Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membalas Perbuatan Bos Menyebalkan
Sepanjang perjalanan, Nafisa duduk di kursi penumpang, tepat di sebelah Dewangga. Pria itu tampak sibuk menatap layar ponselnya, sesekali menggerakkan ibu jari untuk membalas pesan yang masuk.
Sementara itu, Nafisa hanya bisa duduk diam. Beberapa kali, ia melirik ke arah atasannya, berharap pria itu berbaik hati menjelaskan tujuan mereka pergi ke rumah sakit. Namun, Dewangga seolah tidak menyadari tatapannya.
Nafisa mengembuskan napas pelan, kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Benar saja, tak lama kemudian, laju mobil perlahan melambat sebelum memasuki pelataran sebuah rumah sakit swasta. Dewangga mengarahkan mobilnya ke area parkir, lalu menghentikannya di salah satu tempat yang tersedia.
“Turun.”
Nafisa menoleh sekilas. Ia hampir saja membalas ucapan singkat itu dengan sederet protes, tetapi akhirnya hanya menghela napas.
Tanpa menjawab, Nafisa membuka pintu mobil dan turun. Ia baru saja menutup pintu ketika Dewangga menghampirinya.
Belum sempat bertanya, pria itu sudah meraih tangannya dan menariknya untuk berjalan bersama.
“Eh, Pak, mau ngapain?” Nafisa mengernyit, berusaha menyesuaikan langkahnya dengan langkah Dewangga yang panjang.
“Jangan dilepas.”
Nafisa terdiam sesaat. Ia menatap tangan mereka, lalu mendongak untuk melihat wajah atasannya. Sayangnya, Dewangga sama sekali tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
‘Apa-apaan lagi ini?’
Karena tak ingin menjadi pusat perhatian di pelataran rumah sakit, Nafisa akhirnya menuruti perintah itu. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Dewangga, membiarkan pria tersebut menuntunnya menuju gedung rumah sakit.
Sepanjang langkah mereka, Nafisa berusaha mengabaikan kedekatan yang terasa janggal itu. Namun, pikirannya justru semakin dipenuhi pertanyaan.
. . .
Setibanya di dalam gedung, Nafisa mengikuti langkah Dewangga menyusuri lorong rumah sakit. Aroma khas obat-obatan tercium samar, bercampur dengan suara langkah kaki dan percakapan pelan dari beberapa orang yang berlalu-lalang.
Sesekali, Nafisa melirik ke arah pintu-pintu kamar yang mereka lewati.
Hingga akhirnya, langkah pria itu berhenti di depan sebuah pintu kamar.
Nafisa ikut menghentikan langkahnya. Namun, ketika ia hendak mengikuti Dewangga masuk, pria itu justru berbalik dan menatapnya lekat.
“Nanti, di dalam, apa pun yang Oma saya katakan, kamu harus menjawab sesuai instruksi saya. Paham?”
Nafisa mengerjap beberapa kali. “Eh, kenapa, Pak?”
Dewangga mengangkat sebelah alisnya. “Banyak tanya. Mau saya potong gajimu?”
Nafisa langsung terdiam. ‘Astaga! Apa hubungannya bertanya dengan potong gaji?’
Ia menatap atasannya dengan wajah tak percaya.
Ada banyak unek-unek yang ingin ia keluarkan, tetapi ia segera mengurungkan niatnya. Bagaimanapun, Dewangga adalah atasannya. Ia tidak mau gara-gara adu mulut, gajinya benar-benar dipotong.
“Iya, Pak,” jawabnya singkat.
“Bagus.”
Dewangga berbalik, lalu mendorong pintu kamar itu perlahan. Sebelum masuk, ia kembali meraih tangan Nafisa dan menggenggamnya dengan lembut.
Nafisa hanya bisa pasrah. Ia mengikuti langkah pria itu tanpa banyak protes, meskipun dalam hati masih bertanya-tanya.
Begitu memasuki kamar, pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita lanjut usia yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Selang infus terpasang di tangannya, sementara alat bantu pernapasan tampak membantunya bernapas.
Langkah Nafisa melambat. Tanpa sadar, ia ikut merasa prihatin melihat kondisi wanita tersebut.
“Oma ….”
Suara Dewangga terdengar berbeda. Tidak ada nada dingin atau ketus seperti yang biasa didengar Nafisa. Kali ini, suaranya justru dipenuhi kelembutan.
Wanita lanjut usia itu perlahan menoleh. Begitu melihat siapa yang datang, sudut bibirnya terangkat tipis meskipun wajahnya masih terlihat pucat.
“Dewangga ….”
Suara wanita itu terdengar lemah, membuat Dewangga segera mendekat sambil tetap menggenggam tangan Nafisa.
“Bagaimana keadaan Oma?” tanyanya sembari menatap wajah sang nenek dengan cemas.
“Enggak baik-baik, Ga,” jawab wanita itu lirih.
“Jangan ngomong begitu, Oma. Oma harus cepat sembuh. Apa Oma enggak mau melihat cucu Oma menikah?”
Mendengar pertanyaan itu, Nafisa spontan menoleh ke arah Dewangga.
‘Lho?’
Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pria yang selama ini terkenal dingin ternyata bisa berbicara selembut itu.
‘Enggak menyangka, pria seperti Pak Dewangga ternyata bisa lembut juga.’
Ia kembali menatap wanita yang terbaring di ranjang itu. Hatinya sedikit tersentuh melihat betapa Dewangga berusaha menghibur wanita paruh baya itu.
Namun, saat teringat bagaimana pria itu memperlakukannya sejak tadi, Nafisa segera mengerucutkan bibir.
“Kapan kamu nikahnya?” tanya wanita lanjut usia itu.
“Tunggu Oma sembuh, baru Wangga nikah.”
Wanita itu menghela napas pelan. Namun, tak lama kemudian, pandangannya beralih kepada Nafisa yang berdiri di samping cucunya.
“L-lalu, dia? Ca-calon cucu menantuku?” tanyanya sembari mengangkat tangan sedikit ke arah Nafisa.
Nafisa sontak membeku.
Ia berkedip beberapa kali, berusaha mencerna ucapan wanita tersebut. Sepertinya, sang nenek mengira dirinya adalah calon istri Dewangga.
“Bu, buk—”
“Iya, Oma,” potong Dewangga cepat.
Nafisa langsung menoleh tajam ke arah atasannya. “Pak—”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, ia merasakan genggaman tangan Dewangga sedikit mengerat. Pria itu bahkan menekan tangannya pelan, seolah memberikan peringatan agar ia tidak mengatakan sesuatu yang bisa merusak kebohongan mereka.
Nafisa menatapnya tak percaya.
‘Apa-apaan ini? Aku calon istrinya? Mana sudi, nikah sama dia bikin rambutku jadi memutih.’
Sementara itu, wanita lanjut usia tersebut mengamati mereka bergantian. Dahinya berkerut, menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya percaya.
“Oma enggak percaya,” katanya akhirnya.
Dewangga tersenyum tipis. “Oma, Wangga benar-benar serius. Nafisa ini wanita yang Wangga ceritakan sama Oma. Oma ingat, kan?”
Nafisa nyaris kehilangan kata-kata.
Ia melirik Dewangga dari samping, berharap pria itu memberikan penjelasan.
“Wanita saleh dan menyebalkan itu?”
Nafisa terdiam.
Perlahan, ia kembali mengalihkan pandangan kepada Dewangga. Kemudian, dengan wajah bingung, ia menunjuk dirinya sendiri.
‘A-aku? Wanita saleh, tetapi menyebalkan?’
Nafisa mendengus pelan, lalu buru-buru memalingkan wajah ke arah lain agar kekesalannya tidak terlihat jelas.
Namun, sesaat kemudian, senyum miring terbit di bibir Nafisa. Ia melirik tangan Dewangga yang masih menggenggam tangannya, lalu perlahan melepaskan diri sebelum melangkah mendekati wanita lanjut usia itu.
“Oma ….” Nafisa memasang wajah manis, kemudian menunjuk dirinya sendiri. “Aku cucu menantumu. Yang menyebalkan ini.”
Setelah mengatakan itu, ia melirik Dewangga sekilas. Melihat pria itu masih berdiri dengan wajah datar, muncul keinginan untuk membalas semua perlakuan menyebalkannya sejak tadi.
“Tapi, Oma, apa Oma tahu? Pak Dewangga itu—”
“Pak?”
Nafisa langsung membekap mulutnya sendiri.
‘Astaga! Aku lupa kalau sekarang sedang berperan sebagai calon istrinya!’
Ia terkekeh canggung, berusaha menutupi kesalahannya. Sementara itu, Dewangga menatapnya dengan sorot mata yang seolah memperingatkan agar ia tidak macam-macam.
“Aduh, mulut ini memang enggak bisa dijaga kalau lagi kesal, Oma,” ujar Nafisa sambil menggaruk tengkuknya.
Wanita lanjut usia itu justru tersenyum lembut. “Kamu kesal kenapa, Sayang?”
Ekspresi Nafisa seketika berubah. Ia mendekat, lalu memeluk wanita itu dengan manja. Namun, dari balik pelukan tersebut, matanya melirik Dewangga dengan tatapan penuh arti.
“Mas Dewangga selalu mencari masalah denganku, Oma.” Nafisa sengaja memasang suara sedih. “Dia pernah mengataiku botol Yakult. Bahkan, Mas Dewangga selalu memakiku di depan banyak orang. Sakit hati sekali, Oma. Rasanya seperti ditusuk ribuan besi panas!”
“Jangan ngomong sembarangan kamu, Nafisa!” tegur Dewangga.
Nafisa buru-buru menjulurkan lidah ke arahnya, lalu kembali memeluk sang nenek dengan lebih erat.
“Oma, dengar sendiri, kan? Dia galak sekali!” rengeknya.
“Nafisa!”
“Dewangga!” panggil wanita lanjut usia itu, kali ini dengan nada tegas.
Dewangga yang semula hendak membalas langsung menutup mulut. Ia mengembuskan napas, kemudian menatap neneknya dengan wajah tak terima.
“Oma, bukan begitu. Wangga difitnah.”
“Fitnah bagaimana, Oma?” Nafisa segera menyela. “Karyawan di kantor juga tahu, kok. Kalau calon cucu menantumu sering di maki. Oma enggak percaya, tanyakan saja kepada mereka.”
Dewangga menoleh tajam. “Kamu ini—”
“Dewangga!” tegur sang nenek sekali lagi.
Pria itu langsung terdiam. Rahangnya mengeras, tetapi ia tak berani melanjutkan ucapannya di hadapan wanita yang paling disayanginya tersebut.
Nafisa buru-buru menunduk, pura-pura menyeka sudut matanya. Padahal, ia sedang berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak.
‘Hahaha! Ternyata ini kelemahan Pak Dewangga. Takut sama Omanya!’
Ia melirik atasannya sekilas, lalu kembali menyembunyikan senyumnya di bahu sang nenek.
‘Jadi, aku punya senjata kalau Pak Dewangga menindasku lagi. Salah sendiri bawa aku ke sini. Dia enggak tahu, ya, kalau aku ini orangnya gampang balas dendam?’
Nafisa semakin merapatkan pelukannya pada wanita itu, berusaha terlihat seperti calon cucu menantu yang manis dan penuh kasih sayang.
Dewangga masih menatap Nafisa dengan sorot mata tajam. Rahang Dewangga mengeras. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha menahan diri agar tidak melontarkan teguran yang justru akan membuat Omanya kembali memarahinya.
‘Dasar Nafisa! Awas kamu, ya.’
Dari tempatnya berdiri, Dewangga melihat Nafisa masih asyik memeluk Omanya dengan wajah manis yang dibuat-buat. Wanita itu bahkan sempat melirik ke arahnya, lalu tersenyum tipis seolah sengaja memamerkan kemenangannya.
Dewangga menyipitkan mata.
‘Lihat saja nanti, Nafisa. Setelah kita keluar dari kamar ini, baru kamu tahu akibatnya.’
. . .
Waktu berlalu tanpa terasa. Nafisa masih asyik bercanda dengan Oma Rima, sesekali melontarkan gurauan yang membuat wanita lanjut usia itu tertawa kecil.
Namun, ketika sedang mendengarkan cerita wanita itu, pandangan Nafisa tanpa sadar beralih ke jendela. Langit yang semula cerah kini telah berubah menjadi jingga, dengan cahaya matahari sore yang perlahan meredup.
Nafisa spontan menoleh ke arah jam dinding.
Pukul setengah tujuh malam.
“Ya ampun! Jam setengah tujuh?”
“Memangnya kenapa, Nak?”
Nafisa terdiam. Ia meremas jemarinya sendiri sembari mempertimbangkan apakah sebaiknya pulang sekarang atau tetap menemani wanita itu lebih lama.
Sejujurnya, ada perasaan berat untuk meninggalkan Oma Rima sendirian. Sejak tadi, ia merasa begitu nyaman berada di sisi wanita tersebut.
“Ada apa, Nak?” tanya Oma Rima ketika menyadari perubahan ekspresinya.
Nafisa mengangkat wajah. Ia sempat menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara.
“Oma, sebenarnya aku sedang punya masalah keluarga.” Ia menunduk, memainkan ujung jarinya dengan gelisah. “Menurut Oma, aku harus menghindar dulu atau pulang untuk menyelesaikannya?”
Oma Rima tidak langsung menjawab. Wanita itu menatap kearahnya selama beberapa saat, lalu mengulurkan tangannya yang mulai keriput untuk menggenggam tangan gadis tersebut.
“Pulanglah, Nak,” jawabnya lembut. “Masalah apa pun harus diselesaikan. Jangan pernah memilih menghindar, karena menghindar tidak akan menyelesaikan apa-apa. Kamu mengerti?”
Nafisa mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan lembut Oma Rima membuat hatinya terasa hangat.
‘Benar juga. Lebih baik diselesaikan daripada terus menghindar.’
Ia menarik napas panjang.
‘Apalagi aku masih punya tugas meminta Mas Damar menandatangani surat persetujuan cerai. Aku gak boleh terus menunda-nundanya.’
Nafisa akhirnya mengangguk. “Iya, Oma. Nafisa mengerti.”
Ia tersenyum kecil, kemudian meremas lembut tangan wanita itu sebelum melepaskannya.
“Kalau begitu, Nafisa pamit pulang, ya, Oma. Insyaallah, besok Nafisa datang menjenguk Oma lagi.”
Oma Rima mengangguk. “Iya, Nak. Oma tunggu.”
Nafisa bangkit dari kursinya, lalu merapikan pakaiannya. Sebelum melangkah pergi, ia membungkukkan badan sedikit di hadapan wanita itu.
“Assalamualaikum, Oma.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, ya, Nak.”
“Iya, Oma.”
Nafisa mengangguk sekali lagi. Ia sempat memberikan senyum hangat sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu kamar.
.
Setelah Nafisa meninggalkan ruangan, suasana kembali sunyi. Rima masih menatap pintu yang baru saja tertutup, mengingat kembali percakapannya dengan wanita muda itu.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
Ketika pintu kamar kembali terbuka.
Seorang pria berpakaian jas lengkap melangkah masuk. Ia menghampiri ranjang dengan sikap sopan, kemudian menundukkan kepala sedikit.
“Nyonya.”
Rima mengalihkan pandangan kepadanya. “Jony, saya ingin tahu tentang wanita yang tadi datang bersama Dewangga.”
Jony mengangguk. “Baik, Nyonya. Saya akan mencari informasi tentang wanita itu.”
“Cari tahu semuanya,” pesan Rima. “Saya ingin mengenalnya lebih jauh.”
“Baik, Nyonya.”
Setelah menerima perintah itu, Jony kembali menundukkan kepala sebelum berbalik dan melangkah keluar. Pintu kamar pun tertutup kembali, meninggalkan Rima seorang diri.
Wanita itu mengalihkan pandangan ke jendela kaca. Langit di luar sudah hampir gelap, menyisakan semburat jingga di ufuk barat.
“Oma harap wanita itu tulus sama kamu, Dewangga,” gumamnya lirih.
“Oma ingin kamu bahagia. Apa pun statusnya, Oma enggak akan mempermasalahkannya.” Suaranya melembut. “Asalkan dia tulus sama kamu dan punya hati yang bersih, Oma akan menerimanya.”
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.