangan. Menghadapi badai serangan yang begitu cepat dan mematikan tersebut, Mada tetap mengaktifkan mata sakral Niti Sastra level dua miliknya setipis helai rambut di balik pelupuk matanya. Di dalam peta penglihatan batin Mada, seluruh gerakan Daniswara yang terlihat cepat bagi orang biasa sebenarnya berjalan dengan sangat lambat dan dipenuhi oleh lubang spiritual yang sangat besar karena ego Daniswara yang terlalu meremehkan lawan.

(Tusukan pertama terlalu tinggi, tusukan kedua melebar karena pergelangan tangannya terlalu kaku menahan panas, dan tusukan ketiga di ulu hati memiliki titik tumpu kaki yang terlalu rapuh. Aku bisa mematahkan rusuk kirinya hanya dengan satu ketukan pangkal tombak, namun malam ini harus berakhir dengan sandiwara keberuntungan.)

Mada menampilkan reaksi seorang pemuda yang sangat panik. Ia berteriak pelan sambil memejamkan matanya, memutar tubuh jangkungnya ke arah belakang dengan gerakan yang tampak sangat berantakan dan tidak seimbang seolah-olah ia sedang mencoba melarikan diri dari sambaran tombak lawan. Gerakan berputar yang terkesan konyol dan kasar itu membuat tusukan pertama dan kedua Daniswara melesat bebas hanya beberapa jengkal dari permukaan baju katun Mada.

Namun, Daniswara tidak berhenti. Melihat Mada yang membalikkan badan seperti pengecut, ia tersenyum kejam dan melepaskan tusukan ketiganya dengan mengerahkan seluruh sisa hawa murni apinya langsung ke arah punggung tengah Mada.

"Mati kamu, tikus desa!" teriak Daniswara.

Tepat pada detik yang sangat krusial tersebut, Mada sengaja membuat kaki kanannya tersandung oleh lilitan tali tampar pembatas arena yang berada di belakang tumitnya. Tubuh besarnya langsung terjerembap jatuh ke arah depan dengan gerakan yang tampak sangat alami dan kasar. Jatuhnya tubuh Mada yang mendadak itu membuat ujung tombak Daniswara yang mengincar punggungnya kembali meluncur bebas melewati ruang kosong di atas kepala Mada, menghantam udara kosong dengan suara desingan yang patah.

Karena terlalu besar dalam menyalurkan tenaga hawa murni apinya ke depan dan tidak menduga Mada akan jatuh tersandung, momentum dorongan tubuh Daniswara mendadak kehilangan kendali sepenuhnya. Kuda-kuda kakinya meluncur ke depan melewati tubuh Mada yang sedang tertelungkup di tanah liat.

Di saat tubuh Daniswara melesat di atasnya, Mada yang sedang berpura-pura panik sambil mengayun-ayunkan kedua tangannya di tanah secara tidak sengaja mengaitkan ujung tombak kayunya yang melengkung pada bagian belakang pergelangan kaki kanan Daniswara yang sedang melayang mencari pijakan. Sentuhan itu dilakukan Mada tanpa menggunakan hawa murni sedikit pun, namun dengan memanfaatkan berat tubuh Daniswara sendiri serta kepadatan struktur otot alami Mada yang luar biasa tebal, dampak kaitannya menjadi sangat mematikan.

"Eh?" pekik Raden Daniswara ketika ia merasakan pergelangan kakinya seperti membentur sebatang akar pohon jati purba yang tertanam kuat di dalam tanah.

Seketika itu juga, keseimbangan tubuh Daniswara hancur berantakan. Tubuh tampannya berputar di udara sebelum akhirnya jatuh terhempas dengan sangat keras ke atas tanah liat kering di luar batas lingkaran tali tampar, dengan posisi wajah yang mendarat terlebih dahulu di atas debu lapangan. Tombak kayu pilihan miliknya terlepas dari genggaman, melayang tinggi sebelum akhirnya jatuh mencuat di dekat kaki bintara instruktur.

Duk! Prak!

Suara hantaman tubuh Daniswara terdengar begitu solid hingga membuat lapangan utama mendadak menjadi sunyi senyap seketika. Seluruh taruna bangsawan yang tadinya bersorak-sorai mendadak mengatupkan mulut mereka dengan wajah yang pucat pasi, tidak percaya melihat pemimpin mereka yang paling berbakat bisa terjungkal keluar arena dengan cara yang sangat memalukan.

Sementara itu, Mada perlahan bangkit berdiri dari tanah liat dengan tubuh yang dipenuhi oleh debu kering. Ia memegangi pinggangnya sambil meringis kesakitan palsu, menatap tubuh Daniswara yang sedang berusaha merangkak bangun di luar garis pembatas dengan wajah penuh debu tanah dan hidung yang sedikit mengeluarkan darah karena benturan.

"Aduh... aduh, maafkan saya, Raden yang agung!" seru Mada dengan suara yang dibuat sangat cemas dan ketakutan sambil melangkah mundur mendekati barisannya kembali. "Saya benar-benar tidak sengaja! Tali tampar ini terlalu tebal sehingga kaki saya tersandung sendiri! Saya tidak tahu kalau tombak saya menyangkut di kaki Anda! Mohon jangan hukum saya untuk membersihkan dapur utama!"

Bintara instruktur yang bertugas sebagai penilai menatap tubuh Daniswara yang sudah berada sepenuhnya di luar batas tali tampar, lalu beralih menatap Mada yang sedang berdiri gemetar memegang tombak melengkungnya. Meskipun cara menang Mada terlihat sangat konyol dan murni karena faktor keberuntungan tersandung, aturan duel tetaplah aturan yang mutlak di dalam militer Majapahit.

"Pertarungan selesai! Pemenang duel pertama, Mada dari Hutan Tarik dari barak hunian nomor empat!" teriak bintara penguji sambil melambaikan kain merah tinggi-tinggi ke udara. "Sesuai keputusan Senopati Kudamerta, barak nomor empat dibebaskan dari seluruh tugas kebersihan malam selama satu bulan penuh!"

Sorak-sorai riuh rendah yang luar biasa keras langsung pecah dari arah banjar barak nomor empat. Jaka Wulung langsung meloncat kegirangan sambil memeluk pundak Lembu Sora, sementara Ragajaya menatap Mada dengan pandangan mata yang sangat rumit—bercampur antara rasa lega karena barak mereka selamat dari hukuman, namun juga merasa aneh melihat bagaimana pemuda desa yang tampak bodoh ini bisa selalu diselamatkan oleh keberuntungan yang tidak masuk akal di setiap momen kritis.

Raden Daniswara bangkit berdiri dengan bantuan para pengikutnya, menyeka darah di hidungnya dengan kain sutra lengannya yang kini telah kotor oleh tanah liat. Ia menatap Mada dengan sepasang mata yang menyala merah karena amarah dan rasa malu yang luar biasa besar. (Kurang ajar! Anak desa sialan itu benar-benar merusak seluruh harga diriku di depan Senopati! Aku akan memastikan dia membayar semua ini di dalam barak pelatihan nanti!)

Mada tidak memedulikan pandangan penuh dendam dari Daniswara. Ia berjalan kembali ke barisannya dengan pundak yang kembali diturunkan, memasang wajah seorang pemuda desa yang merasa sangat lega karena terhindar dari hukuman berat. Namun, jauh di lubuk sukmanya yang paling dalam, Mada tahu bahwa sandiwaranya hari ini telah berhasil mencapai tujuannya dengan sangat sempurna. Ia telah memenangkan legitimasi pertama bagi barak nomor empat tanpa harus memperlihatkan satu jengkal pun pendaran energi emas Khodam Batara Niti Mandala kepada dunia luar.

Di atas panggung kayu kuning, Senopati Kudamerta perlahan duduk kembali di kursi jatinya. Sebuah senyuman tipis yang sangat misterius tampak tersungging di sudut bibirnya yang berjanggut putih. Jenderal sepuh itu mencatat nama prajurit nomor 047 di dalam benaknya dengan tinta yang sangat tebal, semakin yakin bahwa harimau muda dari Hutan Tarik ini sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi prajurit Tamtama di Trowulan.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!