Read this prequel novel first : AKU HARUS BAIK
Berdasarkan kisah nyata atau tidaknya itu terserah bagaimana kalian mempercayainya
18 tahun keatas untuk bisa memahami cerita
Novel ini khusus buat yang open minded
[Peringatan : Diharapkan bisa dalam berpikir dua sudut pandang dan berpikir majemuk sebelum membaca]
[Dukung terus author dengan like, komen, vote, favorit, dan share. Terimakasih]
Ini cerita tentang suatu keharusan kita dalam berperan jahat, bahwa kejahatan dirasa adalah hal yang terbaik dan perlu dilakukan saat itu juga.
Tidak peduli sekeras apapun kita mencoba dalam menghindarinya, pastilah akan ada seseorang yang memang harus berperan jahat didalam kehidupan kita
Dan,
Inilah aku sekarang.
Aku Harus Jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon After.Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25 - Perhatian
"Dengerin" ucapku
"Dua atau tiga orang mungkin aku masih berani ngelawan, walaupun aku sekarat. Tapi. Kalau udah satu kelompok aku gak tahu nasibku" ucapku
"Ngapain kamu disitu? Kamu itu cewek. Sendirian" tambahku
Safira menatapku sayu, lalu, menangis perlahan,
"Jangan kamu nangis" ucapku
Aku memegang kedua pundaknya, "Kamu gak tahu kayak gimana susahnya aku ngebuat kamu tersenyum"
Safira mulai tersenyum,
"Cantik" ucapku
"Bukan aku sedih. Tapi. Aku bahagia aja" ucap Safira, mengusap air matanya
Aku mengernyitkan dahiku, "Bahagia?"
"Ternyata ada juga yang mikirin aku sekarang" ucap Safira
Aku menatapnya lekat, kemudian memegang tangannya, "Jangan pernah mikir kalau gak ada satupun orang yang merhatiin hidupmu"
Safira mengangguk pelan,
"Percayalah" ucapku
Semua terlihat alami. Aku yang melihat Safira ditengah perjalananku, lalu, meminta temanku untuk menepi dan meninggalkanku, aku berjalan mendekati sekelompok itu sembari memikirkan alasan yang tepat dan kuperhatikan, beberapa orang disana itu terus menatap Safira dengan penuh nafsu. Setelah ada disana. Aku bertingkah seakan tidak sengaja bertemu dijalan, padahal aku memang berniat untuk membawanya pergi dan pastinya tidak semudah aku langsung membawanya, aku duduk bersama mereka sembari mencari waktu yang tepat, sudah dua kali aku ditawari gelas kecil oleh mereka, tapi, aku terus menolaknya, aku tidak peduli mereka itu marah atau tersinggung, karena aku yang tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan saat itu juga.
Minuman yang beralkohol itu mempunyai banyak pengaruh, dan bayangkan apa yang akan terjadi, kalau semua orang yang ada disana itu kehilangan akal sehatnya, sedangkan dia itu perempuan sendiri disana, makanya, aku membawanya pergi dengan alasan ingin mengerjakan tugas kelompok, padahal aku saja beda kampus dengannya. Terkadang. Aku penasaran dengan alasan seorang perempuan yang memilih berkumpul dengan sekelompok lawan jenisnya, padahal dia sendirian dan kebanyakan orang pastilah beranggapan perempuan itu buruk, sedangkan dia hanya terdiam serta tidak melakukan apapun disana.
Tempatnya bukan disanalah,
Sejatinya.
"Ngapain aku disitu?" ucap Safira, mengulang pertanyaanku
"Tempat yang paling indah itu rumah, terus, perjalanan yang paling indah itu pulang. Bagian yang menarik. Gimana aku pulang? Rumah aja aku gak punya" ucap Safira, menatap kosong
"Hidup tanpa rumah" ucap Safira
"Aku gak nyalahin kamu ada disana. Tapi. Mereka itu bisa punya niat buruk yang aku permasalahin, makanya, aku bawa kamu" ucapku
"Apapun yang kamu lagi rasain. Bakalan aku dengerin" tambahku
"Makasih" ucap Safira
Berhasil aku membawanya. Perempuan cantik sepertinya itu memang bukan tempatnya berada ditongkrongan yang semuanya itu lawan jenisnya, dan terlebih kebanyakan dari mereka adalah berandalan yang seringkali melakukan kejahatan, aku tidak begitu heran Safira mempunyai relasi yang memudahkannya bertemu dengan orang seperti mereka. Tidaklah ingin kuhakimi. Membutuhkan tingkat yang sangat tinggi untuk bisa menghakimi seseorang, dan sebelum melakukannya alangkah baiknya kita menghakimi diri sendiri terlebih dahulu, setiap orang mempunyai keadaan serta alasannya tersendiri, bagian itulah yang membuat kita memikirkan kembali untuk menghakimi seseorang.
Langit penuh bintang,
Gemerlap.
Ditrotoar. Aku dan Safira berjalan sembari menikmati kesunyian jalanan, sedangkan disiang hari jalanan yang kita lewati itu dipenuhi oleh berbagai kendaraan, rasanya malam hari itu memberikan kesempatan agar kita bisa menikmati seutuhnya keindahan sekitar, aku melihat kursi panjang ditrotoar lalu memutuskan untuk duduk, lalu, Safira pun mengikutiku. Indahnya kota Bandung. Rasanya seluruh kotanya itu mempunyai kesan tersendiri, dan pantas saja ada banyak orang yang membuat cerita berlatar dikota, sebegitu berkesankah cerita tersebut sampai membuat orang itu menceritakannya dengan sepenuh hatinya? Rasanya aku mengerti, kuharap, aku juga mempunyai suatu cerita itu dalam hidupku, lalu, inginku menceritakannya kepada semuanya bahwa kota ini memang penuh dengan perasaan tersebut. Mungkin.
"Foto" ucap Safira
Aku melihat kamera, dan tersenyum kaku,
"Kamu. Susah banget senyum. Dasar" ucap Safira, melihat hasil fotonya
"Maafin aku ngecewain" ucapku
"Gakpapa" ucap Safira
...*********...
Keesokannya,
Sepulang aku kuliah, aku berjalan menuju kosan Safira, dan sesampai aku dikamarnya, Safira memberikanku lampu dengan senyuman tanpa dosanya, kemudian aku mengganti lampu kamarnya itu dengan berdiri diatas meja belajarnya yang kugeser sedikit, pemilik kamarnya malah rebahan sembari membaca novel. Setelahnya. Aku duduk tenang dan melihat buku perkuliahannya yang berantakan dimeja belajarnya, sepertinya dia belum selesai mengerjakan tugasnya, kemudian aku merasakan kantuk yang tidak bisa kutahan, lalu, aku menjadikan kedua tanganku diatas meja belajarnya sebagai bantal untukku tertidur. Kuterlelap
"Kecapekan" ucap Safira
Aku mendengar apa yang diucapkannya, dan Safira mencubit pipiku dengan gemasnya, Safira itu kurasa memperhatikanku terus menerus disaat aku tertidur, disetengah kesadaranku aku melihat wajah cantiknya berada tepat didepanku, tapi, kemudian aku tertidur kembali. Terbangun. Aku tidak melihat sekelilingku dan Safira tidak ada dikamarnya, kemudian aku berjalan menuju dapur kosannya, lalu, aku menemukannya sedang duduk menunggu supnya matang, Safira membalikkan badannya lalu tersenyum simpul melihatku sudah terbangun. Melamun aku disampingnya. Aku sedang mengumpulkan seluruh nyawaku, Safira menyikutku dengan cukup kencang sampai aku hampir terjatuh, dan aku menahan senyumanku untuk menyembunyikan rasa maluku sedangkan dia tertawa, aku beranjak dari tempatku lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku, rasanya aku kembali hidup setelah air mengenai wajahku.
"Kamu makan dulu" ucap Safira
"Nantilah" ucapku
"Sekarang" ucap Safira
Safira memindahkan panci kemeja makan, "Yaudah. Tapi. Nanti semuanya dingin"
"Ralat. Cuman gak panas" tambahnya
"Iya" ucapku
kak thor ngulang baca lagi 🤗 setelah pernah usai
kan gelap....