Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Hujan, Bukan Angin, Tapi Hatinya
Halaman bertuliskan "Gunawan Denny. HRD." belum sempat ditutup ketika Senin pagi datang bersama suara koper kecil Sekar di pintu.
"Selamat pagi, Pak Tan!"
Rumah Tan seperti menarik napas lagi.
Ardian menutup buku catatan kulit cokelat sebelum Sekar masuk ke ruang tengah. Ia belum akan memberitahunya. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena kecurigaan tanpa bukti hanya akan membuat Sekar membawa beban yang belum perlu ia pikul.
Sekar datang dengan kantong plastik dari Rumah Budiman, wajah cerah, dan rambut dikepang longgar.
"Mama kirim kue pisang. Untuk Pak Darren satu kotak, untuk staf satu kotak, untuk Pak Tan..." Ia mengangkat kotak kecil. "Tanpa gula berlebihan."
"Aku tidak meminta."
"Saya juga tidak bilang ini permintaan. Ini serangan kasih sayang dari Mama."
Ardian menatap kotak itu. "Letakkan di dapur."
"Baik."
Ia baru hendak pergi ketika matanya berhenti di rambut Ardian.
Ardian langsung waspada. "Apa?"
"Rambut Pak Tan."
"Kenapa?"
"Mulai panjang. Bagian belakang sudah seperti kucing mahal yang kehujanan."
"Panggil Tony."
"Tony baru bisa sore. Saya bisa rapikan sedikit."
Ardian menatapnya dengan curiga yang sangat masuk akal. "Kamu bisa potong rambut?"
"Dulu saya kerja part-time di pet shop. Bisa grooming."
"Aku bukan anjing."
"Saya tahu. Anjing biasanya lebih kooperatif."
Kalimat itu seharusnya membuatnya menolak. Namun entah karena Senin pagi, kue pisang, atau fakta bahwa Sekar baru kembali dari Depok, Ardian akhirnya membiarkan dirinya dibawa ke teras samping dengan handuk di bahu dan gunting khusus yang ditemukan Sekar entah dari mana.
"Sedikit saja," katanya.
"Sedikit."
"Kalau jelek, panggil Tony."
"Kalau bagus, Pak Tan bayar saya?"
"Kalau bagus."
Sekar berdiri di belakangnya, serius sekali. Untuk beberapa menit pertama, semuanya berjalan lebih baik dari perkiraan. Rambut yang terlalu panjang di tengkuk dirapikan. Sekar bahkan beberapa kali mundur untuk melihat simetri, seperti seniman memeriksa patung.
Ardian mulai merasa mungkin pengalaman pet shop tidak sepenuhnya mengerikan.
Lalu langit menggelegar.
Petir menyambar jauh di luar pagar. Sekar terkejut. Tangan yang memegang clipper bergerak setengah sentimeter lebih dalam.
Bzzzt.
Sunyi.
Sekar mematikan alat.
Ardian tidak bergerak.
"Budiman Sekar."
Sekar menatap bagian belakang kepalanya. Ada satu jalur lebih pendek dari yang seharusnya. Tidak botak penuh, tetapi cukup untuk membuat nasib manusia berubah.
"Pak Tan," katanya hati-hati, "kabar baiknya, kepala Pak Tan masih utuh."
"Kabar buruknya?"
"Kita harus segera menemui Tony."
Tony hampir menelepon polisi ketika melihat bagian belakang kepala Ardian.
"Pak Tan," tukang cukur itu berkata dengan wajah pucat di salon pribadinya, "siapa yang melakukan ini?"
Sekar mengangkat tangan pelan. "Saya."
Tony menatapnya.
Sekar menambahkan, "Dengan niat baik."
"Niat baik tidak selalu terlihat di rambut," gumam Tony.
Ardian duduk di kursi salon yang sudah diatur agar kursi rodanya bisa masuk dekat cermin. Wajahnya sedatar meja marmer.
"Perbaiki," katanya.
Tony langsung bekerja seperti dokter bedah dalam operasi besar. Ia memangkas sisi kanan, menyamakan belakang, memendekkan bagian atas, lalu membentuk gaya baru yang lebih segar dan bersih. Rambut Ardian yang selama ini sedikit menutupi dahi kini tertata pendek, memperlihatkan garis wajahnya dengan lebih tajam.
Sekar yang awalnya berdiri seperti terdakwa, pelan-pelan lupa merasa bersalah.
Pria itu tampan.
Sangat tampan.
Terlalu tampan untuk korban grooming gagal.
Ardian melihatnya dari cermin. "Kamu menatap apa?"
"Hasil rehabilitasi rambut."
Tony batuk, jelas menahan tawa.
Saat mereka keluar dari salon Tony, hujan turun mendadak seperti langit membuka ember. Sopir yang menunggu di sisi lain kompleks mengabari lewat telepon bahwa akses depan macet karena pohon kecil tumbang. Mobil bisa mendekat, tapi butuh waktu.
Sekar melihat jarak dari pintu salon ke kanopi parkir. Tidak jauh, tetapi cukup untuk membuat kursi roda dan pasiennya basah kuyup.
"Kita tunggu," kata Ardian.
Angin membawa cipratan air sampai ke kaki mereka. Langit kembali menggelegar. Sekar melihat jam, lalu melihat awan yang makin gelap. Jika mereka menunggu terlalu lama, jalan ke Rumah Tan bisa makin macet. Dan di halaman belakang, melati serta mawar yang baru ditanam mungkin sedang dihajar hujan deras.
"Saya bawa payung."
"Payung kecil."
"Yang penting ada."
Sekar membuka payung lipat dari ranselnya. Payung itu memang kecil, lebih cocok untuk satu orang yang ramping dan optimis, bukan satu pria dewasa di kursi roda elektrik plus pengasuh yang keras kepala.
Ia berdiri di sisi Ardian, memiringkan payung sepenuhnya ke atas kepalanya.
"Kamu basah," kata Ardian setelah dua meter.
"Sedikit."
Air sudah membasahi bahu kiri Sekar.
"Miringkan ke tengah."
"Nanti Pak Tan basah."
"Aku tidak akan meleleh."
"Saya tahu. Tapi kursi roda elektrik tidak suka air."
Hujan makin deras. Angin menampar dari samping, membuat payung hampir terbalik. Sekar menggenggam gagang lebih kuat, tubuhnya setengah membungkuk melindungi panel kursi roda. Rambutnya menempel di pipi. Kemejanya mulai basah. Sandalnya memercik air.
Ardian menatapnya dari bawah payung.
Selama ini orang melindunginya dengan rasa kasihan, kewajiban, atau kepanikan. Sekar melindunginya seperti sedang menjaga sesuatu yang berharga sekaligus menyebalkan, sesuatu yang harus tetap kering meski dirinya sendiri kacau.
"Berhenti," katanya.
Sekar tidak mendengar. "Apa?"
Petir menggelegar lagi.
Kali ini hujan datang dari semua arah.
Sekar melihat jarak ke kanopi masih beberapa meter. Lalu ia melihat kursi roda, melihat payung kecil, melihat Ardian yang mulai terkena cipratan di bahu.
Keputusan itu muncul tanpa konsultasi dengan akal sehat.
"Pak Tan, maaf. Saya naik sebentar."
"Apa?"
Sekar melipat satu kaki, menahan tubuh pada kedua sandaran lengan kursi roda, lalu duduk menyamping di pangkuan Ardian dengan gerakan cepat. Ia tidak menekan kakinya, hanya bertumpu pada sisi kursi dan lengan sendiri, tetapi jarak di antara mereka hilang seketika.
Ardian membeku.
Payung kini bisa menutup mereka berdua dan panel kursi roda. Wajah Sekar dekat sekali. Tetes air dari rambutnya jatuh ke punggung tangan Ardian.
"Dua puluh lima km/jam, ayo berangkat!" seru Sekar, matanya menyala dalam hujan. "Lihat kuda perang dan tombakku!"
Tombak yang ia maksud adalah payung lipat kecil berwarna biru.
Ardian seharusnya marah.
Seharusnya menyuruhnya turun.
Seharusnya mengatakan bahwa ini berbahaya, bodoh, dan sama sekali tidak pantas.
Namun yang ia dengar pertama kali bukan suaranya sendiri.
Melainkan detak jantung.
Kursi roda meluncur ke arah kanopi, tidak benar-benar dua puluh lima kilometer per jam karena Ardian masih punya sisa akal sehat. Tetapi dalam hujan deras, dengan Sekar duduk di pangkuannya sambil memegang payung seperti pahlawan perang gagal, dunia terasa bergerak terlalu cepat.
Sekar tertawa ketika roda melewati genangan kecil. "Kanan, Pak! Kanan! Jangan masuk lubang!"
"Diam kalau tidak mau jatuh."
"Saya navigator!"
"Navigator berisik."
"Navigator menyelamatkan rambut baru Pak Tan."
Ardian ingin membalas, tetapi kata-katanya hilang saat Sekar menoleh. Pipinya basah, matanya cerah, bibirnya tertawa, dan jarak mereka begitu dekat sampai ia bisa melihat bulu mata Sekar menahan titik air.
Detak itu makin keras.
Bukan karena angin.
Bukan karena hujan.
Tapi karena hatinya sendiri bergetar.
Mereka akhirnya sampai di kanopi, lalu naik mobil dengan kondisi Sekar basah kuyup dan Ardian hanya basah sedikit di bahu. Sopir beberapa kali meminta maaf. Sekar malah tertawa sambil memeras ujung rambutnya dengan tisu.
"Tidak apa-apa. Misi berhasil."
Ardian menatap jendela, telinganya panas.
Di Rumah Tan, hujan sudah mulai reda. Begitu pintu mobil dibuka, Sekar melihat halaman belakang dari jauh.
"Melati!"
Ia langsung berlari melewati teras, lupa bahwa bajunya masih basah. Ardian baru turun dari mobil ketika melihatnya menerobos gerimis kecil menuju dua tanaman yang mereka tanam.
"Budiman Sekar, pelan!"
"Nanti tanahnya hanyut!"
Ia jongkok di dekat melati dan mawar, membetulkan tanah di sekeliling akar, menahan batang kecil yang miring, dan menyapu air dari daun dengan tangan. Hujan berhenti sepenuhnya saat ia selesai. Matahari sore muncul malu-malu di balik awan, menempelkan cahaya tipis di punggung Sekar yang basah.
Ardian berhenti di tepi jalur batu.
Sekar menoleh, wajahnya penuh tanah dan air, lalu mengangkat ibu jari.
"Selamat. Pasien, rambut baru, kursi roda, dan bunga semuanya selamat."
Ardian tidak menjawab.
Ia hanya merasakan telinganya makin panas.
Malam itu, setelah Sekar dipaksa staf rumah mengganti pakaian dan minum jahe hangat, setelah jadwal pijat dipersingkat karena ia sendiri yang bersin dua kali, Ardian kembali ke ruang kerja.
Buku catatan kulit cokelat terbuka.
Ia melihat halaman penyelidikan CV, lalu membalik ke halaman kosong berikutnya.
Bayangan Sekar di tengah hujan masih menempel di matanya. Payung kecil. Rambut basah. Suara tertawa. Berat tubuhnya yang singkat di pangkuan. Detak jantung yang tidak mau tenang.
Ardian menyentuh telinganya sendiri.
Masih panas.
Ia mengambil pulpen dan menulis tiga kata.
Aku tamat.