Harap bijak dalam memilih bacaan⚠️
Area 21++
Nadiyya Anita Putri seorang gadis yatim piatu yang kini hidup bersama ibu tirinya yang bernama Ibu Naya dan adik tirinya yang bernama Natasya Amora Silvia dirumah lantai dua peninggalan ayahnya.
Suatu hari ada seorang Nyonya besar dari keluarga Gonz'alez datang. Keluarga kaya raya dan sangat berkuasa di london - inggris.
Kedatangannya ke kediaman mereka karena ingin melamar seorang gadis untuk menjadikannya sebagai menantunya dan itu artinya dia akan menjadi istri dari putranya - Rahim Aditya Gonz'alez seorang yang berwajah dingin datar namun tampan dan sangat kaya raya.
Lantas siapakah yang dipilih oleh Nyonya besar untuk menjadi menantunya? apakah Natasya Amora Silvia atau kah Nadiyya Anita Putri?.
Dan bagaimana kah cerita perjalanan kisah pernikahan mereka yang tanpa adanya cinta sama sekali?.
Apakah ditengah tengah perjalanan pernikahan mereka nanti akan tumbuh benih-benih cinta? ataukah perceraian menjadi jalan terbaik?.
Yukkk ikuti cerita kisah mereka hanya di My Cold Husband
SLOW UPDATE 🙏🏻
NOVEL PERTAMA, MOHON DUKUNGANNYA ♥️
JANGAN LUPA KLIK FAVORIT ❤️, LIKE👍🏻, TINGGALKAN JEJAK 👣.
Tanpa kalian author bagaikan burung tak bersayap💔.
شكرا جزيلا♥️
Terimakasih banyak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 - Istiqomah dalam Ta'aruf
Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Jam menjadi hari. Hari menjadi minggu. Minggu merangkak menjadi bulan. Rotasi perputaran waktu detik per-detik terasa sangat cepat.
Sekarang pernikahan Rahim dan Anita sudah menginjak satu bulan. Seiring berjalannya waktu demi waktu Nita sudah mulai terbiasa bersama dengan Rahim.
Seperti pagi ini saat Nita mulai mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan separuh nyawanya. Senyum tertarik di ujung bibir ranumnya, mendapati ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Memberikan kehangatan yang dapat mengalahkan dinginnya AC, angin, badai, topan, ****** beliung bahkan kutub utara sekalipun.
Nita membalikkan badannya, menatap wajah tampan nan tampak tenang yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia mengunyel-unyel gemas pipi Rahim dengan kedua tangannya. "Ehhh..." gadis usil itu kaget karena Rahim bergerak dan malah mengeratkan pelukannya.
Nita panik, ia berusaha menahan nafasnya agar Rahim tidak terbangun. Satu detik, dua detik, tiga detik.... sampai delapan belas detik.
Tawa Nita pecah, tapi hanya tertawa pelan. Menertawakan dirinya sendiri yang sudah panik tadi. Ia merasa tingkahnya sangat usil konyol pagi ini.
Dengan sangat perlahan Nita mengangkat tangan kekar suaminya. Tidak ingin berlama-lama megusili suaminya, atau nanti ia akan membangunkan beruang kutub yang masih tertidur.
Kemudian Nita berlalu masuk ke dalam bathroom dan berwudhu.
Mata Rahim masih terpejam. Pria itu menggerakkan tangannya, meraba sisi tempat tidur. Mencari keberadaan sang istri yang selalu berada di dalam pelukannya selama dua puluh delapan hari, ini. Tapi megapa tidak ada?.
Dengan malas Rahim mengerjap sembari menggosok matanya agar nyawanya cepat kembali pulih. Ia melirik sisi tempat tidur, ternyata kosong. Pantas saja saat ia raba tadi tidak ada.
He thought.
Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Itu artinya sang istri sedang mandi. Rahim bangun dan bersandar di headboard tempat tidur menunggu istrinya kembali.
Nita keluar dari kamar mandi, keadaan kamar masih gelap, hanya ada cahaya remang remang dari lampu tidur. ia menggunakan kimono handuk, dengan handuk kecil yag melilit rambutnya. Lalu ia berjalan masuk ke dalam ruang ganti baju.
Sementara Rahim memperhatikan Nita tanpa berkedip. Setiap hari rasa kagumnya semakin bertambah, apalagi dengan semua tingkah Nita yang terlihat gemas di matanya.
Rahim menyibak selimut kemudian turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam ruang ganti baju. Langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang.
Nita menolehkan kepalanya menatap wajah Rahim yang tengah memeluknya.
"Cup"
Rahim mengecup pipinya sekali. "Pagi" sapanya sambil mengeratkan pelukannya.
"Pagi" jawab Nita
Selama satu bulan ini Rahim memperlakukan Nita dengan baik dan bersikap sangat manis. Itu adalah salah satu taktiknya plus dengan kode ta'aruf yang ternyata dapat membuahkan hasil. Buktinya Nita sudah bisa terbiasa dengan pelukan dan ciuman dadakan darinya.
"Rahim lepas. Aku ingin mengenakan pakaian" ucap Nita, sembari memukul pelan tangan Rahim.
Rahim tidak menjawab, ia hanya terkekeh dengan wajah jahilnya. Nita menolehkan kepalanya lagi sambil mengerutkan keningnya.
"Rahim!" teriak Nita. Gadis itu terperanjak kaget saat tangan Rahim berhasil menarik tali kimono handuknya dan mulai bergerilya di tubuhnya. Nita mencubit gemas tangan nakal suaminya itu.
"Lepaskan, aku sudah berwudhu Rahim nanti batal!" Nita melepaskan paksa tangan Rahim.
Wajah Rahim berubah cemberut. Seperti anak kecil yang tidak mendapatkan permen.
Nita berbalik, menatap wajah cemberut suaminya. Gadis itu tersenyum sembari mendekatkan wajahnya. "Muach" satu ciuman menempel tepat di pipi Rahim.
Sesaat Rahim terpaku, ia kaget ternyata Nita berani menciumnya. Sesaat kemudian senyum terbit di bibirnya mengalahkan cerahnya sinar mentari.
Rahim menarik lembut pinggang istrinya, kemudian menghadiahinya ratusan ciuman balasan. "Sudah sudah" gelak tawa Nita menggema di ruang ganti baju. 'Geli' yang ia rasakan tidak bisa tertahankan karena banyaknya hadiah ciuman balasan dari Rahim. Ia sudah memprediksi bagaimana reaksi suaminya itu saat mendapatkan ciuman pertama darinya.
Gadis itu menahan wajah Rahim dengan kedua tangannya agar pria itu berhenti menciuminya, kemudian mendorong pelan wajahnya. "Sudah-sudah. Sekarang cepatlah kau mandi! sebentar lagi adzan subuh" titah calon Nyonya besar.
"Okey Nyonya" jawab Rahim dengan tangan kanan terangkat tegak lurus pada kening. Hormat. Setelah itu ia mengecup sekilas bibir Ranum kesayangannya, baru beranjak pergi mandi.
Nita tersenyum menatap punggung Rahim yang mehilang dari pandangannya. Rasa syukur tidak lupa selalu ia lantunkan kepada Allah SWT. Yang telah memberikannya pasangan seperti Rahim.
Kini ia bisa mengenal Rahim lebih dalam lagi. Ternyata Rahim seorang pria yang baik, berhati hangat walaupun sedikit konyol dan ia sangat penyabar.
Penyabar?. Ya, karena Rahim tidak pernah menuntut apapun darinya. Hanya saja tangan nakalnya terkadang suka tidak dapat dikendalikan.
Nita pernah bertanya di hari ke 4 mereka ta'aruf. Ia sedikit takut karena setiap tidur Rahim selalu saja memeluk dirinya "Rahim..." panggil Nita
"Hemmm?"
"Apa nanti kita juga akan melakukan 'itu'" tanya Nita tidak mau menyebutkannya. Rahim mengerti kemana arah pembicaraan Nita.
Lalu Rahim menjawab "Aku akan menunggumu siap" sembari tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Nita. Karena kata-kata Stella selalu saja terngiang-ngiang di kepalanya.
"Dengan kamu 'memaksanya' bisa saja akan membuat dirinya trauma dan bukan tidak mungkin dia akan meninggalkan mu pergi. Walaupun kamu sudah mengambil 'miliknya' yang berharga."
Dan Rahim tidak ingin itu terjadi. Sudah cukup baginya kehilangan 2 orang wanita yang sangat berarti dan di cintai nya. Ia tidak ingin Nita juga ikut meninggalkannya.
"Benarkah?"
"Ya" jawab Rahim singkat. "Yang terpenting kita hanya harus Istiqomah dalam ta'aruf, mengenal lebih dekat" tambahnya lagi.
Waktu itu Nita sempat mendelik, ia memundurkan lalu mendongakkan wajahnya menatap wajah Rahim. Karena posisi kepalanya bersandar pada dada bidang suaminya. "Memang ada istilah Istiqomah dalam ta'aruf?" protesnya.
Rahim menghela nafas. Ia lupa kalau Nita pandai dalam hal agama.
"Emmm..." Rahim berupaya berfikir keras mencari alasan untuk menjawab Nita, waktu itu rasanya otaknya membeku.
"Nah... arti istiqomah itu kan lurus, bukan? atau teguh pendirian?." tanya Rahim. Nita mengangguk beberapa kali, membernarkan.
"Kalau istiqomah di jalan Allah. Itu artinya teguh pendirian di jalan Allah atau konsisten. Contohnya emmmm..." penjelasan Rahim terhenti, matanya menatap pada langit-langit kamar berusaha mengorek kata lanjutan dari penjelasannya. Sedangkan Nita masih setia menunggu. "Contoh istiqomah di jalan Allah adalah tidak meninggalkan perintah-Nya baik dari kesibukan dunia seperti sholat. Ataupun saat sedang mengalami musibah, itu artinya walaupun terkena musibah seperti kebanjiran, kebakaran, gempa dan lain sebagainya mereka semua harus tetap melaksanakan sholat tidak boleh meninggalkannya, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan mencari ridho Allah bukan ridho manusia."
"Contohnya?" tanya Nita. Saat Rahim selesai berbicara, ia tidak bertanya atau memotong penjelasan Rahim. Karena sedari tadi ia mendengarkan dengan begitu khidmat semua penjelasan yang sangat panjang lebar.
Rahim merasa sangat sesak untuk bernafas, kepalanya tiba-tiba saja terasa sangat berat. Di kiranya penjelasannya sudah selesai, tapi ternyata tidak. Istrinya itu ternyata belum puas.
Rahim mencium pipi Nita dengan gemas. Kalau saja otak Nita berada di luar mungkin Rahim akan menggigit otaknya saking gemasnya.
Rahim kemudian menghela nafas. Otak istrinya ini ternyata sangat aktif maka dari itulah mungkin membuatnya menjadi seorang yang pandai. Tidak seperti otaknya yang kadang bisa beku di tengah jalan.
"Contohnya... kalau kita ingin bersedekah, menyumbangkan uang misalnya. Kita harus meniatkannya karena Allah, bukan karena untuk di lihat manusia, seperti ingin di puji."
Huuhh... Untung saja aku masih mengingat apa yang di sampaikan khatib saat khutbah Jum'at kemarin.
Nita terlihat tidak menanyakan apapun lagi, ia hanya manggut-manggut.
Rahim serasa mendapatkan angin segar saat melihat istrinya yang terlihat manggut-manggut membenarkan penjelasannya.
"Nah tidak jauh seperti itu, kita juga harus bisa istiqomah dalam masa ta'aruf ini. Teguh pendirian. Fokus kalau kita sedang ta'aruf! mengenal lebih dekat dengan begitu kita akan terbiasa, etttts tapi tidak hanya mengenal kita juga harus bisa saling melengkapi kekurangan satu dan lainnya. Kau pasti pernah mendengar bukan?. 'Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta'." Sekarang Rahim bisa bernafas lega. Pria itu tersenyum puas. Walaupun tadi otaknya sempat macet dalam berfikir, tapi akhirnya ia berhasil mengait-ngaitkan kata satu dengan lainnya menjadi satu seperti Indonesia.
Nita menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya ia ingin membantah soal istilah istiqomah dalam ta'aruf ini, tapi otaknya tiba-tiba saja tidak bisa di ajak berfikir. Dan pasrah meng-iya kan saja.
Sejak saat itu, tanpa siapapun sadari nama Rahim sedikit demi sedikit telah terukir di hati Nita.
.
Bersambung^_^